Kamis, 05 Maret 2015

Makan Di Warteg Tidak Murah Lagi

Warteg. Apa itu warteg? Warteg adalah akronim dari Warung Tegal, yakni cafe atau restoran sederhana yang dikelola oleh sebagian besar pelaku bisniz kuliner berasal dari Tegal. Tegal adalah kota kecil di Jawa tengah, di sebelah timur tidak jauh dari perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Orang Tegal ulet dan sabar membuka bisniz kuliner di Jakarta dengan brand mark Warteg. Nama warteg biasanya diambil dari nama pemiliknya atau sebutan diri pemiliknya. Misalnya : Warteg Bahari, Barokah, Harum Nikmat, Leman, Cha Cha, Mas Gen.dut, Sederhana, Samiaji, Samiasih, Tebet Lestari, dan seterusnya. Pemilihan nama tidak dapat sembarang pakai, sebab segmen pasar kuliner ini adalah masyarakat klas bawah, maka nama warteg harus yang membawa jiwa hanyut dalam pikiran kerakyatan. Bisniz warteg dimulai pada dekade 70 di Jakarta, cafe sangat sederhana untuk melayani mahasiswa, pengayuh becak, sopir bis, sopir truk, buruh bangunan, buruh pabrik, anyway untuk melayani masyarakat ekonomi rakyat kecil. Kehadiran pelaku bisniz warteg sangat membantu mereka masyarakat ekonomi lemah dalam perkara perut. Warteg is close friend of common people.

Warung Tegal masa kini.
Warteg menempati lokasi hampir setiap penjuru kota besar maupun kota kecil. Menurut ilmu ekonomi tingkat tinggi, bahwa sebelum membuka usaha apa saja hukumnya wajib harus survey lokasi dulu. Namun, hipotesa ini tampaknya tak berlaku untuk usaha warteg. Betapa tidak, aku pernah melihat warteg dibuka di tepi jalan raya yang sepi penduduk, tetapi tokh ada saja pelanggannya. Setiap warteg menyajikan menu yang berbeda tetapi kebanyakan pengunjung dapat menikmati hidangan yang tersaji. Dengan menu sederhana yang penting harga terjangkau. Apa saja menu sederhana pada awal usaha warteg ini dibuka? Sangat sederhana sekali, seperti telur dadar, tempe goreng, ta.hu goreng, orek-orek teri, orek-orek tempe, dan sayur asam atau sayur gori. Pada masa itu otak pelaku usaha warteg belum tercemari oleh korupsi bahan-bahan makanan dan bumbu dapur. Belum ada cerita pemilik warteg menggunakan ayam yang diberi pengawet formalin atau daging sapi busuk bekas buangan dari hotel atau restoran besar. Mereka masih sangat jujur.

Sambal goreng kentang Warteg Mas Leman.
Aku menginjakkan kaki di Jakarta dari Palembang pada 23 Desember 1980 di Jalan Salemba Bluntas. Aku masih ikutan menumpang di kamar sewaan kakakku di sini. Setiap pagi sarapan ketoprak di trotoar di depan hospital St. Carolus. Ketoprak juga makanan masyarakat ekonomi rakyat kecil produk orang Tegal. Dua bulan kemudian aku pindah ke Citeureup, Bogor, sebab aku telah diterima sebagai buruh pabrik semen. Di kota kecil ini untuk kali pertama aku bergabung dengan komunitas konsumen warteg. Sebagian besar buruh pabrik semen di kota ini yang kebanyakan masih single-man adalah penyantap Warteg Leman, sebab nama pemiliknya adalah seorang anak muda bernama Leman, mungkin kependekan dari nama Suleman. Letak warteg ini di emperan pagar masjid paling besar di kota ini tidak jauh dari pos polisi. Keberadaan warteg ini masih sangat sederhana dan kalau hujan juga bocor atapnya. Hanya muat untuk 12 pengunjung. Selesai makan harus segera keluar gantian dengan yang lain. Engkau mau tahu, hidangan apa yang aku santap setiap hari di sini? Setiap sarapan menyantap satu piring nasi, tambahan telur dadar diolesi dengan kecap murahan dan untuk makan malam plus sayur nangka sederhana. Harga breakfast dan dinner sederhana ini 250 rupiah per porsi, boleh hutang dibayar akhir bulan setelah terima gaji. Yang penting daftar nama dulu. Murah meriah bagi buruh pabrik seperti aku ini. Makan di tempat seperti ini tidak perlu dipikirkan masalah table manner, yang penting kenyang dan murah.

Ayam goreng Warteg Mas Leman.
Pada waktu itu warteg Leman adalah satu-satunya warteg murah meriah di kota kecil ini. Hubungan buruh pabrik dan Leman seperti hubungan simbiose mutualistis, yakni hubungan saling membutuhkan. Warteg ini semakin besar dan menyediakan menu yang lebih beragam berkat pelanggan yang sebagian besar adalah buruh pabrik di kota kecil ini. Warteg ini kemudian menyewa ruang usaha yang lebih besar terletak di seberang jalan di depan masjid. Gaji buruh setiap tahun mengalami kenaikan dan kesejahteraan semakin meningkat, maka di samping satu piring nasi tambahan yang dimakan bukan hanya telur dadar atau tempe goreng lagi, melainkan ada ayam goreng, semur usus sapi, opor ayam, telur goreng balado, soto babat dan ayam, dan sebagainya. Setelah makan mencatat apa saja yang telah dimakan, setelah gajian bayar total per bulan. Misalnya, Salimin, 75 ribu rupiah. Kali terakhir aku menyantap hidangan warteg di kota kecil ini pada 2010, sebab aku telah mengakhiri masa bakti kerjaku di pabrik semen ini. Hidangan terakhir yang aku santap adalah telur dadar dan  ikan lele bumbu kecap di warung nasi milik orang Banten, lokasinya di gang kecil diseberang jalan tidak jauh dari pabrik. Pada saat aku mengakhiri masa kerjaku telah bermunculan beberapa warung nasi sederhana serupa warteg, seperti Warsun atau warung Sunda dan Warmed atau warung Medan. Dari sebutan di belakang kata warung saja sudah dapat ditebak orang dari suku mana yang mengelola warung-warung ini. Pengelola warung Sunda kebanyakan datang dari Kabupaten Ku.ning.an. Tapi brand mark Warteg lebih berpamor dibandingkan dengan warung-warung lain yang serupa. 

Waktu berjalan terus, masalah selalu ada silih berganti, tetapi masalah perut tetap masalah mengelola keuangan menikmati kuliner di warteg. Populasi semakin meningkat sementara voluma bahan pangan, utamanya beras tidak kunjung meningkat, maka kedua kondisi seperti ini menyebabkan kuliner warteg yang paling sederhana pun tidak murah lagi. Harga beras yang menjadi pemicu utama kenaikan harga satu porsi sekali makan di warteg, sebab beras adalah sumber pangan pokok sehingga menjadi variabel yang sangat berpengaruh. Sebelum kenaikan harga beras, beras termurah yang digunakan oleh pengelola warteg adalah tujuh ribu rupiah per liter. Beberapa jenis harga beras dari kualitas bawah sampai kualitas prima mengalami kenaikan harga pada kisaran dua sampai tiga ribu rupiah per liter. Saat ini harga paling murah makan di warteg rata-rata delapan ribu rupiah per porsi. Walaupun makan di sini tidak dapat disebut murah lagi, warteg masih menjadi tempat pilihan kelompok ekonomi lemah, apalagi di saat kantong sedang bokek. Dan, supaya warteg tidak kehilangan pelanggan, maka porsi nasi sedikit dikurangi, harga tetap sama.

Kenaikan harga beras yang signifikan saat pemerintahan Joko Widodo ini dampaknya luar biasa bagi kebanyakan masyarakat ekonomi lemah. Banyak dari mereka tidak mampu membeli beras yang paling murah sekali pun, maka mereka terpaksa makan nasi aking atau terpaksa membeli beras murah untuk orang miskin, tetapi sudah berkutu dan berbelatung. Setiap tahun negeri ini selalu dilanda goncangan harga-harga komoditas yang dibutuhkan oleh rakyat, kalau tidak harga cabai yang naik, harga daging sapi yang naik. Setelah harga cabai turun, sekarang harga beras yang naik. Kita pernah merasakan bagaimana makan di warteg dengan sambal yang tidak berasa pedas, sebab harga cabai bahan baku utama sambal pernah menyentuh sampai 100 ribu rupiah per kilogram. Walaupun makan di warteg tidak murah lagi, eksistensi warteg harus tetap dipertahankan, sebab rakyat masih membutuhkan pelayanan makan murah.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar