Selasa, 10 Februari 2015

Sedikit Anak Sedikit Masalah vs Banyak Anak Banyak Rezeki

Banyak negara di Eropa selama puluhan tahun telah menerapkan pertumbuhan penduduk zero [zero population growth], maka jumlah penduduk di Eropa tahun demi tahu semakin berkurang. Di negara-negara berpredikat negara industri keadaan pupulasi semakin berkurang secara signifikan, sebab rata-rata pertambahan penduduk kurang dari 0,7 persen per tahun, seperti di Prancis, Jerman, Swedia, Swiss, dan Inggris. Di negara-negara ini merupakan pemandangan biasa, jika rata-rata satu keluarga mempunyai satu anak saja. Di Inggris dan Prancis banyak pasangan suami istri memilih hidup tanpa memiliki anak sama sekali. Di negara-negara ini rata-rata penduduk berpenghasilan sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang, apalagi dengan yang terbelakang baik di Asia, Amerika Selatan, atau Afrika. Dan, tingkat inflasi juga tergolong rendah. Penghasilan tinggi, anak sedikit, kondisi sosial, ekonomi, dan politik relatif stabil, lingkungan hidup yang sehat dan nyaman, dan rakyat dapat pergi berlibur ke luar negeri.

Uang memang bukan alat untuk membuat engkau bahagia, sebaliknya tanpa uang pada waktu yang dibutuhkan juga merupakan kondisi tidak menyenangkan. Merupakan satu kebahagiaan bagi orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi pada saat yang tepat memang diperlukan. Misalnya, anak memerlukan beaya kuliah tahunan. Merupakan satu kebahagiaan bagi anak dapat melanjutkan kuliah di universitas pilihan tanpa kuatir kekurangan beaya. Merupakan kebahagiaan bagi satu keluarga pada akhir minggu dapat pergi ke restoran untuk makan bersama. Merupakan satu kebahagiaan bagi penduduk kota dapat menikmati atmosfir kota yang bebas polusi, air sungai jernih mengalir, mempunyai taman yang membuat nyaman jiwa dan pikiran, dan sepanjang jalan penuh dengan lingkungan hijau. Biaya hidup di negara-negara industri memang tinggi, tapi yang penting rakyat dapat menjangkau kebutuhan mereka dan segala kebutuhan hidup secara ekonomi terpenuhi.

Puluhan tahun yang lalu banyak ahli ekonomi sudah meramalkan, bahwa produksi pangan dunia tidak akan dapat memenuhi kebutuhan penduduk dunia yang jumlahnya semakin meningkat secara deret ukur. Banyak negara memiliki wilayah yang sangat luas, seperti Russia, Ukraina, Tiongkok, Indonesia, Australia, Canada, Amerika Serikat, Brazilia, dan Mexico, tetapi tidak semua tanah di masing-masing negara ini dapat ditanamai tanaman pokok. Keadaan ini diperparah lagi dengan pengawasan regulasi pertanahan yang buruk di negara-negara yang sedang berkembang, yakni semakin menyusut luas tanah produktif dikonversi menjadi perumahan penduduk, sebab ppopulasi tahun demi tahun makin meningkat. Dengan kemajuan teknologi pertanian intensif dan teknik sipil, maka kesulitan penyediaan lahan pertanian dan perumahan penduduk mendapat kemajuan. Namun, kemajuan ini dapat dirasakan di negara-negara industri maju yang mempunyai teknologi saja. Lihat saja sebagai contoh, Netherland dan Jepang.

Walaupun telah melewati masa indah ketika masih disebut negara makmur, Netherland masih termasuk kampiun di Eropa yang berhasil menjadi negara surplus penghasil bahan pangan. Dibandingkan dengan tetangganya di sebelah selatan, yakni Prancis dan Spanyol, maka belum pernah terdengar demonstrasi besar-besaran petani Netherland terhadap semua kebijakan pemerintah. Luas Netherland kira-kira 35 ribu kilometer persegi, kepadatan penduduk 500 jiwa per kilometer persegi, negeri ini termasuk berhasil mengendalikan pupulasi sehingga kebutuhan pangan dan kebutuhan lain tetap tercukupi. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi, sebaliknya negara kecil masih memiliki hutan yang sangat memadai sebagai paru-paru negara. Jepang adalah negara industri kedua setelah Amerika Serikat mempunyai tingkat kepadatan penduduk hampir sama dengan Netherland, sedikit saja lkahan untuk pertanian. Namun, lahan pertanian yang sedikit ini mampu digunakan untuk pertanian padi basah. Kuncinya adalah mempunyai teknologi pertanian intensif. Negara mana saja yang mempunyai teknologi, maka negara ini pasti memimpin ekonomi lebih maju, bahkan akan lebih jauh lagi, yakni penguasaan ekonomi atas negara lain. Tekonologi terapan didapatkan dari pendidikan lanjutan di universitas, pengalaman industri manufacturing, dan dukungan negara terhadap penelitian di segala bidang.

Sedikit anak sedikit masalah. Kepadatan penduduk dan income bersih negara adalah dua parameter yang saling berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Negara-negera industri maju di Eropa tahu sekali masalah ini, maka mereka melakukan pengendalian populasi untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat tetap terpenuhi. Apa indikasi yang terlihat dan dirasakan oleh rakyat satu negara yang tergolong sejahtera? Indikasi umum suatu negara yang rakyatnya menikmati kesejahteraan, yakni : tidak ada pengemis dan gelandangan, setiap indiovidu mempunyai rasa aman terhadap kejahatan, setiap keluarga mempunyai rumah sendiri, setiap individu mempunyai jaminan asuransi, setiap individu mempunyai kesempatan sama melanjutkan pendidikan ke universitas, negara memberikan kemudahan kredit untuk pendidikan di universitas, dan hampir tak berjarak antara yang punya dan yang tak berpunya. Swiss, Austria, Netherland, Swedia, dan Jerman adalah beberapa negara di Eropa yang rakyatnya menikmati kesejahteraan tinggi. Di negara-negara seperti ini dan pada umumnya di Eropa gender anak dalam keluarga inti bukan tujuan utama, melainkan kualitas pendidikan anak yang menghasilkan sumber daya manusia unggul. Pemenuhan kualitas unggul sumber daya manusia dapat dicapai melalui pendidikan lanjutan di universitas. Di negara-negara seperti ini riset sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi dan negara memberi alokasi dana lebih dari cukup. Hasil riset diterapkan ke dalam industri dan meningkatkan income negara untuk kesejahteraan rakyat. Walaupun negara-negara industri mempunyai uang lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara berbasis pertanian, kepadatan penduduk yang semakin meningkat ini pada satu saat akan mengganggu sector perut. Sebelum beban ekonomi negara terganggu, maka negara melakukan upaya pengendalian populasi secara ketat. Tirulah New Zealand, populasi penduduknya 1/3 dari jumlah seluruh ternak yang ada di negeri ini, yakni domba dan sapi.

Banyak anak banyak masalah. Banyak orang Indonesia sering munafik untuk menjawab pertanyaan tentang jumlah anak dalam satu keluarga. Kebanyakan mereka menjawab, anak perempuan atau anak laki sama saja. Lalu, faktanya seperti apa? Anak pertama lahir bayi perempuan. Kedua perempuan lagi. Ketiga perempuan lagi. Kempat perempuan lagi. Kelima perempuan lagi. Keenam perempuan lagi. Ketujuh bayi laki. Bayi kedelapan tidak ada lagi, sebab penutup telah didapatkan, yakni bayi laki. Jai, di dalam hati terdalam kebanyakan suami di Indonesia memang mendambakan  anak laki yang dipandang sebagai penerus nama keluarga. Ada keluarga yang memang menyukai mempunyai banyak anak, sehingga beberapa anaknya terpaksa dipindahkan ke sekolah yang lebih murah tarifnya, tetapi lebih rendah mutunya. Aku pernah mempunyai seorang teman bekerja di pabrik semen terbesar di Indonesia. Kalau anak-anak temanku ini masih hidup semua, maka dia mempunyai anggota tim sepak bola berjumlah sebelas orang. Sebagai seorang operator rendahan heavy equipment berapalah gajinya untuk menghidupi keluarganya yang gemuk ini. Rumah milik temanku ini kira-kira 5 x 4 meter, hanya satu kamar tidur ukuran 2,5 x 2,5 meter, dan ruang tamu dan dapur menyatu. Rumah sangat kecil untuk satu tim sepak bola. Dengan easy going, dia berkata kepadaku, bahwa anak-anaknya yang banyak itu dapat dititipkan di masjid. Mudah ditebak di sekolah mana temanku menyekolahkan anak-anaknya, yakni di sekolah yang rendah tarifnya, tetapi rendah mutunya. Tidak ada satu pun anak-anaknya diterima di pabrik tempat temanku bekerja. Semua anak-anaknya kalah bersaing dengan pelamar-pelamar lain yang memiliki lebih baik. Universitas? Tidak terpikirkan. Yang terpikirkan hanya mendapatkan kenikmatan bikin anak yang banyak.

Di Indonesia ada ungkapan yang sangat terkenal di kalangan masyarakat, yakni banyak anak banyak rezeki. Apa kaitannya banyak anak banyak rezeki? Mungkin di masa lau pada jaman dahulu kala, ada satu keluarga mempunyai anak sampai puluhan dan anak-anak ini pada berhasil menjadi birokrat [pegawai negeri] atau menjadi tentara. Dulu, 60 tahun yang lalu ukuran keberhasilan yang umum adalah berhasil menjadi birokrat, golongan seperti ini biasa disebut priyayi dan berhasil menjadi tentara. Walaupun tentara berpangkat sersan mayor pada waktu itu, impian semua gadis untuk menjadi suaminya, maka itu ada lagunya, begini ... kalau ibuku pilih menantu, pilihlah dia sersan mayorku ... dan seterusnya. Rezeki diperoreh melalui kerja keras dan Tuhan memberi sesuai takaran kasih karunia-Nya. Berilah kepada kami makanan pada hari ini secukupnya, begitu kata-kata dalam doa Bapa Kami. Kalau mau makan yang lebih mewah lagi, harus bekerja lebih keras lagi. Sekarang kalau mau disebut berhasil, seorang anak Indonesia harus kuliah dan menjadi sarjana. Biaya kuliah semakin mahal, sementara adik-adik anak yang mau kuliah ini juga masih membutuhkan biaya. Dari pada tidak dapat sama sekali, maka ditempuhlah kuliah di universitas tarif murah, tapi rendah mutunya. Dengan jumlah anak yang lebih sedikit, satu anak saja, maka kemungkinan anak melanjutkan kuliah di tempat yang lebih baik akan berpeluang lebih besar.

Minat anak-anak Indonesia yang mau bersekolah dasar sangat besar, tetapi selepas mereka dari level ini sisanya kurang dari dua persen sampai ke level mahasiswa [data 1990]. Banyak factornya, satu di antaranya adalah factor ekonomi, setiap tahun biaya kuliah meningkat 10 persen, maka hanya mereka yang secara ekonomi adalah orang berpunya dapat kuliah di universitas. Kondisi seperti ini akan menjadi beban berat pemerintah dibiarkan terus, maka 20 tahun lagi negeri ini akan dapat kalah bersaing dengan negara-negara tetangga dalam mengelola sumber daya manusia. Kementerian Perhubungan pernah mengeluarkan pernyataan, bahwa 60 persen supir bus umum di Jakarta adalah lulusan sekolah dasar. Sebenarnya tidak ada yang mau menjadi supir bus umum dengan gaji rendah, tetapi untuk melanjutkan sekolah juga mereka tidak mempunyai biaya. Jadi, apa korelasinya banyak anak banyak rezeki? Tidak ada relasinya, sebaliknya yang ada adalah banyak anak banyak masalah ekonomi sehingga anak tidak dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi, sebab orang tua tidak sanggup meniayai lagi.

Jepang sudah lama melakukan pengendalian kepadatan penduduk, kini dua negara Asia seperti Tiongkok dan dan Singapore gencar melakukan pengendalian kepadatan penduduk. Di Tiongkok setiap keluarga diijinkan mempunyai anak satu saja. Istri hamil lagi, maka janin bayi harus digugurkan, sebaliknya di Singapore premi asuransi untuk anak berikut lebih tinggi beberapa kali lipat dibandingkan dengan anak pertama. Indonesia masih harus menata kepadatan penduduk supaya jangan terkonsentrasi di Pulau Jawa saja, melainkan juga harus merata ke pulau-pulau lain di bagian timur yang masih longgar. Kepadatan penduduk provinsi DKI Jakarta paling tinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain, yakni >> 10 ribu jiwa per kilometer persegi, maka masalah sosial dan ekonomi banyak terjadi di sini. Misalnya, semakin banyak anak putus sekolah dan anak-anak ini pada suatu saat akan melakukan tindakan kriminal, sebab mereka butuh makan dan penyaluran hasrat biologis. Pemerintah harus menyediakan fasilitas infrastruktur ke daerah lain yang masih kosong sebanyak mungkin supaya kegairahan investasi di tempat ini meningkat dan memberi efek kesejahteraan semakin merata. Dan, jangan lupa pula, yakni pemerintah gencar memberi banyak kondom dalam upaya pengendalian populasi.-

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar