Minggu, 28 Oktober 2012

Menggugah Rasa Malu Tuan Gubernur

“Jika engkau tidak dapat makan seperti manusia, engkau tak ada bedanya dengan anjing-anjing yang makan sampah di tempat sampah.”

Makan nasi pakai supit.
Ungkapan ini diucapkan oleh seorang Cina guru Kung Fu kepada calon murid dari Amerika dalam satu percakapan di meja makan dari satu movie story yang berdurasi 2 jam. Tentu saja nilai-nilai yang digunakan adalah kesopanan makan cara Cina karena ceritanya di satu tempat di pedalaman Cina. Dari sejak kecil orang Cina diajarkan makan dengan supit. Bagi yang tidak biasa makan nasi dari mangkok dengan menggunakan supit pasti mengalami kesulitan, tetapi kebiasaan membuat yang sulit menjadi mudah dikerjakan. Mungkin ini sebabnya mengapa orang Cina makan pakai supit, bahwa betapa pun sulitnya hidup, yang penting manusia harus mempunyai nilai-nilai di dalam pribadinya. Nilai-nilai di dalam pribadi seseorang itulah yang membuat manusia mempunyai harga, yakni harga diri. Apa saja nilai-nilai itu? Nilai-nilai itu adalah kejujuran, kesetiaan, responsibility, keberanian, kesopanan, rasa malu, kerajinan, keuletan, kesabaran, kecerdikan, keperdulian, kasih, kebanggaan, simpaty, dan empaty.

Setiap pribadi, setiap suku, dan ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu bangsa yang bermartabat memegang nilai-nilai tersebut di atas, tetapi bobotnya berbeda-beda satu sama lain. Sebagai satu bangsa, ada yang menekankan kesetiaan, responsibility, dan rasa malu. Penulis Amsal mengatakan belajarlah dari semut. Semut adalah binatang yang paling rajin bekerja, mereka mengumpulkan makanan untuk kepentingan bersama. Tetapi, setiap bangsa mempunyai implementasi yang berbeda satu sama lain dalam pelaksanaan rajin bekerja. Misalnya, orang Jepang rajin bekerja dilandasi rasa kesetiaan, responsibility, dan rasa malu. Apakah masih ada orang yang mempunyai rasa malu di Indonesia? Jika ada orang mempunyai rasa malu, seharusnya tahu diri, kalau sudah pernah menjadi narapidana sekian tahun di dalam penjara, baiknya mengundurkan diri. Tidak perlu menunggu Tuan Presiden atau Tuan Gubernur memecat Anda. Jangan pura-pura tidak tahu. Jika ada orang tidak mempunyai rasa malu lagi, dia tidak beda dengan anjing-anjing di tempat sampah.

Di Jerman ada seorang perempuan kepala gereja di negeri ini karena telah mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, dia mengalami kecelakaan, tetapi tidak ada korban jiwa. Satu hari kemudian, perempuan ini mengundurkan diri dari jabatannya, walaupun public di negeri ini masih menginginkan dia masih tetap menjabat sebagai kepala gereja. Ada rasa malu di hati orang ini. Di Jepang pernah ada dua orang menteri, yang satu dicurigai terlibat korupsi sedangkan yang lain dicurigai pernah mempunyai hubungan dengan Yakuza. Mereka telah mengundurkan diri dari jabatan mereka, walaupun belum ada penyelidikan resmi dari polisi dilakukan terhadap mereka. Ada rasa malu di hati kedua menteri ini. Bahkan pada masa lalu, di Jepang ada kebiasaan pada mereka untuk menebus rasa malu dengan melakukan hara-kiri, yakni bunuh diri atas kerelaan hati sendiri. Tetapi pada zaman modern ini mereka cukup dengan mengundurkan diri dari jabatan. Sekali lagi ada rasa malu.

Hidup ini tidak cukup dijalani hanya dengan landasan hukum, melainkan juga harus ada rasa. Tetapi rasa itu subyektif sifatnya, mungkin begitu Anda berpikir. Memang benar, rasa itu subyektif sifatnya, dapat benar, dapat juga salah, karena itu berlatihlah supaya Anda peka dengan rasa itu. Franz Magnis Susena, Guru Besar Filsafat di Universitas Indonesia mengatakan, bahwa anak-anak Jawa sejak kecil dididik rasa malu, yakni malu karena melakukan perbuatan yang tidak layak bagi manusia bermoral. Intinya ditekankan masalah “rasa”. Well, orang Jawa mempunyai rasa malu ketika masih berada di Yogyakarta atau Surakarta, tetapi begitu tiba di Jakarta rasa malu itu sirna sama sekali [sorry, ya, it’s just kidding]. Di Yogyakarta indeks korupsi, tidak terhitung oleh lembaga riset alias 0 [baca : nol]. Tuhan juga yang mengajarkan kepada manusia tentang adanya rasa di dalam hati manusia. Tuhan bicara tentang rasa kepada manusia di dalam Kitab Amsal dan Kidung Agung. Jika ada orang sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, orang ini tidak bedanya dengan anjing di onggokan tempat sampah. Apakah ada anjing yang mempunyai rasa malu?     

Di satu provinsi di Indonesia bagian barat ada sebelas orang yang pernah dipenjara karena perbuatan korupsi mereka terhadap negara, tetapi gubernur tidak memecat mereka sampai habis masa hukuman mereka. Mereka telah dipromosikan oleh gubernur menduduki jabatan penting di provinsi tersebut. Siapa saja warga negara Indonesia yang telah mendapat vonnis dari hakim dan telah berkekuatan hukum, seharus orang ini segera dipecat dari jabatannya. Namun, mereka sebelas orang ini tidak dipecat oleh gubernur sebaliknya telah mendapat rekomendasi dari gubernur untuk menduduki jabatan penting dengan alasan tidak ada undang-undang yang melarang bekas pejabat yang telah menjalani masa hukuman di penjara untuk dipromosikan kembali. Tidak ada rasa malu lagi, baik gubernur maupun mereka yang telah mendapat promosi jabatan. Tindakan gubernur ini melukai rasa keadilan bangsa Indonesia, karena gubernur ini melawan arus di tengah bangsa Indonesia yang sedang giat memberantas kejahatan korupsi.

Banyak contoh di banyak negara, bagaimana pemerintah negara tersebut dalam upaya memberantas korupsi. Misalnya, pemerintah Latvia pernah memberhentikan separuh dari seluruh jumlah pegawai negeri, Cina dan Viet Nam melakukan hukuman mati, sedangkan pemerintah Georgia telah mengganti separuh dari seluruh jumlah polisi di negara ini.

Jika tindakan gubernur ini tidak dicegah sama sekali, bukan tidak mungkin lagi tidak membuat effek jera kepada pejabat negara yang korup. Banyak dukungan dari masyarakat supaya hukuman mati berlaku bagi pejabat korup, ini gubernur justeru mengangkat mereka dengan jabatan khusus. Sekiranya banyak juga yang keberatan terhadap hukuman mati, mereka pejabat korup itu seharusnya dihukum penjara dengan hukuman maksimal tanpa keringanan hukuman dan seluruh harta korupsi disita oleh negara. Mereka harus dimiskinkan. Dan, jangan lupa mereka harus dipecat dari jabatan mereka!!! Apakah bangsa ini sudah tidak mempunyai rasa malu lagi?

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar