Rabu, 25 April 2012

Roti Tuna Roll dan Satu Cangkir Kopi Tubruk


Aku pernah melihat segelas selai untuk roti tawar di sebuah supermarket, di atas tutup gelasnya tertulis “Jodohnya Roti”. Walaupun tanpa disebut jodohnya roti, selai selalu berjodoh atau pasangannya adalah roti dan rasanya tergantung dengan selera Anda, ada rasa kacang [peanut butter], strawberry. raspberry, blueberry, pineapple, dan seterusnya. Tapi roti tidak selalu dimakan dengan selai sebagai pasangannya, boleh juga dilapisi dengan bacon atau smoked beef, lapisan atasnya dilapisi dengan half done fried egg, terakhir dilapisi lagi dengan beberapa potong tomat dan sayur selada. Temanku dari London melalui e-mailnya mengatakan, this is my full English breakfast. Ada banyak resep kopi, seperti mocchasino, coffee latte, dan seterusnya, tetapi dari dulu aku tetap menikmati espresso, yaitu kopi hitam biasa.

Roti Tuna Roll
Seminggu yang lalu aku menemani teman lamaku minum kopi dan makan roti tuna roll di Happy Night Café di Kemang. Rasanya seperti baru kemarin kami berpisah, padahal pertemuan ini mengulang empat puluh tahun yang lalu di kantin sekolah kami dulu. Ia dulu termasuk kembang sekolah menengah pertama, anak kepala penjara di Bandung, namanya Ambar Resiana Kusumawardhani, cantik menurut penampilan Jawa dengan dagunya yang bergayut. Ia memang gadis Jawa kelahiran Solo, kulitnya kuning langsat dan rambutnya sepanjang sampai pinggang selalu dikelabang. Bukan hanya kami murid-murid laki-laki, bahkan guru-guru laki-laki pun pada senang kepadanya.

“Sudah berapa anakmu?”, tanyaku.
“Tiga, yang pertama, Ronald, dia kuliah akuntansi di Undip dan sudah bekerja di BCA Semarang; yang kedua, Gisela, kuliah di tekhnik sipil, juga di Undip dan sudah bekerja di kantor konsultan konstruksi di Jakarta; dan si bungsu, Karen, kuliah fisika dan matematika di Gajah Mada, kemudian mendapat beasiswa untuk master fisika nuklir di Essex, Inggeris, tempat bapaknya dulu kuliah mengambil doctor ekonomi.”
“Nama ketiga anak-anakmu bagus semua kedengarannya seperti nama-nama Inggris.”
“Nenek mereka yang memberi nama depan, kan memang orang dari sana. Dari Glasgow. Orang Skotlandia. Anakmu sudah berapa, Bastian?”
“Anakku hanya satu, laki-laki, namanya Yohannes Gilbertus. Umurnya dua belas tahun, baru duduk di klas tujuh.”
“Apa usahamu sekarang, Bas?”
“Setahun lagi aku akan pensiun. Aku dan isteriku sudah merintis memasok roti tuna roll ke tiga kafe selama dua tahun berjalan ini.”
“Hasilnya?”
“Hasilnya, ya cukuplah sebagai tambahan uang pensiun untuk membiayai anakku sampai selesai kuliah nanti kalau Tuhan mengizinkan.”
“Seperti apa sih roti tuna roll itu?”
“Roti tuna roll itu, ya seperti yang sedang kau makan itu. Bagaimana rasanya?”
“Ini!? Wooow. Rasanya memang dahsyat! Selain di sini, ___ aku rasa di Jakarta belum kujumpai ada roti seenak ini.”
“Ucapanmu membuat aku tersanjung. Thanks, ya.”
“Benar, lho. It is very delicious. Bagaimana roti ini dibuat?”
“Roti ini dipanggang di dalam loyang ukuran tiga puluh empat kali tiga puluh empat kali empat centimeter. Setelah dingin dikeluarkan dari loyang, kemudian permukaannya diolesi dengan mayonnaise, di atas mayonnaise ini dilapisi dengan spread tuna fish, digulung, dipotong-potong sepuluh bagian, dan finishing, yaitu setiap potongan, kedua sisinya dilapisi mayonnaise lagi dan ditaburi dengan abon sapi.”
“Setiap hari kami memasok dua ribu potong.”
“Happy Night Café. Memang betul bikin aku happy malam ini.”
“So, am I.” kataku sambil kugenggam tangan kanannya dengan kedua tanganku. Lama kami saling memandang sampai dia memecah kesunyian ini.
“Tidak ada masalah dengan jantungmu? Kopi yang kau minum cukup pekat bagi orang seusiamu.”
“Saat ini … kondisi jantungku dalam keadaan prima, tak ada yang perlu dikuatirkan. Sehari aku minum dua cangkir. Dan kata dokter, tekanan darahku kondisinya seperti laki-laki remaja. Seperti kau dan aku yang ketika remaja dulu suka duduk dibawah pohon jambu kelutuk setiap Sabtu malam.”
“Apakah hatimu masih tergetar melihat tubuhku yang telah lebih melar dibandingkan dulu?”
“Ya. Memang lebih melar, tetapi tidak mengurangi penampilanmu. Masih tetap seksi seperti dulu. Yang dibutuhkan bukan hanya cantik dan seksi, tetapi juga sehat. Karena itu seringlah makan roti tuna roll. Ikan baik untuk kesehatan jantung karena mengandung omega tiga yang baik untuk kesehatan jantung. Dan kopi hitam baik untuk menambah pompa tekanan darah. Jantung yang sehat, maka seks juga hebat dan mantap.”

Aku pandangi matanya sambil kepalaku sedikit kuangguk-anggukkan di hadapannya. Tangannya kugenggam lebih erat dan lama kami hanyut dalam kenangangan kami masing-masing. Ketika kami masih berumur lima belas tahun, kami sering pacaran setiap hari Sabtu malam di bawah pohom jambu kelutuk di samping rumahnya yang memang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan, seperti belimbing, sirsak, mangga harum manis; tetapi tempat favorit kami adalah di bawah pohon jambu ini. Di bawah pohon jambu inilah, pada suatu malam ketika kedua orang tuanya keluar pergi ke pesta pernikahan, pertama kali aku mengecup bibirnya. Bergetar bibirnya untuk pertama kali kukecup. Terus. Terus. Terus. Sampai akhirnya kami hampir melakukan perbuatan yang layaknya dilakukan oleh ayah dan ibunya. Ia mendorongku sampai jatuh terjungkal dari bangku panjang yang biasa kami duduki.

Setelah kami lulus, dia pindah ke Palembang mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke kota empek-empek, sebaliknya aku tetap di Bandung sampai menyelesaikan kuliah dan kemudian bekerja di Bogor sampai mau pensiun ini. Hanya enam bulan saja hubungan kami berlanjut dengan korespondesi setelah itu putus dan tak ada kabar beritanya lagi. Aku menjumpainya kembali ketika melakukan browsing situs-situs di Google sampai aku menjumpai sebuah wajah yang tidak muda lagi, tetapi aku yakin, dialah gadis yang pernah menjadi pacarku dulu. Kami membuat janji temu melalui e-mail kami masing-masing. Menurut penuturannya melalui e-mailnya, suaminya telah meninggal dua tahun yang lalu, karena kecelakaan, mobil yang dikendarainya terbalik di jalan toll Pondok Indah. 

“Sudah waktunya aku harus pulang. Pasti sudah ditunggu cucu-cucuku.”
Aku tersadar dari lamunan masa laluku.
“Let’s by gone be by gone,” katanya sambil ketiga jari tangan kananya ditekankan ke bibirnya kemudian ditekankan ke bibirku.
“Kirim salam, ya buat your wife. Bye!” Ia meninggalkan meja dan keluar dari Happy Night Café langsung naik taksi yang tepat sedang lewat di depan café.
“Ya. See you later,” balasku sambil melambaikan kiss bye. “Happy night!”   

Happy Night Café, Kemang. Memang membuatku happy malam ini. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar