Kamis, 10 Mei 2012

Memilih Calon Presiden Dengan Pertimbangan Rasional

Pilih yang berkumis.
Jangan ada lagi memilih calon presiden atau kepala negara hanya karena sosoknya tinggi, besar, gagah, dan ganteng. Memilih presiden bukan seperti memilih baju di Mall, kalau salah memilih mode, warna, atau kemahalan tak terlalu  mengecewakan. Pilihlah calon presiden dengan pertimbangan yang rasional, seperti professional, intergritas, kebangsaan, dan seterusnya.

Seorang presiden bukanlah superman atau manusia serba bisa, melainkan manusia biasa yang juga memiliki keterbatasan, yang bisa menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh menteri-menterinya, yakni kabinet. Tuntutan jaman yang menghendaki seorang calon presiden menyandang pendidikan setingkat universitas bukanlah membuat issue murahan, melainkan sebagai satu pertimbangan bahwa persaingan menuju tingkat puncak semakin ketat sehingga menuntut peningkatan mutu kepribadian dan intelektual yang semakin prima juga. Sudah bukan jamannya lagi menyandang nama besar nenek moyang sebagai modal merebut posisi. Para pendahulu memang patut dihormati, tetapi Anda adalah masa kini. Apa yang Anda miliki saat kini untuk bangsa ini?

Pertama, professionalisme artinya orang dituntut berkompeten di salah satu bidang bukannya berkata bahwa saya bisa segala hal. Seseorang dapat mencapai sosok yang professional karena memiliki kemampuan memimpin dirinya, berkemampuan memilah-milah mana yang patut didahulukan, bijak membuat keputusan, dan tahu membedakan yang mana wilayah kepentingan pribadi dan yang mana untuk pekerjaannya.

Kedua, intergritas itu perlu dan sangat penting, karena di dalam intergritas terkandung nilai-nilai yang dibawa oleh seorang pemimpin di manapun dia berada, seperti kejujuran, kedisiplinan, tidak sombong, kesetiaan, dan tepat waktu.

Ketiga, kebangsaan. Berbicara tentang kebangsaan berarti bebicara tentang suku (etnis), golongan, agama, kebudayaan, dan lain-lain tentang aset satu bangsa. Seorang presiden yang bijak penuh hikmat tidak membela kepentingan satu umat atau suku saja, pikirannya terarah ke satu kepentingan, yaitu kepentingan nasional atau kebangsaan.

Dari ketiga kriteria ini saja, walaupun masih bisa diperluas, Anda dituntut berpikir rasional antara yang subyektif dan obyektif untuk memilih calon presiden. Bukan apa kata orang, bahkan bukan apa kata hati nurani, bukan cuma mengikuti perasaan hati melainkan mengikuti nalar.

Untuk menilai intergritas misalnya, apakah dia pernah diduga atau dicurigai melakukan perbuatan hukum. Jika sudah pernah diduga atau dicurigai melakukan tindakan melawan hukum, sebaiknya tidak usah dipilih. Ingatlah ada pepatah orang Inggeris mengatakan, bahwa ada asap tentu ada api. Jika ada seorang pejabat setingkat menteri pernah diperiksa KPK, tentu setidaknya membuat Anda berpikir lebih kencang lagi tentang orang ini, apalagi orang ini sampai mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di negera ini. Di Jepang, seorang menteri baru dicurigai korupsi saja, sudah ancang-ancang mengundurkan diri dari jabatan; tetapi di Indonesia walaupun sudah pernah masuk penjara, pelaku kejahatan masih bisa tertawa dan masuk bursa nominasi kepemimpinan nasional. Memang, seorang pelaku kriminal juga seorang warga negara yang berhak mencalonkan diri mau menjadi presiden atau anggota dewan, tetapi seharusnya dia tahu diri. Nanti apa kata orang di luar negeri sana, Indonesia dipimpin oleh seorang gembong koruptor, yang malu kita semua, bukan?

Wajib militer adalah isu yang paling sentral untuk menyerang kadidat presiden di Amerika, tetapi Bill Clinton lolos dari dari isu ini, tentu karena TUHAN yang menghendaki dia menjadi presiden. Di Indonesia lain ceritanya, dari jilbab sampai kripik tempe Malang bisa dijadikan amunisi menyerang kandidat yang lain. Ibu Kristiani Yudhoyono misalnya, dia dikritik oleh lawan-lawan suaminya karena dia tidak mengenakan jilbab. Padahal ibu Mega juga calon presiden dan puterinya juga tidak pakai jilbab, tapi tidak ada yang menyindir mereka. Susilo Bambang Yoedhoyono, makan kripik tempe Malang saja juga dapat sindiran.

Segala cara ditempuh untuk memenangkan pertarungan merebut simpati rakyat, yang penting tetap beretika dalam berpolitik, yakni berjiwa besar, tidak dendam jika tidak terpilih, mengucapkan selamat kepada yang terpilih, demi persatuan bangsa.- 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar