Minggu, 11 November 2012

Gudeg Sultan Agung Tak Terlupakan

“Ada yang tidak dapat dibeli dengan uang, yaitu romantisme gudeg Sultan Agung.”

Gudeg Yogyakarta di Jakarta.
Aku mempunyai ikatan batin dengan gudeg” kebanggaan orang Yogyakarta. Gudeg adalah roh kota ini, jiwa nasionalisme orang Yogyakarta, satu kebanggaan, itu sebabnya kota ini disebut kota gu.deg selain kota pelajar. Gudeg adalah sayur yang terbuat dari bahan dasar nangka muda, diolah dengan santan, gula Jawa, bumbu-bumbu penyedap, dan daun jati. Warna kecokelatan pada gudeg ini karena penambahan daun jati. Gudeg, kalau dimakan lengkap dengan nasi, opor ayam, sambal goreng hati, sayur krecek, santan areh, tahu dan tempe bacem, telur ayam, dan sambal terasi. Rasa gu.deg adalah manis dan gurih bercampur dengan sensasi lemak santan, makin banyak santannya, makin lezat. Orang Jawa biasa minum teh manis, hangat, dan kental setelah makan gu.deg.  

Hampir setiap tahun aku dan keluargaku selalu berlibur ke kota Yogyakarta. Kota yang yang selalu dalam ingatanku dari sejak muda remaja. Isteriku mempunyai saudara sepupu di kota ini, sedangkan aku mempunyai sahabat di kota ini juga yang akrab denganku sejak masih muda remaja. Kami menyebut persahabatan ini sebagai unforgetable friend, karena kami telah saling mengenal selama 40 tahun. Persahabatan kami lanjutkan melalui akun facebook sampai sekarang. Sahabatku seorang perempuan, Nugrahani, sampai sekarang masih memberi dedikasi sebagai dosen di Universitas Gajah Mada.

Ditinjau dari ilmu kuliner, gu.deg masakan yang tidak boleh diabaikan begitu saja, buktinya banyak penggemar gu.deg jauh dari luar kota Yogya datang berburu gudeg ke kota ini. Ada juga penggemar yang datang dari Belanda, Spanyol, Belgia, dan Jerman. Ada daya magnet dari kuliner ini sehingga ada penggemar yang nekat antri ke restoran gu.deg yang buka special tengah malam. Orang di sini menyebutnya gu.deg pawon, artinya gu.deg dapur karena makannya di dapur langsung. Aku sendiri mempunyai tempat makan gu.deg favorit sejak muda dulu, yakni gudeg Jalan Sultan Agung, di seberang jalan dengan Hotel Wilis, di sisi kanan theater. Bukanya hanya dua jam saja, dari pukul 21.00 sampai 23.00, meja leseh.an belum sempurna ditata, tetapi pengunjung sudah pada antri.

Namun, ditinjau dari pandangan ilmu kesehatan, gu.deg tergolong makanan tidak bergizi memadai. Apa yang dapat diharapkan dari nangka muda, pasti tidak ada vitamin atau nutrisi lain yang memadai? Sayur krecek terbuat dari bahan dasar kulit kerbau yang seharusnya menjadi kulit sepatu Anda. Kalau sudah terasa lezat di mulut, biasanya lupakan saja gizi sejenak. Makanan enak tidak identik dengan gizi mencukupi atau gizi seimbang, bahkan banyak juga makanan orang Barat yang mempunyai resiko besar terhadap timbulnya penyakit jantung koroner, misalnya beefsteak tenderloin atau sirloin. Di Amerika, donat adalah musuh masyarakat nomor satu dalam menaikkan berat badan. Sering makan donat, maka Anda harus bersiap dengan resiko sakit jantung atau kalau masih beruntung pembuluh darah koroner Anda diberi stent saja. Jadi? Makan makanan selezat apa pun jangan sampai berlebihan.

Jalan Wijilan. In the evening.
Di restoran mana Anda akan menikmati gu.deg? Di mana saja ada, mulai dari segmen warung pinggir jalan kaki lima yang harganya beberapa ribu roepiah satu piring sampai ke resto yang dapat bikin enjoyable dan bertarif  lima belas ribu roepiah satu piring. Ada dua jenis gudeg, yaitu gudeg kering disebut demikian karena tidak berkuah dan gudeg basah. Ini tergantung selera Anda. Di sepanjang Jalan Wijilan ada banyak restoran khusus menyediakan gudeg. Semua nama restoran gudeg selalu dengan nama perempuan sebagai pemilik restoran, seperti Gudeg Bu Lies, Gudeg Bu Dyah, Gudeg Bu Juminten, Gudeg Bu Lasiyem dan seterusnya. Di sini semua gudeg dari jenis kering. Kalau Anda mau yang basah datang saja ke Jalan Sultan Agung, Jalan Dahlan, atau Jalan Katamso pada malam hari. Gudeg kering dapat tahan beberapa hari sehingga dapat dibawa sebagai oleh-oleh, dibawa bersama kan.dil yang terbuat dari tembikar, harganya 45 ribu rupiah per kan.dil.

Aku pernah melihat pasangan suami isteri muda dari Spanyol sedang asyik menikmati gudeg di Jalan Dagen. Mereka selama beberapa hari Yogyakarta dalam perjalanan bulan madu. Romantika bulan madu dengan gu.deg Yogya. Di satu tempat di Jakarta, aku pernah melihat restoran gu.deg tampak sepi oleh pengunjung. Aku masuk ke dalam resto ini dan memesan satu piring gudeg. Tak lama kemudian masuklah satu keluarga besar ke dalam resto ini di seberang tempatku duduk. Mereka tampak gembira satu sama lain ketika pelayan menyodorkan menu makanan. Penampilan mereka yang tampak familiar dengan lingkungan resto ini menunjukkan, bahwa mereka adalah pelanggan setia tempat ini. Walaupun resto ini tampak sepi, pengunjung setia tetap ada. Romantisme gudeg tak pernah padam ditelan waktu.-     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar