Sabtu, 14 Desember 2013

Hari Natal Untuk Semua Orang

Christmas for all.
Setiap tahun pada bulan Desember semua orang Kristen dan Katholik merayakan hari Natal, yakni peringatan hari kelahiran Yesus Orang Nazaret. Peringatan hari Natal adalah satu peristiwa di muka bumi yang tidak ada sangkutannya dengan Injil Kristus, karena Tuhan memang tidak pernah memberi perintah untuk memperingati hari kelahiran Kristus Tuhan, Juru Selamat umat manusia. Perayaan hari Natal adalah bungkusan kebudayaan orang Kristen yang berasal dari Jerman plus Austria, karena kedua bangsa ini sama-sama beragama Katholik dan berbahasa Jerman. Ada satu lagu perayaan Natal yang sangat terkenal dan abadi sampai sekarang, bahasa aslinya tentu bahasa Jerman berjudul, Silent Night Holy Night, berasal dari Austria. Natal hanyalah tradisi saja, tetapi Tuhan tidak marah hari kelahiran Kristus diperingati setiap tahun supaya semua orang di muka bumi mengetahui, bahwa Juru Selamat manusia, yakni Raja Damai dan Penasehat Ajaib telah ada di bumi. Kalau Tuhan tidak berkenan dengan hari Natal, pastilah Dia menimpakan murka atas orang Kristen dari sejak dulu. Walaupun tidak ada sangkutannya dengan Injil Kristus, tradisi Natal itu memuliakan kedatangan Raja Damai dari Nazaret, yaitu Yesus Kristus. Kristus telah diberitakan dari sejak dulu melalui tradisi Natal. Siapa yang tidak menyukai Natal?

Di Irak orang Kristen dan Islam hidup damai. Di Israel orang Kristen dan Palestina hidup damai berdampingan. Yasser Arafat, orang Islam Palestina mendapat tempat khusus di satu gereja Kristen di kota Betlehem. Isterinya, Suha adalah orang Kristen Palestina. Di Lebanon orang Islam mencetak kartu-kartu Natal dan banyak brosur kekristenan. Walaupun orang Islam tentunya tidak merayakan Natal, mereka menangguk keuntungan dari bisniz Natal, seperti menjajakan makanan yang berkaitan dengan perayaan ini, mencetak kartu-kartu Natal, menjual berbagai asesoris Natal, seperti kalung salib, pohon Natal, topi sinterklaas, dan sebagainya. Mereka menyalami orang Kristen Arab saudara mereka yang merayakan Natal. So? Everybody likes Christmas!!! Desember adalah bulan suka cita. Yang ada dalam pikiran anak-anak pada perayaan Natal adalah hadiah Natal dari sinterklaas. Sinterklaas ini juga tidak ada sangkutannya dengan Injil Kristus, tetapi memberi hadilah Natal kepada anak-anak apakah salah? Lalu, apa yang ada dalam pikiran bapak-bapak pada perayaan Natal? Ayam goreng, iga sapi tinoransak, tenderloin steak, grilled potatoes, Rottedamsch beefsteak, macaroni schottel, konro bakar, ikan bawal bakar, gulai ikan gabus, sate ayam, sate kambing, atau beef rendang long macaroni. Christmas evening memang momentum indah berkumpul bersama keluarga dalam suka cita makan malam bersama. Makan malam tidak sehat menurut kata para ahli gizi, tapi event ini tidak setiap hari dilakukan, bukan?

Di masa lalu perayaan Natal identik dengan salju bertaburan di halaman rumah. Rumah beratap genteng yang tertutup salju dan di sekeliling rumah terdapat beberapa pohon cemara. Kiriman kartu Natal juga sebagian besar bermotifkan salju. Salju, salju, dan, sekali lagi salju. Semua pemandangan seperti itu adalah menurut konteks Eropa dan Amerika bagian utara, sementara di Indonesia tidak ada salju apalagi kereta luncur. Tidak semua tempat di Indonesia ditumbuhi oleh pohon-pohon pinus. Kita harus kreatif dan realistis, bahwa Natal tidak harus salju dan cemara. Yesus ada di mana-mana dan milik semua orang yang percaya kepada-Nya dan Tuhan tidak melihat asesoris Natal melainkan memandang hati terdalam setiap orang pada Natal yang penuh suka cita ini. Karena itu, apa salah kalau membuat bangun pohon Natal dari tumpukan botol-botol minuman air mineral yang disusun menurut bangunan berbentuk limas. Ciptakan kreatifitas yang lebih variatif.

Kemeriahan dan kedamaian perayaan Natal jangan dirusak oleh sentiment rasialis dan diskriminasi ras dan etnis, karena Tuhan adalah milik segala bangsa. Ya, segala ras, bangsa, dan etnis sampai ke ujung-ujung bumi bersama-sama menyebut Yesus adalah Tuhan, Juru Selamat manusia. Orang suku mana saja dari Merauke sampai Sabang; usia tua maupun muda; kulit hitam, kuning, putih, cokelat, setengah hitam, setengah cokelat; mata cokelat, hitam, atau biru; rambut keriting maupun lurus, dan seterusnya semua diciptakan oleh Tuhan untuk memuliakan Tuhan bukan untuk untuk saling menghina terhadap yang lain karena merasa lebih unggul. Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur, maka semua orang percaya di dalam Kristus seharusnya bersatu, bukan saling hina. Tanpa wilayah Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi, maka Indonesia adalah bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari orang Batak, Jawa, Sunda, Ambon, Minahasa, Papua, dan seterusnya bersama satu meja makan menikmati hidangan Natal dan Tuhan adalah kepala perjamuan.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar