Senin, 31 Maret 2014

Bakmie Gondangdia Yang Serba Hijau

Mana yang paling enak bakmie Gondangdia, bakmie Aheng, Jalan Mangga Besar atau bakmie Ahong, Jalan Mangga Kecil? Yang paling enak adalah Aheng, Mangga Besar, mungkin begitu katamu, karena engkau memang menyukai Aheng. Yang lain berkata, Ahong, ada lagi yang lain berkata, Ahenghong yang paling okay. Semuanya salah! Yang paling enak adalah makan bakmie di bawah pohon tamarin dan ditemani makan bersama dengan Luna Maya, walaupun rasanya bakmienya kurang garam dan kecap, tetap saja engkau mengatakan, ini bakmie paling okay. Tiga puluh tahun kemudian engkau bercerita nostalgia ini kepada teman-teman, bla, bla, bla. Memang berbagi cerita tentang romantisme tidak dapat diukur nilainya dengan uang berapa pun besarnya. Ada rasa kebanggaan, walaupun mungkin engkau bukan lagi bagian dari temanmu yang telah sukses besar, sedangkan engkau tetap saja seperti yang dulu.

Bakmie Gondangdia. Sejak 1968.
Sekarang aku mau bercerita tentang restoran yang berlokasi di kelurahan Menteng, Jakarta, di jalan yang dulu bernama Gondangdia Lama. Seperti pada umumnya restoran makanan Cina, maka restoran ini dimulai dengan bakmie, itu sebabnya restoran ini diberi nama, Bakmie Gondangdia. Dari sejak jaman pemerintahan colonial Belanda dulu, Jalan Gondangdia, HOS Cokroaminoto [dulu namanya Jalan Jawa], dan Cikini Raya adalah tiga jalan yang sibuk sebagai perlintasan antara wilayah utara dan selatan Jakarta. Berbeda dengan Jalan Diponegoro, Subang, Taman Sunda Kelapa, Madiun, atau Lembang sebagai tempat untuk perumahan yang tenang dan sangat elit, maka di Jalan Cikini Raya ada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Perguruan Cikini dan bioskop Metropole, di Jalan HOS Cokroaminoto ada bioskop Menteng dan Apotik Jawa yang besar dan beberapa toko kecil, dan di Jalan Gondangdia Lama ada Hotel Gondangdia dan kemudian menyusul restoran makanan Cina, Bakmie Gondangdia. Apakah Bakmie Gondangdia adalah anak bungsu bagian sejarah keberadaannya di kawasan Menteng? Oh, maybe! Di Jakarta masih banyak resto bakmie legendaries yang lebih tua dibandingkan dengan yang di sini. Namun, bakmie ini mempunyai ciri khas yang beda dengan kebanyakan restoran yang lain.

Meja tempat meracik bakmie. Tetap seperti dulu.
Aku duduk di meja kedua dari pintu depan sebelah kiri, melihat menu sepintas dan langsung pesan bakmie pangsit rebus. Ini adalah kebiasaanku jika memasuki restoran masakan Cina, yakni pesan bakmie pangsit rebus, sebab bakmie adalah menu pertama yang selalu ada di setiap restoran makanan Cina, seperti rendang daging sapi selalu ada di setiap restoran masakan Padang. Bicara tentang rasa bakmie restoran ini sebetulnya biasa saja dibandingkan dengan bakmie kebanyakan resoran Cina di Jakarta, tetapi nilai legendaries restoran ini tidak dapat dibandingkan dengan kebanyakan restoran sejenis yang ada di kota ini. Nilai legendaries satu restoran biasanya lebih banyak ditentukan siapa saja yang pernah mengunjungi tempat ini, dapat bertahan paling sedikit melewati satu generasi, yakni kira-kira 50 tahun, dan dapat menjaga ciri khas keberadaannya. Ada seorang bekas direktur utama pabrik semen terbesar di Indonesia pada awal masa jabatannya sering makan bakmie di sini bersama isterinya. Kalau tidak sempat makan siang di luar kantor, bapak direktur ini cukup memesan nasi tim, pesanan langsung diantar. Siapa sangka kalau direktur utama ini adalah the big boss pabrik semen terbesar di Indonesia dan aku pernah bekerja di perusahaannya. Tapi hubunganku dengannya seperti bumi dan langit. Aku hanya buruh kecilnya. 

Selesai makan bakmie pangsit dan membayar harganya, aku ingin sekali mencoba bercakap sedikit saja tentang restoran ini dengan seseorang yang tampaknya adalah pemilik resto ini. Ternyata pemilik restoran ini adalah pribadi yang ramah, suka ngobrol, dan bersedia melayaniku berbicara tentang restoran yang sekarang dikelola olehnya. Namanya adalah Rino Indrasano, umurnya mungkin sekitar 45 tahun atau paling tua 50 tahun, dan dia adalah generasi kedua keluarga pemilik restoran ini. Restoran ini didirikan pada Maret 1968, menjelang akhir decade 60. Angka 1968 tampak tersablon di bagian belakang kaos T-shirt seragam pelayan berwarna dasar hijau lumut dengan leher warna kuning. Kebanyakan pelayan di sini berasal dari Jawa Tengah. Sungguh tepat sekali aku datang ke tempat ini pada 19 Maret masih suasana ulang tahun. Usia restoran ini seumur pemilik yang sekarang, belum genap 50 tahun. Pada masa awalnya, restoran ini banyak dikunjungi oleh murid-murid Perguruan Cikini dan para orang tua mereka merasakan nikmatnya bakmie restoran ini. Perguruan ini telah menghasilkan banyak orang sukses mulai dari setingkat menteri, penasehat hukum sampai pengusaha besar, bahkan seorang yang pernah menjadi presiden di negeri ini adalah alumnus sekolah ini. Walaupun semua alumnus telah terserak kemana-mana, dari mereka, pelanggan lama setia yang membuat restoran ini tetap bertahan sampai sekarang. Yaaaaaah, bagaimana pun rasanya bakmie Gondangdia, setiap restoran pasti memiliki segmen penggemar sendiri-sendiri. Ada seorang pelanggan lama dan alumnus SMP-Cikini yang telah lama menetap di luar negeri, pulang ke Jakarta tidak lupa untuk berkunjung ke restoran ini. Sweet memories never die.

Jalan Taman Sunda Kelapa masuk dari Jalan Diponegoro [2010].
Penampilan depan dan interior restoran ini diberi warna serba hijau tua dan muda. Pintu masuk sebelah kiri dan kanan berwarna hijau lumut, warna kusen-kusen pintu dan jendela berwarna hijau, dan seragam kaos t-shirt  bagi semua pelayan berwarna hijau lumut yang dikombinasi warna kuning pada krah leher. Menurut penuturan Rino, bangunan ini telah lama ada semasa perang tapi tidak tahu persis tahun berapa. Ya, tentu saja 1940 sampai 1945. Seperti biasa pada umumnya orang Tionghoa, mereka tidak akan pernah memindahkan tempat meracik bakmie dari awal restoran ini melayani pembeli, walaupun restoran telah mengambil keuntungan balik modal. Sampai sekarang jika engkau mengunjungi restoran ini, engkau dapat  melihat meja tempat meracik bakmie tetap berada di situ dari sejak semula, yakni di bagian depan, dibelakang jendela berkusen warna hijau. Tidak mempunyai keinginan mengganti warna hijau ke warna lain? Lebih lanjut kata Rino, atas permintaan sebagian besar alumnus Perguruan Cikini supaya warna hijau tetap dipertahankan sebagai ciri khas abadi Bakmie Gondangdia. Anyhow, yang serba hijau.

Selain bakmie pangsit dan bakmie baso, restoran ini juga menyediakan daftar menu yang lain, seperti cap cay, bakmie goreng, bihun goreng, kwetiau goreng, nasi goreng, ayam goreng saus mentega, fuyunghai, ifumie, dan lain-lain dan seterusnya. Engkau tidak cukup satu hari untuk dapat menikmati semua yang ada di sini. Hari ini bakmie pangsit rebus, maka next time coba yang lain, seperti nasi tim dikombinasi dengan ayam goreng saus mentega atau nasi goreng dikombinasi dengan beefsteak lada hitam dan minumnya pelega kerongkongan dengan jus jeruk. Engkau jangan salah alamat untuk dapat mencapai tempat legendaries ini, yakni di bawah flyover kereta rel listrik, sekarang bernama Jalan Soeroso, tidak jauh dari persimpangan dengan Jalan Cikini 2, kira-kira 10 meter saja, tepat di depan gedung Bank Central Asia. Selamat menikmati makan di sini.-     


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar