Sabtu, 18 Mei 2019

Restoran Pondok 39

Kami berlima, keponakan, istriku, aku, kakak perempuan istriku, dan seorang teman istriku telah mengunjungi adik laki-laki dari keponakanku ini di satu "hospital khusus" di satu wilayah di Cawang, Jakarta. Dirawat di hospital khusus sebab penyakitnya juga khusus. Kami datang ke hospital ini terlalu cepat, sebab kami harus menunggu sampai satu jam dan kami diijinkan menjenguk hanya kira-kira 30 menit. Teman istriku perempuan Semarang, Sulistyowati, pekerjaannya adalah pendoa. Selesai berdoa bagi pasien, kami meninggalkan hospital ini kira-kira pukul 14.00 waktu Jakarta Timur.
Pondok 39, Cawang, Jakarta.

Dalam perjalanan pulang dengan mobil kami ditawari oleh keponakanku makan siang di mana ini. Ia mau mentraktir kami pada saat kami memang pada lapar. Kami melewati satu jalan yang sangat familiar bagiku, maka aku langsung menunjuk restoran Pondok 39 dan istriku antusias juga menyetujui usulku ini. Ada apa ya? Yaaah, semacam ada sweet moment di restoran ini. Menu yang tersedia di tempat ini antara lain : nasi goreng dan mie goreng sea food, ayam goreng dan ayam bakar sambal terasi, sayur asam, gurame bakar dan gurame asam-manis. Kami memesan 4 porsi ayam bakar dan 1 porsi siomay, sebab kakak perempuan istriku tidak makan ayam bakar. Ayam bakar bumbu kecap, nasi, dan sambal terasi. Hemmmm, tersaji di depan mata sudah terbayang ... lezato! Sebelum makan kami berdoa dan aku yang memimpin doa.

"Bapa di sorga. Engkau, Allah yang Mahamurah. Kami mengucap syukur kepada-Mu atas semua berkat makanan yang Engkau sediakan bagi kami di tempat ini. Engkau kuduskan makanan ini menjadi berkat kesehatan dan kekuatan tubuh kami. Engkau tahirkan makanan ini sehingga semua yang yang tersaji di meja makan ini layak kami makan di hadapan-Mu. Demi nama Yesus, kami mengucap syukur kepada-Mu. Amin!"

Aku memiliki nostalgia dengan restoran ini beberapa tahun yang lalu. Rasanya seperti sudah lama sekali, tetapi sesungguhnya baru lima tahun yang lalu aku pernah mengunjungi tempat ini. Ada satu perubahan besar di restoran ini, yakni ruangan bagian depan dibagi sampai setengah ruangan, sebab setengah bagian di sebelah kanan dari depan sampai ke belakang di renovasi untuk bagian saudaranya. Dapur tetap di sebelah kanan. Dua kokinya masih orang lama seperti yang dulu. Restoran ini disebut Pondok 39, sebab berlokasi di satu jalan dengan nomor rumah 39. Pemiliknya orang Tionghoa dan penganut Buddha. Menurut ibu pemilik restoran ini, bahwa pada mulanya keluarga besarnya menempati rumah ini ketika semua jalan di sekitar tempat ini masih belum diaspal. Well, kira-kira dekade 50-an atau 60-an. Restoran ini masih terhitung wilayah Bidara Cina.
Lezato grilled chicken and salsa.
Di sebelah kanan bangunan restoran ini ada tetangga yang menyediakan sedikit tempat untuk berjualan di bagian kiri rumah tetangga ini. Di tempat kecil ini aku pernah berjualan ta.hu goreng krispy dari pukul 15.00 sampai 21.00. Untuk listrik penerangan dan air untuk mencuci, aku membayar dari restoran ini. Aku menggoreng ta.hu sampai tangan, lengan, dan wajahku tampak menghitam. Sekali-sekali aku makan malam di restoran ini berupa menu seperti yang aku makan pada hari ini. Pada hari ini harga ayam bakar 17 ribu rupiah per porsi, sebaliknya lima tahun yang adalah 10 ribu rupiah per porsi. Namun, hanya tiga bulan aku bertahan berjualan tahu goreng krispy di tempat ini. Omzet penjualan ta.hu hanya mencapai 400 tahu, sedangkan yang aku bawa adalah 700 tahu. Yaaach, pada akhirnya aku mengucapkan say good bye pada tempat ini.

Di antara kami berlima mungkin aku yang paling bersemangat menikmati lezatnya ayam bakar sambal terasi. Setiap suap nasi  yang aku lumuri dengan sambal terasi sangat aku nikmati sekali ayam bakar ini. Memang perut sedang terasa lapar. Makan terasa nikmat dalam keadaan lapar, apalagi yang dimakan ayam bakar sambal terasi. Lezato! Nikmato! Ayam bakar ini dengan bumbu dasar kecap manis kemudian dipanggang di atas panggangan gas burner tetapi aku menyukai yang sedikit agak gosong. Tambah nasi lagi satu porsi, setengah bagian untukku dan setengah bagian lainnya untuk keponakanku. Kata penulis amsal, bahwa bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis (Amsal xxvii: 7). Tiga hari telah berlalu, tetapi aroma ayam bakar restoran ini masih terbayang.-

Selasa, 14 Mei 2019

Filter Air Bersih

Aku dan keluargaku menempati satu rumah kecil memiliki dua kamar tidur yang memiliki fasilitas air minum yang berasal dari perusahaan daerah air minum. Seharusnya dengan fasilitas air minum seperti ini kami memiliki air yang bersih. Setidaknya dapat digunakan untuk mandi, tetapi kenyataannya kualitas air ini layak disebut air sungai. Keruh! Banyak endapan lumpur di dasarnya kalau ditampung di dalam ember. Mencuci pakaian apalagi pakaian putih jangan diharapkan dapat menjadi bersih. Apa solusinya untuk mengatasi masalah ini? Pakai tabung filter air bersih! Aaaaaah ... bukan insinyur juga pasti tahu solusinya adalah menggunakan filter. Filter khusus untuk mengatasi masalah air keruh harganya sekitar 4 juta rupiah. Masalahnya ini aku sedang no money alias bokek. Filter tetap harus dipakai, tapi filter apa yang harganya sangat murah? Inilah solusinya filter air bersih ekonomis resep nenek moyang.

Ambil botol plastik bekas air mineral kemasan 1500 ml. Potong dengan cutter kira-kira 3/4 tingginya. Bagian dasar seluruhnya dilubangi banyak lubang ukuran diameter per lubang kira-kira 3 mm. Alasi dasar botol yang telah dilubangi ini dengan ijuk atau dengan kain cotton ukuran kira-kira 80 x 80 mm. Letakkan di atas kain cotton ini pasir ukuran diameter antara 0,5 - 1,5 mm. Untuk mendapatkan butiran pasir dengan ukuran diameter seperti ini, maka gunakan ayakan tepung terigu yang memiliki diameter 1 mm. Gunakan butiran pasir yang lolos dari ayakan ini. Sebelum digunakan pasir harus dicuci dulu dengan air bersih. Dengan filter yang sederhana ini dan murah harganya, nilai harganya hanya 15 ribu rupiah, maka air yang semula keruh oleh lumpur kini menjadi jauh lebih jernih dan mandi pun menjadi lebih bersemangat. Dua hari sekali pasir dibersihkan dari endapan lumpur yang menutupi pori-pori pasir. Air bersih adalah satu kebutuhan primer manusia. Dua juta bangsa Israel dalam peristiwa exodus selama 40 tahun di Gurun Sinai, air, air, air menjadi kebutuhan hidup. Tanpa air jernih yang sehat, manusia tidak dapat hidup. Hanya planet bumi yang memiliki air.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, filter adalah alat penapis atau penyaring. Dalam istilah fisika banyak jenis alat yang berkaitan dengan filter. Misalnya : filter air bersih, artinya yang diloloskan adalah air bersih saja, sedangkan kotoran sudah tertahan di filter. Filter bass meloloskan frekuensi kisaran antara 50 - 250 Hz. Filter treble meloloskan frekuensi kisaran antara 250 - 15000 Hz. Filter hijau hanya untuk meloloskan cahaya warna hijau. Kamera yang dilengkapi filter hijau, maka akan menghasilkan foto hitam putih yang tajam. Filter kuning hanya meloloskan cahaya warna kuning. Cahaya warna kuning mampu menerobos kepekatan kabut di pegunungan. Filter pelumas mesin meloloskàn pelumas bersih kemudian melumasi seluruh bagian mesin.

Demikianlah hidup yang kita jalani ini dari lahir sampai mati, maka kita juga membutuhkan filter supaya kita memiliki hidup yang bermakna demi kemanusiaan untuk kemuliaan Tuhan di bumi dan disorga. Filter ini adalah jiwa kita sendiri yang setiap hari diberi makan firman Tuhan. Firman yang setiap hari engkau baca dari Kitab Suci menjadi rhema bagi jiwamu dan direnungkan siang dan malam, maka hanya segala sesuatu yang berkenan bagi Tuhan yang diloloskan dan semakin mengendap, mengental, dan koheren di dalam batinmu. Jiwamu yang sehat akan membuat rohmu semakin kuat dan engkau tidak mudah goyah oleh godaan Iblis.-


Kamis, 09 Mei 2019

Meditasi

Pada satu kunjungan ke rumah duka di suatu tempat di Bekasi aku berbincang-bincang dengan adik laki-laki almarhumah Elizabeth Tanukusuma. Kenalan baruku ini orang keturunan Tionghoa yang settle di Lampung Selatan, isterinya orang Tionghoa asal Magelang. Orang ini berkata, bahwa dia mempunyai satu metode untuk menemui Tuhan, yakni dengan cara meditasi. Ia begitu bersemangat memberi penjelasan kepadaku demikian pentingnya manusia seharusnya bermeditasi untuk mendapatkan kedamaian bertemu dengan Tuhan. Aneh juga kalau orang ini bicara tentang meditasi dengan semangat mengingat dia adalah seorang anggota jemaat Gereja Pentakosta di Indonesia. Di gereja ini dan pada umumnya gereja-gereja kharismatik, meditasi dan filsafat adalah dua hal yang sensitif untuk dibicarakan di tempat terbuka.

Apa itu meditasi? Orang Jawa biasa menyebut meditasi dengan kata "semadi". Untuk memahami lebih jauh lagi tentang kegiatan semadi, maka ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu secara komprehensif hakekat Kejawen. Kejawen atau Kejawaan (Javanism) bukan menunjukkan identitas agama atau kadar religiositas agama, melainkan lebih menunjukkan sistem berpikir orang Jawa. "Kejawen adalah himpunan kepustakaan Jawa yang lengkap dan ruangannya masih memungkinkan untuk diisi terus selama ada yang baru untuk dimasukkan ke dalamnya. Unsur-unsurnya adalah sebagian besar ajaran-ajaran Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal yang mengendap, semakin kental dan semakin koheren dalam pikiran orang Jawa secara turun-temurun selama ratusan tahun. Ajaran Islam melalui Sufisme juga ikut memberi andil merembes ke dalam Kejawen" (Hengki Budi Prasetyo, skripsi, 2005). Puncak ajaran Kejawen adalah kebatinan, yakni satu usaha pribadi dan berorientasi pada diri sendiri untuk memahami hakekat kehidupan dan mencapai  kesatuan dengan Gusti Allah (manunggaling kawulo-Gusti). Kegiatan kebatinan adalah puasa, mengendalikan gerak, dan meditasi. Untuk melakukan kegiatan meditasi orang duduk di dalam kamar atau di mana saja di tempat sunyi mengheningkan diri dalam satu usaha menyatu dengan Tuhan. Dalam pandangan orang yang menekuni kegiatan ini secara intens, wahyu dan penglihatan dapat datang setiap waktu pada saat bermeditasi. Karena itu, pada waktu tertentu, biasanya pada saat situasi dan kondisi masyarakat sedang kacau, ada saja muncul orang yang mengaku menerima wahyu atau penglihatan untuk melakukan pembaruan. Biasanya tokoh keagamaan atau masayarakat yang dinilai sangat kharismatik segera menarik perhatian menurut kelompok masyarakat dan periodanya. Misalnya : Pangeran Dipanegara tokoh agama Islam pada abad XIX, HOS Tjokroaminoto tokoh nasionalis awal abad XX, dan Sekarmadji Kartosoewirjo tokoh nasionalis pertengahan abad XX. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih mempercayai segala sesuatu yang mistik, maka segala sesuatu yang bersifat mistik sangat mudah menggerakkan kehendak untuk bertindak. Mind set seperti ini tidak terkecuali juga ada di kalangan orang Kristen, bahkan orang Kristen kharismatik. Semua gerakan kebatinan pada dasarnya adalah gerakan mesianis sepanjang zaman (Sartono Kartodidjo, Ratu Adil, Jakarta : Sinar Harapan, 1984, hlm. 15).

Yesus Kristus berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam dia (Yohanes xiv:10). Pernyataan Yesus ini adalah kebenaran Injil yang sifatnya mistik karena Bapak dan Anak adalah dua Pribadi, tetapi dalam satu kesatuan (David Iman Santoso, Malang : hlm. 48, 2005). Hal yang sama juga dapat terjadi dalam diri orang percaya terhadap Tuhan, bahwa barangsiapa tinggal di dalam Firman dan Firman tinggal di dalam dia, maka dia berbuah banyak (Yohanes xv:5). Namun, konsep kebatinan (mistik) di dalam Injil Yohanes berbeda dengan konsep kebatinan Jawa. Konsep kebatinan dalam Injil Yohanes menurut perspektif iman Kristen menuntut jiwa yang terbuka terhadap pembaruan yang dilakukan oleh Roh Allah, berdoa dengan tekun, rajin membaca Alkitab, dan merenungkan firman Tuhan dengan seksama, maka firman akan menjadi rhema yang semakin mengendap, mengental, dan koheren di dalam batinmu. Batin yang sehat karena memiliki jiwa yang sehat, maka bukalah jiwamu terhadap setiap pembaruan yang dilakukan oleh Roh Allah. Rajinlah datang ke gereja untuk mendapatkan pencerahan dari Roh melalui mimbar gereja. Jangan keraskan hatimu ketika firman Tuhan dibacakan oleh seorang gembala di mimbar rumah Tuhan! Allah berfirman, bahwa Dia akan memberikan kepada orang percaya hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin orang percaya; juga Dia akan menjauhkan dari tubuh orang percaya hati yang keras dan memberikan orang percaya hati yang taat (Yehezkiel xi: 19).

Tuhan memang memberi penglihatan wahyu kepada manusia, tetapi kepada siapa semua ini disampaikan oleh-Nya? Rasul Yohanes adalah murid Tuhan Yesus, murid terakhir yang bersaksi bahwa dia telah menerima firman Tuhan di Pulau Patmos, Yunani dari yang Alfa dan Omega, yakni Tuhan Yesus sendiri. Artinya setelah dia, tidak ada lagi wahyu atau firman dinyatakan oleh Tuhan kepada manusia. Karena itu, siapa saja yang menyatakan bahwa seseorang telah menerima wahyu setelah kitab Wahyu selesai, maka datangnya pasti dari Iblis (Wahyu i:2).

Well, sebagai penutup aku akan menceritakan satu pengalaman hidup ketika aku masih bersekolah di intermediate school [smp] pada dekade 70-an. Seorang guruku berkata, bahwa pada jaman dulu untuk mendapatkan hikmat dan kekuatan luar biasa, maka orang harus berpuasa dan bertapa di hutan di bawah pohon beringin atau di dalam goa di tepi sungai. Namun, katanya lebih lanjut, manusia modern pada jaman sekarang bertapanya di dalam perpustakaan, baca buku sebanyak-banyaknya. Ada benarnya juga kata guruku ini, maka aku berkata kepadamu, tak usahlah engkau susah payah bermeditasi sampai keringatan, melainkan seringlah membaca Alkitab.-

Jumat, 03 Mei 2019

Beriman Yang Menyenangkan Hati Allah

Beriman yang benar haruslah iman yang menyenangkan Allah. Tanpa firman Allah, maka iman tidak akan pernah ada sebab iman tumbuh dan semakin menjadi kokoh oleh firman Allah yang setiap hari engkau dengar, engkau baca, dan engkau renungkan siang dan malam. Haruslah engkau membaca dan mendengar firman dari sumber yang benar, yakni Alkitab yang berisi perintah, ketetapan, dan janji-janji Allah. Memiliki iman yang benar bukan saja menyenangkan Allah, engkau memiliki kepastian ke mana engkau akan pulang ketika roh-mu lepas dari tubuhmu menuju kekekalan. Ada dua jenis kekekalan, yakni hidup kekal bersama Bapa di sorga atau mati kekal bersama Iblis di neraka. Adakah engkau memiliki iman yang menyenangkan hati Allah?


Datanglah ke rumah Tuhan.
Beriman yang menyenangkan hati Allah adalah beriman yang hanya berfokus pada Allah saja. Allah berfirman, kata-Nya :"Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekali pun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain" (Yesaya xlv:5). Manusia makhluk ciptaan Allah yang paling mulia terdiri dari roh,  jiwa, dan tubuh; roh, yakni nafas Allah yang ditiupkan ke dalam tubuhnya. Apabila dia mati, roh kembali ke tempat asalnya, yakni Allah, sedangkan tubuh dan jiwanya hancur kembali menjadi debu dan tanah. Namun, selama manusia masih hidup kepada siapa dia menyatakan imannya. Dan, apakah dia menyatakan imannya dengan benar dan dengan cara yang menyenangkan Allah? Tanpa iman tidak seorang pun berkenan di hadapan Allah. Yesus Orang Nazaret mati di kayu salib bukan untuk burung atau kucing melainkan untuk manusia. Walaupun ada seorang manusia beriman kepada Kristus tapi tidak dengan cara yang menyenangkan Allah, dia tidak berkenan di hadapan Allah. Lalu, seperti apa iman yang tidak menyenangkan Allah? Iman yang tidak menyenangkan Allah, yakni : tangan kanan pegang Tuhan sebaliknya tangan kiri pegang opo-opo. Engkau masih berpegang terhadap adat nenek moyang, seperti memberi sesajian kepada roh-roh nenek moyang dengan alasan apa pun, ini termasuk opo-opo, artinya engkau tidak menyenangkan hati Allah.

Memiliki iman yang menyenangkan hati Allah ditunjukkan oleh teladan Habel dan Henokh. Iman Habel menyenangkan hati Allah, sebab dia memberikan persembahan dengan hati tulus kepada Allah. Allah Mahatahu melihat ketulusan hatinya. Iman Henokh juga menyenangkan hati Allah, sebab bagi Allah menurut ukuran orang-orang sejamannya dia menjalani hidup yang kudus di hadapan Allah. Beriman saja tidak cukup melainkan harus ditopang dengan hidup kudus. Rasul Petrus berpesan dalam suratnya, bahwa orang Kristen harus hidup sebagai anak-anak yang taat dan jangan menuruti hawa nafsu yang menguasai diri pada waktu kebodohan tetapi hendaklah orang Kristen menjadi kudus di dalam seluruh hidupnya sama seperti Dia yang kudus, sebab ada tertulis : "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (I Petrus i:14-16). Iman timbul dari pengajaran Kristus yang semakin berakar di dalam hati orang percaya. Rajinlah membaca Alkitab dan rajinlah datang ke gereja. Penulis mazmur, bani Korah menulis demikian, bahwa lebih baik satu hari di pelataran rumah Allah dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik di ambang pintu rumah Allah-nya dari pada diam di kemah-kemah orang fasik (Mazmur lxxxiv:11). Daud dalam mazmurnya menulis, bahwa dia bersukacita karena ada orang yang mengajaknya ke rumah Allah (Mazmur cxxii:1). Beriman yang benar adalah engkau menyediakan hatimu untuk Kristus dan percaya, bahwa Dialah yang menyelamatkan hidup orang percaya menuju hidup kekal. Orang Kristen hendaklah hidup di dalam Dia, berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, orang Kristen hendaklah semakin teguh dalam iman yang telah diajarkan menurut firman Allah, dan hendaklah hati orang Kristen melimpah dengan syukur (Kolose ii:7). Ingalah saja ini sebagai satu peringatan dari mimbar rumah Tuhan, yakni gereja Tuhan, bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan dan tidak berkenan kepada Allah.-


Selasa, 30 April 2019

Keadaan Manusia Pada Akhir Jaman

Keadaan manusia pada akhir jaman  bukan semakin maju dalam peradaban, justeru sebaliknya memperlihatkan berbagai kondisi yang semakin memprihatinkan. Masih kisaran abad pertama Masehi, rasul Paulus menulis surat kepada anak asuh rohaninya yang bernama Timotius, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, Mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (II Timotius iii: 1-4). Manusia semakin menjadi "garang". 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti garang adalah ganas atau buas satu arti kata yang pantas disematkan pada hewan. Jadi, ada seorang manusia atau satu kelompok manusia mempunyai karakter garang, maka layaklah dia disebut serigala berbulu domba. Secara fisik berujud manusia, tapi sudah tidak mempunyai hati nurani. Hanya manusia yang memiliki hati nurani. Di dalam pikiran manusia yang telah dirasuk kegarangan adalah membunuh orang lain yang tidak sejalan dengan ideologinya. Bunuh! Bunuh! Bunuh! Hanya kata ini saja yang ada di dalam benaknya.

Kira-kira 6 abad kemudian setelah penyaliban Yesus Orang Nazaret, muncul agama baru di Arab sebagian besar pemeluknya adalah keturunan Ismael. Walaupun agama ini mengklaim bahwa ajarannya penuh dengan kasih, sedikit demi sedikit kantong-kantong Kristen dari Yerusalem sampai ke Konstatinopel dan dari Yerusalem sampai ke Kartago habis sampai hanya tersisa sedikit. Orang Armenia tentu tidak dapat melupakan sejarah tentang keberutalan tentara-tentara kesultanan Ottoman terhadap jutaan sipil di sini. Pembunuhan dan perkosaan. Kehidupan keras di padang pasir membuat manusia menjadi garang terhadap siapa saja yang berbeda kepentingannya.

Turki pada mulanya adalah kantong Kristen terbesar di Asia Kecil pada akhirnya semakin menyusut drastis dibawah Kesultanan Ottoman yang Islam. Pajak tinggi dikenakan atas orang-orang Kristen. Perempuan-perempuan Kristen terpaksa menjadi Islam kalau tidak mau diperkosa oleh bandot-bandot Turki. Mungkin keberadaan Kemal Ataturk yang menyelamatkan kehidupan Kristen tetap ada di Turki atas seijin Tuhan.

Dipelopori oleh Jerman pada Perang Dunia I yang pecah dari 1914-1918 manusia menggunakan senjata pemusnah massal pertama, yakni bom gas khlor. Jerman dan sekutunya Turki kalah perang dan dipaksa tanda tangan pernyataan kalah perang di Versailles. Walaupun perang telah usai, nafsu untuk menggunakan kekerasan terhadap sesama manusia tidak berhenti. Genosida terbesar terjadi di Eropa selama 6 tahun dari 1939-1945. Nazi-Jerman telah memusnahkan lebih 5 juta orang Yahudi. Rezim Khmer Merah membunuh hampir 3 juta orang Kamboja dalam waktu 2 tahun dari 1975-1977. Bukti nyata manusia semakin garang seperti hewan.

Isi kitab yang dianggap suci oleh penganut agama orang Arab ini sebagian besar isinya serupa dengan Alkitab yang dibaca oleh orang Kristen. Mereka mengklaim bahwa kitab suci mereka adalah wahyu ilahi, sebaliknya Alkitab telah banyak dipalsukan. Mereka mengklaim bahwa ajaran agama mereka adalah ajaran paling benar di dunia ini. Mereka bukan saja semakin banyak pengikutnya, lebih dari itu mereka semakin garang. Selama beberapa tahun di Suriah dan Irak Utara telah muncul kekuatan baru yang disebut Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS). Penganut Islam mana saja yang tidak sejalan dengan ISIS, maka mereka akan mendapat mimpi buruk, yakni penumpasan dan perkosaan. Ratusan ribu pengungsi dari Suriah dan Irak membanjir menuju Eropa, akibat manusia di dunia semakin garang. Efek kegarangan mereka semakin meluas sampai ke Indonesia yang sedang memasuki bulan tenang setelah pemilihan presiden 2019. Di satu sisi kubu nasionalis dan pada sisi yang lain kubu Islam radikal yang berniat membangun Negara Islam Indonesia dan mengubah bentuk republik menjadi khilafah. Konon keradikalan Islam di Ibdonesia sudah mulai mengakar sejak 1984. Bagi mereka, tidak ada tempat bagi non Muslim menjadi seorang pemimpin kepala daerah. Mereka bercita-cita membangun negeri ini dengan sistem yang lain dengan Negara Kesatuan Republik indonesia. Mereka menampilkan sikap garang manakala ada seorang non Muslim dan etnis Tionghoa terindikasi akan menjadi pemimpin daerah. Bagi kubu nasionalis, Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 adalah harga mati. Indonesia tetap berbentuk republik bukan khilafah.

Kegarangan terbentuk di dalam masyarakat karena beberapa faktor yang memicunya. Banyak pejabat publik tidak memberi teladan kepada masyarakat. Banyak kepala daerah terlibat tindak pidana korupsi dan hukum tidak memberi efek jera. Penjara kini bukan dipenuhi oleh maling ayam atau tukang copet melainkan oleh maling uang negara alias koruptor. Masyarakat melampiaskan rasa tidak puas hukum ini dengan menunjukkan sikap garang, yakni gampang tersinggung. Perkelahian massal antar pelajar mulanya hanya terjadi di Jakarta, tetapi kini sudah menyebar ke daerah-daerah. Di Medan seorang calon pendeta lulusan sekolah tinggi teologia membunuh teman kuliahnya sendiri karena cemburu. Di Purwokerto seorang pelajar membunuh ibu kandungnya karena tidak dikabulkan keinginannya untuk memiliki motor. Bapak kandung memperkosa anak perempuan kandung sendiri. Satu perbuatan yang hanya pantas dilakukan oleh hewan. Seorang perempuan muda tega membunuh teman perempuan dekatnya dengan sianida ke dalam satu cangkir kopi di satu kedai kopi di Jakarta. Jakarta termasuk deretan ten top dunia kota yang tidak ramah bagi perempuan. Di mana ada konsentrasi ekonomi di satu kota besar, maka bersiaplah saja .


Selasa, 23 April 2019

Mencapai Kedewasaan Penuh


Pada awal bulan ini aku mendapat ajakan dari seorang teman untuk menghadiri acara Peringatan Pelayanan Pria Pentakosta di Gereja Pentakosta di Indonesia di Jalan Ketapang Jakarta. Seperti biasa acara diisi dengan pembacaan firman yang disampaikan oleh pendeta senior. Bacaan firman diambil dari Efesus iv:13 tentang kedewasaan umat Tuhan di dalam gereja. Untuk mencapai kedewasaan yang sempurna adalah suatu proses kehidupan yang panjang, bukan diperoleh dengan cara instan. Proses kedewasaan dimulai dari masa kanak-kanak ketika seorang anak usia lima tahunan bersentuhan dengan kasih dari orang tua. Orang tua Kristen memberi sentuhan firman Tuhan secara intens. Walaupun mengaku sebagai seorang Kristen, tetapi tidak pernah menyuapi jiwa anak-anaknya dengan firman Tuhan, maka anak tidak akan pernah tumbuh imannya terhadap pengajaran Kristus sehingga anak-anaknya tidak pernah mencapai kedewasaan penuh, bahkan jiwanya kelaparan terus.



Ayam panggang rica-rica.
Orang tua memberi teladan kepada anak-anak dalam bertutur kata. Suami maupun isteri satu sama lain haruslah berbicara lemah lembut di hadapan anak-anak. Manusia dapat berkata-kata karena memiliki lidah. Lidah dapat bergerak ke kiri atau ke kanan buka karena memiliki tulang, tetapi oleh otot-otot yang mengendalikan setiap perkataan yang keluar dari mulut. Mulut yang terkatupkan, maka tak ada perkataan yang terucapkan. Orang yang sudah terbiasa dididik oleh orang tuanya berbicara seperlunya saja, maka dia lebih banyak mengatupkan mulutnya dari pada banyak sesumbar. Semakin dewasa seseorang, maka semakin dia menjaga lidahnya. Orang seperti ini menyadari realitas Injil, bahwa hidup dan mati seseorang dikuasai oleh lidahnya (Amsal xviii:21).

Seperti pada umumnya orang yang masih kanak-kanak kegemarannya adalah minum susu dan makan bubur sereal. Anak-anak pada umumnya mudah tersinggung dan minta apa-apa dengan cara merengek-rengek dan kalau suatu permintaan tidak dipenuhi, maka dia akan membanting apa saja yang dapat dibanting. Sifat kanak-kanak yang paling dominan adalah merengek-rengek. Dan. anak-anak selalu tergantung dengan orang lain, yakni orang tuanya. Ada yang disebut dewasa secara fisik, ada yang disebut dewasa secara mental, dan ada pula yang disebut dewasa secara rohani. Kedewasaan yang sangat dituntut dalam kesatuan iman dalam gereja ada dewasa secara rohani. Ada orang yang telah berusia, katakan saja 70 tahun belum lama bertobat menerima kebenaran Kristus, maka orang seperti ini belum dapat dikatakan dewasa rohani. Orang seperti ini masih katagori bayi rohani yang masih harus diberi minum susu dan makan bubur sereal, yakni pengajaran dasar rohani Kristen; sebaliknya ada yang telah mencapai usia yang relatif muda, katakan saja 25 tahun, tetapi secara mental dan rohani sangat memahami arti keselamatan kekal di dalam Kristus dan telah dibaptis, maka orang seperti ini layak disebut dewasa rohani. Orang muda seperti ini sudah tidak memerlukan susu dan sereal lagi. Namun, ada juga orang Kristen yang dilihat dari sudut umur sudah seharusnya menjadi pengajar atau penginjil, tetapi masih saja asyik dengan perkara dunia. Orang seperti ini belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak layak di hadapan Tuhan. Orang disebut dewasa secara penuh seharusnya sudah dapat membedakan mana yang kudus dan mana yang tidak kudus. Jangan makan daging babi, haram, makan daging sapi halal adalah cara Tuhan untuk mendidik bangsa Israel supaya mereka dapat membedakan yang kudus dan yang tidak kudus (Ibrani v: 13-14).

Dari sejak masa kanaka-kanak orang belajar menghimpun perbendaharaan kata-kata dari lingkungan di dalam rumah sampai pergaulan bebas bersama teman-teman di sekolah. Orang tua yang dididik di dalam Kristus mengarahkan kata-kata yang baik ke dalam jiwa anak-anaknya. Jiwa yang setiap hari secara intens menerima pencerahan dari firman Allah akan membuat akan membuat roh semakin kuat, sebab roh hanya menerima hal-hal yang baik dari firman Allah. Di dalam jiwa terdapat ingatan bawah sadar, yakni semua kata-kata yang baik atau yang tidak baik tertata dan tersimpan di dalam memori ini dan sewaktu-waktu oleh suatu refleks kata-kata ini keluar melalui mulut. Inilah realitas Injil, bahwa apa saja yang keluar dari mulut meluap keluar dari perbendaharaan kata-kata yang tersimpan di dalam memori bawah sadar (Lukas vi:45). Orang disebut dewasa secara penuh memiliki kecenderungan mempertimbangkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya refleksi sebagai orang yang berpendidikan dan bermoral. 

Roh yang semakin kuat mengendalikan apa saja yang dikonsumsi oleh jiwa. Roh hanya mengijinkan kepada jiwa untuk menerima input yang selaras dengan firman Allah. Segala perkataan yang berasal dari Roh, yakni firman Allah berguna untuk mengajar, menegur, dan untuk mendidik dalam kebenaran (I Timotius vi: 13). Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Rasul Paulus berkata, bahwa orang Kristen sejati harus hidup dibawah kendali Roh, bukan mengikuti keinginan daging. Keinginan daging timbul karena membiarkan jiwa dipuaskan oleh keinginan daging yang bersifat fana sehingga kebutuihan roh semakin dikerdilkan. Supaya jiwa tidak memberontak terhadap pimpinan Roh, maka setiap orang percaya harus ada kesediaan diri sendiri untuk diperbarui pikirannya oleh Roh sehingga sedikit demi sedikit muncul ke permukaan buah demi buah roh, di antaranya adalah penguasaan diri (Roma xii:2 dan Galatia v:23). Banyak orang Kristen menderita pelbagai macam penyakit yang disebabkan gagal menguasai diri, yakni mengumbar keinginan daging, seperti penyakit jantung kardiovaskular, diabetis mellitus, penyempitan pembuluh darah, hipertensi, gagal ginjal, dan lain sebagainya. Sebagian besar penderita penyakit tersebut di atas disebabkan selama bertahun-tahun mengonsumsi soto jeroan sapi, yakni satu jenis makanan yang seharusnta dihindari. Tergoda untuk tetap melahap makanan ini, maka engkau disebut tidak dapat menguasai diri. Jiwamu seharusnya berkata :"Tidak!". Roh itu kuat tetapi daging lemah. Artinya keinginan roh untuk menguasai jiwa itu kuat, tetapi keinginan daging, yakni keduniawian yang telah dicemari oleh dosa sangat kuat menguasai jiwa manusia. 

Sampai kapan orang Kristen minum susu dan makan sereal, minuman dan makan bagi anak-anak? Ketika seorang anak telah melewati batas fase kanak-kanak, maka seharusnya dia meninggalkan cara berbicara dan sikap kekanak-kanakannya. Minumannya susu lagi melainkan firman Allah yang menggembeleng jiwanya. Jiwa yang sering mengonsumsi firman Allah, maka roh semakin kokoh dan semangat rohani semakin menyala-nyala (I Korintus xiii:11). Orang Kristen harus militan!!!

Selesai khotbah di mimbar dan doa berkat penutup acara selanjutnya adalah jamuan malam bersama. Gereja di Jalan Ketapang ini banyak anggota jemaatnya berasal dari Manado, maka tak heranlah hidangan malam ini dimeriahkan dengan masakan Manado, seperti broinbonen kaki babi, babi guling, ayam woku, dan lalampa. Aku termasuk penggemar masakan Manado. Lezato!



   

Sabtu, 16 Maret 2019

Untuk Siapa Persembahan Perpuluhan?

Sejak berdirinya gereja pertama pada abad ke 2, gereja tidak pernah lepas dari polemik. Polemik adalah suatu masalah yang terus diperdebatkan secara terbuka dan seperti tanpa akhir. Memasuki abad ke 20 gereja memasuki babak baru suatu polemik yang merambah dalam bidang ekonomi. Polemik ini sejalan dengan kemunculan kelompok Injili yang dipelopori oleh gerakan Pentakosta di Amerika.

Pada dekade 90-an majalah Bahana menulis suatu artikel tentang semakin banyak orang mau membangun gereja, walaupun mereka bukan orang-orang dengan latar belakang pendidikan khusus teologia. Mereka adalah sarjana teknik, sarjana ekonomi, sarjana hukum, anyway pendidikan untuk bidang sekuler. Orang-orang seperti ini sudah dapat menghitung besarnya profit yang diperoleh dari persembahan perpuluhan dibandingkan kalau seorang Kristen tetap berkutat menjadi seorang pekerja sampai pensiun. Orang seperti ini secara fisik memang pendeta, tetapi dia adalah seorang tanpa urapan Roh Allah. Lebih tepat dia disebut hamba uang, sebab dia membangun gereja dengan motivasi uang. Barangsiapa mencintai uang, maka dia layak disebut hamba uang. Berbicara tentang persembahan perpuluhan, artinya kita sedang berbicara tentang ekonomi. Ketika ilmu ekonomi semakin maju pesat, maka orang mulai menghitung profit dan prospeknya membangun suatu gereja. Banyak hubungan pertemanan rusak karena uang demikian pula banyak gereja berantakan karena uang, karena tak jelas cash flow persembahan perpuluhan ke mana saja. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh umat Tuhan adalah :"Untuk siapakah persembahan perpuluhan?" 

Sejatinya persembahan perpuluhan diberikan kepada pendeta (baca : gembala) untuk berbagai kebutuhan gembala dan rumah Tuhan. Tuhan telah menetapkan semua orang Lewi menjadi milik-Nya untuk melakukan tugas pelayanan di Kemah Pertemuan dan tugas pelayanan untuk melayani suku-suku Israel yang lain (Bilangan viii:19). Musa menegaskan pekerjaan orang Lewi, yaitu mereka meletakkan ukupan wangi-wangian. Ukupan wangi-wangian selalu diletakkan di dalam Kemah Pertemuan dan dilakukan oleh orang-orang yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk melakukan pelayanan di tempat ini (Ulangan xxxiii:8). Tuhan telah memerintahkan umat Israel melalui Musa untuk memberikan persembahan perpuluhan (Imamat xxvii:32 dan Ulangan xiv:22). Tidak boleh mengabaikan orang Lewi, sebab mereka tidak memiliki pusaka, yaitu tanah yang dapat dikelola untuk menghasilkan uang (Ulangan xiv:27). Sesudah 70 tahun pembuangan di Babilonia, Tuhan memerintahkan umat Israel melalui nabi-Nya, Maleakhi supaya mereka menyerahkan perpuluhan ke dalam rumah perbendaharaan Tuhan (Maleakhi iii:10). Siapakah orang yang melayani segala sesuatu di dalam rumah perbendaharaan? Orang Lewi! Mereka yang disebut orang Lewi menurut konteks masa kini adalah gembala di gereja. Rasul Paulus menegaskan, bahwa gembala mendapatkan penghidupan dari pelayanan mezbah (I Korintus ix:13-14).

Sepanjang pelayanan Yesus selama tiga setengah tahun di Palestina, Dia tidak pernah berbicara secara eksplisit tentang perpuluhan, sebab pada masa itu pelaksanaan persembahan ini telah berjalan lancar. Dalam Matius xxiii:23 tertulis kalimat demikian :"... yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan ... " Kata "harus" memiliki makna, bahwa segenap orang Israel telah melaksanakan hukum, yakni hukum Taurat. Implementasi hukum adalah ketaatan untuk dilaksanakan.

Orang Farisi tidak pernah berhenti mencobai Yesus, maka pada suatu kesempatan mereka mempertanyakan kepada Yesus, yakni apakah orang Yahudi diharuskan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak. Yesus bertanya kepada seorang Farisi :"Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab orang Farisi :"Gambar dan tulisan Kaisar." (Matius xxii:20). Judul perikopnya sudah jelas tentang membayar pajak kepada pemerintah (baca : Kaisar), bukan tentang persembahan perpuluhan. Pada konteks seperti ini engkau berpikir sudah taat menjalankan semua perintah Allah, tapi apakah engkau juga taat terhadap peraturan pemerintah, yakni membayar pajak. Ketaatan membayar pajak termasuk bagian ketaatan beribadat kepada Tuhan. Rasul Paulus berkata, bahwa tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Tuhan dan pemerintah yang ada ditetapkan oleh Tuhan, maka orang yang tidak taat membayar pajak berarti dia melawan kehendak Tuhan (Roma xiii:1-2). Warga negara yang tidak taat membayar pajak, maka dia akan dikenai sanksi hukum. Umat Tuhan yang tidak memberi perpuluhan ke rumah Tuhan, maka perbuatannya mendatangkan murka-Nya. Musa memohon kepada Tuhan supaya terhadap orang seperti ini Dia memberi ganjaran hukuman (Ulangan xxxiii:8). Sedemikian kejamkah Tuhan memberi hukuman terhadap orang yang melalaikan hukum?

Memang ada juga gembala-gembala yang tidak bertanggungjawab mengelola keuangan gereja, sehingga umat Tuhan terpecah persatuannya. Misalnya, di Korea Selatan pernah terjadi skandal pengelolaan uang gereja sehingga gembalanya berurusan dengan pengadilan. Di Surabaya juga pernah terjadi  satu gereja besar pecah karena salah urus pengelolaan uang perpuluhan. Baik gembala maupun anggota-anggota jemaat adalah dua pihak yang memiliki tanggungjawab masing-masing di hadapan Tuhan. Gembala bertanggungjawab mengelola perpuluhan untuk keperluan keluarganya maupun kebutuhan gereja, sedangkan anggota jemaat memberi perpuluhan memang tanggungjawab yang harus dipenuhi. Tidak memenuhi kewajiban ini dipandang mengusik ketenteraman orang Lewi. Jangan mengusik orang-orang yang diurapi oleh Tuhan dan jangan berbuat jahat terhadap orang-orang yang ditunjuk oleh Tuhan sebagai gembala-gembala-Nya (I Tawarikh xvi:22). Orang percaya harus memahami esensi memberi persembahan, khususnya perpuluhan supaya tidak memberi dengan persungutan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Orang Lewi (baca : gembala) adalah orang biasa seperti pada umumnya manusia membutuhkan makan. Makan dan pakaian adalah kebutuhan dasar manusia dan mereka juga membutuhkan rumah untuk menetap.



Will be continued ....