Rabu, 16 Juli 2014

Siap Menang Dan Siap Kalah



Roti sobek isi smoked beef.
Pada 9 Juli 2014 pertandingan sepak bola Piala Dunia 2014, semi final antara Brazilia berhadapan dengan Jerman. Dari sejak semula aku menjagokan Jerman, kampiun dari Eropa dengan semua pemain andalan, seperti Muller, Klose, Kroos, Ozil, Khedira, Podolski, dan lain-lain mereka tampil dalam kondisi prima. Semua orang di seluruh dunia pasti mengetahui, bahwa lawan Jerman bukan tim sembarangan, yakni kampiun klas dunia, Brazil yang telah menjadi legenda juara enam kali Piala Dunia. Jerman bertarung di rumah sendiri tim Brazil di kota Belo Horizonte. Setiap tim yang terlibat dalam pertandinganini hanya ada satu di dalam pikiran mereka, yakni harus menang. Untuk apa pergi jauh melintasi lautan luas menuju Brazil kalau bukan untuk satu tujuan menang. Bagi Brazil sepak bola adalah nasionalisme, kebanggaan rakyat, prestisius yang harus dipertahankan mati-matian, apalagi negeri ini telah mengeluarkan 11 milyar USD ongkos untuk membiayai Piala Dunia 2014, maka kata menang yang ada dalam pikiran setiap Brazilian. Dalam pertandingan apapun pasti ada yang menang, juga pasti ada yang kalah, maka yang paling penting dalam menjalani hidup ini adalah siap menghadapi kekalahan dengan hati ikhlas. Ada yang menang dan ada yang kalah adalah realitas kehidupan.

Pukul 03.00 waktu Indonesia Barat pertandingan dimulai. Brazil dengan gerakan menyerang menguasai bola dari sejak awal, sementara Jerman dengan gerakan rileks menghadang bola lawan, take over bola kepada teman dengan arah yang baik, semua gerakan ini dilakukan dengan disiplin dan konsisten. Sebagian besar tempat duduk di stadion diwarnai oleh kaos warna kuning dan meriahnya penonton dan penggila bola. Brazilian penggila bola paling gila. Dari anak-anak sampai kakek-nenek, laki dan perempuan, semua penggila bola. Mungkin balap mobil dan bola volley adalah selingan orang Brazil. Walaupun selingan olah raga selain sepak bola, tim bola volley Brazil selalu masuk kampiun dunia. Siapa yang tak mengetahui pembalap mobil F-1 terkenal dari Brazil, Emmerson Fitipaldi atau Arton Senna?

Pertandingan baru berjalan 11 menit, jala gawang Brazil bergoyang keras oleh terjangan bola yang ditendang keras dari kaki Mueller, nomor punggung 13. Bermula bola berada di area sudut kiri Brazil, lalu ditendang ke tengah, kira-kira 15 meter dari gawang, di sini ada Mueller, tanpa ampun langsung dieksekusi. Seluruh penonton kaos kuning di stadion Mineirazo terkesima tidak percaya dengan pemandangan ini. Semudah itu lawan menerobos barisan defender Brazil dan memasukkan bola ke gawang. Pemandangan yang wajar diterima logika adalah sebelum lawan bercucuran keringat, maka lawan tidak akan semudah itu memasukkan gol ke gawang Brazil. Belum lagi rasa terkejut orang Brazil hilang, baik yang main di lapangan maupun penonton di stadion, maka Klose dua menit kemudian di depan gawang telah menendang bola dengan kaki kanan dan terciptalah gol kedua untuk Jerman. Kejadian berikut membuat pemain tim Brazil menjadi frustasi dan membuat bungkam seisi stadion, sebab gol ketiga dan keempat tercipta tidak sampai satu menit dilakukan oleh Kroos, dua menit setelah Klose. Gol kelima dibuat oleh Khedira dan penutup untuk 1st half play. Orang Jerman belum mengeluarkan keringat untuk lima gol ini. Pada 2nd half play gol keenam dieksekusi oleh pemain yang baru masuk ke lapangan menggantikan Klose. Aku mempunyai kebiasaan berdoa pada pagi hari. Aku pejamkan mataku berdoa. Mungkin lima belas menit aku berdoa. Ketika aku membuka mata selesai berdoa, skor Jerman sudah menunjukkan tujuh. Ketika waktu menunjukkan angka 90 plus additional time, Brazil memasukkan bola ke gawang Jerman. Hadiah hiburan dari Tuhan untuk Brazil. Jerman menang tanpa keringatan, skor 7 - 1.

Siap menang dan siap kalah. Tim Oranje lawan White Cement.
Satu hari setelah pertandingan semi final ini, mudah ditebak reaksi public Brazil atas kejadian memalukan ini, ekspresi kekecewaan orang Brazil dari berbagai lapisan masyarakat. Semua surat kabar menuliskan berita dengan nada ejekan terhadap pelatih Brazil, Luiz Felipe Scolari yang dianggap bertanggungjawab terhadap kekalahan yang sangat mencoreng muka. Tidak cukup surat kabar dalam negeri, surat kabar luar negeri pun, termasuk KOM.PAS dari Indonesia tidak kalah seru memberi komentar atas kekalahan yang menghebohkan dunia. Scolari dianggap sudah merasa nyaman dengan pemain-pemain muda andalannya yang selama ini telah memberi kontribusi bagus pada semua laga uji coba, baik di dalam maupun di luar Brazil. Dan, bukan hanya itu saja sebab dia mengandalkan dua pemain muda, Neymar dan Da Silva yang dianggap jimat sakti bagi team-nya, begitu kedua pemain muda ini bermasalah pada tulang punggungnya sebab cedera dari pertandingan sebelumnya, maka team Brazil sangat kehilangan roh permainan mereka. Kemana pemain-pemain senior seperti, Roberto Kaka, Ronaldinho, dan Robinho? Seandainya ketiga jagoan senior ini dipasang, mereka pasti dapat menjadi penahan kokoh terhadap serangan Jerman, walaupun Neymar absent di lapangan. Nasi sudah menjadi bubur tidak ada guna berandai-andai.

Gagal di semi final setelah ditaklukkan oleh Jerman, maka masih ada satu peluang lagi untuk menjaga martabat para Brazilian dalam dunia sepak bola, yakni pertandingan melawan Belanda untuk memperebutkan tempat ketiga. Betapapun hebatnya perlawanan Brazil melawan Belanda dalam pertandingan ini, dan katakanlah menang, maka hasil pertandingan ini tidak akan dapat menutup kekecewaan para Brazilian. Di hati terdalam para Brazilian, mereka masih mengharapkan matahari masih dapat bersinar terang di tengah awan mendung yang membuat langit Brazil gelap gulita, daripada tidak mendapat sesuatu pun yang tertinggal, pertarungan melawan Belanda harus menang, walaupun di tengah duel yang tidak diharapkan. Namun, sesuatu apa pun yang sangat diharapkan oleh manusia, hanya kehendak Tuhan yang jadi, sebab yang terjadi adalah Brazil dikalahkan oleh Belanda dengan skor 3 – 0. Lengkaplah sudah, Piala Dunia 2014 menjadi mimpi buruk bagi tim legenda Brazil yang telah menjadi juara Piala Dunia enam kali. Namun, sebagai satu bangsa yang sangat menghargai fair play, maka tragedy kekalahan ini tidak menimbulkan kerusuhan massal yang dapat mengganggu ketertiban umum. Para Brazilian telah menerima kekalahan dengan jiwa besar.

Pengkhotbah berkata, manusia harus memperhatikan pekerjaan Tuhan! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan oleh-Nya? Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan oleh Tuhan seperti juga pada hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya. Pekerjaan Tuhan dari sejak semula adalah menciptakan seluruh isi semesta alam. Kalau engkau pada hari ini masih dapat makan, ini adalah pekerjaan Tuhan juga, yakni engkau masih dipelihara oleh Dia yang Mahamurah. Tuhan banyak melakukan perbuatan ajaib yang tidak terpikirkan oleh jangkauan logika manusia. Manusia membuat prediksi menurut kecerdasannya sendiri yang terbatas, tapi sering lupa, bahwa hanya racangan Tuhan saja yang terlaksana. 

Pada hari yang sama dengan pertandingan semi final antara Brazil dengan Jerman, pada pukul 08.00 waktu lokal orang Indonesia melakukan pemilihan calon presiden RI untuk perioda 2014 – 2019, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo alias Jokowi. Pemilihan kali ini dinilai oleh banyak kalangan sangat disambut antusias oleh banyak orang Indonesia, di dalam negeri maupun di luar negeri. Pertempuran sengit head to head antara kebangkitan Neo Orde Baru dengan kelompok muda pendukung Revolusi Mental. Selesai pencoblosan lembaran surat suara pilihan, selanjutnya bergulir proses penghitungan cepat [quick count] yang dilakukan oleh lembaga survey kedua pihak yang bertarung. Ternyata hasil hitung cepat yang disiarkan melalui channel tv dari kubu Bowo berbeda dengan kubu Jokowi. Lembaga survey masing-masing pihak saling mengunggulkan satu terhadap yang lain. Mana yang benar dan mana yang abal-abal? Pada akhirnya Komisi Penyiaran Indonesia melarang semua stasiun tv menyiarkan hasil hitung cepat.

Pada pertandingan sepak bola orang menghitung skor tertinggi, tim yang mendapat skor lebih tinggi dari lawannya, maka tim inilah yang menang. Dua tim yang berlaga di lapangan, masing-masing tim menginginkan dengan keras kemenangan dengan skor setinggi mungkin. Jika keadaan memang memungkinkan, skor Jerman atas Brazil dapat lebih dari 7 – 1. Kemenangan adalah tujuan yang didapatkan pada satu laga, tetapi juga harus ditanamkan kemenangan yang memiliki nilai-nilai etika. Pertarungan sengit pemilihan calon presiden tidak berbeda seperti pertandingan sepak bola, kedua pihak calon presiden berusaha keras semaksimal mungkin mendapatkan skor terbanyak. Target kemenangan mendapatkan suara pemilih terbanyak untuk Bowo atau Jokowi. Keinginan berbuat curang dengan cara apa pun dapat dimulai dari tempat pemungutan suara seterusnya sampai ke Komisi Pemilihan Umum. Membutuhkan uang secukupnya untuk kebutuhan hidup adalah sikap hidup yang manusiawi, sebaliknya mendapatkan uang melebihi dari yang telah dipenuhi atas semua kebutuhan dengan cara tidak halal adalah kejahatan, dan kejahatan ini biasa disebut korupsi. Korupsi artinya mengurangi jumlah suara pihak yang satu lalu dipindahkan ke dalam pundi suara pihak yang akan dimenangkan. Menerima uang suap untuk melakukan perbuatan curang demi pemenangan yang tidak menjunjung tinggi etika adalah perbuatan tidak etis.

Tuhan telah menetapkan kekalahan bagi Brazil, Dia telah membengkokkan logika yang selama ini dipegang oleh banyak orang, bahwa Brazil kiblat sepak bola. Brazilian tidak ada bedanya dengan orang Indonesia, Jepang, Prancis, Jerman, atau Filipina, mereka manusia biasa juga yang dapat ditaklukkan. Pada saat orang mendapat kemujuran, memang layak bergembira, sebaliknya janganlah kegembiraan itu meluap berlebihan, ingatah di balik kegembiraanmu, ada juga yang bersedih sebab ketidakmujurannya. Lebih dari itu, meluapkan kegembiraan berlebihan dapat membuat engkau menjadi lengah. Tidak selamanya orang mendapat kemujuran. Hari ini adalah pemberian dari Tuhan untukmu gunakanlah sebaik-baiknya untuk Tuhan dan untuk sesama manusia. Manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya, sebab hari esok itu adalah milik Tuhan, hari esok adalah rahasia milik Tuhan. Hari ini manusia membuat rancangan hari esok di dalam pikirannya, tetapi hanya keputusan Tuhan yang terlaksana.

Dalam keadaanmu yang tidak mujur, engkau masih dapat menikmati setetes kebahagiaan, jika keadaanmu ini engkau terima dengan sikap realistis, yakni tidak selamanya engkau mendapatkan seperti yang engkau inginkan. Dan, engkau tidak mungkin merangkul seluruh isi dunia demi memuaskan hatimu. Jika engkau memiliki sikap realistis seperti ini, engkau adalah orang yang jujur terhadap hati nuranimu sendiri. Ya, hanya orang yang jujur terhadap hati nuraninya sendiri yang dapat menikmati kebahagiaan. Orang Brazil mengetahui setiap jengkal peraturan bermain bola, maka mereka menerima kekalahan mereka dengan tulus setelah melakukan permainan yang jujur dengan tim Jerman. Orang yang terlibat pemilihan calon presiden seharusnya telah mengetahui peraturan pemilihan umum jujur, sehingga tidak perlu mencari peluang membenarkan segala cara kotor untuk memenangkan perolehan suara tertinggi. Jangan bergaul dengan orang tidak jujur, sebab orang yang tidak pernah jujur terhadap hati nuraninya sendiri adalah orang yang tidak siap kalah dalam pertandingan; bagi orang seperti ini yang ada di dalam pikirannya adalah bersaksi dusta. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar [Amsal xix:5].-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar