Selasa, 13 Desember 2011

Kemalasan Embrio Menuju Kejahatan Korupsi


Orang malas tidak mempunyai daya dorong untuk bekerja, tetapi memiliki nafsu sangat besar untuk memiliki segala sesuatu. Orang malas mudah mengatakan begini tidak mungkin, begitu tidak mungkin. Orang malas bekerja lebih mendahulukan kesenangan hidup dibandingkan kebutuhan yang lebih penting untuk dipenuhi. Keinginan seorang pemalas untuk memiliki banyak barang mewah adalah kesenangan hidup yang harus dipenuhi. Mengapa ada banyak orang malas bekerja padahal bekerja adalah tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup? Penulis Amsal mengatakan, bahwa tangan yang malas mendatangkan kemiskinan, sebaliknya di sisi lain tidak ada orang yang mau hidup dalam kemiskinan.

Yang dipikirkan oleh orang malas adalah mengupayakan mendapatkan kekayaan materi sebanyak mungkin tanpa atau sedikit sekali tenaga yang harus dikeluarkan untuk bekerja. Orang seperti ini harus mempunyai power [kasekten] yang digunakan untuk menekan orang lain supaya melakukan semua keinginannya. Kasekten dapat didapatkan dari kuasa kegelapan atau dari kemampuan diri pribadi. Ratusan tahun yang lalu semua raja di Indonesia harus mempunyai kasekten untuk menekan kerajaan bawahan supaya memberi upeti [gratifikasi]. Sebagai imbalan taat memberi upeti, kerajaan bawahan akan mendapatkan perlindungan keamanan. Namun, kenyataannya jaminan keamanan wilayah hanya sebatas janji saja. Buktinya apa? Buktinya adalah semua kerajaan besar tidak mampu memberi pelindungan bagi diri mereka sendiri terhadap penjajahan Belanda selama 350 tahun.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh semua birokrat sipil dan polisi di Indonesia? Hampir semua birokrat adalah kumpulan manusia korup. Untuk setiap kenaikan pangkat [eselon] pada level tertentu, seorang pegawai harus siap memberi gratifikasi kepada atasannya; untuk mengikuti pendidikan kenaikan pangkat, calon peserta harus siap memberi gratifikasi. Karena inilah, jika semua orang yang pernah memberi gratifikasi, begitu naik pangkat sampai level tinggi, mereka juga akan berbuat yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh atasan mereka dulu. Anda pikir untuk menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau menjadi gubernur dan wakil gubernur itu gratis begitu saja? Hanya ada dua polisi saja yang jujur di Indonesia, yaitu Hoegeng dan polisi tidur [tambah lagi patung polisi].

Di Indonesia, kebanyakan sarjana kalau sudah menjadi birokrat, yang dipikirkan bukan meningkatkan kualitas integritasnya sebagai pegawai, melainkan memikirkan dengan cara bagaimana mengganti biaya kuliah yang sangat mahal yang dulu pernah dikeluarkan. Caranya adalah dengan cara menambah meja birokrasi. Ya, meja adalah symbol kekuasaan [kasekten] seorang birokrat yang harus diberi upeti supaya urusan menjadi lebih lancar. Katanya!!!   

Apakah orang Indonesia tergolong manusia pemalas? Ya! Orang Indonesia suka melakukan jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan materi, karena malas tidak mau kerja keras. Para pemalas kerja ini datang kepada dukun untuk ditunjukkan jalan mendapatkan kekayaan melalui kuasa Iblis. Ada istilah babi ngepet, yaitu pelaku pencari kekayaan tak halal ini pada malam hari berubah menjadi babi mendatangi rumah-rumah orang kaya. Ada juga pelaku pencari kekayaan tak halal ini dengan cara memelihara tuyul, yaitu roh anak bayi yang mati karena digugurkan oleh ibunya. Tentang babi ngepet dan tuyul sulit untuk dibuktikan dengan logika, karena saya sendiri hanya sebatas mendengar kata orang.

Orang malas adalah sampah masyarakat, suatu saat pada waktunya mereka hanya akan menjadi beban masyarakat. Orang malas adalah embrio untuk selanjutnya menjadi koruptor. Orang malas menggunakan imajinasinya untuk mandapatkan gagasan mendapatkan uang dengan cara muda, tidak perduli apa yang dikerjakannya merugikan orang lain.

Untuk mendobrak kemalasan menuju etos kerja yang membangun, maka dibutuhkan keteladanan dedikasi tinggi seperti bekas Gubernur Ali Sadikin dan Jenderal Polisi Hoegeng. Mereka adalah orang-orang pemimpin puncak yang mau melayani masyarakat tanpa pamrih. Public figure dapat dijadikan contoh atau pahlawan bagi masyarakat, apabila mereka sudah pada mati, apa saja perbuatan baik mereka kepada masyarakat. Dari sejak masa kanak-kanak, seorang anak harus dilatih survive oleh orang tua; berlatih mengatasi masalah dari hal yang sangat sederhana, bukan hanya mengandalkan pembantu rumah tangga saja. Seorang anak harus ditanamkan ke dalam pikirannya, bahwa untuk mendapatkan berkat dari Tuhan  harus mau bekerja melayani orang lai. Penulis Amsal mengatakan, belajarlah dari semut, mereka rajin mengumpulkan makanan pada musim panas, sehingga mereka tidak mati kelaparan pada musim dingin, karena persediaan makanan telah tercukupi.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar