Minggu, 15 Juli 2012

Yesus Kristus Menurut Penginjil Belanda di Jawa Pada Abad 19 [2]

Hoezoo
Ia mendarat di Jawa pada tahun 1849 dan kemudian menetap di pos pelayanannya di Semarang. Ia mempelajari bahasa Jawa dalam tempo enam bulan kemudian berdakwah dalam bahasa ini.

Pada tahun 1853, dia diundang oleh penduduk desa Kayuapu, salah satu desa di kaki Gunung Muria yang dibangun oleh Tunggul Wulung. Beberapa kali dia mengunjungi desa ini, dan mengikuti jejak Jellesma untuk tinggal di desa. Ia meminta izin kepada pemerintah colonial Belanda untuk menetap di desa ini. Tetapi pemerintah menolak permohonanya, karena mengkhawatirkan propaganda agama yang terlalu terbuka dapat menyinggung perasaan orang Islam. Pemerintah melarangnya untuk membaptis di Banyumas terhadap sepuluh orang Jawa pelayan pedagang batik. Residen tidak mau mengambil resiko, karena hal ini akan menimbulkan masalah keamanan dan ketertiban, mengingat di daerah ini terdapat banyak orang Islam fanatik. Atas sarannya, ke sepuluh orang Jawa ini akhirnya datang ke Semarang untuk dibaptis.

Ia berpendapat tentang Tunggul Wulung bahwa orang ini berpengetahuan luas agama Islam dan dia mempergunakan banyak ungkapan Arab, yang menurutnya sesuai dengan ajaran Kristen, baik makna maupun tujuannya. Pelayanannya kurang berhasil karena banyak jemaatnya pindah ke desa Bondo, tempat pos pelayanan Tunggul Wulung. Ia meninggal di Semarang pada tahun 1896.

Pieter Jansz [1822-1904]
Misionaris kelahiran 1822 ini pada mulanya adalah seorang guru yang mengajar di Delft, pada tanggal 15 November 1851 tiba di Batavia [sekarang Jakarta] sebagai utusan dari Doopsgezinde Vereeniging ter bevordering der Evangelieverbreiding in de Nederlandsche bezittingen [DZV]. Ia disarankan oleh kenalannya, yaitu Munnich dan Bleeker segera ke Semarang menemui Bruckner dan Hoezoo, pekabar Injil dari Nederlandsch Zendeling Genootschap [NZG]. Pada tahun 1852 dia pindah dan menetap di Jepara. Setahun kemudian, pada tanggal 3 Februari 1853 pemerintah memberikan izin kepadanya untuk melakukan pengabaran Injil.

Pekerjaannya jauh dari memuaskan, sebaliknya Tunggul Wulung yang kala itu belum dibaptis, energik melakukan pekabaran Injil dan berhasil menghimpun ratusan orang di desa-desa sekitar Jepara. Melalui perantara Sem Sampir, orang yang dikirim oleh Jellesma dari Mojowarno, Jansz berkenalan dengan Tunggul Wulung. Berbicara tentang Jansz tidak lepas berbicara tentang Tunggul Wulung. Mereka bertetangga di Jepara tetapi mereka tidak pernah bersatu sampai akhir hayat mereka. Di satu pihak ada seorang kiai karismatik, energik, penuh ide dan sanggup menarik banyak pengikut. Di pihak lain ada seorang pekabar Injil yang tidak pernah kompromi, cenderung memandang sisi negatif atas kepribadian Tunggul Wulung yang khas Jawa, serta kurang memperhatikan dogma.     

Pada tahun 1854, Tunggul Wulung pernah datang kepada Jansz meminta kepadanya untuk dibaptis. Tetapi pendeta ini menolaknya dengan alasan seperti telah disebutkan di atas [baca tentang Jellesma]. Pekerjaan Jansz tampaknya terganggu oleh aktifitas Tunggul Wulung yang kelihatannya dalam tahun 1856 atau 1857 dengan sejumlah pengikutnya mendirikan desa di Bondo di wilayah Jepara dan kelanjutan aktifitas ini adalah menimbulkan daya tarik yang besar terhadap jemaat lain di sekitarnya.

Ia mendapati masalah sinkretisme yang terbukti ada pada Tunggul Wulung melalui pendapat guru ngelmu yang terkenal ini dan kemudian menjadi gurunya Sadrach. Ia menulis laporan tentang kiai ini, yaitu : “Ibrahim, mengingat dia sendiri adalah guru ngelmu, dia bertindak sebagai orang Kristen dan Islam dan merasa dirinya sebagai reinkarnasi Kristus.”

Alasan ini jelas memenuhi dugaan Jansz tentang figur seperti Tunggul Wulung apakah dia tidak akan menggunakan adat-istiadat tradisi leluhurnya yang dapat menimbulkan persoalan di dalam kekristenan apabila sejumlah orang Jawa masuk menjadi Kristen. Tetapi dia tidak bergeming meskipun Tunggul Wulung dan Sadrach bekerja sama menabur benih firman Tuhan dan memperoleh kemajuan cepat di sekitar tempat tugasnya di Jepara. Laporannya yang lain tentang kiai ini adalah :

“Bagi Tunggul Wulung, kisah-kisah dan cerita dalam Injil tidak punya hubungan sedikt pun dengan realitas, melainkan hanya ucapan-ucapan mistik yang harus dijelaskan lagi … Cerita kelahiran Yesus bukanlah peristiwa yang sudah terjadi tetapi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang. Sementara itu, Yesus menjelma menjadi orang atau benda. Yudea, Yerusalem, Betlehem, bukanlah tempat-tempat yang benar-benar ada, tetapi kata-kata yang maknanya yang terselubung masih harus dicari.”

Jansz menghadapi masalah dengan pemerintah sehubungan brosur berbahasa Jawa yang dibuatnya sendiri untuk keperluan pastoral.  Satu eksemplar brosur ini jatuh ke tangan residen. Walaupun pejabat pemerintah ini telah diyakinkan oleh bupati bahwa brosur ini tidak akan menyinggung perasaan orang Islam, dia tidak mau menanggung resiko apabila akibat yang ditimbulkannya dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Karena alasan ini, maka Jansz sejak 26 Maret 1859 izinnya berdakwah di kalangan non Kristen dicabut oleh pemerintah. Ia menulis buku, Landontginning en Evangelisatie op Java [Pembukaan Tanah dan Kristenisasi di Java] yang berisi mengetengahkan ide, bahwa Ratu Adil adalah Mesias dalam agama Kristen, yakni Yesus Kristus. Ia meninggal pada tahun 1904.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar