Rabu, 15 Februari 2012

Tuhan Menyempurnakan Semua Pengabaran Injil

Ada seorang pengabar Injil Jawa dari kalangan rakyat kebanyakan, namanya Tunggul Wulung. Ia dilahirkan pada permulaan abad XIX, 1800 dari keluarga petani di Ju­wana, wilayah Jepara, Jawa Tengah. Nama kecilnya adalah Ngabdul­lah (penyebutan Jawa dari nama Abdullah). Tidak banyak diketahui masa mudanya. Ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju daerah Kediri karena kesulitan ekonomi yang amat parah yang melanda Jepara pada tahun 1840. Tidak sulit untuk menduga bahwa kesulitan ekonomi yang amat parah pada waktu itu karena ekses politik Tanam Paksa yang diberlakukan pada awal tahun 1830.

Ia menjadi pandito (pertapa) di gunung Kelud selama tujuh ta­hun. Gunung ini letaknya dekat dengan kota Kediri yang dulu meru­pakan kerajaan terkemuka di Jawa Timur. Di tempat pertapaannya dia menamakan dirinya sebagai Tunggul Wulung. Tampaknya Ngabdulah terobsesi dengan nama ini, mengingat nama ini adalah nama seorang panglima Jayabaya, Raja Kediri, yakni Tunggul Wulung; dimana menurut kepercayaan penduduk setempat, rohnya berjaga-jaga di gunung ini. Sebagaimana umumnya suku Jawa yang dihormati, maka dia disapa orang dengan panggilan kiai.

Bagaimana pandito ini menjadi Kristen tampaknya lebih banyak mitosnya dari pada faktanya. Konon dia mendapatkan petunjuk Sepuluh Perin­tah Tuhan berada di bawah tikar tempat tidurnya dan dia mendapat wahyu, supaya dia mencari tahu tentang Sepuluh Perintah Tuhan ini. Ia memang sempat bertemu dengan Jellesma setelah wahyu dalam semadinya menunjukkan, bahwa melalui orang inilah dia akan mendapat ajaran kekristenan. Jarak tempat tinggal Tunggul Wulung kira-kira empat puluh kilo meter dari Mojowarno, desa kediaman Jellesma. Jellesma memberinya sebuah terjemahan kitab Perjanjian Baru dan dia menetap beberapa bulan di sini. Setelah itu, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Jepara. Ia melakukan banyak dakwah kekristenan di kota ini dan sekitarnya, walaupun dia sendiri belum dibaptis. Kemudian dia kembali lagi ke Mojowarno. Ia dibaptis oleh pendeta Jellesma pada tahun 1854 (atau 1855?) setelah pendeta ini memberikan katekisasi kepadanya. Di depan namanya kini ditam­bakan Ibrahim sebagai nama baptisnya.

Tunggul Wulung dapat disejajarkan dengan Coolen dalam hal kadar pemahaman Firman Tuhan. Mereka adalah praktisi atau orang lapangan, yakni mentafsirkan Alkitab melalui hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari suku Jawa bukan Kristen, sehingga terkesan menghalalkan sinkretisme. Misalnya, ia berpendapat demikian, bahwa pengajaran yang diberikan kepadanya dari orang sebelumnya dahulu adalah berbeda kata-katanya, tetapi sebetulnya serupa saja isinya dengan ajaran Kristus. Selanjutnya dia juga berpesan kepada murid-muridnya bahwa dia tidak membenarkan pengikutnya menjelekkan sedikit pun Nabi Muhammad, karena Muhammad juga dihormati dalam Injil. Sama dengan Coolen, pada akhirnya dia juga meng­gunakan konsep Ratu Adil, mesias suku Jawa dalam mengajarkan agama Kristen.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian, melalui bekas seorang guru ngelmu dia berkenalan dengan Sadrach di Semarang yang pada waktu itu masih bernama Radin Abas. Segera mereka menjadi sangat akrab. Guru ngelmu ini adalah Pak Kurmen, bekas guru ngelmunya Sadrach, yang kemudian menjadi Kristen setelah kalah dalam perdebatan den­gan Tunggul Wulung. Pembawaan Ibrahim begitu mengesankan Radin dan santri ini banyak belajar darinya bahwa suku Jawa Kristen tidak harus diartikan melepaskan adat Jawa. Pada akhirnya dia juga yang mengantarkan Radin Abas mengenalkan Kristus lebih jauh sampai Radin ini dibaptis di Batavia dua tahun kemudian.

Ia melakukan banyak dakwah terutama di Jawa Tengah bagian utara dan keberhasilannya sungguh nyata di banyak tempat. Ia  mem­bangun desa Kristen di dekat Jepara, yakni di Bondo mengikuti con­toh yang pernah dia saksikan di Mojowarno. Menurut Jensma bahwa lebih baik bagi orang awam mengikuti contoh suku Jawa Kristen di Mojowarno, berkumpul dan membangun jemaat yang khas dan sesuai ke arah mana pekabaran Injil dilakukan menurut kebutuhan setem­pat.

Jumlah orang Kristen hasil pembinaannya di desa-desa di sekitar Muria (Jepara) mencapai 1058 orang. Satu jumlah yang fantastis apa­bila dibandingkan dengan kerja misionaris lain seperti, Hoezoo dan Jansz. Hoezoo kehilangan sebagian besar domba-dombanya, karena banyak di antaranya hijrah ke Bondo, sebaliknya Jansz oleh pe­merintah dilarang berdakwah di kalangan non Kristen. Pada per­mulaannya pembukaan desa Bondo, Sadrach yang telah menjadi Kristen masih berkerja sama dengan Tunggul Wulung, tetapi karena adanya konflik internal di antara mereka, Sadrach memilih berpisah dengan temannya ini. Konon, perpisahan mereka ini begitu mengharukan sehingga Sadrach meneteskan air matanya ketika meninggalkan Bondo.

Baik Tunggul Wulung maupun Coolen keduanya adalah pengabar Injil yang kontroversial. Apabila Coolen kontroversi karena masalah baptisan, sebaliknya Tunggul Wulung kontroversi karena ma­salah pengabaran Injil yang dilakukannya sarat dengan ngelmu Jawa. Walaupun dia memiliki kharisma besar sebagai pengabar Injil di Jawa, bagi misionaris Belanda dia tidak lebih adalah seorang guru ngelmu yang membekali pengetahuan dari ajaran sebelumnya dengan ajaran Kristen. Ia meninggal pada tahun 1885 di desa Bondo yang di­bangunnya di Jepara. Setelah Tunggul Wulung meninggal, banyak bekas pengikutnya bergabung dengan komunitas Kristen Mennonite. Inilah realitas Injil, bahwa Anda menyiarkan kerajaan Tuhan sampai ke ujung-ujung bumi, Tuhan yang menyempurnakan pekerjaan Anda.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar