Selasa, 13 Desember 2011

Kekuatiran Mendorong Tindakan Korupsi

Menurut Biro Pusat Statistik, biaya pendidikan di Indonesia setiap tahun naik 10 persen. Seorang birokrat sipil atau perwira polisi yang masih aktif dinas tentu masih dapat membiayai anak-anak mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi urusan hidup tidak hanya biaya uang kuliah, biaya hidup setelah pensiun juga harus dipikirkan. Orang yang akan berhenti dari pekerjaan karena usia pensiun selalu merasa kuatir, jika merasa tidak mempunyai persiapan untuk itu. Di Indonesia dan pada umumnya di banyak negara berkembang jumlah uang asuransi jauh dari mencukupi untuk biaya hidup setelah pensiun.

Pejabat tinggi sipil, perwira tinggi militer, atau perwira tinggi polisi [yang mengandalkan gaji bulanan], kalau pensiun rata-rata take home pay sekitar 3 juta rupiah. Uang pensiun sebesar ini walaupun sudah ikat pinggang dengan kencang, rasanya sulit bergerak di kota kabupaten sekali pun, apalagi kalau hidup di kota provinsi. Kekuatiran inilah yang mendorong seorang birokrat atau perwira tinggi mengadu nasib mencuri uang negara untuk bekal, kalau di kemudian hari pasti pensiun. Komisi Pemberantasan Korupsi menjumpai banyak rekening gemuk di banyak bank sebesar ratusan milyar rupiah milik birokrat muda sipil [golongan IIIA – IIID]. Gaji pokok golongan III paling tinggi hampir mencapai 4 juta rupiah. Jadi, kalau kedapatan satu rekening gemuk ratusan milyar milik seorang birokrat dengan gaji pokok tersebut di atas, tidak pada tempatnya seorang penasehat hukum pura-pura tidak tahu dari mana asal uang ini, dengan berlindung di balik azas praduga tak bersalah.

Kekuatiran adalah satu bentuk rasa takut yang tidak mempunyai alasan yang logis. Misalnya, apakah ada hubungan sebab akibat antara uang pensiun yang tidak mencukupi kemudian mati kelaparan atau anak tidak dapat melanjutkan kuliah. Hubungan sebab akibat yang tidak ada korelasinya ini justeru membuat kebanyakan birokrat merasa kuatir selama dinas aktif, kemudian mencoba menghilangkan kekuatirannya dengan cara korupsi. Lihat saja, satu persatu Badan Usaha Milik Negara rontok digerogoti dari dalam oleh tikus-tikus koruptor. Lihat saja, lembaga negara yang bernama Kementerian Agama yang seharusnya dekat dengan urusan Tuhan,justeru menjadi lembaga yang paling korup di negeri ini.

Orang yang selalu kuatir adalah satu bentuk kejiwaan orang yang tidak mempunyai pikiran positive. Orang yang selalu kuatir mempunyai kecenderungan melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa kuatirnya. Orang kuatir baru merasa damai hatinya, jika bentuk pertolongan itu nyata di hadapan matanya. Mengapa Anda harus kuatir terhadap masa depan, jika Anda percaya bahwa Tuhan memberi perlindungan terhadap orang benar. Siapa yang disebut orang benar, yaitu siapa saja yang menjalankan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang berkaitan dengan properti adalah jangan mencuri dan jangan iri hati terhadap keberhasilan orang dunia. Korupsi adalah substansi dari mencuri, yaitu mencuri uang negara.

Sumber rasa kuatir itu adalah karena manusia tidak pernah berusaha mencari lingkungan pergaulan yang menciptakan kedamaian hati dan ketentraman jiwa. Anda dapat memperoleh kedamaian hati dan ketentraman jiwa, jika Anda jujur terhadap diri sendiri menerima keadaan Anda sebenarnya. Jika Anda berhasil mendapatkan lingkungan pergaulan yang mendukung, di situlah jiwa Anda tentram dan pikiran Anda jernih mengelola rencana yang rasional, yaitu hubungan sebab dan akibat yang logis. Jangan memikirkan berkat, karena berkat adalah akibat logis Anda mendahulukan Tuhan; sebab Anda mendahulukan Tuhan, akibatnya berkat dengan sendirinya mengalir. Perhatikanlah dengan baik, apa yang dilakukan oleh seorang professional, dia tidak bermimpi mendapatkan upah berlimpah, melainkan mendahulukan pekerjaan, karena banyak orang merasa puas dengan hasil pekerjaannya, maka dengan sendirinya upah berlimpah mengejarnya. Demikian pula dengan orang yang mendahulukan Tuhan, maka berkat dengan sendirinya mengejarnya tanpa putus dan berlimpah.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar