Kamis, 23 Februari 2012

Harga Diri


Roti Kehidupan
Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar tetapi kekurangan makan [Amsal xii:9].

Harga diri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Harga diri adalah sebuah kata majemuk yang terdiri dari dua kata, yaitu harga dan diri. Harga menyatakan nilai terhadap sesuatu yang dianggap mempunyai kebanggaan untuk dijunjung dan diri menyatakan terhadap suatu kepribadian diri. Jadi harga diri itu adalah nilai terhadap kepribadian diri seseorang, yang menilai itu adalah orang lain sebagai akibat buah perbuatan pribadi yang bersangkutan. Kepribadian itu adalah sekumpulan nilai atau integritas yang dimiliki oleh seseorang misalnya, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, keadilan, kemanusiaan, kebahagiaan, keterbukaan, keikhlasan, keuletan, kepandaian, rasa malu, responsibilitas, kelicikan, ketamakan, kerakusan, kejahatan, dan seterusnya. Semua orang mempunyai nilai-nilai seperti ini, hanya kadarnya satu sama lain berbeda, karena hati manusia itu seperti sebuah ladang pertanian, ada area yang subur untuk nilai-nilai kebajikan, sebaliknya ada area yang subur untuk nilai-nilai kejahatan. Seorang penganut agama yang saleh menganggap dirinya berharga dalam pandangan masyarakat, jika dirinya memiliki  kejujuran, kesetiaan, ketaatan, dan keikhlasan, nilai-nilai seperti inilah yang akan dia upayakan mengental di dalam dirinya, dan masyarakat pun akan menilai terhadap dirinya demikian; sebaliknya di wilayah pelabuhan bongkar muat kapal kontener, kalau mau dianggap jagoan yang sangat disegani, nilai-nilai kelihaian dan kekuatan fisik yang sangat diutamakan. Jika engkau doyan makan bangkai anjing, masyarakat pun akan memberi engkau bangkai anjing untuk dimakan. Itulah nilaimu, harga dirimu. Seorang pekerja keras tidak akan mau menerima barang gratis, karena dia menyadari selama ini yang dia peroleh juga dari kerja kerasnya. Nilai-nilai kehidupan yang dijunjung orang ini adalah tanggung jawab, keuletan, ketaatan, dan rasa malu. Inilah nilai harga dirinya, jika engkau sampai menginjak nilai-nilai yang dijunjungnya ini, boleh jadi dia akan tersinggung.  

Mungkin engkau pernah mendengar ada orang berkata begini, katanya :”Lebih baik aku mati berkalang tanah daripada hidup tidak mempunyai harga diri”. Ia ingin disebut manusia yang mempunyai harga diri, tetapi semua perbuatannya dalam masyarakat tidak mencerminkan, bahwa dia mempunyai harga diri. Ia tidak mau bekerja mencari nafkah, hidup mengandalkan dari kekayaan orang tuanya, dan dia suka membual. Masyarakat itu lebih menghargaimu, jika engkau mempunyai pekerjaan untuk menghidupimu, walaupun mungkin upah yang engkau terima jauh dari yang engkau harapkan. Engkau dihargai oleh orang lain, karena hidupmu mempunyai nilai, yaitu harga dirimu. Bagaimana pun rapinya pakaian seorang seorang gangster, bercelana licin, kemeja cemerlang, dan dasi yang indah, tetaplah dia seorang yang tidak mempunyai harga diri. Seorang gangster dengan banyak temannya memaksa orang lain supaya menyerahkan sejumlah uang yang mereka inginkan untuk kehidupan mereka. Manusia di hadapan Tuhan fitrahnya adalah kerja, itu sebabnya Tuhan memberi setiap orang satu talenta, ada yang dua talenta, ada yang tiga talenta menurut kesanggupannya. Tuhan menuntut supaya talenta itu dikembalikan dalam bentuk tanggung jawab menjalani kehidupan. Tuhan memberi talenta kepada setiap manusia karena Dia ingin memuliakan manusia dalam menjalani kehidupan ini. Jika manusia tidak mengelola talenta yang telah diterima dari Tuhan, dia adalah manusia yang tidak memuliakan Tuhan. Ada orang yang doanya begini, Tuhan berilah kepadaku rezeki yang menjadi bagianku, aku tidak ingin kaya, karena kalau aku kaya, aku dapat menjadi lupa diri, sebaliknya jangan membuat aku miskin, karena kalau aku miskin, aku akan tergoda melakukan kejahatan, ini akan memalukan Engkau Yang Mahatinggi. Seorang gangster itu sesungguhnya adalah orang yang mengambil rezeki yang bukan menjadi bagiannya dan orang yang tergoda melakukan kejahatan adalah manusia tidak memuliakan Tuhan. Orang yang mempunyai rezeki adalah orang yang bekerja, sedangkan pemalas akan jatuh miskin. Orang miskin karena malas bekerja akan mengemis di sepanjang jalan, pengemis tidak akan pernah dihargai oleh orang, karena pengemis adalah manusia yang tidak mempunyai harga diri. Aku pernah menjumpai orang berbaju rapi dan badannya segar bugar datang ke rumahku meminta uang sedekah, apakah pantas aku memberikannya. Pribahasa mengatakan, berilah kail, bukan ikan. Terhadap pengemis seperti ini, jangan beri dia uang, nanti dia akan mengemis seterusnya ke tempat lain. Hidup itu untuk kerja bukan untuk mengemis. Siapa yang mau makan, maka dia harus bekerja. Hanya orang yang bekerja yang mempunyai harga diri.     

Bicara tentang harga diri tidak saja menyangkut orang per orang saja, melainkan juga menyangkut suatu bangsa. Ketika Perang Pacific sedang berlangsung dari tahun 1941 sampai 1945 banyak perwira tinggi Jepang harus melakukan hara-kiri atau bunuh diri, jika dia gagal melaksanakan tugasnya. Mereka, terutama yang berasal dari golongan ksatria atau samurai telah ditanamkan sejak kecil di dalam pikiran mereka, bahwa melaksanakan hara-kiri adalah suatu kehormatan yang mempunyai nilai sangat tinggi. Harakiri dilaksanakan dengan cara menusukkan pisau kecil yang disebut katana, kemudian untuk mempercepat kematian ada orang yang membantunya dengan menebas lehernya dengan samurai sampai kepalanya terlepas dari badan. Kiranya cukup banyak anak usia remaja melakukan hara-kiri di Jepang sampai saat ini, penyebabnya adalah beratnya beban pelajaran di sekolah, mereka merasa harus dapat memenuhi target betapa pun beratnya, jika target tidak tercapai, rasa malu kepada orang tua itulah yang menjadi beban psikhologis yang harus ditanggung, yaitu depressi. Rasa malu? Anak usia remaja di Jepang sudah menanamkan rasa malu di dalam pribadinya. Rasa malu ini begitu dalam tertanam di hati terdalam orang Jepang, rasa malu yang mengandung arti tidak layak hadir lebih lanjut, dan biarlah ada orang lain yang menggantikan kedudukannya. Bagi orang Jepang rasa malu adalah nilai tertinggi di dalam integritas mereka. Karena itu, bagiku tidak mengherankan mendengar suatu cerita, bahwa di Jepang ada seorang menteri dicurigai korupsi saja, langsung meletakkan jabatan. Inilah yang aku sebutkan di atas, harga atau nilai pribadi seseorang. Ketika Russia harus mempertahankan kota Stalingrad dari serbuan Jerman pada waktu Perang Dunia II, diktator Stalin tidak mau tahu berapa juta pemuda harus dikorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan kota ini. Banyak jenderal lapangan yang gagal mempertahankan suatu wilayah dari serbuan Jerman dipaksa bunuh diri dengan menembak diri mereka dengan pistol. Demi harga diri seorang diktator yang bernama Stalin.

Nyonya Ratna Sari Dewi Soekarno, isteri mendiang presiden RI pertama telah berkata kepada seorang presenter Metro TV, bahwa dengan konsep negara Indonesia seperti sekarang ini, jika Bung Karno masih hidup, presiden ini pasti tidak akan mengirimkan tenaga kerja Indonesia ke Malaysia. Alasannya sederhana saja, yaitu harga diri yang menyangkut nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Potret menyedihkan bangsa Indonesia yang mencari nafkah di negeri orang, harapan inginkan masa depan cerah kerja di negeri orang, tetapi yang di dapatkan banyak dari mereka mendapat perlakuan yang tidak mencerminkan nilai kemanusiaan dari majikan di sana. Di Saudia Arabia, banyak dari mereka mendapat perlakuan siksaan fisik yang lebih kejam lagi dan cerita sedih perkosaan yang dialami oleh tenaga kerja wanita, bahkan ada yang sampai hamil pulang ke tanah air. Secara makro bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang tidak mempunyai harga diri di mata dunia, khususnya di mata negara tetangga. Korupsi di segala bidang dari tingkat atas sampai ke bawah di seluruh wilayah negara ini dan hukum yang lemah terhadap pelaku korupsi telah membuat bangsa ini tidak mempunyai harga diri lagi. Walaupun Indonesia masih miskin ketika Soekarno masih hidup, tetapi negara ini sangat dihargai di mata dunia. Ketika itu Soekarno identik dengan Indonesia. Ketika aku belajar ilmu bumi, guru berkata bahwa bumi Indonesia kaya dengan bahan tambang dan tanahnya subur, tetapi mengapa rakyatnya tetap miskin dan hutang negara ini besar kepada negara lain. Karena rakyat negara ini malas, hidup ingin jalan pintas mencari kekayaan tanpa kerja keras, yaitu dengan jalan korupsi, merampok uang rakyat. Sumber devisa negara yang seharusnya membangun lapangan kerja untuk kesejahteraan rakyat, sebaliknya berpindah tempat kepada manusia serakah yang tidak mengindahkan rasa keadilan kepada rakyat. Rakyat seharusnya dapat menjadi pekerja di negeri sendiri, tetapi sekarang terpaksa menjadi babu di negeri orang. Kita bangsa babu, babu bagi segala bangsa. Jangan mau jadi babu, jadilah tuan di negeri sendiri!!!

Aku pernah menjumpai seorang petugas kebersihan halaman di sebuah kantor pemerintah di kota Bogor sedang membersihkan halaman gedung kantor dari sampah kotak makanan. Di halaman gedung kantor pemerintah itu baru saja selesai acara koordinasi anak-anak sekolah yang akan masuk ke Istana Bogor. Banyak juga makanan tersisa di dalam kotak-kotak makanan ini yang sudah di buang ke dalam tempat pembuangan sampah. Tanpa malu lagi, makanan sisa yang sudah terbuang ke dalam tempat sampah ini dimakan olehnya. Harga diri??? Ya, demi perut bagi dirinya sendiri, bahkan bagi keluarga, tidak sedikit orang terpaksa mengorbankan harga diri.  

Namun, jangan berlebihan dengan harga diri, karena bagaiman pun terhadap semua nilai yang ada engkau perjuangkan matian-matian supaya engkau tetap eksis di dalam masyarakat dapat membuat engkau menjadi manusia sombong. Sombong demi perbuatan baik yang engkau lakukan terhadap orang lain. Setidaknya sekali dalam seumur hidup seorang manusia pernah mengalami di mana harga dirinya jatuh serendah-rendahnya. Istilah orang Jakarta menjadi orang madatan. Engkau tahu apa artinya madatan dalam bahasa Betawi. Pada saat seperti ini sekeping uang logam 500 rupiah tidak ada nilainya sama sekali, tetapi bagi orang yang madatan, kepingan uang logam ini sangat berharga; melihat ada kepingan uang ini di pinggir jalan, tidak malu lagi untuk di pungut. Aku pernah melihat seorang yang kukenal sebagi teman, perutnya jelas sedang lapar, tetapi malu untuk meminta terus terang kepadaku makanan yang kumiliki. Mungkin dia tidak tahu, tetapi aku mengetahui yang dilakukannya, yaitu dia diam-diam menyuap sesendok makanan yang aku bawa itu. Aku diam saja, karena aku mengetahui keadaannya. Apa yang telah dialami oleh temanku itu, Tuhan izinkan juga terjadi pada dirimu, supaya hidupmu hanya bergantung kepada-Nya saja, bukan mengandalkan kekuatanmu yang terbatas. Apakah engkau harus mempertaruhkan nilai kejujuran dan kesetiaan demi sesuap nasi? Jika kecenderungan hidupmu memang lebih mengarah terhadap nilai-nilai kefasikan, tidak tertutup kemungkinan pada suatu hari engkau akan mempertaruhkan harga dirimu. Jadi? Alkitab tidak bicara secara eksplisit tentang harga diri, tetapi jika engkau hidup hanya bergantung kepada kekuatan Tuhan dan takut kepada-Nya, Tuhan akan memberimu kekayaan, kehormatan, dan kehidupan [Amsal xxii:4]. Dengan kata lain Tuhan menjagamu tidak dipermalukan orang-orang fasik. Lihat saja, Yesus Kristus disiksa, dirajam, dan disalibkan di kayu salib, apakah ada penghinaan yang lebih rendah seperti yang dialami oleh Yesus ini. Ia disejajarkan dengan narapidana di kayu salib. Untuk realitas kehidupan seperti ini, berbahagialah engkau yang menderita sengsara demi suatu kebenaran yang engkau cari, walaupun harga dirimu terinjak-injak. Tuhan adalah sumber kebenaran sejati.       

Seorang pemimpin yang sudah tidak diharapkan lagi eksistensinya oleh publik, tetapi tetap berkeras mempertahankan kedudukannya walaupun sudah tidak mendapat aliran dukungan lagi dari mayoritas publik, sungguh pantas kalau orang ini disebut orang yang tidak mempunyai malu lagi. Hanya di Indonesia saja orang yang pernah menjadi narapidana, bahkan masih sedang menjalani hukuman di penjara masih diizinkan mengelola organisasi olah raga sebesar PSSI. Jika keadaan sangat memaksa, pemerintah harus membekukan kegiatan PSSI, walaupun konsekuensinya seluruh kegiatan PSSI di arena internasional dibekukan oleh FIFA. Biarlah dibekukan demi harga diri bangsa ini, urusan nanti kita bangun lagi organisasi baru sepak bola Indonesia.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar