Senin, 27 Oktober 2014

Jalan Jatibaru Beng.kel Tanahabang

Pada 20 Oktober 2014 Joko Widodo, orang Solo, bekas gubernur provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dilantik di gedung MPR sebagai presiden Indonesia ke tujuh. Indonesia sekali lagi dipimpin oleh orang Jawa. Dari Bekasi aku berangkat dengan kereta rel listrik, commuter line dengan tujuan Gondangdia. Sebelum berangkat aku memang mempunyai dua tujuan, yakni menuju Sekolah Tinggi Menejemen PPM di Jalan Menteng Raya dan menyaksikan Jokowi diarak pakai kereta kencana dari bunderan Hotel Indonesia menuju Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara. Turun di stasiun Gondangdia langsung menuju gedung PPM hanya membutuhkan waktu kira-kira 15 menit. Anakku perempuan mempunyai rencana akan kuliah bidang business manajement  di tempat ini ini setelah selesai dari SMA. Aku datang ke sekretariat school of manajement ini untuk mendapatkan gambaran selengkapnya tentang school of management yang diadakan oleh PPM.

Perjalanan dilanjutkan menuju Monas tempat pesta rakyat yang disebut sebagai ungkapan syukur dari rakyat atas terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden. Pesta rakyat akan dilangsungkan dengan acara makan gratis dan pertunjukan musik rock kelompok band Slank dari Jogjakarta. Udara panas musim kemarau sangat menyengat kulit dengan temperatur kira-kira 35 derajat Celcius. Ketika melintasi flyover lintasan kereta, aku melihat ada proyek besar besar sedang dikerjakan di atas tanah yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai tempat Kedutaan Besar Amerika Serikat. Aku dan puluhan pengunjung yang lain harus antri di pintu masuk Monas yang dijaga oleh satuan tentara dan polisi. Mulai masuk dari tempat ini dan di beberapa tempat lain di Monas terasa bau menyengat pesing bau ammoniak, sebab pada hari biasa yang masuk pada malam hari pasti banyak pengunjung [pasti pengunjung laki atau bencong] yang kencing di sembarang tempat. Aku membutuhkan minum gratis, tetapi di sini tidak ada minum gratis, jadi aku pikir keluar saja dari lapangan Monas dari pintu barat, terus memasuku Jalan Bu.di Kemu.liaan.

Mulai memasuki jalan ini, pikiranku menerawang ke masa kanak-kanak. Semua bangunan di sepanjang jalan ini, kecuali Hospital Bu.di Kemu.liaan dan Yayasan Adi U.paya milik TNI Angkatan Udara tetap seperti dulu. Di jalan ini dulu aku pernah memiliki seorang teman satu sekolah dasar [dulu namanya sekolah rakyat], namanya Harsanto Abdullah. Bekas rumahnya adalah halaman luas terdiri beberapa kavling tepat di sebelah yayasan ini sudah rata dan menjadi tanah kosong entah milik siapa sekarang. Aku pernah bertemu kembali sebentar saja sekitar tahun-tahun 80, waktu itu dia masih kuliah di sekolah tinggi tekhnik di Jalan Cikini Raya. Sampai di ujung jalan ini terus menyeberang ke Jalan Tanah Abang V. Di jalan ini masih ada sekolah dasar. Di sekolah inilah aku dan Harsanto pernah satu sekolah. Sampai di ujung jalan ini ada Pasar Tomas masih seperti yang dulu terus menyeberang Jalan Cideng Barat terus ke Jalan Jatibaru Beng.kel.

Di sisi barat jalan ini ada satu deretan rumah tua memiliki bentuk arsitektur sama berjumlah delapan rumah. Semua rumah ini diberi nomor urut dari sisi paling selatan dimulai nomor 17 sampai nomor 25 di sisi utara. Jalan ini disebut Jatibaru Beng.kel sebab di bagian belakang deretan rumah tua ini ada bengkel untuk perbaikan dan perawatan kereta uap. Deretan rumah tua ini sebetulnya adalah perumahan pegawai PJKA [sekarang PT KAI] yang mempunyai pangkat dan jabatan level menengah, sampai sekarang pun masih berstatus sebagai asset perusahaan. Ayahku dan keluarga pernah menempati satu dari deretan rumah tua ini, yakni rumah nomor 25 selama lima tahun. Di rumah ini sebagian dari masa kanak-kanak berlansung dari kindergarten sampai di sekolah rakyat. Di seberang jalan ini adalah deretan rumah penduduk dari berbagai professi dan usaha, ada pegawai bank, tentara, pengusaha krupuk Palembang, dan sebagainya. Antara deretan rumah tua pegawai dan beng.kel masih ada rumah pegawai yang berusia tidak kalah tua dengan yang menghadap ke jalan. Pada Agustus 1965 ayahku dan kami satu keluarga pindah ke Palembang. Dan, satu bulan kemudian pada akhir September pecah tragedi terbesar yang pernah melanda negeri ini, yakni peristiwa yang disebut pembunuhan enam jenderal dan satu perwira muda Angkatan Darat. Imbas tragedi ini sangat luas sampai ke seluruh Indonesia. Karena kemurahan Tuhan saja dalam tragedi luar biasa besar dan kejam ini, Tuhan mengijinkan ayahku tetap hidup sampai ayahku meninggal pada 1993.

Di rumah nomor 21 setelah empat puluh sembilan tahun lalu, aku bertemu lagi dengan mas Totok, anak laki dari keluarga Sugio. Gigi-giginya sudah banyak ompong. Kami berbincang di ruang tamu masih seperti yang dulu. Ia bercerita banyak tentang kehidupan jalan ini setelah kami berpisah lama. Ada juga cerita horornya. Jalan ini memang menjadi kehidupan yang akarab dan meriah sebab keberadaan penghuni perumahan pegawai ini. Segera setelah tragedi besar terjadi, penghuni rumah nomor 24 menghilang entah ke mana, mereka tentu saja sangat akrab dengan keluarga ayahku. Penghuni rumah nomor 24 ini adalah suami seorang anggota organisasi buruh yang sangat komunis, yakni Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, sedangkan isterinya adalah anggota organisasi massa yang juga sangat komunis, yakni Gerakan Wanita Indonesia. Tentara mencari semua anggota partai politik berideologi komunis dan semua anggota organisasi massa yang berafiliasi terhadap partai politik komunis.. Untunglah ibuku dulu tidak terbujuk untuk menjadi anggota organisasi massa ini. Aku pernah membaca buku berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Di akhir cerita buku ini, Pram menulis banyak nama tahanan politik yang terlibat langsung atau tidak langsung pada tragedi besar itu yang dibuang ke Pulau Buru. Tidak ada nama Sukiran atau Soekiran. Artinya orang ini telah hilang entah di mana. Missing In Disposal [MID].

Bengkel di belakang perumahan pada sore hari biasa diparkir satu atau dua kereta uap [locomotif], satu untuk langsir dan lainnya loko utama untuk menarik deretan gerbong barang atau penumpang. Ini cerita jaman Indonesia masih menggunakan kereta uap transisi menuju kereta rel diesel. Mungkin, empat puluh lima tahun yang lalu ketika peristiwa ini terjadi, satu di antara dua kereta ini diparkir di dalam bengkel, bagian muka lokomotif menghadap ke dinding batu bata berlapis semen setebal kira-kira 30 centimeter. Jarak ujung batas rel terhadap dinding semen kira-kira 2 meter. Dalam kondisi seperti ini ketel lokomotif tetap mendapat pemanasan dari kayu balokan dengan api kecil, supaya pada pagi hari masinis tidak menunggu terlalu lama memanaskan ketel air untuk mencapai temperatur dan tekanan uap yang dibutuhkan sehingga loko dapat berjalan. Menurut cerita Totok, pada pagi dini hari yang masih dingin, bengkel memang gelap gulita dari senja sampai pagi matahari terbit, loko uap ini berjalan sendiri dengan full power menerjang dinding bengkel, terus menerjang dapur rumah nomor 24. Untunglah, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kecelakaan ini. Prilaku orang Indonesia dalam menghadapi fenomena aneh adalah menghubungkan peristiwa yang jarang terjadi ini dengan mistik, keramat, dan keangkeran bengkel. Apakah ada di dunia ini suatu peristiwa terjadi begitu saja tanpa didahului oleh hubungan sebab akibat yang logis? Tidak perlu menduga atau mencari tahu alasan apa ada loko jalan sendiri, sebab catatan peristiwa ini sudah dinyatakan 'closed file'.

Ketika aku masih menetap di jalan ini, yang namanya banjir sudah akrab untuk beberapa distrik di Jakarta pinggiran, tetapi paling setinggi dengkul orang dewasa dan mudah surut. Jalan Jatibaru Beng.kel tidak pernah banjir selama lima tahun menetap di situ. Lebih ke barat lagi setelah lintasan rel kereta stasiun Tanahabang ada sungai, kami biasa menyebut ka.li Pondok Bandung [sebetulnya Kanal Banjir Barat]. Di kiri dan kanan kanal diberi tanggul dari tanah, tinggi, lebar, dan padat. Waduk Katulampa di Bogor membuang kelebihan air waduk ke dalam kanal ini. Namum, pada 2007 mungkin kemampuan tanggul kanal ini sudah melampaui batas ketahanan menerima kelebihan air dari waduk, maka tanggul ini jebol dan limpasan air dari kanal membanjiri seluruh jalan distrik Jatibaru, termasuk Jalan Jatibaru Beng.kel sampai setinggi pangkal paha orang dewasa di dalam rumah. Bekas rendaman banjir masih tampak di dinding bekas rumah dinas pegawai PJKA.

Di depan rumah Totok ada rumah tua dipagari dengan pagar tinggi terbuat dari kawat baja yang dianyam kotak persegi. Halaman rumah ini ditumbuhi oleh banyak pohon dan bagian depan halaman ini di kiri dan kanan rumah ini ditanam masing-masing satu pohon kelapa yang menjulang tinggi. Ada penghuninya, yakni perempuan tua, tapi tidak tahu berapa orang di dalamnya. Kami penghuni perumahan pegawai PJKA tidak pernah mengenal who's who di dalam rumah ini, mereka juga tidak pernah mengganggu kami. Ketika penghuni terakhir rumah ini ko'it alias dead, tidak satu pun tetangga yang mengetahui, bahwa di dalam rumah ini ada orang sudah dead. Yang memberi pertanda ada orang mati di dalam rumah ini adalah semua kucing peliharaan mengelilingi orang mati ini sambil mengeong dengan suara yang tidak biasa. Hiiiiiii, seraaaaaaam! Ternyata rumah ini tidak ada sertifikat hak kepemilikan dari sejak jaman purbakala. Artinya halaman dan rumah ini sebenarnya tidak bertuan. Rumah tak bertuan. Dengan kondisi seperti ini, maka pemerintah provinsi mengambil alih kepemilikan rumah ini. Kemudian melalui kuasa notaris rumah ini dengan status pinjuam digunakan oleh perusahaan ekspedisi. Ketika dilakukan pembongkaran rumah ini, dua orang kuli bangunan yang melakukan pembongkaran mengalami kerasukan [ekstase].

Ketika perusahaan berganti menejemen dari status oleh negara menjadi badan usaha milik negara, yakni PT KAI, menejemen baru melakukan inventarisasi asset perusahaan. Menejemen baru menilai fungsi rumah sudah menyimpang dari fungsi prinsipnya, yakni perumahan pegawai, maka perusahaan akan membongkar deretan rumah tua ini. Satu demi satu pegawai yang berhak menempati rumah dinas ini telah lama meninggal kemudian selama bertahun-tahun dilanjutkan oleh keluarga pegawai, yakni isteri terus dilanjutkan kepada anak-anak pegawai ini. Fungsi prinsipnya sudah banyak berubah, ada yang membuat restoran masakan Padang, ada yang disewakan sebagai kantor berbagai usaha, dan sebagainya. Dengan kata lainatmosfir sebagai home di jalan ini sudah tidak nyaman lagi. Lingkungan di sekeliling jalan ini juga penuh dengan rumah penduduk yang padat dan kumuh. Lebih setengah abad telah berganti 3 jaman, dari Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dan kini era Revolusi Mental Jokowi. Manusia sering terikat dengan masa lalunya dan tidak mempunyai sedikit pun untuk berubah. Jika perumahan tua ini tidak dipaksa akan dibongkar, penghuni lama akan tetap bertahan di sini dilanjutkan ke generasi berikut yang juga tidak mau berubah. Revolusi Mental gaya Jokowi menghendaki orang harus berubah, yakni mentalitas yang semakin sempurna. Berubah total!!! Mentalitas korup harus dieliminasi total dari negeri ini. Mentalitas korup membuat negeri ini menjadi miskin dan tidak progres. Sekarang saat berubah, mengubah yang dapat diubah, yakni mengubah kemalasan menjadi kebangkitan menbangun bangsa. Korup itu disebabkan oleh kemalasan, mau menikmati kehidupan seperti susu dan madu dengan jalan pintas, yakni korupsi. Aku hanya berdoa kepada TUHAN supaya teman-temanku yang harus pindah karena rencana pembongkaran ini, mereka mendapat tempat yang baru, usaha yang lebih luas, dan lebih baik lagi dari tempat yang lama.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar