Rabu, 04 April 2012

Paulus Tosari Pengabar Injil Dari Jawa Timur

Ia dilahirkan kira-kira pada tahun 1812 dengan nama kecil, Kasan. Ayahnya, orang Madura adalah petani dan penganut ilmu kebatinan, sedangkan ibunya adalah penganut agama Islam yang taat. Mereka tinggal di Kedung Turi, Rawa Pulo, Bulang, keresidenan Surabaya, di mana banyak orang Madura tinggal di situ.

Kasan dibesarkan lebih dekat kepada ibunya dibandingkan  den­gan ayahnya. Ia anak manja, apapun yang dimintanya selalu dituruti oleh ibunya. Dari sejak kecil, dia menunjukkan minat yang besar ter­hadap wayang. Hampir setiap malam dia keluyuran untuk menonton wayang di desa-desa tetangga. Dari kebiasaannya sejak kecil ini, yakni keluyuran, penulis dapat meyakini, bahwa Kasan memiliki ke­cenderungan berperilaku buruk.

Ia memasuki pesantren dengan sedikit paksaan dari ibunya. Walaupun pada mulanya dia adalah anak yang sulit diatur, pada akhirnya dia menjadi murid yang paling berprestasi di pesantrennya; sehingga gurunya berkata, bahwa satu kali kelak Kasan sendiri akan menjadi seorang guru agama. Apabila ada hajatan di satu kampung, dia sering diminta oleh gurunya memulai doa pembukaan singkat. Setelah disunat, dia diberi nama Djarjo.

Perkawinan pertamanya adalah hasil penjodohan oleh ibunya sendiri. Hanya bertahan dua bulan saja. Ia mencari nafkah dengan berdagang kapas. Usaha dagangnya semakin maju dan hasilnya mele­bihi kebanyakan teman-temannya. Ia menikah lagi, anaknya diberi nama Satipah, sejak itu dia dipanggil orang sebagai Pak Satipah. Ia banyak bergaul dengan orang-orang Tionghoa yang gemar berjudi dan mengisap candu. Ia terjerumus dalam pergaulan yang salah, dia men­jadi penjudi sampai seluruh hartanya habis-habisan hanya tinggal pakaian melekat ditubuh. Ia bertobat kembali setelah hutang-hu­tangnya dilunasi oleh seorang temannya yang masih berbelas kasihan kepadanya. Ia kembali menjalani kehidupan yang normal sebagai pedagang. Isterinya diceraikan karena dinilainya tidak setia kepadanya.

Ia kawin lagi dengan seorang janda bernama Gadung, bekas is­teri seorang Madura. Ia bersahabat dengan Kariman yang kegema­rannya sama, yaitu wayang dan ngelmu. Ia juga pernah belajar ngelmu tetapi tidak pernah menyelesaikannya.

Ayah Kariman (Pak Tego), kepala kampung Kedung Turi mendengar tentang agama baru di Ngoro, yang berbeda dengan agama mereka. Tentang agama baru ini diceritakannya kepada Kariman. Bersama murid-muridnya, Kariman pergi ke Ngoro membandingkan ngelmu Jawanya dengan ngelmu Kristennya Coolen. Hasil kunjungan Kariman itu menyita perhatian lebih dalam terhadap dirinya, sehingga dia memutuskan sendiri pergi menuju Ngoro.

Pada pertemuan pertama dengan Coolen, dia mendengar khotbah tentang ucapan Yesus dalam Khotbah di Bukit, yakni “Bahagialah orang yang miskin di hadapan Allah …“. Khotbah ini demikian menyentuh kalbunya yang terdalam, sehingga membuat jiwanya hanyut terkenang-kenang dengan kekelaman masa mudanya. Bagian ayat-ayat Khotbah di Bukit ini begitu menggugah bawah sadarnya untuk bertobat dan menerima Yesus.    

Tidak sebagai kebanyakan suku Jawa yang terobsesi dengan datangnya Ratu Adil atau isu-isu lain yang mengental pada abad XIX, maka Satipah ini menerima Yesus dengan kesadaran dirinya yang mengalami kemiskinan jiwanya selama bertahun-tahun. Bertahun-ta­hun sebagai pedagang, dia sering menaikkan margin yang tidak wa­jar; ditambah kebiasaan buruknya suka berjudi, dan terlibat pergaulan yang salah sehingga dia mengalami kekosongan jiwa dalam waktu lama. Ia memandang Yesus sebagai figur yang mengasihani kepada siapa saja yang mau datang untuk bertobat. Ia menerima Yesus dalam kesadaran jiwanya bahwa Yesus adalah Juru Selamat manusia, ya, Juru Selamat dirinya. Segera setelah dia menerima Yesus, dia meng­ganti namanya menjadi Tosari, dalam bahasa Jawa Kawi berarti em­bun.

Tosari dan isterinya bersama Kariman menetap di Ngoro dan mereka menjadi penggarap sawah di desa ini. Ia bergaul akrab dengan Coolen dan dia menjadi salah satu murid kesayangannya. Ia tekun membaca Alkitab yang diberikan oleh Coolen kepadanya. Ia begitu terharu dengan penyaliban Yesus sehingga meneteskan air mata, setelah membaca ke empat Injil itu; karena dia menyangka bahwa Yesus empat kali disalib. Seusai kebaktian setiap hari Minggu, To­sari selalu berbincang-bincang dengan Coolen di pendopo rumah kediaman Coolen. Inilah masa indah selama bertahun-tahun dimana Tosari akrab dengan gurunya.

Pak Dasimah, bekas murid Coolen dari desa Wiyung setelah bertemu dengan Emde di Surabaya, barulah dia mengetahui bahwa perlunya baptisan bagi orang-orang Kristen. Ia menyadari bahwa apa yang diberikan oleh Coolen selama lima tahun ternyata sangat tidak lengkap. Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pemerintah Hindia Belanda mengizinkan kelompok Wiyung dibaptis oleh pendeta A. W. Meijer.

Berita mengenai pembaptisan kelompok Wiyung segera sampai ke Ngoro. Banyak di antara mereka juga menghendaki dibaptis seperti yang diterima oleh pak Dasimah dan kawan-kawannya. Tosari dan kawan-kawannya, yaitu Singotruno, Pak Kunto, dan Ditotruno menerima baptisan di Surabaya pada tanggal 12 Desember 1844. Mereka menambahkan nama baptisan di depan nama mereka, yakni : Paulus, Yakobus, Eliasar dan Abisai.

Paulus Tosari dan kawan-kawannya menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka melawan kehendak sang guru, yaitu mereka di­usir dari kehidupan Ngoro. Mereka diusir setelah Coolen selesai khotbah pada kebaktian hari Minggu. Tosari dan kawan-kawannya mula-mula menetap di Sidokare (Sidoarjo) di tanah milik Gunsz te­mannya Emde. Kemudian dia dan Ditotruno membuka desa baru, yakni Mojowarno. Banyak di antara mereka yang ikut pindah ke desa baru ini.

Pada tahun 1851, pendeta Jellesma menetap di Mojowarno seba­gai gembala di sana. Tugasnya adalah melakukan konsolidasi jemaat-jemaat Kristen Jawa di Jawa Timur yang letaknya berjauhan satu sama lain. Dengan hadirnya Jellesma, maka murid-muridnya Tosari yang terbilang banyaknya itu dapat dibaptis.

Terjalin kerja sama yang harmonis antara Tosari dan Jellesma, di satu sisi dia adalah pengkhotbah, pengajar dan pembimbing, se­dangkan Jellesma adalah gembalanya. Pada akhirnya banyak peker­jaan gembala diwakilkan dipundak Tosari, karena Jellesma sering melakukan kunjungan pada jemaat-jemaat di desa-desa lain. Setelah Jellesma meninggal pada tahun 1858, maka dialah yang memimpin jemaat Mojowarno.

Dalam menyampaikan pengajaran agama kepada murid-murid­nya, Tosari kadang-kadang menyelipkan puisi karyanya sendiri, yaitu ‘Roso Sejati’. Satu hal yang manusiawi sekali, apabila Tosari tidak melupakan sama sekali pengalaman hidupnya ketika pernah belajar kebatinan Jawa, lebih-lebih pernah bergaul akrab dengan Kariman, guru kebatinan di desa. Ternyata, kata-kata yang ada dalam Roso Sejati ada kemiripannya dengan syair-syair mistik Hindu atau Jawa. Tetapi bukan tujuan Tosari untuk mencampuradukkan ajaran mistik ke dalam pengajaran agama Kristen kepada murid-muridnya, justru sebali­knya dia mengingatkan kepada murid-muridnya bahwa puasa tidak ada manfaatnya sama sekali. Keselamatan tidak dapat diperoleh me­lalui upaya mistik, karena di dalam pengosongan pikiran dan jiwa selama berpuasa ke sanalah kuasa iblis akan masuk.

Pelayanannya di Gereja Kristen Jawa Timur selama tiga puluh tahun ti­dak dijumpai satu pun catatan buruk tentang pribadinya. Di antara Coolen, Tunggul Wulung maupun Sadrach, dialah suku Jawa Kristen yang memandang Yesus sebagai Juruselamat tanpa melalui sentuhan kebu­dayaan sebagai titik temu iman. Dan, dia juga mengajarkan iman Kristen kepada murid-muridnya dengan cara yang lebih mendekati alkitabiah dibandingkan para koleganya yang tersebut di atas. Mung­kin hanya dengan Sadrach saja dia dapat disejajarkan dalam hal kadar intelektualnya, mengingat mereka pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Walaupun kharismanya tidak sebesar Coolen, Tunggul Wulung atau Sadrach, dia dicintai oleh jemaatnya dan dia di­puji oleh pendeta Harthoorn yang pada masa itu adalah misionaris paling kritis. Ia memimpin jemaatnya dengan standar kedisiplinan yang cukup tinggi. Apa yang diucapkan dalam khotbahnya, itu pula yang dilakukannya. Paulus Tosari meninggal dunia pada tanggal 21 Mei 1882.-



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar