Senin, 14 Maret 2016

Akhir Perjalanan Hidup Seorang Avonturir

Unit Semen Putih.
 Ia adalah temanku ketika kami masih bekerja di suatu pabrik semen di Citeureup, Bogor. Ia dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat. Dari kecil sampai lepas masa remaja di kota ini. Sundanese origin. Kulitnya putih, rambut sedikit kemerahan, dan sorot matanya tajan kalau memandang orang. Ya, dia tampan waktu masih muda, sampai sekarang pun masih tampak ketampanannya. Anakku perempuan sendiri mengatakan, bahwa dia tampan. Ia tidak pernah mempunyai pacar, sebaliknya dia adalah seorang avonturir cinta dari satu perempuan ke perempuan lain. Jangan kau pikir dia akan mengencani perempuan-perempuan pelacur seklas Kalijodo, Kramat Tunggak, Tanah Abang Bongkaran, atau bertemu perempuan di pinggir jalan yang tidak jelas identitasnya. Tidak. Seorang moviestar yang pernah terkenal pada dekade 70 pernah dikencaninya sampai ke ranjang. Makanya ada istilah cinta asmara itu datangnya dari mata sampai ke ranjang. Orang salah memahami istilah ini tentang laki yang doyan perempuan dikatakan sebagai mata keranjang. Keranjang adalah suatu benda yang terbuat dari bambu digunakan untuk membawa barang belanjaan dari pasar. Tapi istilah mata keranjang sudah terlanjur terkenal dan diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan istilah yang sebenarnya, yakni dari mata turun ke ranjang.

Aku dan dia pernah menjadi penghuni barak buruh berstatus lajang dari 1984 sampai 1988. Barak besar terdiri dari delapan blok, satu blok mempunyai sepuluh kamar, dan satu kamar ukuran 6 x 4 meter memiliki dua tempat tidur susun, jadi dapat menampung empat orang per kamar, maka barak ini mampu menampung tiga ratus dua puluh buruh lajang. Kami menempati blok H, blok paling depan, kamar 07. Lemari pakaian empat pintu, dua tempat tidur susun, satu meja tulis, semua dari merek furniture terkenal waktu itu. Kebanyakan orang termasuk lingkungan kami sering menyebutnya sebagai Housing Satu Kamurang. Ada satu kamar dihuni hanya oleh satu orang saja, banyak yang sudah keluar dari barak sebab menikah atau telah membeli rumah di tempat lain. Selama kira-kira dua tahun pertama menetap di barak ini, aku dan teman-teman lain menikmati makan tiga kali sehari yang disediakan oleh perusahaan. Makan nasi boleh tambah semampu perut, lauk pauk yang tak boleh tambah. Orang yang dapat giliran pagi atau siang, pihak kantin mengirim langsung ke dalam pabrik. Aku tidak ingat betul, tetapi selama menikmati jatah makan dari perusahaan, rasanya aku tidak pernah melihat dia makan di kantin. Gengsi? Maybe! Demi gengsi siap menahan lapar. Aku tidak mau tahu dan tak pernah bertanya kepadanya makan di mana dia itu. Kemudian perusahaan menghapus kebijakan makan di kantin, sebagai gantinya diberi kompensasi uang. Kemudian aku, dia dan juga banyak teman lain makan di warung menurut selera masing-masing. Aku dan dia suka makan nasi rendang di warung masakan Minang tak jauh dari Housing Satu. Pemilik warung ini seorang  janda tua, ibu dari tiga orang anak, orang Pariaman, dan kami biasa memanggilnya ete. Bayarnya? Kasbon. Setiap bulan dibayar setelah terima gaji. Warung masakan Minang milik ete ini sekarang sudah tidak ada lagi.



Tiga gadis Citeureup.
Selama berada di barak ini aku mengikuti kegiatan hobby yang sedang tren sekali pada waktu itu, bahkan sampai ke seluruh Nusantara, yaitu radio komunikasi mengikuti jalur panjang gelombang dua meter. Resminya radio komunikasi ini dikelola oleh ORARI pada kisaran frekuensi antara 146,00 – 148,00 MHertz. Kami bermain di kisaran frekuensi tidak resmi, yakni frekuensi atas atau bawah. Istilahnya dapat main atas atau bawah. Kami yang berada di lokasi Cibinong, Citeureup, Gunung Putri dan sekitarnya biasa bermain di frekuensi 143.17 MHz atau main di bawah. Tapi orang biasa menyebut lokalan 317. Cuaca bagus, antenna yang matching setinggi 10 meter, dan tidak terlalu banyak terhalang gedung-gedung dan perbukitan, maka radio komunikasi ini dapat mencapai radius 80 kilometer. Main di atas sepi, sedangkan main di tengah hanya mereka yang memiliki brevet resmi dari ORARI. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan tak resmi ini mempunyai nama panggilan khas di udara. Misalnya : Boyce, Gepeng, Bunda Ratih, Kenny, Puspa, Lukas, Paul, Anna, dan seterusnya. Di sini Kenny, lokasi Jagorawi, Cibinong memanggil Bunda Ratih di Tlajung Udik. Selamat pagi, Bunda. Ini adalah sepenggal morning greeting yang biasa diucapkan untuk tegur sapa. Mengikuti kegiatan ini, kalau tidak waspada, orang yang lemah imannya dapat terseret dalam pergaulan bebas. Narkoba belum dikenal luas waktu itu. Seks bebas, ya. Aku mengikuti kegiatan ini sebab ingin memperluas pergaulan saja. Pendek kata, banyak teman satu tempat kerja yang terlibat kegiatan ini. Namun, kegiatan yang lebih banyak mengeluarkan uang tak berguna ini aku tinggalkan. Temanku ini pada akhirnya meninggalkan kegiatan ini juga. Hanya kakaknya saja yang tetap aktif karena kakaknya memang tercatat sebagai anggota resmi ORARI, sudah memiliki brevet sebagai amateur radio dengan callsign YC1 …


Sebetulnya aku lebih akrab dengan kakaknya yang bekerja sebagai teknisi radio komunikasi di perusahaan tempat kami bekerja dibandingkan dengan temanku ini. Aku sering berkunjung ke rumah kakaknya yang sudah berkeluarga dan mempunyai tiga orang anak laki semua. Kalau bincang-bincang dengan kakaknya, pembicaraan tidak jauh dari masalah elektronika, terutama sound system. Aku menyukai sound system dan mempunyai impian memiliki sound system yang mapan. Pada waktu itu nama Tjandra Ghozalli adalah nama yang sering diucapkan oleh hobbyist sound system sebagai pakarnya. Sampai sekarang aku masih menyimpan banyak foto copy clipping tulisan pakar ini. Merek sound system yang menjadi impianku waktu itu adalah Technics buatan Jepang. Power amplifier merek ini rms 50 watt Klas A harganya waktu itu adalah sepuluh juta rupiah. Impian saja! Bagaimana tidak disebut impian tidur siang bolong? Weleh, weleh, weleh, aku masih ingat nilai gajiku per bulan pada waktu itu, yakni dua ratus ribu rupiah saja. Vina Panduwinata adalah nama penyanyi pop yang sangat popular pada dekade 80. Di Dadaku Ada Kamu adalah lagu top hit sering terdengar di mana-mana dinyanyikan oleh penyanyi asal Bogor ini. Di Housing Satu, aku menikmati merdunya suara Vina dengan sound system yang masih standard, terdiri dari tape deck merek Akai, pre amplifier TCA5500 Motorola rakitan, power amplifier STK 032 Sanyo juga rakitan, dan satu pasang pengeras suara stereo buatan Warung Jambu yang harga totalnya masih terjangkau oleh buruh sepertiku ini. Klasnya masih rakitan. Setelah aku berkeluarga Akai ini masih ada di rumahku di Bekasi sampai sekarang. Umurnya sudah 20 tahun! Sudah jadi barang antik.


Gadis Bogor.
Apa yang tidak diceritakan kepadaku tentang perempuan-perempuan yang pernah dibawa olehnya ke ranjang? Almost all done to me. Banyak di antara perempuan-perempuan itu aku mengenal mereka juga sebagai teman kegiatan on air. Ia bercerita kepadaku, bahwa dia pernah melakukan hubungan intim dengan seorang janda forty grade dan kemudian di lain kesempatan dengan anak perempuan janda ini. Kemudian pada even lain, dua gadis kakak dan adik pada hari yang berbeda di rumah mereka dan di kamar masing-masing juga di bawa ke dalam hubungan intim. Modal tampang, dengkul kuat. Tidak pernah kudengar, dia berhubungan intim dengan karyawati di tempat kami kerja. Ia termasuk type bukan pemain di dalam kandang sendiri. Ada satu dua orang karyawati pabrik garmen terlibat intim dengannya. Ada banyak pabrik garmen di Citeureup, Cibinong sampai ke Bogor. Dengan perempuan Indonesia saja? No, man! Ia juga mempunyai avontur cinta dengan beberapa perempuan bule Australia selama liburan di Bali. Ia senang berlibur ke Bali dengan Bis Lorena full air conditioning dan terkenal saat itu. Waktu itu berita tentang hiv dan aids belum terdengar. Manado, Jawa, Sunda, Minang, Palembang, Tionghoa, bule, dan mana lagi? Ah … anyway, dia sudah banyak mengencingi perempuan-perempuan ini. Ia sendiri yang membuat istilah ini. Katanya kencing enaaaaaaaak.



Di Citeureup 1990.
Pada 1988 kami berpisah. Bukan hanya kami melainkan seluruh penghuni barak berpisah semua, sebab perusahaan akan merenovasi seluruh barak untuk dijadikan perumahan bagi buruh yang telah berkeluarga dan stand-by. Aku pindah ke Cibinong di tempat kontrakan rumah yang bentuk bangunannya menyerupai barak Housing Satu. Nama tempat kontrakan baruku ini adalah Mess Merpati. Bagaimana dengan temanku? Yaaah, gone with the wind. Entah dia pindah ke mana. Hampir satu tahun kemudian aku pindah lagi ke Citeureup di rumah seorang haji. Aku lupa siapa nama haji ini. Letaknya kira-kira sepuluh puluh meter masuk ke dalam gang dan rumah ini lima belas meter di seberang jalan dari pasar. Pada Januari 1990, dia, aku, dan lima orang teman lain berangkat melakukan hiking menuju Jonggol. Kami menamakan diri kelompok Solidarnosch. Solidaritas. Kami mendaki dan melintasi perbukitan batu kapur tidak jauh dari penambangan batu kapur di desa Lulut. Pabrik semen tempat kami bekerja mendapatkan supply batu kapur dari tempat ini. Istirahat sebentar untuk foto bersama di desa Ciorai, artinya sungai penuh ular. Paling kiri adalah temanku, sedangkan aku paling kanan. Senja hari kami tiba di Jonggol. Makan duren. Dengan kendaraan umum kami pulang kembali ke Citeureup. Di kamar sewa rumah pak haji ini aku berkenalan dengan gadis dari desa Nagrek, Sukabumi. Namanya, Nurhayati Komariah. Cantik. Sundanese girl baru lulus dari sekolah menengah atas. Gadis ini datang ke sini untuk menengok kakak lakinya yang menyewa kamar bersebelahan denganku. Kakaknya juga bekerja di perusahaan yang sama denganku. Tapi memang selalu ada dalam hidup ini, seseorang diciptakan hanya untuk di kenang di hati, bukan dalam realitas hidupmu. You only live twice. Once in your dream and once in your real. Ini adalah sepenggal syair lagu back sound dari serial James Bond yang diperankan oleh Sean Connery.


Pada akhirnya temanku ini mengakhiri masa lajangnya untuk hidup mapan dengan seorang gadis Sleman, Jogjakarta. Aku menghadiri pesta pernikahannya di Jalan Tuparev, Sukabumi. Belum lama sebelum menikah, dia berbisniz di bidang komputer langsung sebagai teknisi dan supplier. Bisniz ini dilakukan sambil tetap bekerja di pabrik semen tempat kami bekerja. Tak lama kemudian kakaknya meninggal lebih dahulu beberapa tahun sebelum pension karena eksovagus varises, yakni blooding di lever. Seorang buruh pabrik melakukan kegiatan bisniz di luar jam kerja adalah suatu hal yang biasa di sini. Tujuannya untuk menambah penghasilan, tetapi yang paling utama adalah sebagai suatu persiapan kalau buruh sudah tidak bekerja lagi karena pension. Aku sendiri bersama dengan istriku menekuni bisniz bakery enam tahun sebelum aku pension. Namun, beberapa tahun kemudian bisniznya kehabisan modal dan dia sendiri diberhentikan dengan tidak hormat oleh perusahaan. Peristiwa ini terjadi dua tahun setelah aku pension. Dapur harus berasap supaya anak dan istri dapat makan, maka dia mengandalkan penghasilannya sebagai teknisi yang tidak seberapa besarnya. Untuk menutupi kekurangan penghasilannya, maka istrinya membuat kue eggroll kemudian di jual di sekolah dekat rumahnya. Ia dikaruniai dua anak, yakni sulung laki dan bungsu perempuan. Aku sudah pernah merasakan kue buatan istrinya. Not too bad!

Di desa Ciorai, Jonggol, 7 Januari 1990.

Dibalik sisi buruk masih ada sisi baik seseorang. Aku dan dia berstatus sebagai analist kimia di unit semen putih selama bertahun-tahun. Semen putih terbuat dari campuran batu kapur, pasir kuarsa, dan kaolin, digiling sampai halus seperti tepung kemudian dilebur di dalam tanur putar sampai temperature 1450 derajat Celcius. Hasilnya adalah clinker dan ditambah gypsum kemudian digiling sampai halus seperti tepung. Inilah semen putih. Kaolin sebagai komponen bahan mentah dianalisa dua kali seminggu. Semua komponen bahan mentah sebelum dianalisa harus dikeringkan di dalam oven pada temperature 100 derajat Celcius. Lazimnya hasil analisa selalu memiliki total 99,97 persen, tetapi untuk kaolin tidak pernah di bawah 100 persen, bahkan lebih banyak yang mencapai >> 100 persen. Improvement harus dilakukan. Ia melakukan yang tidak lazim bagi kebanyakan analist dalam cara pengeringan, yakni kaolin dipanaskan pada 60 derajat Celcius selama 24 jam. Hasilnya adalah total analisa kaolin tidak pernah lebih dari 100 persen, berkisar antara 99,95 – 99,98. Pada mulanya aku tidak sependapat dengan caranya. Tapi aku tahu dia adalah orang yang tidak suka didebat tanpa alasan logis. Aku mendapat jawaban masalah ini setelah membaca satu buku tentang struktur lapisan tanah liat di perpustakaan Kantor Pertamina Pusat, Jakarta.


Temanku ini sangat anti narkoba. Ia menjauhi semua temannya yang terindikasi konsumen narkoba. Pada waktu itu yang namanya narkoba hanya sebatas yang namanya mandrax. Narkoba adalah issue sentral yang paling mendominasi banyak berita di Indonesia pada saat ini. Kalau kami bertemu dia suka bincang-bincang pengobatan herbalis. Ada satu jenis pengobatan alami yang dia tawarkan kepadaku, tetapi aku jelas menolak pengobatan jenis ini. Menurut penjelasannya pengobatan ini berasal dari tabib Cina kuno, yakni minum air kencing sendiri setiap pagi. Air kencing yang diminum adalah air yang pertama dikeluarkan pada pagi hari. Di dalam air kencing pagi hari memang masih terdapat sisa protein. Mau minum? No way! Ia tidak pernah ke dokter atau ke poliklinik perusahaan selama dia bekerja di perusahaan. Pernah pada suatu malam, aku, kakaknya, dan dia berkumpul di rumah kakaknya. Ia menawarkan aku minuman alcohol, yakni campuran Tia Maria dan Vodka rasio 1+1. Kalau Tia Maria saja tidak enak, sedangkan Vodka saja pasti kepanasan. Campuran kedua minuman ini tasteful rasanya. I drank for a small glass only.


Segala sesuatu harus ada akhirnya dan melepaskan kefanaan menuju kekekalan. Seseorang yang lepas nyawanya, maka rohnya kembali kepada Tuhan, sedangkan jiwa dan raganya mencium tanah. Walaupun sewaktu hidupnya seorang bijak berkata, bahwa dia telah mempersiapkan diri akan dikuburkan di sana atau di sini, dia tidak dapat memilih dikuburkan di mana begitu nyawa terlepas dari raga, sebagaimana dia waktu dilahirkan tidak dapat memilih rahim mana yang melahirkannya. Perkara menguburkan raga yang telah mati adalah urusan orang yang masih hidup. Tidak penting manakala tiba saat nyawamu lepas dari raga mau di mana dikuburkan, sebab yang paling penting adalah siapakah yang menjemput rohmu ketika kembali kepada Bapa di sorga. Tidak ada seorang pun dapat kembali ke rumah Bapa tanpa melalui Kristus Yesus Orang Nazaret. Pada hari Juma’at dengan dipaksa oleh seorang dokter praktek umum dia harus dibawa ke hospital pemerintah, sebab dia sudah tidak dapat kencing secara normal lagi. Kata istrinya, bagian bawah perutnya sudah keras sekali sebab air kencing yang tidak dapat keluar. Di hospital dia dapat kencing dengan bantuan kateter. Tentu saja kencing dengan batuan alat pasti tidak nyaman rasanya, sedikit sakit. Pokoknya tidak enaaaaaaak. Bertahun-tahun dia menikmati kencing enak dengan nafsu birahi, akhirnya dia tergeletak tidak berdaya di hospital dengan penderitaan kencing yang sangat tidak enak. Selama beberapa hari tidak dapat kencing, mungkin limbah buangan air kencing telah meracuni darahnya, maka pada hari Minggu, 1 Maret 2016, pukul 07.30 pagi, pada usia lima puluh enam tahun Tuhan telah mengakhiri hidupnya. Apakah Orang Nazaret itu yang menjemput roh temanku ini? Berita pagi dapat sms dari seorang teman orang Padalarang memberitahukan berita kepergiannya untuk selama-lamanya. Dua orang bersaudara dari Sukabumi itu telah pergi selamanya. Selamat jalan teman.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar