Jumat, 03 Agustus 2012

Planet Bumi Semakin Panas


Aku ingin mencari tahu apa sebabnya manusia pada jaman dahulu mempunyai kesempatan hidup lebih lama dibandingkan pada jaman sekarang. Di dalam Kitab Mazmur tertulis umur manusia rata-rata 70 tahun, kalau ada yang dapat melebihi bilangan ini, artinya orang ini mendapat bonus. Kenyataannya pada jaman dahulu kala manusia banyak yang mendapat bonus, kebanyakan di antara mereka mendapat bonus antara 90 sampai 100 tahun. Untuk jaman sekarang, cobalah simak baik-baik berita duka di koran, banyak di antara mereka di bawah 70 tahun sudah dijemput oleh maut. Kehendak Tuhan, kata bapak pendeta. Kematian adalah rahasia ilahi. Kehidupan dan kematian memang rahasia ilahi, tetapi setidaknya kita menginginkan untuk menikmati hidup yang nyaman tanpa penyakit dan dengan kesegaran jasmani yang baik.

Tuhan telah menciptakan keseimbangan antara oksigen dan nitrogen di planet bumi ini dalam perbandingan 20 persen dan 80 persen. Jumlah ini mencukupi kebutuhan pasokan oksigen untuk pernafasan kebanyakan makhluk hidup di bumi. Manusia menghirup oksigen untuk metabolisme pembakaran di dalam tubuhnya, hasil pembakaran ini menghasilkan gas karbondioksida yang kemudian diabsorbsi oleh tanaman dan kemudian diproses kembali menjadi oksigen. Dari 21 persen ini dalam keadaan normal manusia hanya membutuhkan separuhnya saja. Tidak berlebihan kalau aku mengatakan, bahwa dulu pulau Kalimantan dan Papua adalah paru-paru dunia, paling sedikit paru-paru Indonesia, karena di kedua pulau ini terhampar hutan tropis yang luar biasa lebat.

Sejalan jumlah penduduk yang semakin bertambah dan semakin tinggi mobilitasnya dengan menggunakan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak, maka jumlah jumlah gas buang sisa pembakaran di dalam silinder yang terlepas ke udara juga semakin meningkat. Gas buang sisa pembakaran ini adalah gas karbonmonoksida [CO] dan disertai kalori hasil pembakaran. Jumlah sepeda motor di Jakarta sekarang telah mencapai 9 juta unit, asumsinya rata-rata setiap sepeda motor menggunakan 4 liter bensin per hari, maka jumlah bensin yang digunakan oleh sepeda motor di Jakarta setiap hari adalah 36 juta liter. Jumlah mobil di Jakarta sekarang telah mencapai 5 juta unit, asumsinya rata-rata setiap mobil menggunakan 20 liter bensin per hari, maka jumlah bensin yang digunakan oleh mobil di Jakarta setiap hari adalah 100 juta liter. Total pemakaian bensin sepeda motor dan mobil di Jakarta adalah 136 juta liter per hari. Dari jumlah bensin ini dihasilkan gas karbonmonoksida dari hasil pembakaran di dalam piston sebanyak kira-kira 45 ribu meter kubik. Gas buang ini terkonsentrasi terutama di daerah padat lalu lintas, seperti jalan Sudirman, jalan Thamrin, jalan Gajah Mada, jalan Hayam Wuruk, jalan Haryono MT, jalan Gatot Subroto, dan jalan Yos Sudarso. Jumlah ini belum ditambah dengan gas karbonmonoksida yang dihasilkan dari mobil angkutan umum dan kendaraan motor dan power station bahan bakar heavy solar diesel yang dapat mencapai lebih 50 ribu meter kubik. Gas buang karbonmonoksida ini lebih lanjut dioksidasi di udara terbuka menjadi gas kabondioksida [CO2], paling sedikit sekitar 100 ribu meter kubik. Jika diperhitungkan terhadap 100 kota besar seluruh dunia, atmosfir bumi menerima lebih 10 juta meter kubik gas karbondioksida setiap hari. Gas karbondioksida ini menjadi reflector terhadap panas dari sinar matahari yang dipantulkan kembali ke bumi, sehingga bumi semakin lama semakin panas. Logikanya, jika lapisan gas CO2 semakin tebal, reflector semakin dekat terhadap bumi, maka bumi semakin panas. Gas buang sisa pembakaran mempunyai efek terhadap kesehatan dan lingkungan hidup. Apa saja dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah gas buang ini.

Mempercepat proses penuaan. Di dalam darah manusia terdapat haemoglobin atau butir-butir darah merah yang berfungsi membawa oksigen beredar ke seluruh tubuh. Fungsinya sebagai carrier oksigen akan terganggu, jika lingkungan atmosfir semakin dipenuhi oleh gas karbonmonoksida, karena gas ini lebih mudah diabsorbsi oleh haemoglobin dibandingkan dengan oksigen sehingga seluruh sel yang membentuk organ tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Seluruh sel organ tubuh sebenarnya setiap hari secara alamiah mengalami perusakan dan pembentukan, tetapi dengan adanya gangguan system pernafasan yang menghirup gas karbonmonoksida lebih banyak dari pada oksigen setiap hari, maka semua sel tubuh mengalami perusakan lebih cepat, sementara sel pengganti datangnya tidak secepat sel-sel rusak yang semakin menumpuk di dalam tubuh. Kerusakan sel-sel itu adalah lepasnya semakin banyak radikal bebas yang beredar di dalam tubuh dan radikal bebas ini bersifat racun terhadap tubuh manusia. Akumulasi sel-sel rusak di dalam tubuh manusia memperlihatkan gelaja yang umum, yaitu wajah tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Ah, mungkin kau mengatakan, bahwa aku telah mendahului para ahli yang sampai sekarang masih berdebat tentang mengapa manusia mengalami penuaan. Bacalah lebih lanjut tulisanku ini, bahwa bukan ahli atau orang bodoh sekali pun tahu, tubuh yang kemasukan gas beracun pasti akan mengalami keadaan tidak nyaman. Di Jakarta sudah sering terdengar ada orang yang mati di dalam mobil dalam keadaan mesinnya masih hidup karena digunakan untuk menggerakkan mesin pendingin udara [AC]. Penyebab umum adalah mereka keracunan gas karbonmonoksida yang tidak berbau dan tidak berwarna. Kebanyakan orang yang hidupnya di pedesaan dan pegunungan dengan udara yang bersih dari pencemaran gas buang hasil pembakaran, bukan saja wajah mereka tampak muda, juga mereka tampak sehat menikmati kehidupan. Tuhan menyediakan oksigen di atmosfir bumi sebanyak 21 persen, ini sudah cukup, tetapi jika manusia masih merasakan kurang nyaman dengan jumlah ini, pasti ada yang tidak beres di planet bumi ini. Jangan menyalahkan Tuhan, sebaliknya manusia yang menyebabkan kondisi tidak nyaman di bumi ini.    

Mempercepat keletihan fisik dan mental. Manusia bekerja mengeluarkan tenaga dalam jangka waktu lama, katakanlah setelah 8 jam bekerja akan mengalami keletihan. Di kota besar dan padat lalu lintas kendaraan motor seperti Jakarta, gas buang karbonmonoksida dan panas akan memberi aksi terhadap tubuh manusia melalui saluran pernafasan, kulit, dan penglihatan; nafas menjadi sesak karena terus menerus menghirup karbonmonoksida, kulit semakin banyak mengeluarkan keringat untuk mengatasi panas di sekelilingnya, dan mata juga menjadi pedih karena asap yang dikeluarkan dari saluran buang mobil dan sepeda motor menyentuh selaput mata; efeknya adalah tubuh akan berusaha keras melawan ketidaknyamanan ini, seperti denyut jantung yang semakin meningkat, air keringat yang semakin banyak, perasaan sabar harus semakin ditingkatkan dalam menghadapi kemacetan lalu lintas. Efek seperti inilah yang biasa disebut orang sebagai stress. Stress adalah reaksi tubuh seseorang terhadap aksi yang datangnya bisa dari luar tubuhnya maupun dari dalam pikirannya sendiri. Jika stress semakin tinggi, bukan saja mental cepat mengalami keletihan, fisik juga ikut letih sebelum pekerjaan di tempat yang sebenarnya dimulai, yaitu di kantor atau di pabrik. Banyak karyawan di banyak kota besar di dunia berangkat kerja pagi hari sebelum matahari terbit berusahan menghindari jalanan macet dan pulang kerja pada larut malam juga berusaha untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Stress! Stress! Stress! Produkutivitas kerja ikut menurun, jika pikiran stress. Stress jangan dilawan dengan merokok, karena asap rokok dari pembakaran tembakau mengandung gas karbonmonoksida; baik yang merokok aktif dan pasif akan mengalami peningkatan asam lambung, hal ini diperlihatkan dengan kepala yang menjadi pusing dan perut mual. Hal ini memang tidak terlalu dirasakan karena berlangsung perlahan-lahan setiap hari, tetapi 10 tahun kemudian baru dirasakan, …. lho, wah, wajahku tampak kusut dan tampak tua seperti kakek yang punya 5 cucu,  padahal umurku baru 30 tahun.  

Mengacaukan iklim dunia. Seorang petani di Karawang berkata kepada seorang wartawan surat kabar K.O.M.P.A.S, bahwa menjadi petani sekarang ini tidak dapat dibanggakan lagi seperti puluhan tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa tahun-tahun 70-an dulu dia masih dapat memperhitungkan bilamana waktu menanam dan bilamana waktu menuai, musim kemarau dari bulan apa ke bulan apa dan musim hujan dari bulan apa ke bulan apa dapat diperkirakan dan siklusnya selalu sama, yaitu 6 bulan sekali, tetapi sekarang siklus ini kacau di luar kebiasaan. Ada kalanya dalam satu tahun perioda kemarau yang panjang, sebaliknya pernah juga terjadi dalam satu tahun perioda musim hujan yang panjang. Petani Karawang ini tetapi melanjutkan professinya sebagai petani dalam ketidakpastian iklim. Gas karbonmomonksida dari gas buang kendaraan motor maupun dari industri perlahan-lahan sebagian dioksidasi menjadi gas karbondioksida [CO2]. Gas ini bukan semakin berkurang, justeru semakin banyak memenuhi atmosfir bumi. Sungguh sangat disesalkan sekali, jika di beberapa tempat di dunia terjadi kebakaran hutan yang sangat luas, karena kebakaran ini juga menghasilkan gas CO2; dan, ini terjadi hampir setiap tahun. 

Mengancam bahaya kekurangan pangan dunia. Jika atmosfir bumi semakin meningkat temperaturnya, beberapa jenis serangga pelahap tanaman pangan akan semakin banyak berkembang biak, karena mereka lebih menyukai di tempat yang panas udaranya. Logis juga memang, mana ada serangga berterbangan pada musin hujan. Jika serangga pelahap tanaman semakin banyak berkembang biak, tentu ada kecenderungan untuk menambah pestisida. Jika ada beberapa ratus di antara mereka tidak mati oleh semprotan pestisida, mereka akan berkembang biak dengan spesies baru yang lebih kebal terhadap semprotan pestisida yang sama, efeknya akan berantai yaitu semakin banyak serangga yang kebal terhadap semprotan pestisida yang lebih kuat. Hama serangga ini akan menjadi ancaman baru terhadap kebutuhan pangan dunia, karena semakin banyak tanaman pangan akan habis dimakan oleh serbuan jutaan serangga yang sudah tidak mempan lagi dibasmi oleh pestisida yang paling kuat sekali pun, semakin diperkuat daya mematikannya, maka yang menjadi korban bukan hanya serangganya saja, sebaliknya manusia juga terkena dampak keracunan uap pestisida. Di sebuah perkebunan tanaman jambu di Pasar Minggu, Jakarta pernah terjadi pohon jambu dan buahnya yang sedang panen, habis dimakan hama seranga [atau ulat?] … habis lenyap dilahap hanya dalam waktu satu malam saja. Seperti itulah gambarannya nanti, tanaman padi, gandum, sayuran, buah-buahan akan lenyap dilahap oleh hama serangga yang jumlahnya dapat menutupi sebuah kota besar. Jumlah produksi pangan akan merosot sementara kebutuhan pangan semakin meningkat, akibatnya harga pangan mengikuti tuntutan pasar, yaitu harga semakin meningkat mengikuti tuntutan yang semakin meningkat. Harga 1 dinar untuk secupak gandum [pribahasa dari Palestina], artinya kira-kira begini harga 100 ribu rupiah untuk 1 liter beras. Betapa sulitnya kehidupan kemudian hari. Harga beras yang terbaik saat ini di Jakarta [2012] adalah 9000 rupiah per liter.  

Mengancam bahaya banjir di seluruh dunia. Dengan naiknya temperature atmosfir bumi, maka perlahan-lahan es yang berada di kutub utara dan selatan akan mencair, hal ini tentu menyebabkan permukaan air laut di seluruh dunia akan naik menutupi daratan atau pulau-pulau yang lebih rendah permukaannya. Pada tahun 2010 di kutub selatan pernah terjadi bongkahan es sebesar kabupaten Bogor lepas ke lautan bebas, sementara permukaan es di beberapa tempat di kutub utara telah mencair beberapa tahun sebelumnya. Bongkahan es raksasa akan semakin banyak lepas dan mencair menutupi pulau-pulau di Pasifik, jika bumi semakin panas dan tidak terkendali. Kota Jakarta diprediksi akan tenggelam sekitar 50 tahun lagi sejak tahun 2010, setidaknya wilayah pantai Marunda sampai Stasiun Kereta Api Kota Beos pasti tenggelam. Menyaksikan sebuah film berjudul Water World yang dibawakan oleh Kevin Costner, tampaklah sebuah planet bumi di mana seluruh pulau dan benua tenggelam. Apakah seseram inikah akhir kehidupan manusia di planet ini?

Pejabat pemerintah di negeri ini selalu menyalahkan pemanasan global apabila terjadi banjir di seluruh kota besar di Indonesia. Padahal tanpa ada pemanasan global, di Indonesia, di negeri ini sudah sering terjadi banjir, seperti Bandung, Samarinda, Semarang, Denpasar, Makassar, Ambon, Jember, karena pertama, penduduk kota tanpa merasa bersalah membuang sampah ke sungai, perbuatan tidak pantas ini akan menyebabkan pendangkalan dan penyempitan sungai sehingga volume sungai menjadi kecil dan tidak mampu menampung debit air pada waktu musim hujan, akibatnya banjir. Kedua, banjir juga terjadi karena penebangan hutan tanpa kendali atau melampaui wilayah yang menjadi konsesi perusahaan penebangan hutan dan hanya sedikit saja upaya melakukan reboisasi hutan sehingga hutan semakin lama semakin habis, hal ini akan menyebabkan tanah yang tidak mempunyai daya penyerap air pada waktu musim hujan, akibatnya banjir. Ketiga, banyak hutan berubah fungsi dari seharusnya hutan penjangga air tanah menjadi daerah pemukiman penduduk yang semakin menyita banyak tanah. Peningkatan jumlah penduduk menuntut semakin banyak membutuhkan perumahan yang semakin luas. Peningkatan jumlah penduduk tidak terkendali karena pemerintah gagal melakukan pengendalian jumlah penduduk nasional.

Banyak pulau di perairan Riau tenggelam, tetapi kasus tenggelamnya pulau-pulau di sini tidak ada kaitannya dengan pemanasan global, melainkan karena jutaan mater kubik pasir di pulau-pulau ini habis dijual ke Singapura untuk reklamasi negara pulau ini. Keruk sampai habis hilang lenyap dari permukaan laut di Indonesia, demi uang.

Dari Cibinong sampai ke Cianjur pada decade 60, udara masih terasa sejuk, pukul 10 pagi kabut masih beriringan di lembah-lembah perkebunan teh. Bagaimana dengan Bandung? Kota ini dulu dirancang oleh Belanda untuk 55 ribu penduduk, tetapi sekarang jumlah ini sudah mencapai hampir 20 kali lipat.  Cobalah kau pikirkan dengan akal sehat, sebuah kamar ukuran 5x5x6 meter, cukup untuk dua orang, kemudian dijejali oleh 15 orang yang beraktifitas, manusia mengeluarkan panas dan melepaskan gas CO2, belum lagi kalau ada yang kentut itu adalah gas dihidrogensulfida atau H2S yang baunya seperti telur busuk. Akibatnya adalah semua yang ada di dalam stress dan sesak nafas. Apa upaya kita terhadap negeri kita sendiri dalam menghadapi polutan gas CO2 yang semakin meningkat?

Pertama, untuk kota sebesar Jakarta dibutuhkan hutan kota sedikitnya seluas 300 km persegi sehingga ada ruang untuk mengabsorbsi gas CO2 dan mengolahnya kembali menjadi oksigen. Pemerintah kota jangan terlalu mudah memberi izin pembangunan gedung-gedung bertingkat jika pada akhirnya dapat mengurangi daerah hijau. Hutan kota bukan saja berguna sebagai paru-paru kota, juga berguna sebagai daerah resapan air hujan. Di Jepang ada bar yang menyediakan tabung oksigen khusus untuk dihirup oleh pengunjung. Masing-masing pengunjung diberi alat inhaler, minuman yang disediakan hanya juice jeruk, strawberry, apple, atau zurzak. Apakah orang Jakarta mau mencoba?

Kedua, sudah waktunya kita pada terbuka mata dan pikiran kita, bahwa pembangunan tidak konsentrasi di pulau Jawa saja, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, karena masih banyak tempat lain di Indonesia untuk dikembangkan, seperti Semarang, Palembang, Makassar, Samarinda, Palangkaraya, Banjarmasin, Manado, Ambon, Jayapura, dan seterusnya kawasan di Indonesia Timur yang masih banyak yang kosong. Jika pembangunan merata ke seluruh kota tersebut di atas, beban penduduk di kota-kota besar terhadap polusi gas CO dan asap semakin berkurang.

Ketiga, setiap orang harus menyadari terhadap lingkungannya sendiri, yaitu sesering mungkin menggunakan kendaraan umum [bis kota atau kereta api]. Manusia modern tidak menunggu harus ada panutan yang dapat dijadikan contoh kemudian bertindak, sebaliknya langsung bertindak, jika menyadari bahwa yang dilakukannya memang berguna untuk orang lain. Namun, Indonesia memang belum modern masyarakatnya, maka memang diperlukan seorang tokoh panutan untuk memulai. Siapa panutan yang memulai permainan ini? Aku rasa gubernur orang yang paling tepat untuk menjadi panutan bagi warganya.

Keempat, konversi bahan bakar dan konversi energi adalah solusi pengurangan polusi CO2. Penggunaan gas alam [gas metan] jauh lebih bersih dibandingkan menggunakan bensin atau minyak solar, karena jumlah karbon yang ada di dalam gas metan 1/8 terhadap bahan bakar bensin, dan 1/16 bagian terhadap bahan bakar minyak solar. Power station dengan mesin turbin gas metan tentu lebih bersih dibandingkan dengan power station bermesin bahan bakar marine diesel fuel atau jika dibandingkan dengan power station turbin uap dengan bahan bakar batu bara. Power station dengan bahan bakar masa depan yang paling bersih adalah pembangkit listrik nuklir, tetapi nuklir masih menjadi controversial di beberapa tempat di dunia karena bahaya radiasi akibat kebocoran reactor jika terjadi gempa, misalnya. Pada bulan Maret 2011 ini telah terjadi gempa dan tsunami di pulau Honshu bagian utara, dekat Tokyo, Jepang. Gempa ini meretakkan reactor nuklir di pembangkit listerik nuklir di Fukushima dan segera menyebabkan kebocoran reactor.

Kelima, dengan kesadaran sendiri juga, maka mulai sekarang dan seterusnya, kita jangan sembarangan lagi membakar sampah dari zat organik, seperti kantong plastik, pipa pvc, kayu, daun-daun kering, jerami, dan kalau berkemah di hutan hati-hati buang puntung rokok, karena sampah dari jenis ini berpotensi besar menghasilkan polutan CO2.


Tuhan memberi mandate kepada manusia untuk mengelola bumi dan seluruh isinya, tetapi bumi semakin panas, tidak ada lagi tempat nyaman untuk didiami, semua terjadi karena keserakahan manusia. Anda masih ingin panjang umur dan menikmati hidup yang segar dan nyaman … mulailah dari sekarang sering jalan kaki sedapat yang Anda lakukan. Jangan terlalu mudah naik mobil, jika dengan jalan kaki atau naik sepeda dapat dilakukan.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar