Rabu, 13 Juni 2012

Yesus Menurut Pandangan Pengabar Injil Belanda di Jawa Pada Abad 19 [1]

Jelle Eeltjes Jellesma
Pada tahun 1848 Jellesma tiba di Surabaya setelah sebelumnya mela­kukan pelayanan misi di pulau Seram bagian utara. Pada bulan Juli 1851 dia mendapat izin dari pemerintah untuk melakukan pengabaran Injil di desa Mojowarno. Ia adalah misionaris pertama Belanda di desa ini.

Segera dia disenangi oleh banyak orang Jawa, karena tindakan-tindakannya yang cukup bijaksana, yang bebas dari keinginan me­mentingkan diri-sendiri sehingga dia tampil sebagai pemenang dalam menarik simpati masyarakat setempat. Tugasnya di sini lebih banyak memelihara dan mempertebal akidah jemaat ketimbang melakukan pekabaran Injil kepada suku Jawa Kristen.

Ia datang ke Ngoro ketika pengaruh Coolen telah memudar, seumpama seorang raja yang turun dari takhtanya. Ia diizinkan oleh Coolen untuk membaptis orang-orang Jawa Kristen yang tersisa di desa ini.  Mengenai Coolen, dia membuat satu kesimpulan, yaitu :

== Coolen sangat paham dalam bahasa, penalaran, kebiasaan dan prasangka sesama bangsanya, khususnya terlatih untuk menemukan titik-titik kontak dan gambaran-gambaran yang dapat memperlancar penyebaran Injil. Mengenai orang-orang Kristen ini pastilah Tuhan akan berkata, bahwa barangsiapa tidak melawan Aku, dia ada di pihak-Ku.  ==

Ia segera menginsyafi bahwa zending harus membiarkan suku Jawa Kristen tetap tinggal sebagai suku Jawa, sebab justeru karena itulah mereka dapat dijadikan sarana untuk menghubungi saudara-saudara sebangsa mereka.

Ia sering melakukan kunjungan ke desa-desa Kristen lain yang banyak tersebar di sekitar Mojowarno. Selama melakukan banyak kunjungan, maka dia biasanya mewakilkan kepemimpinan jemaat Mojowarno kepada Tosari. Pada satu acara  seusai kebaktian dia memberi satu pendapat tentang Tosari, yaitu :

== Paulus Tosari menyampaikan sebuah pidato yang ramah sekali. Kebaktian diawali dan diakhiri dengan doa dan nyanyian kidung jemaat. Ia sangat terkesan, sejauh yang dapat dipahaminya. Kemudian dia memperbincangkan dengan Tosari ihwal tindakan orang-orang ini. Diwarnai beberapa emosi pada pihak Tosari, dia menerima kepastian, bahwa andaikata ada keberatan terhadap orang-orang ini, tentu akan diberitahukan oleh Tosari kepadanya, karena Tosari tak dapat menanggung jawab memberi rekomendasi seorang pun yang tidak bersih.  ==
 
Pada satu kunjungan Jellesma ke Semarang, di Mojowarno terjadi peristiwa yang sangat memalukan mengingat pelaku utamanya adalah tokoh pendiri desa ini, yaitu Abisai Ditotruno yang mengadakan pesta tayuban.* Namun, peristiwa ini tidak melunturkan kredibilitas kepemimpinan Tosari, karena semua pelakunya mendapat sanksi gereja setelah Jellesma kembali dari Semarang.

Banyak misionaris Belanda memberi penilaian yang negatif terhadap pribadi Tunggul Wulung, sebaliknya tidak ada catatan apakah Jellesma juga memberi penilaian negatif terhadap kiai ini. Jansz dari Jepara mempermalukannya dengan cara tidak mau membaptiskannya dengan alasan bahwa dia tidak memiliki dasar-dasar agama Kristen yang benar. Jellesma sendiri yang akhirnya membaptis kiai ini.

Pada akhir pelayanannya, dia telah meletakkan dasar-dasar bagi bagi suatu gereja Kristen Jawa yang sesungguhnya yang sekaligus adalah gereja Kristen yang sesungguhnya. Ia meninggal pada tanggal 16 April 1858 pada usia belum genap 41 tahun, karena penyakit disentri yang telah lama dideritanya.-


* Tayuban adalah pesta tarian rakyat dimana kebanyakan penarinya adalah perempuan-perempuan yang menerima bayaran dari para pengunjung laki-laki dengan cara kurang sopan dan dapat menjurus ke arah percabulan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar