Sabtu, 21 April 2012

Dimulai Dengan Pengamatan Terhadap Lingkungan


Pada mulanya aku menyukai photography dimulai dengan mengamati album photo ayahku yang memiliki cukup banyak koleksi yang pada waktu itu, yaitu 40 tahun yang lalu masih di dominasi photo hitam dan putih. Ayahku mempunyai andil yang cukup besar mengenalkan dasar photography kepadaku. Sebagian besar koleksi fotonya adalah keluarga dan teman-temannya di tempat pekerjaannya di bengkel kereta api. Ia menjelaskan kepadaku garis besar hubungan antara diafragma dengan kecepatan bukaan rana. Diafragma adalah plat di tengahnya ada lubang  bentuk lingkaran untuk mengatur banyaknya cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari plat potret. Besarnya bukaan diafragma ditentukan oleh sederetan angka yang menyatakan skala bukaan, dimulai dari yang terkecil, berturut-turut sampai yang terbesar, yakni 22, 16, 11, 8, 5.6, 4, 2, dan 1.2. Semakin kecil indeks angkanya, artinya semakin besar bukaan lubang diafragma. Kecepatan bukaan rana adalah waktu yang dibutuhkan buka dan tutup pintu atau gate yang meloloskan cahaya melalui lubang diafragma. Besarnya kecepatan rana ditentukan oleh sederetan angka yang menyatakan kecepatan rana, dimulai dari yang terlama, berturut-turut sampai yang tercepat, yakni 1/5, 1/10, 1/20, 1/60, 1/80, 1/100, 1/250, 1/500, 1/1000, dan 1/2000. Jika bukaan diafragma diperbesar, kecepatan bukaan rana juga harus ditingkatkan; sebaliknya jika bukaan diafragma diperkecil, kecepatan bukaan rana juga harus diturunkan. Kombinasi diafragma dan kecepatan rana yang umum pada kondisi cerah, kira-kira pukul 10.00 adalah 8 dan 1/250.

Burung bangau [1990?].
Kamera yang pertama kali aku gunakan adalah kamera box YASHICA double lens parallel, ukuran film 12x6 cm, satu roll isi 12 eksposure. Aku membeli kamera ini tahun 1975 dalam kondisi bekas, tetapi masih dapat menghasilkan gambar-gambar foto yang baik. Kamera ini dilengkapi pengaturan parameter ASA, mulai dari 80, 100, 200, 400. Indeks angka ASA ini adalah bilangan yang menyatakan kepekaan butir-butir bahan kimia di atas permukaan plat foto. Semakin tinggi indeksnya, maka semakin peka plat foto menangkap cahaya. Tetapi aku belum memahami terlalu jauh hubungan antara diagframa, kecepatan shutter, dan ASA.

Delapan tahun kemudian aku memiliki kamera YASHICA SLR, aku lupa typenya. Kamera Yashica SLR ini sederhana, kamera SLR Jepang paling murah, tetapi menghasilkan gambar-gambar photo yang baik. Aku mulai memahami arti ASA. Untuk memotret obyek diam di dalam ruang studio dan sedikit mungkin mengalami distorsi ketika reproduksi diperbesar, maka gunakan ASA 80. Pada waktu ini juga aku mulai mengenal lens speed atau kecepatan lensa menangkap cahaya, yaitu angka ratio yang menunjukkan perbandingan diameter lensa terhadap focus lensa. Semakin kecil angkanya, semakin besar permukaan lensa kamera, maka semakin tinggi intensitas cahaya yang melewati lensa, dan … semakin tinggi juga harga lensa seperti ini. Jika Anda memperhatikan lensa standar kamera, tertulis di bagian depan lensanya, seperti 1:3.5, 1:2.5, 1:2.0, 1:1.Tele lens memiliki keunggulan dibandingkan dengan zoom, yakni gambar photo lebih tajam.

Bunga eforbia di pagi hari [2012].
Pada saat ini aku menggunakan kamera digital SLR merek NIKON D3000, lensa standar zoom 1:3.5 ~ 5.6, automatic dan manual.  Kamera ini dirancang sedemikian rupa 95 persen pasti jadi, apalagi pada era digital ini satu photo yang kurang bagus hasilnya, dapat diperbaiki dengan bantuan smart software. Memperbaiki photo seperti ini di kamar gelap di masa lalu, kini hanya tinggal romantisme saja. Ya, semua parameter yang telah aku sebutkan di atas hanya tinggal romantisme photography … sekarang orang awam tak perlu belajar jelimet tentang kamera, hasilnya pasti jadi.- 


  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar