Kamis, 30 Oktober 2014

Bahaya Tersembunyi Dibalik Nikmatnya Makan Nasi Dan Sambal Terasi

Sambal terasi. Satu colekan, makan nasi 2 piring penuh.
Ternyata penyakit diabetis mellitus bukan monopoli orang-orang berpunya, melainkan juga diderita oleh banyak orang ekonomi lemah, bahkan lebih rendah lagi, yakni orang-orang miskin. Aku menjumpai fakta ini ketika menunggui ibuku yang sedang dirawat di hospital umum daerah di kota Bekasi. Aku bertanya satu demi satu pasien yang datang berobat ke hospital ini, penyakit apa yang sedang diderita oleh masing-masing pasien ini. Ada beberapa penderita diabetis datang dari distrik Tambun di sebelah barat Bekasi. Di wilayah kabupaten dan distrik ini banyak penduduk agraris berekonomi lemah. Bagaimana sehingga banyak orang dari distrik ini mendapat penyakit diabetis? Penyebabnya adalah sebagian besar dari mereka mengonsumsi nasi tanpa bahan makanan lain sebagai kombinasi. Nasi adalah makanan pokok bagi orang Indonesia. Dari tanah Minang terkenal dengan beras Solok, dari Jawa Barat terkenal dengan beras Cianjur, Krawang, dan Cisadane [sekarang masuk provinsi Banten], dari Jawa Tengah terkenal dengan beras Delanggu, dan seterusnya setiap daerah mempunyai beras unggulan.

Jenis-jenis beras yang telah aku sebutkan ini memiliki kualitas tinggi, baik dari rasa maupun kualitas karbohidrat yang ada di dalam masing-masing jenis beras ini. Beras dengan kadar karbohidrat yang tinggi dapat ditandai dengan sifat glutine dari beras ini. Glutine artinya mempunyai sifat perekat, yakni ketika sudah selesai dimasak menjadi nasi, butiran satu terhadap yang lain saling melekat. Setelah karbohidrat di ubah oleh enzym amylase di dalam air ludah, maka dihasilkan glukosa berkadar tinggi di dalam darah. Glukosa adalah sumber energi utama bagi tubuh manusia. Glukosa yang berlebih di dalam darah dieliminasi oleh insulin yang diproduksi dari dalam pankreas. Kelebihan glukosa yang tidak terkendali lagi oleh insulin, maka karbohidrat tidak lagi menjadi sesuatu yang berguna bagi tubuh, melainkan menjadi racun yang seterusnya menggerogoti tubuh manusia. Kondisi seperti inilah yang disebut sebagai penyakit diabetis mellitus. Walaupun beberapa jenis beras lain berasal dari kualitas lebih rendah dibandingkan dengan jenis-jenis yang telah aku sebutkan di atas, tetap saja beras mempunyai kadar karbohidrat yang signifikan menghasilkan glukosa. 

Untuk menghambat kelebihan glukosa di dalam darah, maka seharusnya nasi tidak dimakan begitu saja, melainkan dikombinasikan dengan beberapa macam makanan lain yang biasa disebut lauk, seperti ayam goreng, ikan goreng, ikan masak kukus, telur ayam rebus, semur daging sapi atau ayam, sayuran, tahu, tempe, dan sebagainya. Di distrik Tambun yang banyak dihuni oleh kebanyakan petani miskin, makanan seperti ini merupakan suatu kemewahan. Mereka makan nasi dengan lauk yang sangat sederhana apa saja yang dapat mereka jumpai. Nasi ditaburi garam dan beberapa cabai adalah bentuk makanan rutin setiap hari bagi mereka. Sambal terasi pedas merek ABC, Kokita, atau Indofood pun masih merupakan satu kemewahan bagi mereka, tetapi sambal terasi bukan tergolong makanan yang bergizi tinggi.

Sambal terasi adalah pelengkap makanan supaya nafsu makan menjadi meningkat. Bahan utama sambal terasi adalah terasi yang terbuat dari proses fermentasi udang yang tak dapat dijual di pelelangan ikan karena rusak atau oleh sebab lain. Sambal terasi yang dikomsumsi oleh penduduk miskin ini adalah sambal terasi yang sangat sederhana sekali, mungkin lebih banyak garamnya. Dengan sedikit menambah sambal ini ke dalam satu piring nasi, maka nafsu makan makan pun meningkat. Selesai satu piring, tambah lagi satu piring, apalagi kalau nasinya sangat bersifat glutine, maka tidak terasa telah makan nasi putih saja sebanyak 3 piring penuh. Dan, kebiasaan ini dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun sampai pada akhirnya penyakit diabetis datang dengan sunyi dan dalam kondisi tubuh yang telah parah digerogoti oleh penyakit ini. Banyak di antara pasien masuk ke dalam hospital untuk menjalani perawatan inap dalam kondisi  yang sudah parah sekali, seperti borok yang sudah banyak nanah, kaki atau jari kaki yang sudah siap untuk diamputasi. Banyak pengayuh becak di Bekasi berasal dari Tambun dan Krawang, kedua kota ini memang berdekatan hanya berjarak 10 kilometer. Banyak di antara mereka mempunyai asumsi, bahwa pengayuh becak tidak ada yang terkena penyakit diabetis atau jantung, maka akibatnya mereka menjadi lengah terhadap kondisi kesehatan tubuh mereka.

Idealnya nasi putih yang dikonsumsi itu sebanyak 50 gram saja atau satu mangkuk kecil, tapi tidak dipadatkan, selebihnya sampai berat total dimakan 200 gram adalah sayuran dan lauk, sedangkan sambal terasi 2 sendok teh saja. Segala sesuatu walaupun berguna tidak baik untuk kesehatan, jika dikonsumsi secara berlebihan. Bagi yang masih sehat, makan nasi putih dengan sambal terasi memang suatu kenikmatan, maka sebelum terlanjur glukosa tidak terkendali beredar di dalam darah, makanlah dengan sayuran bernama pare atau kacang panjang hijau.-

1 komentar: