Minggu, 22 April 2012

Politisi Bajing Loncat


Ketua Umum Partai Blitar Sejahtera
Bajing atau tupai adalah sejenis binatang mengerat yang banyak hidup di daerah tropis. Makanan yang paling disukainya adalah buah kelapa, itulah sebabnya mereka banyak dijumpai di perkebunan kelapa, melompat dari satu pohon ke pohon kelapa yang lain. Di Indonesia istilah bajing loncat mempunyai konotasi yang buruk, karena memang ditujukan kepada pelaku kejahatan, yakni orang suka meloncat dari satu truk kontener ke truk kontener lain menjarah semua barang yang ada di dalam kontener. Sejak sepuluh tahun terakhir ini ada tren anggota partai anu pindah ke partai lain semudah bajing meloncat ke pelepah daun kelapa. Alasan klasik biasanya adalah aspirasi tidak tersalurkan. Memang tidak ada larangan pindah partai, bebas pindah partai ke mana saja dan kapan saja, tetapi masalahnya adalah apakah orang yang bersangkutan tidak tahu sama sekali, bahwa setiap partai pasti ada platform-nya. Tujuan utama orang ke dunia politik seharusnya adalah untuk kepedulian terhadap manusia dan kesejahteraan umum masyarakat. Sebaliknya jika ada orang yang terjun ke dunia politik dengan mentalitas animal laborans, cenderung menjadikan partai politik sebagai mata pencarian utama. Dhus, berpolitik seharusnya pengabdian total terhadap kepekaan kebutuhan orang lain, bukan sebaliknya memikirkan kepentingan jangka pendek bagi diri-sendiri. Jika ada orang Indonesia yang berpolitik dengan pandangan seperti ini pada masa ini adalah sesuatu yang langka untuk dijumpai, karena sudah banyak orang pikirannya terkontaminasi oleh berbagai isu korupsi, sehingga yang ada di benaknya adalah pikiran ‘apa bagianku kalau aku perbuat ini untukmu’.

Ambil satu contoh di Amerika Serikat, Ted Kennedy adalah termasuk seorang politisi yang setia terhadap partainya, bahkan satu klan Kennedy secara tradisi memegang pilar-pilar Partai Demokrat. Keperduliannya terhadap kepentingan masyarakat Amerika Serikat, bahkan belahan dunia lain menghadirkan dirinya sebagai figur negarawan yang disegani baik oleh lawan maupun kawan-kawannya sendiri satu partai. Beberapa buah pikirannya saya cantumkan dalam tulisan saya ini, antara lain pada tahun 1965, dia mendukung Immigration Act of 1965, undang-undang ini memungkinkan immigrant bangsa Asia diizinkan masuk ke Amerika Serikat, sehingga menghapus privilege pada immigrant bangsa Eropa; pada tahun 1985, dia membangun Anti-Apartheid Act yang bertujuan memberi sanksi ekonomi kepada Afrika Selatan yang rasialis; pada tahun 1990, dia menghadirkan American with Disabilities Act yang bertujuan menghapus diskriminasi pada orang cacat soal pekerjaan. Ted Kennedy, dia setia kepada partainya dan perduli total kepada orang lain di luar batas partainya.

Mari kita kembali ke Indonesia, apa yang saya harapkan dari politisi-politisi muda yang jiwanya masih goyah antara kepentingan partai, rakyat, dan kepentingan tersembunyi bagi dirinya-sendiri. Ada sembilan partai di parlemen saat ini, sebagian besar dihuni oleh manusia opportunitis, yakni orang-orang yang bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan dengan dalih perjuangan demi kepentingan rakyat. Jika keinginannya tidak kesampaian di partai anu, pindah ke partai lain, kemudian di tempat baru bikin petualangan baru. Politisi seperti ini tidak layak dipilih menjadi menteri, gubernur, atau jabatan publik lain.  

Menjadi orang yang setia itu membutuhkan integritas yang tinggi, berani menyatakan suara kebenaran tanpa agenda kepentingan tersembunyi dan jujur terhadap rakyat. Kebenaran itu datangnya dari Tuhan, karena Tuhan adalah Kebenaran itu sendiri; segala sesuatu yang datangnya dari Tuhan pasti benar, karena kebenaran-Nya mutlak, apakah ada kejujuran yang relative; sebaliknya manusia berlindung di balik undang-undang berkekuatan hukum yang diciptakannya sendiri yang dianggapnya benar. Misalnya pernah ada pikiran untuk membuat draft undang-undang rahasia negara yang akhirnya menimbulkan pro dan kontra.  Kebenaran yang datang dari Tuhan selalu berbenturan dengan kebenaran dunia. Skenarionya nanti adalah para bajing lompat yang otaknya jorok ini akan berlindung dibalik undang-undang ini. Kejujuran adalah sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan dari manusia. Apa yang bisa diharapkan dari politisi bajing lompat? Bagi orang seperti ini, Anda tidak usah mengharapkan sesuatupun dari darinya. Sudah banyak politisi yang menjadi anggota parlemen dikirim ke dalam penjara terjerat kasus korupsi. Para senior inilah yang memberi contoh yang tidak benar dan mengotori pikiran kepada generasi penerusnya.

Memang, masih ada juga politisi yang setia dan memiliki dedikasi yang tinggi, baik terhadap partainya maupun kepentingan rakyat, sebut saja seperti Aberson Marle Sihaloho, Kwiek Kian Ghie, dan almarhum Sophan Sophiaan dari PDI-P; almarhum Hamengkubuwono IX dari Golkar; almarhum Abdurrahman Wahid dan Solahudin Wahid, dari PKB. Namun, sekali lagi aku katakan, bahwa mentalitas dan idealisme mereka semakin hari semakin habis tersapu oleh zaman. Bangsa Indonesia membutuhkan waktu dan perjalanan panjang untuk mendidik para politisi ke arah kehidupan berpolitik yang sehat  dan bermoral demi masa depan bangsa ini.-

Daftar bacaan : Psalm xxxvii:17 dan 24; John xiv:6



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar