Minggu, 05 Agustus 2012

Sehat dan Bahagia Sampai Tua


Kakekku meninggal pada usia 102 tahun bukan karena menderita satu penyakit, melainkan karena usia yang sudah sangat tua. Kalau kakekku meninggal pada umur lebih dari 100 bukan karena penyakit, Anda dapat membayangkan bagaimana sehatnya kondisi tubuh kakekku pada usia sekitar 70 tahun. Kakekku dan keluarga besar kami pada waktu itu masih menempati rumah besar di satu desa kecil, Gaarum, 10 kilometer di sebelah timur Blitar. Ibuku yang sampai saat ini masih diberi hidup oleh Tuhan pernah berkata, bahwa kakekku pada usia 70 tahun sering berjalan kaki ke lembah Gunung Kelud. Dari rumah kakek sampai ke lembah Kelud jaraknya kira-kira 60 kilometer pulang pergi. Dekat, ya? Pada usia 30 tahun aku pernah mengikuti lomba hiking secara group di Bogor, jarak lomba dari Megamendung – Cibinong kira-kira 45 kilometer. Berangkat pukul 09.00 pagi sampai di tujuan pukul 07.00 malam, aku terpisah dari group, karena kesalahan menggunakan sepatu sehingga cepat lelah.

Rumah kakekku di desa Garum.
Silahkan Anda membaca koran Kom.pas ruang iklan kematian, usia kematian di Indonesia adalah berkisar 60 – 70 tahun. Ini pun dilalui dengan perjuangan hidup melawan penyakit. Kemudian dead dengan penderitaan yang luar biasa. Tetanggaku, pak Osim pengayuh becak meninggal dunia pada usia 50 tahun setelah mengidap sakit jantung. Usia manusia pada umumnya adalah 70 tahun, kalau lebih itu namanya bonus dari Tuhan, begitu kata pak pendeta dalam khotbahnya di gereja. Perkara usia manusia adalah rahasia kehidupan, tetapi menikmati hidup sehat dan bahagia manusia dapat mempelajari dari orang-orang bijak. Apa rahasia kakekku menikmati usia panjang disertai kesehatan yang prima?

Apakah kakek suka makan sayur? Ya, tetapi tidak berlebihan, jawab ibuku. Pecal adalah masakan sayuran khas Blitar pada umumnya. Sayuran pecal terdiri dari bayam, taoge, bunga turi, kacang panjang, dan kangkung dibiarkan kira-kira 5 menit di dalam air panas sampai lunak. Sayuran ini dicampur dengan saus kacang tanah berbumbu pedas dan dimakan dengan satu piring nasi dengan tahu dan tempe yang terbuat dari kedele. Pecal di Blitar biasa digunakan sebagai sarapan. Kemudian, bagaimana dengan makan siang dan makan malam? Untuk makan siang atau malam, kakekku mempunyai menu favorit, yakni sayur kacang koro yang berbumbu sangat pedas karena diberi banyak cabai rawit merah dan diberi banyak potongan daging sapi. Jangan lupa, mo, kakekku pernah hidup pada generasi jaman Belanda di Indonesia, pada masa itu Belanda menjamin kesejahteraan sandang dan pangan pada rakyat jajahan. Daging sapi dan beras mudah didapat dan terjangkau harganya oleh rakyat kebanyakan. Jadi, intinya kakekku sangat suka masakan yang pedas sekali. 

Orang Ukraina di pegunungan Ural sehat karena udara di sini sangat bersih dari polusi dan suka minum yoghurt, orang Jepang menikmati hidup sehat karena makan masakan yang serba mentah, yakni sashimi, orang Cina menikmati hidup sehat karena sering ta'i chi dan makanan serba diuapkan, seperti dimsum. Keseimbangan konsumsi terhadap protein, karbohidrat, dan lemak memang demikian disarankan dalam ilmu kesehatan. Walaupun kampanye gizi seimbang pada generasi kakekku belum dipublikasikan secara luas seperti sekarang ini, semua yang dikonsumsi oleh kakekku sudah memadai. Apalagi pada masa itu pupuk pertanian sebagian besar masih secara organik dan sedikit pestisida bahan kimia seperti pada jaman sekarang ini, sehingga boleh dikatakan produk pertanian dan peternakan belum tercemar polutan.

Udara masih bersih di satu desa di Blitar.
Bagaimana dengan atmosfir dan kondisi air kota Blitar dan sekitarnya? Ada dua kota yang mengapit kota ini, yakni Wlingi di sebelah timur dan Tulungagung di sebelah barat. Bahkan sampai aku menulis blog ini, atmosfir dan air kota ini dan sekitarnya masih tergolong bersih dan segar, bisa kau bayangkan sendiri betapa udara dan air menyehatkan di desa ini 60 tahun yang lalu. Atmosfir dan air yang bersih dan sehat merupakan kontribusi utama terhadap kesehatan fisik penduduk pada umumnya. 

Bagaimana dengan kebahagiaan? Ada istilah pada jaman itu tentang gaji, yakni gaji satu bulan dapat dipakai untuk makan dua bulan. Jadi, sebagian besar pegawai negeri pada jaman itu memang hidup sejahtera, kakekku  pernah kerja di pegadaian kemudian terakhir menjadi juru tulis kantor kecamatan. Karena jabatannya sebagai juru tulis, beliau dikenal sebagai pak ju.ru [juru tulis kecamatan] di desa tempat tinggalnya sampai pada akhir hidupnya. Puluhan tahun sesudah beliau meninggal dunia, kalau aku pulang ke desa dulu, penduduk di situ selalu berkata bahwa aku cucu pak ju.ru. Manusia dapat menikmati kebahagian kalau hidupnya sejahtera karena diberkati oleh Tuhan. Gaji yang cukup membuat orang tidak banyak dibebani pikiran yang dapat memacu jantung berdenyut lebih cepat dari biasa.

Setiap tahun kakekku selalu dikunjungi oleh semua cucunya dari lima anaknya secara bergantian, bahkan kakak kandungku ada yang satu rumah bersama kakekku selama dua tahun ketika masih kanak-kanak. Kakek mana atau ayah mana yang tidak merasakan hangatnya kebahagiaan, jika setiap tahun selalu dikunjungi oleh semua orang yang pernah dikasihinya? Setiap kali aku datang ke rumah kakek, beliau selalu beri aku cium selamat datang. Jika engkau ingin dikasihi oleh anakmu, engkau harus memulai dari sekarang mengasihi anakmu, yakni memberi kebebasan dan keberanian bicara tanpa lupa mendidik santun.- 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar