Selasa, 08 Desember 2015

Orang Yang Tidak Mempunyai Malu Lagi

Bahagia orang yang masih mempunyai rasa malu. 
Kriteria hewan adalah makhluk hidup memasukkan makanan ke mulut langsung melalui mulutnya, mempunyai ekor, dan tidak mempunyai rasa malu. Ketiga kriteria inilah yang membedakan manusia terhadap hewan. Mari kita buktikan bersama-sama. Sapi, kuda, kambing, domba, ular, cacing, kucing, monyet, simpanse, harimau, anjing, singa, burung rajawali, ayam, paus, ikan hiu, buaya, kuda Niel, hewan-hewan ini sebagian saja aku sebutkan di sini. Mereka jelas hewan. Mereka memasukkan makanan langsung menggunakan mulut mereka. Beda dengan manusia yang memasukkan makanan ke dalam mulut dengan menggunakan tangan. Jika ada manusia makan menggunakan sendok dan garpu, itu hanya masalah kebudayaan saja. Intinya tetap menggunakan tangan. Tapi monyet makan pisang dengan menggunakan tangannya. Jadi, monyet sama dengan manusia, dong. Nanti dulu, jangan gembira dulu. Apakah ada manusia di dunia ini mempunyai ekor seperti monyet atau anjing? Tak adalah! Monyet dan manusia jelas beda.

Semua hewan tidak mempunyai rasa malu. Mengapa hewan tidak mempunyai rasa malu, sedangkan manusia mempunyai rasa malu. Di taman Eden, begitu menyadari diri mereka telanjang, maka mereka merasa malu dan bersembunyi di balik semak-semak. Telanjang itu membuat rasa malu. Manusia pejantan membutuhkan pakaian untuk menutupi batang kontolnya, manusia perempuan membutuhkan pakaian untuk menutupi memeknya. Pada manusia primitive, mereka tetap diajarkan berpakaian menurut adat, walaupun terbuat dari bahan yang sangat sederhana, terutama untuk menutupi roket torpedonya. Tidak ada ceritanya monyet, anjing, simpanse atau kucing pakai setelan jas karena malu, menyadari diri mereka telanjang.

Jadi? So? Manusia yang sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, maka manusia seperti ini layak digolongkan dengan hewan. Aduh, teman tega benar engkau menyebut mereka hewan. Apakah tidak ada sebutan lain yang lebih manusiawi? Orang seperti ini hanya karena memiliki satu set hardware manusia, maka secara lahiriah masih digolongkan sebagai manusia, tetapi software-nya sudah layak disebut hewan.
Rasa malu itu berkaitan dengan etika atau prinsip-prinsip moral. Dulu, ketika beta masih belajar tentang etika, maka guru mengajarkan, bahwa pada jaman dulu dalam lingkungan masyarakat Jawa diajarkan segi tiga rasa menjaga perasaan terhadap diri sendiri dan orang lain, yakni roso wedi, roso isin, dan roso sungkan. Tiga rasa ini diajarkan oleh orang tua terhadap anak-anak sejak dini di dalam keluarga. Berurusan dengan orang Jawa tidak lepas dari masalah rasa. Dalam setiap situasi dan kondisi tertentu, maka ketiga rasa ini sangat dihayati dan dilaksanakan.

Wedi, artinya takut baik terhadap ancaman fisik dari luar, maupun terhadap suatu perbuatan yang dinilai tidak pantas dilakukan yang mungkin dapat menyinggung perasaan orang lain. Anak akan dipuji sebab mempunyai roso wedi terhadap orang yang lebih tua, baik di dalam lingkungan keluarga sendiri maupun terhadap orang asing. Setelah wedi, anak Jawa dididik dengan tingkatan roso berikut, yakni isin. Isin, artinya malu. Rasa malu dapat terhadap dirinya, sebab merasa tidak layak tampil di muka umum, misalnya belum mandi dan wajah masih kusut. Kedua, rasa malu sebab telah melakukan suatu tindakan yang tidak terpuji di dalam tata pergaulan maupun di tempat pekerjaan. Misalnya : tidak menghormati secara tepat terhadap seseorang yang sepantasnya dihormati, melakukan tindakan yang tidak lazim, atau tidak tahu diri kalau dirinya pernah terlibat masalah hukum. Rasa malu adalah pendidikan utama ke arah kepribadian matang dalam etika Jawa. Ketiga, rasa sungkan. Sungkan, artinya rasa takut dalam arti positif. Sungkan adalah membatasi diri berintraksi terhadap orang lain demi menghormati privasi orang lain tersebut [Proverb xxv:17].
Namun, saat ini ketiga rasa ini mengalami degradasi etika di semua lapisan masyarakat Jawa. Saat ini sudah banyak orang Jawa tidak punya rasa wedi, malu, atau sungkan. Mengingat masyarakat Jawa mempengaruhi sedikitnya enam puluh persen dari seluruh kondisi sosial di Indonesia, maka suku-suku lain ikut terimbas. Saat ini banyak orang Jawa seperti tidak mempunyai malu lagi. Tidak mempunyai rasa malu, artinya sudah tak tahu diri lagi.

Pernah ada seorang anggota partai memimpin organisasi olah raga dari balik dinding penjara, sebab dia berstatus terpidana dan sedang menjalani hukumannya. Kalau dia tahu diri, seharusnya dia mengundurkan diri baik sebagai anggota partai maupun sebagai pemimpin organisasi olah raga ini, walaupun tidak ada peraturan dasar organisasi yang mengharuskan dia mengundurkan diri. Tapi dia tidak tahu malu. Keluar dari penjara, dia terus melanjutkan kepemimpinannya di organisasi olah raga ini. Ia mundur setelah didesak paksa oleh masyarakat. Ora tau isin. Ia memang bukan orang Jawa, tetapi aku percaya banget, bahwa suku tempat asalnya pasti mengajarkan apa arti tahu malu. Ada seorang bekas anggota dewan representative sudah jelas terbukti terima suap dan vonnis telah dijatuhkan terhadap orang ini, tetapi orang tetap ngotot merasa tidak bersalah. Anggota dewan yang tidak tahu diri. Pada Desember tahun ini diselenggarakan pemilihan kepala daerah setingkat gubernur dan bupati di seluruh Indonesia. Ada sepasang calon gubernur dan wakil gubernur terpaksa ditolak oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah. Mengapa mereka ditolak? Sebab calon gubernurnya, ternyata masih mempunyai masalah hukum dengan status terpidana. Orang ini sudah memakai baju orang penjara, warna oranye. Calon gubernur ini manusia tidak tahu diri. Ora isin neh!!! Tergolong hewan?

Dan, ini berita paling panas dari November sampai pada bulan ini dan tahun ini. Ada seorang yang berkecimpung di dalam dewan representative telah membuat banyak berita yang membuat heboh republik ini. Ia menjadi news maker pada tahun ini. Ia melakukan tindakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang bukan menjadi domain kerjanya. Domain bagi dia adalah pihak pembuat undang-undang, bukan melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh pihak eksekutif atau pemerintah. Perpanjangan kontrak kerja dengan perusahaan asing multi nasional adalah urusan pemerintah. Siapakah dia? Ia adalah Setya Novanto. Dari namanya saja kita mengetahui bahwa dia adalah wong Jowo, walaupun bukan kelahiran Jowo mana pun.

Orang ini telah melakukan suatu tindakan tidak etis, yakni tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang masih memiliki segi tiga rasa tersebut di atas. Tindakan etis itu menyangkut pertimbangan tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Di negara mana pun dewan reprensentative itu tugasnya di dalam negeri berurusan dengan undang-undang, sebaliknya tugas eksekutif atau pemerintah dapat di dalam negeri atau ke luar negeri. Urusan perpanjangan kontrak kerja dan saham dengan perusahaan multi nasional adalah tugas pemerintah melalui kementerian pertambangan, bukan kewenangan dewan representative. Orang ini sudah tidak wedi dan tidak sungkan lagi terhadap presiden yang merupakan komandan tertinggi dari pihak eksekutif. Dan, tidak isin lagi, sebab tidak berpikir panjang sebelum berbuat. Di negara-negara yang sangat menjunjung etika, orang yang terbukti atau baru saja pada tingkat dicurigai melakukan tindakan tidak etis, maka orang ini langsung menyatakan mundur dari jabatannya, sebab etika mengajarkan supaya orang mempunyai rasa wedi, isin, dan sungkan. Presiden sudah berkata, bahwa dirinya tidak keberatan dirinya disebut presiden bodoh, tetapi jangan membawa nama presiden dalam hal melakukan tindakan tidak etis demi mencari keuntungan pribadi.

Tentu ada sesuatu yang membuat manusia tidak tahu diri lagi sehingga hilang rasa malunya. Apa itu? Saiki iki wis jamanne jaman edhan. Edhan tenanan. Nek ora melu edhan bakale ora keduman. Edhan dan gendeng itu beda. Gendeng itu orang yang tidak mampu mengendalikan diri lagi dalam melakukan tindakan apa saja, sebaliknya edhan itu pelakunya masih dapat mengendalikan diri, tetapi tindakan yang dilakukannya adalah satu bentuk kenekatan. Edhan itu sama dengan crazy. Di Jakarta semua sopir angkutan umum metro mini pada edhan mengendarai mobil, demi mengejar setoran yang semakin sulit diperoleh dalam satu hari. Ini tergolong edhan. Edhannya sopir metro mini tentu beda dengan edhannya orang di lingkungan dewan representative pusat di Jakarta. Seedhan-edhannya sopir metro mini hanya untuk mengejar setoran sebesar satu juta rupiah per hari, sementara banyak anggota dewan representative berpacu dalam korup dengan nilai yang sudah menggoyahkan kepercayaan rakyat terhadap mereka. Saat ini ketua dewan representative pusat sedang menjadi sorotan masyarakat luas di Indonesia, sebab telah melakukan tindakan tidak etis yang merendahkan martabat bangsa ini, khususnya martabat dewan representative pusat berkedudukan di Jakarta. Wong ora tau isin, neh!!! Termasuk hewan?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar