Jumat, 23 Maret 2012

Mengucap Syukur Kepada Tuhan


Marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa keadaan kita sebagai orang percaya pada posisi seperti sekarang ini. Marilah kita mengucap syukur, bahwa pada hari ini kita masih bisa makan, walaupun dengan satu dua suap nasi dengan satu potong tempe bakar. Marilah kita mengucap syukur, bahwa kita masih memiliki tempat beribadah, walaupun tempatnya dipinggir kali, di jalan sempit dan kumuh. Terlalu banyak untuk kita panjatkan kepada Tuhan di dalam doa satu per satu ucapan syukur kita kepada-Nya, karena Dia begitu baik dan kita menikmati semua kebaikan-Nya sampai sekarang, dan kita tidak pantas melupakan-Nya.

Mengapa Anda harus mengucap syukur ? Pertama, karena Anda dapat datang ke rumah Tuhan tidak dengan tangan hampa. Apa yang dapat Anda bawa ke rumah Tuhan sebagai tanda syukur bahwa Anda diberkati oleh Tuhan. Jika Anda tinggal di kota, persembahan dapat diberikan dalam bentuk uang, sebaliknya jika di desa di pedalaman dapat diberikan dalam bentuk konkrit hasil bumi, seperti ketela rambat, ketela singkong, ikan tangkapan di sungai, dan seterusnya. Orang yang hidup benar di hadapan-Nya, pasti diberkati oleh-Nya, karena Tuhan sudah berjanji, bahwa barangsiapa mendengar dan melakukan semua perkataan-Nya, maka dia akan diberkati, dia akan dijadikan kepala, bukan ekor, dan semakin naik, bukan turun. Kedua, karena Allah itu adalah Tuhan yang Mahabaik yang memberikan lebih dahulu kebaikan-Nya kepada Anda dari sejak dahulu, Tuhan itu Mahabaik. Ketiga, karena Allah adalah Tuhan yang menyembuhkan semua penyakit yang Anda derita. Ada banyak penyakit yang diderita oleh seorang pasien tidak dapat disembuhkan oleh tim dokter yang hebat di sebuah rumah sakit, tetapi kemurahan Tuhan yang menyembuhkan penyakit pasien ini. Aku tidak bermaksud melecehkan atau meremehkan kerja para dokter, melainkan segala sesuatu yang kita kerjakan harus bersandar kepada Tuhan. Dokter memberi obat atas suatu penyakit, tetapi kesembuhan adalah kuasa milik Tuhan saja. Keempat, karena Allah adalah Tuhan yang memberikan keselamatan. Anda mendapat keselamatan kekal bukan karena Anda melakukan banyak perbuatan baik, melainkan Anda mendapatkannya karena kasih karunia Tuhan saja. Anda melakukan perbuatan baik dasarnya karena Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus telah menyelamatkan Anda. Kelima, karena Allah adalah Tuhan yang memelihara hidupku dan hidup Anda juga. Jika Tuhan adalah gembala Anda, apa yang mudah dibayangkan di dalam pikiran Anda tentang gembala, yaitu seorang yang memelihara beberapa atau mungkin juga puluhan domba atau sapi. Seorang gembala selalu mencukupkan kebutuhan makan gembalaannya. Jika gembalaannya kehausan, digiring mereka ke sungai untuk mendapatkan air pelepas dahaga. Tuhan adalah gembalaku, Tuhan yang memelihara hidupku. Aku dibawa oleh-Nya ke tempat yang membuatku damai sejahtera. Aku tidak perlu takut menghadapi kegelapan, karena Tuhan yang menerangi jalan dan menghiburku.

Bagaimana jika Anda tidak dalam keadaan seperti yang Anda kehendaki ? Anda tetap mengucap syukur atas perolehan penjualan hari ini, walaupun hanya cukup dapat satu dua piring nasi. Anda tetap mengucap syukur mempunyai pekerjaan seperti sekarang ini, walaupun perolehannya tidak sebesar yang Anda harapkan. Anda tetap mengucap syukur mempunyai isteri seperti yang sekarang ini, walaupun dia seorang perempuan cerewet. Mengapa bangsa Israel dalam pengembaraan mereka di padang gurun selama 40 tahun menuju Tanah Kanaan tidak pernah mendapatkan suka-cita? Mereka lebih sering bersungut-sungut kepada Musa pemimpin mereka. Musa adalah pemimpin mereka yang ditunjuk oleh Tuhan, berarti mereka bersungut-sungut sesungguhnya di hadapan Tuhan. Mereka telah mengalami perbudakan oleh bangsa Mesir selama 400 tahun. Bukan waktu yang sebentar. Mereka menjadi bangsa budak dan dibuat bermental budak selama 4 generasi. Apa kriteria orang yang bermental budak? Pertama, dan yang paling utama adalah tidak mengucap syukur kepada Tuhan dengan keadaan yang sekarang yang sedang dihadapi. Mereka selalu membandingkan keadaan yang sekarang dengan keadaan yang sebelumnya. Mereka lebih menyukai dalam suasana perbudakan, karena anggapan mereka mudah mendapat roti, tidak sulit mendapatkan air minum, masih dapat makan daging. Di Mesir mereka memang mudah mendapatkan ketiga hal ini, tetapi mereka hidup tanpa harga diri. Itulah bangsa budak, … hidup tanpa harga diri. Kedua, mereka tidak bangga dengan jati diri mereka sebagai bangsa keturunan Abraham, bangsa besar yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Dalam perjalanan mereka menuju Tanah Kanaan, mereka membuat patung lembu emas dan mereka menyembah patung ini. Perbuatan ini adalah pelanggaran terberat, yaitu menduakan Tuhan dengan ilah lain. Tuhan nenek moyang mereka adalah Allah-nya Abraham, Allah-nya Ishak, dan Allah-nya Yakub; dan, tentunya juga Allah mereka juga.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia sendiri? Aku pikir nyaris tidak berbeda dengan bangsa Israel ketika baru keluar dari Mesir, negeri perbudakan mereka. Bangsa Indonesia pernah mengalami perbudakan oleh bangsa Belanda selama 350 tahun. Pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah awal bangsa Indonesia bebas dari perbudakan. Apa yang pernah dialami oleh bangsa Israel pada akhirnya juga dialami oleh bangsa Indonesia yang baru saja membebaskan diri dari belenggu perbudakan, tidak lepas begitu saja dari mental budak. Fisik memang bebas dari perbudakan, tetapi jiwanya belum bebas dari mental budak. Revolusi belum selesai kata Bung Karno. Revolusi adalah bicara tentang perjuangan yang dilakukan secara total untuk membangun negara ini menuju bangsa yang adil dan sejahtera, melaksanakan pembangunan di segala aspek kehidupan bangsa ini, yaitu ekonomi, hukum, budaya, social, dan politik.

Ambil satu contoh saja, yaitu aspek budaya. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang digali dari nilai-nilai tinggi budaya bangsa ini, seperti agama, rasa kebersamaan antar suku satu dengan suku yang lain, rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, pengambilan keputusan yang bijak dan penuh hikmat sehingga semua pihak terakomodasi, dan rasa keadilan social bagi seluruh bangsa ini. Orang bermental budak selalu melihat kehidupan dinilai dari kekuatan fisik, yaitu yang mayoritas adalah yang paling kuat dan pantas paling menguasai. Ketika bangsa ini masih dalam perbudakan bangsa asing mereka melihat realitas hidup dalam perbudakan, yaitu bangsa asing lebih kuat dan cerdas dibandingkan bangsa ini dan selalu menekan terhadap bangsa lemah, maka ketika penjajah bangsa asing keluar dari negeri ini, suatu kelompok yang merasa paling kuat dan mayoritas selalu mencoba menekan terhadap kelompok lain yang dianggap minoritas dan lebih lemah dari mereka. Pada era Orde baru, Golongan Karya adalah partai mayoritas selalu menekan kelompok lain yang lebih lemah. Tidaklah mengherankan sama sekali melihat pemandangan kekerasan masih terjadi di negeri ini sampai hari ini setelah 66 tahun merdeka, yaitu memaksakan kehendak terhadap kelompok lain yang tidak sejalan. Kita seperti bangsa Israel yang berputar-putar di padang gurun 40 tahun, untuk diproses oleh Tuhan untuk dilepaskan jiwanya dari mental budak menjadi mental pemilik, yaitu pemilik negara ini.   

Sebagai bangsa yang menggunakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia mengakui beragam etnis dan agama. Sehingga, bukan waktunya lagi untuk berbicara tentang mayoritas atau minoritas. Kelompok mayoritas seharusnya dapat melindungi kelompok minoritas. Orang Jawa di Indonesia mayoritas beragama Islam seharusnya dapat melindungi suku yang minoritas dan beragama lain. Bukan sebaliknya memaksakan kehendak. Itu bicara kemajemukan. Bangsa Indonesia sejak awal mengakui persatuan dan bukan kesatuan. Persatuan itu berarti mengakui memahami adanya kemajemukan, tidak mempertanyakan asal daerah juga agama yang dianut. Berpikirlah nasional, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia bukan negara agama, melainkan negara yang berlandaskan budaya Pancasila. Kita tidak dapat membangun negara ini jika di negeri ini masih ada rakyat yang hatinya dipenuhi gelora nafsu hegemoni terhadap kelompok lain.           

Bagaimana cara Anda mengucap syukur ? Jujur terhadap diri-sendiri. Jangan mencari kambing hitam terhadap orang lain apabila suatu saat Anda menghadapi keadaan tidak menyenangkan. Anda datang ke dunia dengan telanjang, pulang kembali ke rumah Tuhan juga tidak membawa apa-apa. Semua yang terjadi, malang atau mujur, Tuhan yang mengadakan, jangan hanya terima mujurnya saja, malangnya juga harus mau. Belajarlah menjadi orang yang mempunyai jiwa besar, walaupun berat. Mau berbagi kepada orang lain. Sisihkan sebagian penghasilan Anda untuk dipersembahkan ke rumah Tuhan sebagai rasa solidaritas terhadap saudara-saudara kita yang lain, karena dengan cara inilah Tuhan semakin memberkati hidup Anda. Jalani hidup saudara dengan hati suka-cita, karena orang yang bersungut-sungut tidak panjang umur. Terima saja apa pun yang diberikan oleh Tuhan. Orang yang tidak pernah puas dengan penghasilannya, maka dia akan cenderung bekerja all out tanpa untuk mengejar target yang dikejarnya, pola kerja yang semakin dipercepat akan mempercepat aliran adrenalin di dalam darah, sehingga jantung dipaksa kerja ekstra keras. Pada akhirnya jantung mengalami keletihan yang luar biasa dan tidak mampu lagi mengikuti irama keinginan Anda, sehingga pada suatu hari Anda dinyatakan sakit jantung karena keletihan fisik dan mental.

Belajarlah ikhlas, walaupun hati tidak rela. Belajarlah sabar, walaupun hati terasa berat. Belajarlah mengucap syukur, walaupun perolehan tidak seperti yang diharapkan. Dalam hal ini Tuhan memproses hidup Anda menjadi pribadi yang menyenangkan Tuhan.- 
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar