Jumat, 03 Agustus 2012

Yesus Kristus Menurut Penginjil Belanda di Jawa Pada Abad 19 [3]

Gereja Protestan di kota Malang.
Franz Lion-Cachet
Ia adalah anggota Komite Direktur Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereeniging (NGZV) dan pernah menjadi misionaris di Afrika Selatan selama lima belas tahun. Sebagian besar kisah perjalanan misinya di Jawa Tengah dapat dijumpai di dalam bukunya. Ia menulis sebanyak sembilan halaman di dalam bukunya khusus tentang Sadrach.

Ia berangkat dari Belanda pada bulan Februari 1891, empat bulan kemudian tiba di Batavia. Sejak awal kedatangannya di Jawa sebagai inspektur zending sampai berakhir masa tugasnya, dia tidak pernah menunjukkan sikap bersahabat terhadap Sadrach, bahkan terhadap seorang misionaris Belanda, Wilhelm, temannya Sadrach, pendeta di Purworejo. Justeru dalam segala hal selalu berusaha menyudutkan kiai ini.

Dalam kunjungan perdananya ke Purworejo, dia selayaknya bermalam di tempat Wilhelm, bukannya di tempat Zuidema yang berumur lebih muda dan relatif lebih baru tinggal di Indonesia dibandingkan dengan Wilhelm. Ia merasa berkepentingan untuk mengunjungi misonaris terlebih dahulu sebelum menjumpai suku Jawa Kristen (Sadrach). Zuidema baginya tentu lebih penting bila dibandingkan dengan Wilhelm, karena dalam segala hal Zuidema lebih berpihak tehadap inspektur ini. Lama kemudian sesudah kunjungan para misionaris, barulah dia menyempatkan diri menemui Sadrach.

Pertemuan antara Lion-Cachet dan Sadrach berlangsung di pendopo tempat kediaman Sadrach sementara Wilhelm bertindak sebagai penunjuk jalan dan penerjemah. Ini adalah pertemuan yang pertama dan terakhir diantara mereka, satu pertemuan yang banyak diwarnai basa-basi. Setelah itu Sadrach mengambil keputusan tidak mau bertemu lagi dengan inspektur ini.

Sikap tidak bersahabat yang ditunjukkan oleh inspektur ini, ialah dia hanya mengakui bahwa Sadrach adalah sebagai seorang pembantu misionaris, bahkan seorang pembantu yang pribumi. Artinya, Sadrach tidak memiliki hak berbicara, padahal dialah yang telah mengkristenkan orang-orang yang baru dikunjungi oleh Sang Inspektur ini.

Peristiwa pecahnya konflik internal antara Tunggul Wulung dan Sadrach, Lion-Cachet mengangkat persoalan ini lebih untuk menyalahkan Sadrach untuk menjatuhkannya. Ia memberi komentar sebagai vonis tanpa bukti bahwa Sadrach berusaha memegang tampuk kekuasaan pada jemaah di Bondo, tetapi seluruh murid Tunggul Wulung menolaknya.

Namun, ada baiknya juga hasil inspeksi Lion-Cachet, yaitu semakin banyak informasi yang diperoleh dari pengabar-pengabar Injil Belanda yang melaporkan tentang kegiatan dan pandangan dogma pengabar-pengabar Injil Jawa. Tidak tertutup kemungkinan adanya laporan-laporan subyektif dari para pengabar Injil Belanda mengingat ketidaksukaan mereka terhadap keberhasilan yang dicapai oleh para pengabar Injil Jawa seperti, Sadrach dan Tunggul Wulung. Terlebih sang inspektur sendiri tidak menunjukkan persahabatan dengan para pengabar Injil Jawa.

S.E. Harthoorn
Pada tahun 1849 NZG mengirim Schuh ke Mojowarno, tidak lama kemudian dia mengundurkan diri. Kemudian pada tahun 1854 kembali NZG mengirim Ganswijk ke Kediri, tetapi sama seperti Schuh, dia juga mengundurkan diri.

Mundurnya kedua orang misionaris ini bukan satu kebetulan, tetapi oleh satu keadaan yang tengah berlangsung di Eropah pada waktu itu. Sekitar tahun 1858 beberapa diantara pendeta NZG mulai terpengaruh oleh ‘aliran modern’ yang meragukan apakah Injil layak dipercaya sebagai berita sejarah, padahal mereka diutus menjalankan pekabaran Injil. Tak usah heran, apabila mereka berada dalam situasi medan pengabaran Injil sesungguhnya, mulai sangsi akan kebenaran Injil, dan akhirnya berakhir dengan kekecewaan besar di hati mereka.

Harthoorn adalah termasuk di antara penganut aliran modern ini. Tugas zendeling-nya berakhir sebelum waktunya karena kebimbangan hatinya. Ia dikirim oleh NZG pada tahun 1854 dan bertugas di Malang.

Menurut pandangannya, suku Jawa harus sekolah dulu, harus diberi pendidikan dulu, dan harus menjadi beradab supaya mereka dapat memahami Injil dengan benar. Pertobatan seperti yang dialami oleh Pak Dasimah, yang mula-mula menganggap Injil adalah ngelmu yang benar sedikit pun tidak dihargainya. Baginya peristiwa pertobatan ini tidak mengandung pengertian yang berlandaskan logika tentang kebenaran Injil. Ia tidak dapat melihat realita bahwa Injil adalah berita tentang keselamatan oleh Yesus Kristus yang ibaratnya adalah biji padi yang jatuh ke dalam tanah kehidupan rohani suku Jawa Kristen yang telah diolah.

Teranglah, orang seperti Tosari adalah figur yang masuk hitungannya. Tosari menerima berita Injil sesuai menurut kriteria yang diharapkannya. Ia memberi pujian kepada Tosari atas prestasinya berdakwah di Mojowarno, katanya :

“Paulus, yang hidup sesuai dengan yang diucapkannya, sejauh yang dapat diketahui orang, dulunya biasa termasuk sekte paling sederhana dari agama nenek moyangnya. [Di sini Harthoorn mengacu pada pendidikannya selaku seorang santri.] Ia tak pernah melalaikan doa, dan dalam soal semangat dia mengungguli siapa pun. Tetapi terasa ada sesuatu yang kurang dalam rangka kesejahteraan hatinya. Karenanya dia berkelana dari seorang guru ke guru lain guna memperoleh jalan yang benar … Tiada rasa sesal yang terlalu berat baginya … Segala sesuatu ditempuhnya namun dia tak dapat menemukan damai. Seseorang menasihatkannya untuk melakukan puasa secara ketat … Akhirnya dia tiba pada titik akan menjadi seorang pertapa, ketika salah seorang kawannya membawa berita Injil kepadanya.”

Harthoorn meninggalkan pos pelayanannya di Malang setelah lama kemudian pada akhirnya dia berseberangan dengan NZG. Ia diberhentikan oleh zending ketika dia sedang berada di Belanda.

Cornelis Poensen
Pada tahun 1860 ia memulai tugas di Kediri menggantikan Harthoorn yang telah diberhentikan oleh NZG. Ia adalah ahli bahasa dan seluk-beluk kehidupan suku Jawa. Ia memahami melukiskan karakter suku Jawa.

Menurut Poensen, pendeta zending tidak mutlak harus seorang teolog. Yang diperlukan adalah pendeta zending yang selaku orang Kristen dapat menyatakan imannya kepada suku Jawa Kristen dengan kesalehan dan kehangatan kasih sayang sejati, dengan cara yang dapat dipahami oleh mereka. Teolog memang dibutuhkan satu saat nanti, tetapi pada saat ini yang lebih dibutuhkan adalah dokter-dokter, para donatur dan guru-guru.

Pengabar Injil akan beroleh pengaruh dan kuasa yang lebih besar, apabila mereka membuat diri mereka bermanfaat bagi suku Jawa Kristen, sehingga Firman semakin banyak tumbuh di ladang kehidupan rohani suku Jawa Kristen.

Mengenai tempat pemukiman, dia memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan pendahulunya, yakni dia tidak menghendaki suku Jawa Kristen menetap di satu desa yang dominan Kristen, sebaliknya mereka seharus tinggal di desa biasa membaur dengan saudara-saudara mereka yang beragama Islam.

Johannes Emde (1774-1859)
Ia lahir di Arolsen, Jerman pada tahun 1774 dari keluarga petani dalam lingkungan yang menekankan kesalehan Kristen (pietis). Dengan menumpang kapal dagang VOC dia berlayar menuju Hindia Belanda (Indonesia) untuk melihat, apakah benar ada negeri yang mengalami musim panas sepanjang tahun, karena ia terobsesi dengan firman yang tertulis pada Kejadian 8:22, yakni :

¾ Selama bumi masih terkembang takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan hangat, musim panas dan salju, siang dan malam akan selalu silih berganti.  ¾

Ia menjadi anggota tentara ketika Gubernur Jenderal Hermann Willem Daendels berkuasa di Hindia Belanda (1808-1811). Kemudian ketika Ingge­ris menguasai Hindia Belanda (1811-1816), dia mengundurkan diri dari dinas militer dan menetap di Surabaya dan menikah dengan gadis Jawa ning­rat. Di kota ini dia mencari nafkah sebagai tukang arloji.

Ia adalah seorang pengabar Injil bukan dari utusan zending sebagaimana rekan-rekannya yang telah dijelaskan di atas. Ia dan teman-temannya terutama peranakan Belanda membentuk perkumpulan Kristen yang dipimpin olehnya sendiri. Perkumpulan ini mempunyai cita-cita me­lakukan penyebaran agama Kristen di Jawa. Gagasan ini terwujud setelah pertemuannya dengan Joseph Kam (1769-1833), seorang misionaris yang tengah dalam perjalanan ke Maluku pada tahun 1814 singgah di Surabaya selama enam bulan. Di antara anggota perkumpulan ini terdapat seorang pemilik perkebunan berkebangsaan Jerman bernama Gunsz yang memiliki tanah persil di Sidokare. Mereka disebut sebagai orang saleh dari Surabaya.

Di kota ini sebelum membuka desa di Ngoro, Coolen menjalin hubungan dengan Emde. Walaupun pertemuan ini berlangsung singkat, perjumpaan ini cukup menggerakkan minat Coolen terhadap ma­salah-masalah keagamaan. Emde juga yang pada akhirnya membuka pikiran Pak Dasimah bagaimana seharusnya untuk menjadi orang Kristen setelah menerima Kristus, yaitu dibaptis.

Ketika Tosari dan kawan-kawannya menumpang di tanah persil milik Gunsz di Sidokare, setelah diusir oleh Coolen karena bersedia dibaptis, Emde membuat sepuluh perintah supaya ditaati oleh mereka. Kesepuluh perintah ini adalah : 1) Potonglah rambutmu pendek-pendek. 2) Jangan memakai ikat kepala di gereja. 3) Jangan mende­ngarkan gamelan. 4) Jangan menonton wayang. 5) Jangan melakukan khitanan. 6) Jangan menyelenggarakan selamatan. 7) Jangan me­nyanyikan tembang Jawa. 8) Jangan merawat pekuburan. 9) Jangan menaburkan bunga di makam. 10) Jangan membiarkan anak-anakmu bermain permainan Jawa.

Kesepuluh pe­rintah Emde ini mendapat kecaman dari banyak pendeta, terutama dari Harthoorn. Karena dianggap kuk yang diletakkan di bahu budak-budak. Keinginan Emde adalah, supaya mereka menjadi Kristen menurut pandangan Eropa yang dipandangnya baik. Tetapi tidak lama kemudian setelah semakin banyak penduduk pindah ke Mo­jowarno dan Jellesma menetap di sini, pengaruh Emde pun menyusut. Ia meninggal pada tahun 1859 dan dikuburkan dipemakaman Kristen di Surabaya.

Christina Petronella Stevens-Philips (1824-1876)
Christina Petronella Stevens juga bukan pengabar Injil utusan zending sama seperti Emde. Ia dilahirkan sebagai peranakan Belanda, puteri seorang pengelola perkebunan di Yogyakarta setahun sebelum Perang Jawa. Ia menikah dengan seorang pengawas perkebunan, Johannes Carolus Philips yang bertugas di Kebumen. Kehidupannya dari sejak kecil diwarnai suasana kesalehan keluarga Kristen sehingga dia tertarik untuk menjadi pengabar Injil.

Setelah suaminya pensiun dan kemudian memilih tinggal di Purworejo, dia melakukan pengabaran Injil lebih intensif. Sadrach juga bergabung dengan usaha pengabaran Injil nyonya Philips. Rumahnya dijadikan rumah Tuhan yang menarik banyak orang Jawa di sekitarnya. Ia memberi katekisasi terhadap suku Jawa yang baru menjadi Kristen melalui Sadrach, karena perempuan ini sangat dihormati oleh kiai Jawa ini.© Selama tiga tahun dia jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sampai akhir hayatnya.

Tak ada catatan tentang pengabar Injil ini apakah dia pernah berbicara tentang tetangganya, Sadrach. Rumahnya semakin ramai dikunjungi baik oleh jemaat Jawa, maupun sejumlah kecil orang Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa dia mudah bergaul dan sangat dihormati dalam lingkungan jemaatnya.-



©Dalam beberapa hal Sadrach menggantungkan diri pada orang-orang Belanda. Satu alasan yang rasional menurut konteksnya pada waktu itu, yakni banyak bergaul dengan orang Belanda akan menambah tinggi gengsi Sadrach di mata semua muridnya yang baru masuk Kristen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar