Sabtu, 24 Maret 2012

Terror Mengancam Di Mana Saja


Pada bulan September 972 telah terjadi pembunuhan di kompleks atlit  pada saat Olimpiade berlangsung di Munchen, Jerman Barat. Sasaran pembunuhan adalah atlit dari Republik Israel. Pada waktu itu memang sedang memanas permusuhan negara-negara Arab terhadap AS dan semua sekutunya, seperti Inggris, Prancis, Italia, Belanda, dan Jerman Barat atas dukungan mereka terhadap Republik Israel. Dinas intelijen Israel, Mossad telah berhasil mendekteksi dalang pembunuhan ini, yaitu salah satu elemen perjuangan orang Palestina. Sejak peristiwa pembunuhan ini terjadi, maka Islam yang identik dengan dunia Arab mendapat stigma terroris. Islam adalah terroris dan kejam. Palestina itu identik Islam, walaupun sekitar 10 persen dari mereka adalah penganut Kristen, tetap saja pihak Barat mengatakan Islam itu kejam dan terroris. Stigma adalah sebutan negative terhadap suatu bangsa, suku, etnis, agama, atau kelompok oleh pihak lain yang merasa dirugikan. Contoh, orang Madura mendapat stigma sebagai suku yang bersikap eksklusif terhadap suku-suku lain yang ada di Indonesia.

Apa itu terror? Terror adalah satu usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang, golongan, etnis, atau suku untuk suatu tujuan tertentu. Pelaku terror disebut terroris. Pada decade 60 di Jakarta pernah tersiar kabar, bahwa pembangunan jembatan Semanggi di Jakarta membutuhkan korban anak kecil sampai 5 tahun. Anak-anak kecil itu diculik dan tubuh mereka dibenamkan ke dalam adukan beton. Tentu saja berita tidak benar ini menjadi terror bagi sebagian besar ibu yang mempunyai anak-kecil. Orang Yahudi di Jerman pernah mengalami terror luar biasa oleh Adolf Hitler, pemimpin Jerman-Nazi dari tahun 1939 sampai 1945. Korban tewas orang Yahudi tercatat sejarah sebanyak 5 juta jiwa. Jika terjadi satu peristiwa pembunuhan kejam sopir bis trayek Jakarta – Palembang, hanya sopirnya saja yang dibunuh, dan sopir adalah orang Batak, peristiwa ini belum termasuk katagori terror; tetapi jika terjadi berulang kali atas sopir orang Batak dan di sepanjang jalan yang sama, peristiwa-peristiwa ini dapat disebut terror, karena pasti membuat orang Batak, terutama para sopir menjadi ketakutan.  

Terror sudah terjadi ribuan tahun jauh sebelum Hitler melakukan terror atas bangsa Yahudi di Eropa. Ingin tahu terror yang lebih tua dari peristiwa pembantaian Yahudi di Jerman? Pada abad ke 4 , Paulus ketika masih bernama Saulus dari golongan Yahudi, dia mendapat mandate dari rabbi-rabbi Yahudi untuk memusnahkan semua orang Kristen. Orang Islam dari Kerajaan Turki pernah melakukan pemusnahan jutaan orang Armenia di Russia setelah orang Turki berhasil mengalahkan Russia dalam Perang Krim. Tentara dari negara kerajaan yang beragama Katholik Roma melakukan terror terhadap kelompok reformis pada era Reformasi di Eropa Barat dan Tengah pada abad ke 15.  

Di Amerika kelompok rasialis Ku Klux Klan pernah melakukan terror terhadap semua orang warga negara Amerika yang berkulit warna. Mereka membawa panji-panji Nazi yang memang kelompok rasialis. Di negeri ini, Ian Mc Veith, seorang bekas marinir yang pernah bertugas dalam Perang Teluk I meledakkan sebuah gedung bertingkat tinggi di sebuah kota di Oklahoma, Amerika. Peledakan luar biasa besar memang terjadi sekali-sekali, tetapi mudahnya orang mendapatkan bahan peledak di negeri ini, akan membuat orang menjadi ketakutan. Terbukti beberapa tahun kemudian setelah peristiwa Ian McVeith, terulang lagi peledakan luar biasa besar yang menghancurkan gedung kembar WTC di New York sehingga rata dengan tanah  pada 9 September 2002.

Soeharto dengan mesin kekuasaan Golkar pada era Orde Baru juga penah menebar terror, yaitu pegawai negeri sipil yang tidak memilih Golkar pasti karir kerjanya akan macet. Pada era Habibie, yaitu presiden sesudah Soeharto banyak gereja dibakar atau dirusak. Siapa pelakunya? Pelakunya adalah orang yang mengaku beragama, tetapi tindakannya tidak bertanggungjawab.

Sesudah Soeharto meletakkan jabatan sebagai presiden, terror bom terjadi di mana-mana, khususnya di Jakarta setiap kali ada usaha mengganggu kehidupan keluarga bekas presiden ini. Tampaknya polisi tidak dapat memperoleh bukti siapa pelaku terror bom ini, atau polisi yang pura-pura tidak tahu. Kejadian terror bom yang paling hebat dan heboh ke seluruh dunia adalah Peristiwa Bom Bali. Bom meledak sangat hebat di depan Paddies Club, di jalan Legian, Kuta. Korban sebanyak hampir 200 orang mati sebagian besar adalah turis dari Australia. Terror bom tidak berhenti di Bali saja, tetap berlanjut menuju Jakarta, seperti bom mobil di Kedutaan Besar Australia [kena pagar saja] dan bom mobil di halaman terras Hotel JW Marriot, keduanya kawasan di Kuningan, Jakarta.

Pada Juli, 2011 di Oslo, ibu kota Norwegia telah terjadi ledakan bom yang menghancurkan kantor pusat pemerintahan negara ini, kemudian disusul penembakan yang menewaskan lebih 80 orang. Pelakunya adalah Anders Behring Breivik, orang Norwegia, penganut Kristen ekstreme dan ultra-nasionalis yang resah karena semakin banyak orang Turki [baca : orang Islam] menjadi emigrant di negeri ini. Norwegia dikenal sebagai negeri yang paling tenang, damai dan sejahtera di Eropa Scandinavia. Ingat saja perjanjian damai antara GAM dan Pemerintah RI ditandatangani di Oslo atas fasilitator negeri ini.

Terror adalah masalah social dan politik, karena untuk menjadi terroris tidak selalu dibutuhkan orang yang berpendidikan tinggi, melainkan orang yang mengalami depresi, kemudian ada orang yang mengindoktrinasi ke dalam pikirannya, bahwa penderitaan yang sedang dialami ini akibat dari pihak … misalnya, Amerika terlalu serakah menguasai pasar penjualan daging sapi dunia; harus ada pihak yang disalahkan untuk sasaran terror dan pada pihak lain ada satu kondisi pembenaran cara perjuangan yang ditanamkan ke dalam pikiran orang yang depresi tadi. Rakyat Jerman pada tahun 1939 diindoktrinasi oleh Nazi-Jerman [baca : Hitler], bahwa kekalahan Jerman pada Perang Dunia I akibat Yahudi Jerman tidak bersikap nasionalis sebagai bangsa Jerman. Adolh Hitler pangkatnya waktu jadi tentara adalah kopral dan sebelum menjadi tentara adalah seniman lukis pinggir jalan. Amrozi dan dua temannya adalah pelaku peledakan Bom Bali hanya lulusan sekolah pesantren. Karena terror mempunyai suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai, tidak pernah terjadi bom diledakkan di tengah laut yang sunyi atau di dalam hutan tak berpenghuni manusia. Bom mobil atau bom koper pasti diledakkan di tengah kerumunan manusia. Semakin banyak korban, itu yang diharapkan oleh terroris. Dengan kejadian ledakan bom di Oslo ini telah memperlihatkan kepada kita, bahwa terror adalah tindakan tidak etis yang dilakukan oleh pelaku lintas agama dan bangsa. Sebagian besar peristiwa terror dilakukan oleh pelaku yang berideologi ekstrem, entah itu Islam, Kristen, atau ultra-nasionalis. Mereka menganggap, bahwa kelompok mereka adalah yang paling benar dibandingkan kelompok lain. Karena itu dari sejak dini semua organisasi massa yang menjurus ke arah ideologi ektreme harus diwaspadai dan dikontrol. Jika tindakan mereka terbukti menimbulkan terror di tengah masyarakat, jangan ragu untuk membubarkan mereka selagi masih kecil skalanya.

Jerman, walaupun tampak tenang, di negeri ini juga menyimpan potensi ultra-nasionalis, yaitu simpatisan Neo-Nazi, orang-orang yang mempunyai idealisme membangun imperium kulit putih, bangsa Aria lebih unggul dibandingkan dengan bangsa kulit warna. Ideologi tidak akan pernah mati sampai kapan pun. Dulu stigma terroris adalah Islam dan Timur Tengah, tetapi sekarang tempatnya yang berubah, yaitu dari Timur Tengah ke Indonesia. Indonesia, negeri ini sudah mendapat stigma sarang terroris sehingga beberapa negera memberi travel warning kepada warga negara mereka yang akan pergi ke Indonesia. Kesulitan mendapat izin membangun gereja dan beberapa gereja yang sudah ada ditutup keberadaannya adalah suatu bentuk terror untuk mewujudkan idealisme Kartosuwirjo yang tidak pernah padam, yaitu membangun Negara Islam Indonesia.-
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar