Kamis, 01 Agustus 2013

Kekristenan Dan Kejawen

Implikasi Mite-mite Jawa di dalam Kekristenan
Karya Kristus sebagai Kepala Perjanjian ialah menyatakan bahwa Tuhan Allah sebagai Penyelamat umat-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus memberi keselamatan bagi umat-Nya, melalui jalan kepada Allah yang telah dibuka serta diratakan. Manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga hubungan manusia terhadap Allah telah putus. Dosa menyebabkan manusia kehilangan kemuliaan Allah, takluk dibawah hukum Taurat dan mengalami kematian kekal. Ungkapan diselamatkan berarti diperbaiki dan diperbaharui secara menyeluruh meliputi semua yang rusak akibat dosa. Ini berarti manusia harus dibebaskan dari kutuk hukum Taurat. Segala upaya manusia berbuat kebajikan untuk mencari pendamaian dengan Allah. Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, semua perbuatan manusia sebaik apa pun tidak satu pun yang berkenan di hadapan Allah sehingga manusia membutuhkan Juruselamat atau Mesias supaya hubungan manusia terhadap Allah yang telah rusak oleh dosa dapat dipulihkan kembali.

Ketika Yesus pada satu kesempatan bertanya kepada murid-murid-Nya satu per satu :”Kata orang, siapakah Aku ini?” Implikasi atas pertanyaan ini dapat menghasilkan berbagai jawaban, tergantung apa latar belakang pengalaman hidupnya orang yang menjawab pertanyaan ini. Jadi, Yesus memang menghendaki ekspresi sejati apa yang terkandung di dalam pikiran seseorang tentang diri-Nya. Para murid tentu dihadapkan satu kondisi yang tidak terduga atas pertanyaan-Nya, karena itu mungkin ada yang menjawab sekenanya saja. Tetapi hanya Petrus saja yang menjawab dengan benar, yaitu katanya :”Engkau adalah Mesias” [Markus 8:29]. Yesus tidak bertanya lagi setelah diberikan jawaban yang benar tentang gelar-Nya.

Banyak orang Farisi tidak mengetahui siapa identitas Orang yang setiap hari diikuti oleh penduduk dari berbagai lapisan masyarakat kemana pun Dia berjalan. Karena menurut pengalaman rohani mereka seorang nabi datangnya dari Galilea bukan dari Judea dan menimbang pikiran mereka apakah sosok Orang ini layak disebut Juru Selamat mengingat Orang ini dilahirkan di kandang domba. Tidak tertutup kemungkinan satu dua orang di antara mereka menduga bahwa Dia ini orang gila dari Nazaret.    

Nama orang adalah fungsi untuk membedakan identitas orang yang satu terhadap yang lain, sedangkan gelar atau sebutan adalah argumen yang menjelaskan kekhasan pemilik nama tersebut yang meliputi : asal-usul, status sosial, kekuasaan [power], tempat tinggal, karakter, kegemaran atau kebiasaan dan gelar selalu unik. Beberapa contoh dibawah ini memberikan penjelasan tentang gelar dari seorang pemilik nama :
1) Yesus Orang Nazaret, Orang Nazaret menjelaskan bahwa pemilik nama Yesus pernah tinggal dan dibesarkan di Nazaret. 2) Yesus Anak Yusuf, Anak Yusuf menjelaskan tentang asal-usul keturunan Yesus. 3) Yesus adalah Mesias, Mesias menjelaskan kekuasaan yang dimiliki-Nya sebagai Juru Selamat. 4) Jaka Tingkir, Tingkir menjelaskan, pemilik nama Jaka pernah tinggal dan dibesarkan di desa Tingkir di Jawa Tengah. 5) Mas Karebet, Karebet menjelaskan bahwa ketika Jaka Tingkir lahir, ayahnya sedang menikmati kegemarannya nonton wayang beber. 6) Mas Guntur adalah gelar yang menjelaskan watak Gubernur Jenderal Hermann Willem Daendels yang mudah marah.

Di dalam Alkitab nama bukanlah sebutan atau gelar semata-mata, melainkan menunjukan kekuasaan Allah di dalam Yesus Kristus dalam melindungi umat-Nya. Gelar-gelar Yesus memberi penegasan terhadap pribadi-Nya tentang kekuasaan yang dimiliki-Nya. Misalnya :
Juru Selamat. Maria, isteri Yusuf melahirkan anak laki-laki yang dikandung dari Roh Kudus dan Yusuf menamakan-Nya Yesus karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka [Matius 1:18-25]. Yesus adalah nama Yunani untuk nama Yahudi, Yusak yang berarti Tuhan adalah keselamatan. Yesus juga sering disebut Yesus Kristus. Kristus adalah sebutan dalam bahasa Yunani yang berarti Yang Diurapi. Pada mulanya Roh Kudus menunjuk hanya pada orang-orang tertentu saja, yaitu para nabi untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya. Tetapi sejak Roh Kudus tercurah pada hari Pentakosta [Kisah Para Rasul 2:1-4] atau zaman kasih karunia, Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya pada setiap orang percaya dan memimpin akal budi orang yang mempercayai kebenaran Allah bahwa hanya melalui Yesus manusia diselamatkan. Yesus disebut sebagai Juru Selamat, karena Dia menyelamatkan umat-Nya dari kutuk hukum Taurat, yaitu dosa. Ia menyelamatkan manusia dari kutuk dosa dan mengatasi kecenderungan manusia berbuat dosa. Ia mendatangkan keselamatan, bukan mengajarkan keselamatan. Yesus adalah keselamatan itu sendiri.

Ketika hukum Taurat diberlakukan, orang Israel melalui seorang imam harus menyembelih seekor domba tak bercacat sebagai korban penghapusan dosa. Upah dosa bagi seorang pendosa adalah kematian kekal. Darah domba yang tercurah ke bumi melambangkan penghapusan dosa, arti simbolis kematian domba adalah ungkapan ganti kematian bagi orang yang berbuat dosa, karena upah dosa adalah kematian. Korban penghapusan dosa mewakili hidup yang mempersembahkannya. Pembawa korban bersama imam meletakkan tangan masing-masing ke atas kepala korban, sebagai tanda bahwa korban itu mewakili diri si pembawa korban.

Menurut hukum Taurat segala sesuatu disucikan dengan darah dan tanpa darah tidak ada pengampunan [Ibrani 9:22]. Mengapa temanya harus darah? Karena darah berbicara tentang kehidupan dan kematian makhluk hidup, khususnya manusia. Allah memberi kehidupan fisik manusia ada di dalam darahnya. Darah adalah cermin kesehatan fisik manusia. Jika manusia karena luka parah sehingga dia kehilangan banyak darah, hal ini dapat menyebabkan kematian; atau jika dia memiliki jumlah darah yang mencukupi di dalam tubuhnya, tetapi jumlah kandungan butir-butir darah merahnya jauh dibawah ambang yang diizinkan karena sakit, hal ini pun dapat menyebabkan kematian. Untuk alasan ini, maka hukum Taurat juga menetapkan korban penghapusan dosa harus menggunakan domba atau sapi tak bercacat dan tak berpenyakitan.

Yesus mengatakan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan kehidupan. Tidak ada seorang pun dapat datang kepada Allah tanpa melalui Dia [Yohanes 14:6]. Kebenaran Kristus harus dipandang dalam konteks kebenaran kayu salib, yakni Dia mati di kayu salib, darah-Nya tercurah, pada hari ketiga Dia bangkit dari kematian-Nya, dan pada hari ke empat puluh Dia naik ke surga. Barangsiapa mempercayai bahwa Dia yang mati di kayu salib adalah Kristus dan mengakui kematian-Nya sebagai tanggungan pengganti dosanya, maka dia diselamatkan dari kematian kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yoh. 3:16]. Jadi, menerima darah Kristus yang tercurah dari kayu salib melambangkan menerima kehidupan baru dan menjadi milik Kristus selamanya. Darah Kristus tercurah dari kayu salib sebagaimana darah domba tercurah ke bumi adalah ungkapan bahwa kematian-Nya menggantikan atau menanggung dosa-dosa manusia bukan hanya untuk orang Yahudi di Palestina, melainkan umat manusia seluruh dunia [1 Yohanes 4:14].

Roh Kudus. Firman Allah identik dengan Allah dan Allah adalah Roh, karena itu Roh juga berkuasa menyatakan firman atas kehendak Allah di dalam menciptakan dunia ini. Roh Kudus berkuasa memimpin manusia yang ditetapkan oleh Allah, yakni para nabi untuk menyampaikan kebenaran firman Allah kapada manusia. Kebenaran firman Allah harus dipandang dalam konteks janji Allah yang akan memberi keselamatan kekal kepada manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Perjanjian Allah yang pertama dinyatakan kepada Abraham bahwa keselamatan kekal datangnya hanya melalui keturunan Ishak, yakni anak perjanjian antara Allah dengan Abraham dan Sarah sebagai istrinya [Kejadian 17:1-19].

Kebenaran yang telah lama dinantikan oleh manusia pada akhirnya telah tiba di dalam diri Kristus. Firman berinkarnasi menjadi manusia, diam di antara manusia dan memancarkan kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah yang penuh kasih karunia dan kebenaran [Yohanes 1:14]. Tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan tidak tahu, yakni siapa yang mengabarkan tentang keselamatan dari zaman purba kala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu kala. Tiada lain, Dialah, TUHAN yang mengabarkannya, bahwa Dialah Juru Selamat [Yesaya 45:21]. Barangsiapa mengakui kebenaran tentang keselamatan dari Allah di dalam Kristus ini, maka dia diselamatkan. Apabila ada manusia dapat mengakui kebenaran ini, tidak lain karena Roh Kudus memampukan hati manusia mengakuinya ketika manusia melihatnya. Namun, diantara domba-domba adalah hal biasa juga apabila terdapat kambing-kambing. Artinya, jika ada yang bertobat, selebihnya ada juga yang tetap mengeraskan hati terhadap kebenaran yang dibisikan oleh Roh Allah.

Roh Kudus berkuasa menempatkan kelahiran kembali jiwa manusia. Yesus berkata bahwa siapa pun tidak dapat melihat Kerajaan Allah, jika dia tidak dilahirkan kembali. Barasiapa mau dilahirkan kembali harus melalui Roh, karena apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh [Yohanes 3:3-5].

Kekristenan tidak semata-mata mengakui dan menerima Kristus adalah Juru Selamat dan menerima pembaptisan baik selam maupun percik. Yang paling utama dan tidak dapat dikesampingkan adalah pertobatan. Karena pertobatan manusia menikmati kelahiran kembali dari Roh yang memberi kehidupan baru di dalam jiwanya. Tanpa pertobatan manusia mempunyai kecenderungan untuk mengulangi lagi perbuatan masa lalunya yang tidak berkenan di hadapan Allah. Tanpa pertobatan manusia mengalami kegersangan dalam hidupnya, karena kedengkian, perzinahan, kemalasan, ketamakan, kerakusan, kecemburuan dan kedendaman mewarnai keadaan jiwanya sehingga tidak ada tempat sedikit pun untuk kasih di dalamnya.

Apabila waktu-Nya bagi Roh untuk menjamah jiwa seseorang, pastilah di dalam hatinya yang terdalam terjadi pertentangan antara keterikatan perbuatannya selama ini dan kehendak Allah yang harus dipatuhi. Allah memberi pilihan bebas kepada manusia untuk memilih antara yang baik dan yang jahat, sebagaimana Hawa diperhadapkan memilih antara mematuhi perintah Allah jangan memakan buah terlarang di tengah taman dan menerima tawaran Iblis supaya memakan buah terlarang tersebut. Pertobatan terwujud jika hati nurani seseorang terbuka terhadap teguran Roh Kudus dan dia menanggapi teguran-Nya supaya berubah meninggalkan kehidupan lamanya. Ya, esensi dari kelahiran kembali adalah perubahan. Jika ada seseorang mengatakan bahwa dirinya telah mengalami dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, tetapi kehidupan lamanya tetap tidak berubah, berarti dia membohongi Allah, sesama manusia dan dirinya sendiri.

Dalam Roma 8:14-17 menjelaskan tentang peranan Roh, yaitu pimpinan Roh dalam kehidupan sehari-hari. Yesus disebut Anak Allah karena Roh Kudus sempurna penuh ada di dalam diri-Nya. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus membuat orang-orang percaya menjadi anak Allah. Orang-orang percaya pada mulanya adalah orang-orang berdosa yang diangkat sebagai anak oleh Allah karena beriman kepada Yesus. Anak Allah adalah ahli waris yang berhak menerima warisan, yaitu janji-janji Allah [pasal 17]. Janji Allah adalah pembebasan roh perbudakan karena dosa melalui Yesus Kristus. Jadi, orang percaya adalah seseorang yang menerima Roh Kudus di dalam jiwanya melalui Kristus yang penuh Roh Kudus juga. 

Air Hidup. Dalam Injil Yohanes 4:4-14 Yesus terlibat percakapan dengan perempuan Samaria tentang air yang dapat menghalau dahaga. Pemahaman bangsa Yahudi tentang air hidup adalah jika air mengalir lancar dari sumbernya ke tempat-tempat yang lebih jauh. Sebagaimana mereka melihat air sungai Jordan mengalir lancar dari sumbernya di lembah Gunung Hermon menuju Danau Galilea terus bermuara di Laut Mati. Mereka memiliki pemahaman berkaitan dengan jiwa yang dahaga kepada Allah perlu dipuaskan dengan air hidup. Air hidup sering diartikan sebagai hikmat Allah juga dengan Roh Allah. Air yang menyehatkan kehidupan fisik manusia adalah air jernih yang mengalir lancar, sebaliknya hikmat yang memberi kehidupan rohani yang menyehatkan adalah hikmat yang diilhami oleh Roh Allah, yakni Air Hidup yang lancar mengalir memenuhi jiwa manusia yang senantiasa rindu kepada Tuhan.

Gembala. Dalam Injil Yohanes 10:11 dikatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang baik. Pasal 4 menyatakan salah satu ciri gembala yang baik, yaitu jika semua dombanya keluar kandang, dia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Pendeta adalah gembala bagi jemaatnya. Karena itu, apabila seorang pendeta, ucapan dan tingkah lakunya selaras dengan firman Tuhan, dia dapat menjadi figur panutan bagi jemaatnya. Setiap orang yang lebih dewasa rohaninya seharusnya menjadi gembala terhadap saudara-saudaranya yang lain yang masih lemah rohaninya.

Orang yang masih lemah rohaninya dipandang sebagai orang lemah imannya. Orang seperti ini seharusnya layak untuk mendapat pembinaan jiwanya tanpa harus memperbincangkan seberapa jauh pemahamannya terhadap Kristus, Sang Gembala. Demi persatuan jemaat Tuhan, seorang gembala dipandang perlu bersikap sabar dan bijak apabila didapati ada sekelompok anggota jemaatnya yang berpandangan tidak sesuai terhadap firman Allah [Roma 14-15]. Sampai sekarang masih terdapat orang-orang Kristen yang menganggap hari-hari tertentu lebih baik dibandingkan hari-hari lain dan mereka memandang makanan tertentu tidak layak untuk dimakan. Seorang gembala tentunya menyadari realitas Injil bahwa di antara domba-domba sehat juga terdapat satu dua ekor domba yang sakit, karena Kristus datang bukan untuk orang sehat melainkan untuk orang sakit.

Guru. Dalam Injil Yohanes 13:13-15 dikatakan Yesus adalah Guru dan Tuhan. Yesus memiliki ciri-ciri umum seorang guru, yaitu berhikmat, berkelakuan terpuji dan menjadi teladan, penyabar dan ajarannya membangun bahkan tidak ada guru-guru lain sebelum Dia, mengajar dengan berwibawa dan penuh kuasa.

Yesus adalah Guru Yang Maha Sempurna memiliki semua ciri-ciri umum seorang guru yang berhikmat. Hikmat adalah gabungan tiga unsur keutamaan manusia, yaitu : kecerdasan, pengetahuan dan kearifan [Amsal 8:12]. Kecerdasan adalah natural, sudah ada begitu manusia lahir; tingkat tinggi rendahnya kecerdasan seseorang juga natural sejak lahir. Pengetahuan adalah hasil kreatifitas akal budi manusia dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tetapi kecerdasan dan peningkatan pengetahuan akan berdayaguna besar apabila disertai kearifan. Kearifan adalah kemampuan manusia untuk mengambil keputusan yang tidak berat sebelah. Kearifan seseorang semakin meningkat berjalan dengan pengalaman hidupnya, yakni dengan siapa dia bergaul dan tanggap terhadap lingkungannya. Semakin kaya pengalaman hidup seseorang, maka semakin kaya pula hikmatnya. Jika talenta itu adalah gabungan kecerdasan dan pengetahuan, hikmat itu adalah talenta plus karena disertai kearifan. Dan, kearifan itu datangnya dari kemurahan Allah, nilainya lebih berharga dari pada permata [Amsal 8:11 dan Pengkhotbah 4:13].        

Namun, dari semua ciri-ciri umum sosok seorang guru yang dimiliki oleh Yesus, hal yang paling menonjol adalah ajarannya menyentuh seluruh kebutuhan yang terdalam pada umat manusia, yaitu kasih. Mahatma Gandhi, tokoh perjuangan bangsa India mendapatkan pelita firman Tuhan di dalam diri Yesus bertalian dengan kebutuhan tersebut yang dia dapatkan dalam Salib dan Khotbah di atas Bukit. Walaupun Khotbah di atas Bukit ini begitu memenuhi pikirannya, dia tidak pernah menganggap ajaran moral dan doktrin lebih tinggi daripada iman. Ia memaknai ajaran Kristus sebatas nilai-nilai moral yang memberi banyak sumbangan dalam perjuangannya menentang penjajahan Inggeris melalui jalan ahimsa (kasih). Sampai akhir hayatnya Gandhi tetap seorang Hindu, karena baginya apabila seseorang telah berada pada inti agamanya, dia sesungguhnya telah berada di dalam inti agama yang orang lain anut.

Hanya melalui Yesus manusia memperoleh hikmat Allah, Firman yang hidup yang ada pada diri Yesus. Jika Yesus adalah Guru yang layak dihormati oleh murid-murid-Nya, mengapa justeru Dia membasuh kaki-kaki murid-murid-Nya? Yesus membasuh kaki-kaki murid-murid-Nya memberi teladan bahwa Dia menjadikan diri-Nya pelayan bagi murid-murid-Nya. Dalam pengertian luas, setiap orang yang lebih kuat atau dewasa rohaninya seharusnya menjadikan dirinya guru yang melayani terhadap saudara-saudaranya yang lain yang masih lemah rohaninya.  

Sampai akhir abad XIX semua gelar-gelar Yesus ini masih terhisab di dalam kultur Jawa. Banyak orang Jawa Kristen memang telah menerima Yesus sebulat iman mereka, tetapi masih di dalam wadah pikiran mereka yang masih terbungkus oleh mitos-mitos suku Jawa dan ajaran-ajaran sebelumnya. Mitos-mitos ini hendaknya dipahami dari sudut pandang yang positif, karena Tuhan juga bekerja melalui mitos-mitos sebagai jembatan sehingga maksud Tuhan yang tertulis di dalam ayat-ayat tersebut di atas dapat dipahami dalam kerangka berpikir suku Jawa Kristen. Karena itu, selama mitos-mitos yang hidup dalam pikiran suku Jawa itu belum tersambung maknanya dengan firman Tuhan, maka akan mustahil suku Jawa Kristen memiliki pandangan yang benar terhadap Yesus Kristus.

Pemahaman Kejawen Dalam Perspektif Iman Kristen
Banyak misionaris Belanda, apalagi Franz Lion-Cachet [jabatannya adalah inspektur missionaries dari Belanda] begitu besar kecurigaannya terhadap langkah-langkah Sadrach mengajar murid-muridnya. Hanya sedikit saja misionaris yang bersedia memahami pemahaman Kejawen dalam perspektif iman Kristen. Jellesma dan Poensen adalah dua misionaris dari yang sedikit ini mampu menempatkan diri mereka dalam memahami kerangka berpikir suku Jawa [Kejawen]. Menurut penulis Lion-Cachet dan kawan-kawannya terlalu gegabah menyimpulkan bahwa pemahaman Sadrach terhadap firman Tuhan bercampur-aduk dengan ajaran sebelumnya, yaitu Kejawen dan Islam. Sadrach bergaul dengan banyak orang Belanda maupun peranakan Belanda yang berpengaruh di gereja seperti, Anthing, Teffer, King, Brouwer, dan keluarga Philips dan paling sedikit dia pernah  menjalani katekisasi sebelum dibaptis. Ia dapat bebicara dalam bahasa Melayu dan Arab; dia dapat menulis Latin dan Jawa pegon  (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab yang disesuaikan dengan fonetik Jawa); pendidikan Islam diperoleh secara intensif melalui pesantren. Untuk ukuran pada masa itu, kadar intelektualitas Sadrach di atas rata-rata kebanyakan suku Jawa. Namun, hal-hal seperti ini tampaknya terlewatkan untuk dicermati oleh Sang Inspektur Lion-Cachet.ku Jawa.an sebelum dibaptis

Kiranya baik untuk diketahui bahwa tidak semua unsur yang terdapat di dalam Kejawen bertentangan dengan iman Kristen, bahkan dapat membangun iman Kristen selama ditanggapi dengan pandangan yang positip. Beberapa fakta menunjukkan alasan yang logis seberapa jauh Kejawen membangun iman Kristen, antara lain :
  • Slametan dengan doa yang bernafaskan kekristenan dipimpin oleh seorang pendeta. Acara ini biasa juga disebut dengan doa pengucapan syukur setelah sebuah keluarga anaknya lulus ujian atau lamaran kerjanya diterima. Dalam hal ini Yesus berkata bahwa dua atau tiga orang berkumpul dan berdoa dalam nama-Nya, maka di situ Dia ada di tengah-tengah mereka [Matius 18:20]. 
  • Suku Jawa Kristen diperbolehkan menghadiri slametan suku Jawa bukan Kristen, tetapi tidak perlu mengaminkan doanya. Di Antiokhia Paulus bertentangan Petrus karena sikap Petrus yang tidak konsisten dalam acara makan bersama dengan orang-orang kafir. Pada mulanya Petrus mau semeja makan dengan mereka, tetapi dia menghindar dari mereka ketika Yakobus dan teman-temannya dari Yerusalem datang ke Antiokhia. Paulus menegur Petrus dengan keras dalam Galatia 2:14 : “Jika engkau seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” Landasan teologi Paulus bertalian dengan slamaten suku Jawa bukan Kristen adalah Injil Kristus seharusnya dapat menjamah jiwa suku Jawa bukan Kristen melalui keberanian dan ketulusan seorang Jawa Kristen membaur dengan mereka dengan tetap menjaga kekudusan hidupnya, yaitu tidak mengaminkan doa-doa mereka. 
  • Suku Jawa Kristen diperbolehkan membersihkan kuburan tetapi tanpa doa-doa permohonan di kuburan! Dalam Ulangan 18:9-13  dikatakan bahwa semua orang percaya dilarang melakukan segala perbuatan menduakan TUHAN, salah satunya adalah meminta petunjuk kepada orang-orang mati [ayat 11].
  • Mikul dhuwur mendem njero. Arti ungkapan Jawa ini adalah setiap anak berkewajiban menjunjung tinggi martabat orang tua (mikul dhuwur) dan berkewajiban memaafkan kesalahan bapak dan ibunya [mendem njero], karena apabila mengumbar kesalahan orang tua kemana-mana, yang malu adalah diri-sendiri dan seluruh kerabatnya. Dalam Ulangan 5:16 dikatakan bahwa orang Kristen berkewajiban menghormati ayah dan ibunya supaya lanjut usia dan damai sejahtera di manapun berada. 
  • Suku Jawa suka membuat wewaler (larangan) yang kedengarannya tidak alkitabiah tetapi tidak salah untuk dijalankan. Misalnya : Jangan menduduki bantal nanti pantat bisa bisulan. Larangan ini biasanya ditujukan kepada anak-anak. Alasan larangan ini adalah supaya anak-anak dari sejak dini menghargai segala sesuatu harus pada tempatnya. Bantal itu tempatnya untuk kepala sedangkan kepala adalah bagian tubuh yang paling dihormati dalam pergaulan masyarakat suku Jawa. Penulis tidak berkepentingan terlalu jauh menjelaskan berbagai larangan sejenis yang jumlahnya memang banyak.

Selanjutnya penulis menyajikan beberapa hal tentang Kejawen yang bertentangan dengan iman Kristen, yaitu antara lain :
  • Jangan mengikuti petunjuk primbon [buku petunjuk ritual Kejawen]. Ada hari mujur dan hari malang ditetapkan dalam primbon. Dalam Pengkhotbah 7:13-14 dikatakan bahwa tidak ada yang bisa meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya. Hari mujur maupun hari malang Allah juga yang membuatnya. Jadi, bersuka-citalah dalam berbagai situasi dan kondisi. 
  • Slametan [meskipun diiringi doa kepada Tuhan Yesus dengan alasan malam penghiburan] dengan menyesuaikan hari-hari yang ada di primbon. Misalnya,  malam penghiburan keluarga tujuh hari matinya si Anu. Dalam hal ini thema doanya  harus dirubah. 
  • Mengunjungi makam keluarga pada hari raya dan mohon petunjuk [nyadran). 
  • Mengkramatkan benda-benda yang dianggap bertuah.


Puncak ajaran Kejawen adalah kebatinan sebagai satu usaha pribadi menyatu dengan Tuhan [manunggaling kawula-Gusti]. Suku Jawa Kristen atau bukan Kristen memang sewajarnya apabila mereka seluruhnya secara umum berpikir secara Jawa, tetapi tidak semua suku Jawa yang bukan Kristen sekalipun melakukan kegiatan kebatinan. Karena untuk menekuni kegiatan ekslusif kebatinan dibutuhkan bakat dan kemauan yang kuat. Mungkin pengaruh pietisme yang kokoh mempengaruhi sebagian besar pemikiran para misionaris Belanda sehingga harus mencurigai habis-habisan terhadap ngelmu kebatinan Tunggul Wulung. Namun, tidak semua kegiatan kebatinan Jawa bertentangan dengan iman Kristen, bahkan pengaruhnya sampai sekarang terasa dalam kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya. Misalnya,  mengheningkan cipta pada upacara penaikan bendera negara. Berikut ini diberikan beberapa contoh kegiatan kebatinan yang selaras dengan iman Kristen dan kegiatan kebatinan yang bertentangan dengan iman Kristen.

Kegiatan kebatinan yang baik terhadap pertumbuhan iman Kristen, yaitu :
  • Dalam Injil Yohanes 15:5, Yesus berkata bahwa barangsiapa tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalamnya, maka dia berbuah banyak. Apa yang diucapkan oleh Yesus ini memiliki persamaan yang terdapat dalam konsep kebatinan Jawa, yaitu manunggaling kawula Gusti, artinya bersatunya diri pribadi orang percaya dengan Tuhan. 
  • Berpuasa dengan cara yang teratur, misalnya : tidak harus hari Senin-Kamis, Selasa-Jumat juga boleh yang penting teratur. Berpuasa adalah perilaku kebatinan, yakni mengolah jiwa supaya semakin menyadari pentingnya selalu mengucap syukur dan berserah kepada Tuhan. Bangsa Yahudi biasa berpuasa dua kali seminggu [Lukas 18:12]. Yesus tidak menuntut murid-murid-Nya harus berpuasa, tetapi apabila ingin berpuasa, berpuasalah dengan iktikad yang benar [Matius 6:16]. Banyak ayat yang merujuk pentingnya berpuasa bagi umat Tuhan, beberapa diantaranya, yaitu : Ester 4:6; 2 Samuel 12:16; Mazmur 35:13; Yunus 3:5; Lukas 2:37; Kisah Para Rasul 14:23.

Namun, konsep kebatinan [mistik] yang terdapat dalam Injil Yohanes berbeda dengan konsep kebatinan Jawa, yaitu di dalam konsep kebatinan Jawa bersatunya diri pribadi dengan Tuhan keduanya melebur dalam satu kesatuan makhluk dan Khalik [Tuhan] sehingga tidak ada lagi perbedaan antara aku [ciptaan] dan Tuhan [Pencipta]. Proses peleburan ini terjadi pada waktu meditasi, dimana peleburan ini mewujudkan “aku adalah Tuhan dan Tuhan adalah aku” sehingga “aku” dapat melakukan apa yang diinginkan egonya. Misalnya, ngelmu kekebalan tubuh. Sebaliknya konsep mistik dalam Injil Yohanes 15:5, bersatunya aku [ciptaan] dan Tuhan [Pencipta] masih tetap terdapat perbedaan di antara keduanya, karena bersatunya aku dan Tuhan terjadi dalam kesadaran pancaindera.

Ini adalah suatu cerita dari Babad Tanah Jawi, yaitu syahdan Ngabehi Loring Pasar bersemadi di suatu tempat di pantai Hindia menunggu datangnya wahyu atau wangsit. Dalam semadinya itu dia bertemu dengan Nyai Roro Kidul yang bersedia memberi pertolongan apabila diperlukan. Perkawinan antara Sultan Mataram dan Nyai Roro Kidul merupakan suatu dongeng yang sampai hari ini masih dipercayai oleh sebagian suku Jawa [baca : non Kristen] di Yogyakarta dan Surakarta. Tentu saja perkawinan Nyai Roro Kidul ini tetap hanya merupakan khayalan. Kebiasaan bersemadi di tempat sunyi di pantai lautan Hindia masih berlangsung sampai sekarang.

Apabila cerita dalam Babad Tanah Jawi ini dibandingkan dengan konsep iman Kristen, siapakah Nyai Roro Kidul ini. Iblis datang ke dalam pikiran manusia dengan janji-janji hampa, karena dia adalah pendusta dan bapa segala dusta. Jelas, dengan perbedaan seperti ini, maka konsep kebatinan Jawa tidak dapat dipersandingkan dengan konsep kebatinan dalam Injil Yohanes. Karena selama proses meditasi dalam konsep kebatinan Jawa yang memakan waktu cukup lama, segala kemungkinan kuasa kegelapan dapat masuk ke dalam jiwa pelaku kebatinan, sehingga dia dapat melakukan segala tindakan supranatural yang bertentangan dengan firman Tuhan. Misalnya : santet, telepati, magnetisme, mencari pesugihan [kekayaan duniawi] dan lain sebagainya.

Wayang tidak pernah lepas dari kehidupan suku Jawa sebagai pengejawentahan Kejawen. Sejarah pekabaran Injil khas Jawa dimulai di Ngoro, Jawa Timur : dengan memakai wayang dan musik khas Jawa.. Dalam kebaktian di pendopo rumah Coolen, wayang dan gamelan dipakai juga dan cerita-cerita Alkitab dibawakan dalam irama tembang Jawa.

Pada akhirnya sisa jemaat Coolen di Ngoro bersedia dibaptis, tetapi mereka menyampaikan keberatan-keberatan, yakni supaya mereka diizinkan tidak menggunakan nama-nama nabi di dalam Alkitab sebagai nama baptis. Mereka supaya diizinkan memakai blangkon atau ikat kepala. Jellesma menghargai keberatan-keberatan mereka.

Nama dan gelar atau sebutan adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam kerangka berpikir suku Jawa. Pada suku Jawa umumnya mengganti atau menambahi namanya dengan gelar apabila ada satu peristiwa penting dalam hidupnya sehingga dia harus mengambil satu keputusan. Radin, Ngabdullah dan Kasan adalah contoh nyata bagaimana mereka setelah mengalami peristiwa penting dalam kehidupan mereka masing-masing, maka mereka pun mengganti nama mereka. Misalnya : ketika  masih  miskin, tinggal di desa dan beragama Islam, namanya adalah Radin, kemudian menjadi Radin Abas yang menunjukkan, bahwa dirinya adalah santri tulen. Namun, ketika dia menjadi Kristen dan memandang Yesus sebagai Guru dan Panutannya, maka dia mengambil keputusan mengubah namanya menjadi Sadrach, sedangkan nama Surapranata ditambahkannya kemudian ketika dia sudah menetap di Karangjoso, sehingga namanya menjadi Sadrach Surapranata. Carey dalam bukunya mengatakan, bahwa :

Hampir tidak pernah terdengar [serta merupakan penghinaan pribadi yang sangat dalam] bagi seorang Jawa untuk harus merujuk kembali kepada nama dan gelar sebelumnya, …

Lion-Cachet, karena dia tidak memahami tradisi dan kerangka berpikir suku Jawa dan ditambah lagi dia selalu berprasangka buruk, maka dia salah menafsirkan arti nama Surapranata. Namun, terlepas dari kesalahan Lion-Cachet menafsir arti nama Surapranata, dalam perspektif iman Kristen, Radin Abas meninggalkan nama yang lama kemudian memakai nama yang baru, Sadrach Surapranata, setelah dia menerima Yesus dan dibaptis, artinya dia mengalami kelahiran baru atau menapak ke kehidupan baru seperti yang dikehendaki oleh Yesus terhadap Nikodemus.

Baik Ngabdullah maupun Kasan setelah menjadi Kristen namanya menjadi Ibrahim Tunggul Wulung dan Paulus Tosari, selanjutnya mereka tidak pernah lagi menggunakan nama lama mereka.  

Apabila di Jawa pada abad XIX pribadi Yesus masih diselimuti oleh mitos-mitos Jawa, maka pada zaman sebelum Yesus lahir di bumi, pribadi-Nya pun juga masih terselimuti oleh hikayat-hikayat di Palestina. Misalnya : Yesus disebut sebagai balsam dari Gilead. Balsam sampai pada zaman hidupnya nabi Yeremia adalah sejenis damar harum yang berharga sangat mahal, digunakan sebagai bahan kecantikan dan sebagai obat.

Namun, Yesus menyatakan gelar-gelar-Nya di dalam Perjanjian Baru bukan sebagai kapasitas seseorang yang mengalami kehidupan baru seperti tersebut di atas, melainkan Dia membuka selubung kebudayaan suku-suku bangsa di Palestina yang menubuatkan diri-Nya. Sebagai contoh : pemazmur mengatakan, bahwa Tuhan adalah gembala, sebaliknya Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Gembala yang baik. Jadi, sungguh tepat jika Yesus mengatakan bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk menghapus yang lama, melainkan untuk menggenapi yang lama dalam pemahaman yang sebenarnya.

Dalam perspektif iman Kristen, Yesus tidak menghilangkan mitos-mitos suku Jawa sejauh itu dapat mengantarkan suku Jawa Kristen untuk memahami kuasa-Nya dibalik arti gelar-gelar-Nya. Dalam hal ini Lion-Cachet dan kawan-kawannya tidak memahami realitas Injil, yaitu untuk menjadi saksi Kristus dari Yerusalem sampai ke ujung-ujung bumi berarti melintasi berbagai budaya [cross culture].

Gerakan Kebatinan Jawa dalam Abad XIX
Banyak misionaris mengasumsikan bahwa, suku Jawa beralih agama menjadi Kristen masih dalam bayang-bayang mitologi Jawa, khususnya mitos Ratu Adil. Di lain pihak banyak pejabat pemerintah juga berasumsi bahwa peralihan itu dilandasi ingin menghindari kewajiban Tanam Paksa. Tetapi sesungguhnya tidak ada yang tahu secara tepat mengapa beberapa orang Jawa Islam beralih menjadi Kristen segera setelah kekalahan Dipanegara dan bukan sebelumnya, pada tahun-tahun tatkala mereka telah bersentuhan dengan orang-orang Kristen di kalangan para pegawai Perusahaan Dagang Hindia Timur (VOC).

Sudah diketahui secara umum bahwa dalam alam kebudayaan Jawa, harapan-harapan millenarian [sic!] yang tersembunyi sangat mendorong kearah munculnya tokok-tokoh profetik (kenabian). Kekuatan gaib para pemimpin agama ini terutama didasarkan pada pembawaan karisma yang mereka miliki, yang idenya pada umumnya ada dalam masyarakat Indonesia, dan secara umum dinamakan sebagai keramat, wahyu atau kesaktian.

Mitos tentang juru selamat atau mesias di Jawa dihubungkan dengan munculnya Ratu Adil, yang juga dinamakan Erucakra. Dalam kekuasaan Ratu Adil, keadilan akan ditegakkan di kalangan rakyat. Abad XIX adalah eranya kebatinan tidak lagi dipandang sebagai konsep atau ajaran melainkan sudah berupa wujud gerakan massa. Pada tahun 1825, menurut autubiografinya, Pangeran Dipanegara mengaku telah menerima wahyu dari Ratu Adil sendiri, yang menyuruhnya mengusir penjajah asing. Dipanegara mampu menggerakkan ratusan ribu massa selama lima tahun untuk melakukan perlawan terhadap tentara Hindia Belanda sampai akhirnya dia mengalami kekalahan.

Usai Perang Jawa pada tahun 1830, gerakan perlawanan berbasis gerakan kebatinan terhadap penjajah tetap masih ada, hanya skalanya tidak sebesar yang dilakukan oleh para pengikut Dipanegara. Semua gerakan ini memiliki ciri yang sama, yakni semua pucuk pimpinannya menerima wahyu dari Ratu Adil untuk melawan penjajah. Beberapa kelompok perlawanan ini antara lain Raksapraja [1841], Kantang [1853], Mutayam [1863], Nyi Aciah [1870-1871], mereka berasal dari Jawa Barat, sedangkan Jumadilkobra [1871] dan Jasmani [th ?], mereka berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Kendati pun kelompok-kelompok perlawanan satu demi satu dengan mudah diredam oleh pemerintah kolonial, fenomena ini menunjukkan bahwa kerinduan mesias di kalangan suku Jawa pada umumnya masih menyala-nyala. Manakala mereka mendapat satu perhentian [baca : menjadi Kristen], bawah sadar mereka selalu memunculkan apa yang pernah mereka dengar di masa lalu bahwa Dialah [baca : Yesus] Ratu Adil yang diharapkan telah datang!

Pertemuan Iman Kristen dengan Kejawen
Titik temu adalah tidak lain pertemuan dari dua [banyak] hal yang berbeda dapat bertemu pada satu titik, atau pada titik tertentu mempunyai persamaan-persamaan. Titik temu itulah yang bisa merupakan awal atau titik tolak untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan baru berdasarkan dinamika pertemuan itu. Sejalan dengan pengertian di atas, titik temu adalah pertemuan dari dua titik atau variabel yang berbeda dalam satu titik yang disebut koordinat.

Titik temu antara iman Kristen dan kejawen dapat terwujud karena tiga hal, yakni : pertama, adanya kepekaan di dalam diri manusia terhadap pernyataan Allah (Firman). Pada diri manusia ada kesadaran akan adanya kuasa di luar dirinya yang melebihinya dan di luar jangkauannya. Kesadaran ini membuat manusia mencari Allah. Allah yang dicarinya itu ada di dalam Yesus Kristus yang justeru datang menemui manusia yang mencari-Nya. Titik temu ini terwujud karena kasih Allah terhadap manusia. Karena inisiatif dari Allah dan manusia tanggap terhadap pernyataan-Nya. Misalnya : pandangan Tosari terhadap Yesus karena kesadaran jiwanya yang miskin terhadap firman Allah.

Kedua, adanya pernyataan Allah dalam kebudayaan. Injil dalam kuasa pembebasannya tidak menjadikan seseorang asing dari budayanya, justeru orang semakin kental mengenal pribadi Yesus. Misalnya : suku Jawa Kristen memahami Yesus melalui metafora Toya Wening adalah pernyataan Allah dalam kebudayaan pertanian di Jawa. Toya Wening dan Air Hidup dalam Injil Yohanes pasal 4, keduanya analogi memberi kehidupan. Air bersih (wening) memberi kehidupan tanaman padi tumbuh subur, sebaliknya Air Hidup dari Yesus memberi kehidupan pada jiwa manusia yang dahaga.

Ketiga, adanya kesejajaran konsep berpikir atau doktrin antara Injil terhadap kepercayaan sebelumnya. Jayabaya adalah Raja Kediri pada abad XII yang terkenal dengan ramalannya yang dikenal dengan ramalan Jayabaya. Sesungguhnya para arkeolog belum menemukan artefak tentang ramalan ini, sehingga sampai sekarang mereka belum mengetahui secara pasti apa sesungguhnya isi ramalan ini. Satu hal yang lumrah dalam masyarakat Jawa, yaitu pada setiap pergantian generasi ada sosok tokoh yang dituakan, disegani dan menjadi panutan pada masyarakat pada zamannya. Tokoh demi tokoh pada pergantian generasi inilah yang kemudian menafsirkan ramalan Jayabaya menurut kepercayaan yang hidup dalam pikiran mereka. Jadi, cerita yang beredar tentang ramalan ini adalah tafsiran-tafsiran subyektif yang hidup sebagai kepercayaan yang dimitoskan oleh suku Jawa selama ratusan tahun.      

Titik temu dalam pengertian pengabaran Injil sangat dipengaruhi oleh konteksnya di mana kebudayaan satu suku bangsa berada. Misalnya : Ratu Adil adalah variabel dalam kebudayaan Jawa, sebaliknya gelar-gelar Yesus adalah variabel dalam kebudayaan Palestina. Keduanya bertemu dalam satu koordinat (titik temu), karena di kedua tempat, keduanya masing-masing memiliki predikat yang sama, yakni Mesias. Titik temu ini hanya berlaku di Jawa dan kurun waktu abad XIX. Di Padang atau di Aceh, orang-orang di sini tidak mengenal Ratu Adil, jadi titik temunya juga berbeda. Pada tahun-tahun sesudah abad XIX buat sebagian besar suku Jawa yang sudah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, figur Ratu Adil juga hanya tinggal kenangan yang samar-samar.

Koyama, pencetus ide Teologi Kerbau mengatakan bahwa pesan Yesus Kristus harus disampaikan dengan mengemukakan obyek-obyek yang dapat dikenali dan dimengerti oleh pendengarnya (dalam hal ini adalah petani-petani menurut pengalamannya di Muang Thai).

Kegunaan teologi ditentukan oleh pertanyaan sejauh mana manfaatnya    terhadap orang-orang yang dilayani. Yesus tidak berbicara dengan istilah-istilah teologi, tetapi berbicara dengan perumpamaan-perumpamaan dari cerita-cerita yang hidup di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada waktu itu.
Cerita-cerita yang hidup dalam kehidupan sehari-hari suku Jawa pada umumnya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikut adalah mite-mite yang kemudian banyak di antaranya dimitoskan oleh mereka yang mempercayainya. Arief Budiman mengatakan bahwa mitos menentukan tingkah laku seorang manusia dalam menghadapi lingkungannya. Misalnya : seorang wanita yang hidup di suatu desa yang menganggap seorang perempuan baru bermutu tinggi kalau dia dapat merebut beberapa orang laki-laki, maka dia akan berusaha untuk kawin berkali-kali.

Mitos Dewi Sri menentukan tingkah laku suku Jawa dalam lingkungan sosial mereka supaya sadar lingkungan bersih terhadap sawah dan desa. Mitos Ratu Adil menentukan tingkah laku suku Jawa supaya selalu tanggap terhadap perubahan zaman. Mitos Batara Kala menentukan tingkah laku suku Jawa supaya berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Partonadi dalam bukunya mengatakan, bahwa setiap bangsa atau negara, seperti setiap pribadi, memiliki identitasnya sendiri yang tersusun dari dari karakter budaya dan karakter “nasional” yang membedakannya dari bangsa maupun negara lain. Identitas nasional ini merupakan anugerah Tuhan dan tidak boleh dianggap remeh, tetapi sebaliknya harus dipelihara dan dikembangkan.

Berdasarkan batasan tersebut di atas, maka mitos-mitos seperti Ratu Adil, Batara Kala, Air Hidup (dalam Dewa Ruci), Dewi Sri, Air Jernih (toya wening) adalah bagian dari karakter masyarakat Jawa, merupakan bagian dari identitas “nasional” mereka. Apakah tidak mungkin membuat mitos-mitos ini menjadikan suku Jawa Kristen semakin mengenal Yesus Orang Nasaret. Tentu saja mungkin, karena mitos-mitos ini adalah jalan masuk ke dalam konsep berpikir suku Jawa terhadap Yesus Kristus.

Peristiwa ruwatan adalah pertemuan iman Kristen dengan Kejawen yang terjadi karena analogi antara mitos Jawa, yaitu Batara Kala dan realitas Injil. Keduanya berorientasi terhadap keselamatan. Ruwatan adalah pengharapan suku Jawa terbebas dari malapetaka kehidupan. Darah Kristus tercurah dari kayu salib adalah pengejawentahan Yesus meruwat (membebaskan) secara sempurna kuasa Batara Kala, yaitu kuasa maut yang selalu membayangi manusia, sekali dan tak terulang untuk selama-lamanya.

Ratu Adil, Air Hidup, Toya Wening, Guru, Panutan dan Roh Allah (Ngisa Rohullah), semuanya adalah gelar-gelar yang ditujukan kepada Yesus dari dalam alam pikiran suku Jawa yang pada akhirnya masing-masing memiliki titik temunya di dalam Iman Kristen merujuk terhadap gelar-gelar Yesus yang tertulis di dalam Alkitab.

Roh Allah memang bukan isu utama abad XIX dibandingkan dengan Ratu Adil. Tetapi Coolen mempertemukan Yesus dalam kejawen melalui konsep ketritunggalan, yaitu La ilah illa Allah, Yesus Kristus iyo [sic!] Roh Allah. Sadrach menyebut Yesus sebagai Ngisa Rohullah. Tentu tidak tanpa alasan mengapa Coolen membuat pengakuan iman yang sekilas mirip dengan sahadat orang Islam. Karena penyebutan Roh Allah maupun Ngisa Rohullah (dengan aksen Arab) lebih familiar bagi kebanyakan telinga Jawa dibandingkan dengan Roh Kudus, terlebih lagi bagi suku Jawa yang belum lama menjadi Kristen, walaupun Roh Allah bermakna sama dengan Roh Kudus.  

Ratu Adil, Air Hidup, Toya Wening, Guru, Panutan, Roh Allah kesemuanya adalah gelar-gelar yang ditujukan kepada Yesus dari dalam alam pikiran suku Jawa yang pada akhirnya masing-masing memiliki koordinatnya di dalam iman Kristen merujuk kepada gelar-gelar-Nya.-


Sumber pustaka :
  • Alkitab.
  • Arief Budiman, “Adegan-Adegan Erotis Dalam Film Indonesia”, Budaya Jaya, Ayip Rosidi (eds.), Jakarta : Gramedia, no. 44, tahun ke 5, 1972, hlm. 13.
  • Daniel J. Adams, Teologi Lintas Budaya : Refleksi Barat di Asia, terjemahan oleh Dachlan Sutisna, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 4, 2002, hlm. 63 dan 64.
  • Claude Guillot, Kiai Sadrach : Riwayat Kristenisasi di Jawa, terjemahan oleh Asvi Warman Adam, Jakarta : Garfiti Pers, 1985, hlm. 39.
  • Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen, Yogyakarta : Andi, 2003, hlm. 189.
  • David Iman Santoso, Teologi Yohanes, Malang : Literatur SAAT, 2000, hlm. 66.
  • Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 11, 1997, hlm. 319 dan 21.
  • Kobong, Iman dan Kebudayaan, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 2, 1997, hlm. 8 dan 24.
  • Philip van Akkeren, Dewi Sri dan Kritus : Sebuah Kajian Tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur, terjemahan oleh B.A. Abednego, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 2, 1995, hlm. 68 dan 100.
  • Robert Ellsberg (ed.), Gandhi on Christianity, Yogyakarta : LKIS, 2004, hlm. 184 dan 186.
  • Sartono Kartodidjo, Ratu Adil, Jakarta : Sinar Harapan, 1984, hlm. 29.
  • Soetarman Soediman Partonadi, Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya : Suatu Ekspresi Kekristenan Jawa pada Abad XIX, terjemahan oleh Widi Herijati Rahadi, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001, hlm. 228 dan 231.
  • Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen, Jogjakarta : Narasi, 2003, hlm. 36.
  • Th. van den End, Tafsiran Alkitab : Surat Roma, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 3, 2000, hlm. 364-365.
  • W. S. LaSor dan kawan-kawan, Pengantar Perjanjian Lama I, Taurat dan Sejarah, diterjemahkan oleh Werner Tan dan kawan-kawan, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 3, 1997, hlm. 219.
  • William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes Ps. 1-7, terjemahan oleh S. Wismoady Wahono, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 5, 2000, hlm. 260-262.
  • William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes Ps. 8-21, terjemahan oleh S.H. Widyapranawa, Jakarta : BPK Gunung Mulia, cetakan ke 6, 2003, hlm. 99 dan 220.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar