Rabu, 23 Juli 2014

Generasi Manusia Karbitan

Kata karbit sudah sangat populer dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, khususnya dalam bengkel las kuningan. Dalam bengkel las kuningan, kata ini biasa disebut sebagai gas karbit. Satu sebutan yang salah, tetapi telah familiar diterima masyarakat luas. Benda berwujud bongkahan padat dan keras ini sebetulnya persenyawaan dari unsur kalsium dan karbon, berwarna putih kusam, dengan penyebutan yang benar adalah kalsiumkarbida, dan rumus kimianya adalah CaC. Jika engkau pergi ke toko material dan berkata kepada penjual, bahwa engkau akan membeli satu atau lima kilogram kalsiumkarbida, penjual tidak mengerti material yang sedang engkau cari. Katakan saja kepadanya, mau cari karbit satu kiogram, maka segera engkau mendapatkan material tersebut. Dalam jumlah timbangan yang sebanding dengan air di dalam satu bejana, maka hasil reaksi keduanya adalah gas asetilen [C2H2], kapur tohor, dan pelepasan kalori. Gas asetilen adalah persenyawaan molekul hidrokarbon, jika dibakar melalui alat burner las akan menyala dengan warna putih kehijauan dan melepaskan panas yang sangat tinggi. Gas inilah yang biasa disebut gas karbit dan digunakan untuk las kuningan. Sebetulnya gas asetilen tidak berbau dan tak berwarna, sebab keluar melalui lumpur kapur tohor, berbaulah gas ini seperti kapur. Gas ini memiliki berat melekul sedikit lebih ringan dibandingkan dengan berat molekul udara.

Bukan karbitan, rasanya manis sekali.
Jika kalsiumkarbida dibiarkan di udara terbuka, ‘karbit’ ini perlahan-lahan bereaksi dengan uap air yang ada di dalam udara dan melepaskan kalori. Bongkahan karbit yang ditumbuk lebih halus, tersebar, dan di dalam ruangan dengan sangat sedikit ventilasi [udara luar masih dapat lewat], maka proses pelepasan kalori semakin intens. Tumpukan dua puluh kilogram buah pisang atau mangga yang masih berwarna hijau, kira-kira masih setengah matang ditaburi kira-kira setengah kilogram karbit kemudian ditutup rapat dengan beberapa lembar karung goni. Biarkan selama tiga atau empat hari, maka pisang atau mangga ini menjadi matang. Pisang dapat matang sebab dipaksa setelah menerima kalori eksternal dari hasil reaksi karbit dengan uap air di dalam udara bebas. Pisang yang telah matang melalui proses karbit ini biasa disebut pisang karbitan. Namun, buah pisang yang dimatangkan cara paksa ini tentu tidak senikmat dengan pisang matang alami.

Ada pisang matang karbitan, sebaliknya apakah ada manusia karbitan? Secara fisik tidak ada manusia karbitan, tetapi jiwa, yakni tempat luapan emosinya yang dimatangkan secara karbitan. Anak remaja berumur belum genap tujuh belas tahun diberi hadiah ulang tahun oleh orang tuanya berupa mobil sport merek Belecta. Anak ini sesuai menurut Undang-Undang Lalu-Lintas belum diijinkan memiliki surat ijin mengemudi, tetapi demi sayang anak yang salah arah tetap saja orang tua anak ini melatih anak ini mengendarai mobil. Dan, anak ini akhirnya dapat mengendarai mobil. Anak ini kemudian tanpa sepengetahuan ayahnya membawa mobil ini ke jalan toll bersama seorang temannya. Anak ini memang dapat mengendarai mobil, tetapi jiwanya yang belum stabil. Anak ini memang pantas disebut anak karbitan. Ayahnya yang telah menjadikannya manusia karbitan. Kemudian muncullah banyak istilah yang berkaitan dengan karbit, seperti remaja karbitan, artis karbitan, menejer karbitan, penyanyi karbitan, pengusaha karbitan, menteri karbitan, jenderal karbitan, politisi karbitan, pendeta karbitan, dan seterusnya. Dari sejak kanak-kanak seorang anak serba karbitan, maka waktu menjadi presiden pun, ya disebut presiden karbitan. Di sekeliling kehidupan kita banyak dijumpai manusia berkualitas karbitan, karena tergiur mudahnya mendapatkan uang dengan cara instant.

Penyanyi karbitan.
Keadaan ekonomi yang semakin sulit membuat banyak anak usia remaja terpaksa mencari nafkah ketika mereka seharusnya masih menikmati letupan emosi pada usia mereka, maka kondisi ini membuat emosi mereka teralu cepat matang yang seharusnya mereka terima sepuluh atau lima belas tahun lagi. Kondisi seperti ini tidak termasuk matang karbitan, sebab yang mereka rasakan ini memang nyata di hadapan mereka, sehingga mereka menyadari, bahwa jika mereka ingin mempertahankan hidup, mereka harus bekerja. Bagi anak-anak remaja seperti ini berlaku satu realitas, bahwa kesulitan hidup membuat manusia berpikir untuk mendapatkan problem solution. Anak-anak remaja seperti ini justeru akan tumbuh menjadi dewasa karena ditempa oleh kehidupan.

Seorang anak bertumbuh mengikuti setiap tahapan emosi sesuai menurut usia emosinya. Katakanlah seorang anak sedang senang main kelereng, petak umpet, gasingan, atau permainan anak lainnya bersama teman-temannya, kemudian orang tuanya melakukan by pass dengan kegiatan lain yang dinilai akan menambah kecerdasan. Memang anak ini tampak bertambah cerdas dan lebih cerdas dibandingkan dengan anak-anak seusianya, tetapi ingatlah, bahwa hidup bukan hanya untuk kecerdasan, melainkan juga harus memiliki kestabilan dan kematangan emosi. Cerdas tetapi tidak ada ekspresi emosi tidak bedanya dengan robotik. Walaupun teknik make-up wajah semakin maju, sutradara yang cermat dengan pekerjaannya tidak seharusnya sembarangan memakai actor atau aktris untuk peran orang tua, hanya karena pemegang casting adalah gadis muda dan cantik. Inilah yang sering disebut artis karbitan. Sosok manusia yang harus meletupkan emosi yang belum pernah dia rasakan, maka actionnya juga tidak meyakinkan. Aku pernah melihat public figure cantik dan terkenal, kata banyak orang, dia adalah penyanyi yang sudah sering rekaman. Belum pernah terdengar rekamannya top hit seperti apa, tapi mobil-mobil mewahnya berderet seperti apa. Baru dapat menyanyi di kamar mandi saja langsung terkenal. Dasar penyanyi karbitan! Ada tren baru di Indonesia, yakni semakin banyak artis terlibat dalam dunia politik dan langsung terjun menjadi anggota parlemen. Dari mana mereka mendapat pendidikan politik? Mereka, politisi yang lebih senior atau politician career tidak mudah melangkahkan kaki ke parlemen begitu saja, sebaliknya mereka yang bermodalkan tampang melenggang begitu mudah ke parlemen. Selamat datang politisi karbitan. Apakah ada jenderal karbitan? Dan, apakah ada pendeta karbitan?  

Manusia karbitan akan terlihat identitasnya kalau dia terlibat pada acara debat terbuka, diskusi, atau diinterview oleh seorang jurnalis, dia selalu ingin menguasai pembicaraan, menganggap dirinya lebih benar, dan temperamental. Ia adalah manusia yang tidak akan pernah siap kalah menghadapi pahitnya perjuangan hidup. Indonesia tidak pantas dipimpin oleh presiden karbitan. Manusia karbitan adalah korban anak salah didik oleh orang tua. Kita patut kasihan terhadap manusia berkualitas karbitan, usia fisik telah mencapai tujuh puluh tahun, tapi masih doyan makan kembang gula harum manis, kue bulu kukus, atau dodolipet, sebab ada fase yang terputus dan masih ingin dinikmati secara sembunyi-sembunyi. Apakah masih dapat diperbaiki mentalitas karbitan diperbaiki? Tidak ada yang dapat memundurkan jarum penunjuk waktu yang terus maju. Waktu berjalan terus, sementara manusia karbitan asyik dengan dunianya sendiri. Namun, yang lebih kasihan lagi adalah tidak sedikit juga yang bersedia menjadi pengikut figur manusia karbitan.- 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar