Rabu, 25 April 2012

Peran Gereja di Indonesia Pada Masa Kini


Pada mulanya benih firman Tuhan diterima di pulau Jawa, kekristenan telah mengalami banyak pergumulan serius, karena pada permulaan abad ke 20 kekristenan mempunyai stigma yang tidak bersahabat bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam, yaitu agamane wong Londo [dari bahasa Jawa : agamanya orang Belanda]. Banyak orang non-Kristen [baca : Islam] masih sinis terhadap keberadaan umat Kristen. Indonesia pada waktu itu masih dalam penjajahan pemerintah kolonial Belanda sedang bergolak dalam suasana menumbuhkan kebangkitan nasional.

Gereja di Bekasi.
Orang Kristen harus berjuang keras untuk menghilangkan stigma, bahwa orang Kristen bukan penganut agama orang Belanda, melainkan pengikut Kristus, Juru Selamat yang dilahirkan di tanah Palestina. Bagi sebagian besar umat Kristen di Indonesia bagian timur, mungkin stigma ini tidak begitu mereka rasakan, tidak demikian dengan mereka yang tinggal di pulau Jawa. Tidak mudah bagi orang Kristen dapat menjadi tentara pada waktu perang mempertahankan kemerdekaan RI, karena masih ada kecurigaan terhadap orang Jawa Kristen, sewaktu-waktu mereka akan berkhianat membantu Belanda.

Aku pernah menyaksikan satu sinetron tentang perang kemerdekaan RI yang berjudul Merah Putih. Sutradara film ini tampak tidak cermat dalam menata dialog yang berkaitan dengan The Holy Bibles kalau dibandingkan film Patriot, Mel Gibson. Begini alur ceritanya, seorang komandan pasukan [Indonesia] sedang merekrut banyak pemuda untuk dijadikan tentara. Terjadi dialog antara komandan pasukan dengan seorang pemuda Indonesia Kristen, kira-kira begini yang aku ingat,

“Kau mau jadi tentara?”, tanya komandan.
“Ya,” jawab pemuda Kristen.
“Agamamu mengajarkan, kasihilah musuhmu … “
“Agama saya mengajarkan, mata ganti mata, seperti yang diajarkan dalam agama bapak.”

Di sini letak kesalahan dialog ini yang tampak memberi stigma, bahwa orang Indonesia Kristen tidak mudah dapat menjadi tentara membela tanah air, karena keharusan mengasihi musuh yang seharusnya dibunuh kalau perlu. Membandingkan dialog antara pendeta dengan umatnya dalam film Patriot, Mel Gibson ketika pendeta akan pergi berperang, seperti tidak ada perasaan bimbang pada diri pendeta, karena yang namanya pergi bertempur, pastilah satu dua orang akan dibunuhnya, padahal kata firman Tuhan : Jangan membunuh.

“Pak pendeta juga akan membunuh musuh?”, tanya seorang anggota jemaat gereja.
“Sekali waktu, gembala juga harus menghalau serigala,” jawab pendeta.
Ini baru dialog yang proporsional, karena di satu sisi pendeta harus menjaga domba-dombanya, di sisi lain dia juga mempunyai tanggung jawab bela tanah air. Jawaban pendeta ini mengutip dari Injil Yohanes pasal 10. Mata ganti mata adalah hukum yang tertulis di dalam Taurat Musa dalam Perjanjian Lama. Orang Kristen tidak diajarkan bersikap dendam terhadap musuh. Dan, setahuku juga belum pernah aku mendengar ada ayat di dalam Al Quran berbunyi, mata ganti mata.

Orang Indonesia Kristen tetap mampu menjadi Tentara Nasional Indonesia membela tanah air, walaupun dalam satu situasi harus membunuh serigala-serigala, seperti bangsa Israel harus menghalau dan membunuh bangsa Amalek dalam perjalanan keluar dari Mesir menuju Kanaan, seperti Simson yang diberi mandate untuk membunuh bangsa Filistin, atau seperti Daud harus membunuh Goliat, orang Filistin. Mereka membunuh karena mempunyai mandate dari Tuhan, karena hanya Tuhan yang punya kuasa membalas bukan manusia. Karena itu, seorang Indonesia Kristen menjadi tentara tidak boleh membawa agenda tersembunyi, yakni membunuh musuh untuk melampiaskan dendam. Orang Indonesia Kristen yang sejati membunuh tentara musuh bukan karena ada orang-orang yang dicintainya telah dibunuh dengan kejam oleh musuh, melainkan kesadaran cinta kepada tanah air, yakni nasionalisme. Kepentingan nasional harus didahulukan, bukan kepentingan terhadap diri-sendiri.

Sekarang sudah banyak orang Indonesia Kristen berkiprah dalam masyarakat sebagai bakti kepedulian terhadap sesama manusia. Misalnya, memberi bantuan social dalam berbagai bencana di negeri ini, di Aceh ketika badai tsunami meratakan bumi Aceh tahun 2002, gempa bumi di Bantul, gunung Merapi meletus, dan seterusnya. Firman Tuhan jangan hanya bergumandang di dalam gedung gereja saja, melainkan harus dinyatakan dalam perbuatan nyata, karena iman tanpa kepedulian terhadap sesama, sesungguhnya adalah mati rohani. Kita dibenarkan oleh karena iman kepada Kristus, sebaliknya keperdulian terhadap sesama itu menyempurnakan iman kita kepada Tuhan.

Puji Tuhan! Firman Tuhan masih terdengar gaungnya  di dalam persekutuan orang percaya di Indonesia. Tidak demikian dengan saudara-saudara kita di Eropa atau di Amerika, sungguh menyedihkan. Di Inggris orang lebih peduli terhadap soccer dari pada ke rumah Tuhan mendengarkan firman. Di Amerika orang banyak sibuk dengan urusan balap mobil. Rumah Tuhan hanya dipenuhi oleh orang-orang jompo. Di Australia, tidak sedikit rumah Tuhan dijual dan berganti fungsi menjadi masjid. Betapa pun sulitnya gereja di Indonesia bertumbuh, tetapi masih ada banyak kantong-kantong orang percaya di negeri ini. Walaupun peranan orang Indonesia Kristen seperti terpasung di negeri ini, Tuhan tetap memelihara umat-Nya, bukan hanya untuk bertahan, tetapi lebih dari itu, yakni masih ada tanah subur untuk menabur firman Tuhan. Mari menabur selagi hari masih siang.-


mbunuh musuh?engan umatnya dibunuh kalau perlu. ama bapak."erekrut banyak pemuda untuk dijadika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar