Jumat, 04 Mei 2012

Satu pasang Roti Buaya Lambang Kesetiaan Suami-Isteri Orang Betawi

Satu pasang cincin perkawinan banyak orang telah mengenalnya sebagai lambang kesetiaan perkawinan. Seharusnya kesetiaan satu perkawinan jangan hanya sebatas lambang saja, melainkan harus menjadi satu keharusan yang nyata di dalam kehidupan rumah-tangga. Di dalam suka dan duka ditanggung bersama. Isteri harus menaati suami, sebaliknya suami harus mengasihi isterinya. Bukan berapa milyar rupiah atau US dollar Anda mengeluarkan biaya pesta perkawinan, melainkan suami dan isteri harus mempunyai satu komitmen yang sama untuk memelihara kesetiaan perkawinan mereka. Begitu Anda memasuki ruangan yang bernama keluarga, maka Anda sudah memasuki suatu penjara, dan … cincin perkawinan menjadi lambang pengikat [baca : borgol] hati Anda. Jangan sekali-kali Anda mempunyai pikiran untuk melepaskan borgol yang satu ini, karena hal itu menunjukkan Anda mempunyai pikiran jahat untu berpisah. Semua yang telah dipersatukan oleh Tuhan, maka manusia tidak boleh menceraikan ikatan ini, kecuali hanya oleh kematian saja.

Roti buaya simbol kesetiaan perkawinan adat suku Betawi.
Jakarta ibu kota negara Indonesia berawal tahun 1602 orang Belanda yang dulu biasa disebut kompeni membangun benteng di sini. Kota ini dulunya bernama Jayakarta, pelabuhannya bernama Sunda Kelapa, kemudian oleh Jan Pieterzoen Coon diganti menjadi Batavia, dan setelah Indonesia merdeka diganti menjadi Jakarta sampai sekarang. Orang Betawi yang menjadi penduduk asli Jakarta termasuk golongan suku Melayu Muda bermula dari keturunan campuran antar etnik dan suku di kota ini pada awal kota ini dibangun oleh Coon sebagai pusat perdagangan di Asia. Banyak etnik dan suku di kota ini pada waktu itu antara lain Arab, Gujarat [India], Persia, Cina, dan Eropa; sedangkan suku-suku yang membanjiri kota ini antara lain adalah Jawa, Bugis, Makassar, Ambon, Banda, Bali, Madura, Melayu [sebutan untuk orang dari Sumatera]. Sampai sekarang masih terdapat nama-nama yang menjadi tanda wilayah itu pernah dihuni oleh kelompok etnik atau suku tertentu, seperti Pecinan, daerahnya di sekitar Glodok, Jakarta Utara; orang India menempati wilayah sekitar Pasar Baru; sedangkan tempat-tempat yang menjadi pemukiman suku-suku  biasa disebut kampung, karena itu ada kampung Jawa, kampung Melayu, kampung Ambon, kampung Bugis, kampung Makassar, kampung Bali, kampung Madura, kampung Bandan [seharusnya Banda], kampung Sangir, dan seterusnya. Mereka kawin-mengawin satu sama lain, terutama Cina, Arab, Melayu, dan Jawa sehingga terbentuklah keturunan baru yang menjadi sebutan bagi suku ini, yakni Betawi. Etnis Cina dan Arab tampaknya paling mendominasi budaya suku Betawi, khususnya pada tari, musik, dan bahasa.

Setiap kali orang Betawi mengadakan hajatan, seperti perkawinan atau sunatan, maka bunyi rentetan petasan atau mercon adalah ciri khas mereka yang diadopsi dari budaya Cina juga. Bagi orang Cina membunyikan mercon di dalam suatu keramaian pesta diyakini dapat mengusir kuasa kegelapan atau Iblis. Semakin banyak mercon dibakar, semakin ramai, maka Iblis pun semakin banyak yang lari meninggalkan pesta. Pemerintah sekarang telah melarang penduduk kota untuk membakar mercon demi alasan keamanan dan ketertiban.

Jika sebuah keluarga dari seorang pemuda melamar seorang gadis yang akan dijadikan isterinya, dari pihak keluarga pemuda ini menyerahkan satu pasang roti berbentuk buaya, panjang roti ini kira-kira 1 meter. Satu pasang buaya jantan dan betina bagi suku Betawi adalah lambang kesetiaan perkawinan dalam satu keluarga. Satu pasang roti buaya memang tidak memasalahkan roti ini bentuk buaya jantan atau betina, karena pembuat roti juga tidak dapat membedakan jantan dan betina seekor buaya. Yang penting adalah satu pasang roti berbentuk buaya. Mengapa harus buaya? Memang lambang ini bermula dari mitos atau dongeng bagi orang Betawi sendiri yang hidupnya di seputar sungai Ciliwung, Krukut, Pesing, dan Kwitang, yang pada waktu itu masih lebar dan dapat dilayari dengan perahu. Buaya juga masih banyak dijumpai di sepanjang aliran sungai ini. Aku pernah membaca di perpustakaan sepenggal berita di koran terbitan abad 19, begini bunyinya seorang laki-laki mati disambar buaya di kali Kwitang ketika dia sedang mandi sendirian. Well, berita seperti ini tentu aneh jika terjadi menurut konteks sekarang pada abad 21 ini. Anda tahu di mana Kwitang itu, yakni sekarang di belakang toko buku Gunung Agung yang besar itu, nah di belakang toko ini ada kali atau sungai, sekarang lebarnya hanya 10 meter saja. Nama Kwitang sekarang dijadikan nama jalan, ada jalan Kwitang Raya, Kwitang 1, Kwitang 2, aku lupa sampai jalan Kwitang berapa. Di depan asrama Brimob juga jalan Kwitang, tidak jauh dari asrama ini ada warung gado-gado jalan Kwitang. Hemmm, enak rasanya.

Membaca sepenggal berita di koran terbitan abad 19 seperti tersebut di atas, kita dapat memperkirakan bahwa lebar rata-rata sungai di Jakarta pada waktu itu mungkin sekitar 30 meter, masih sedikit penduduk membangun rumah di sepanjang bantaran sungai, dan masih banyak semak belukar tempat habitat yang disukai oleh buaya-buaya sungai. Banyak mitos tentang buaya, seperti buaya putih dan ada lagi buaya siluman. Menurut mitos orang Betawi, buaya jantan adalah sejenis binatang yang setia terhadap pasangan hidupnya, maka mereka membangun symbol kesetiaan suami-isteri ini melalui roti berbentuk sepasang buaya. Kita sering mendengar cerita tidak sedap tentang buaya ini melalui sebuah ekspressi, “dasar buaya darat, segala macam bangkai juga dimakan.” Ekspressi ini memang ditujukan kepada seorang laki-laki yang suka mempermainkan kehormatan perempuan. Namun, buaya dijadikan sebagai lambang kesetiaan suami-isteri harus dilihat menurut konteks cara hidup buaya itu sendiri. Buaya, baik yang jantan maupun yang betina, keduanya memakan mangsa mereka setelah dibiarkan beberapa hari sehingga membusuk alias bangkai supaya lunak dan dapat ditelan lebih mudah.

Setiap suku bangsa dapat saja mempunyai masing-masing lambang kesetiaan suami-isteri. Pangeran William dan Puteri Catherine Middleton dari Inggris dua tahun yang lalu menikah, kita hanya dapat berharap semoga perkawinan mereka tetap berjalan lancar sampai maut memisahkan mereka. Buaya jantan setia terhadap betinanya sampai mati? Mitos tetap mitos, yang penting adalah Anda harus tetap setia terhadap isteri Anda sampai maut memisahkan hubungan kalian. Nilai kesetiaan harus ditanamkan sejak dini, dari sejak kanak-kanak untuk mengenal kesetiaan dari masalah yang paling sederhana, misalnya setia terhadap orang tua, terhadap persaudaraan, setia kepada sahabat, setia terhadap janji, setia terhadap suami atau isteri, setia terhadap nusa dan bangsa, setia terhadap pekerjaan, dan yang paling penting adalah setia terhadap iman Anda kepada Yesus Kristus, Orang Nazaret, Juru Selamat manusia.- 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar