Sabtu, 19 April 2014

Ketahanan Ekonomi Di Bidang Pangan

Kecukupan pangan memberi rasa aman dan sejahtera kepada rakyat dan rakyat hidup dalam ketentraman. Sehat dan bahagia sebab kecukupan pangan.

Dari sejak zaman Mataram Hindu, paling tidak begitu, sumber makanan pokok nenek moyang orang Indonesia adalah beras dari tanaman padi yang dimasak menjadi nasi. Berbagai benih padi ditanam diseluruh Kepulauan Indonesia sesuai menurut nama tempat padi itu ditanam, seperti Cisadane di daerah sekitar pengairan kali Cisadane, Cianjur, dan Krawang dari Jawa Barat, Solok dari Sumatera Barat, Delanggu dari Jawa Tengah, Mojowarno dari Jawa Timur, dan seterusnya. Beras yang diproduksi sebagian besar berasal dari budaya tanaman padi basah [hydro-plantation culture]. Dari sejak zaman Majapahit, orang Indonesia berlimpah dengan beras tidak perlu impor dari kerajaan tetangga, hal ini menunjukkan bahwa dari sejak dulu sector pertanian adalah kultur yang sangat dikuasai oleh bangsa ini dan menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi dibidang pangan. Generasi awal Kesultanan Yogjakarta, Sultan Hamengkubuwana I sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat di bidang pangan, utamanya beras. Ketika sultan ini melakukan dua kali penyerbuan ke Batavia pada 1628 dan 1629, maka yang diutamakan terlebih dahulu adalah logistic beras. Tentara tidak akan dapat bertempur kalau perut sedang lapar.

Tanaman padi di Blitar.
Setelah Perang Jawa selesai yang berakhir pada 1830, orang Jawa mengalami kesulitan mendapatkan beras, sebab sebagian besar sawah banyak ditinggalkan oleh pemiliknya mencari tempat yang dirasakan lebih aman dibandingkan berada di Yogjakarta. Banyak orang Jawa melakukan migrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kesulitan untuk mendapatkan beras terjadi pada puncaknya perintah Tanam Paksa oleh pemerintah colonial Hindia Belanda pada pertenganhan abad 19. Rakyat dipaksa untuk menanami 20 persen dari tanah miliknya dengan tanaman komoditas ekspor, seperti kopi, teh, dan tembakau. Walaupun hanya 1/5 bagian saja, faktanya rakyat tidak dapat mengelola sawah mereka lagi, sebab kerusakan tanaman komoditas ekspor dalam proses penanaman harus ditanggung oleh rakyat sendiri, sehingga hasil panen padi tidak lagi mencukupi kebutuhan, akibatnya terjadi kelaparan di mana-mana. Diperkirakan korban mati kelaparan di seluruh Jawa adalah 20000 jiwa, terutama di sepanjang pantai utara Jawa.

Di suatu tempat di Blitar.
Juga masih dalam pemerintahan colonial Hindia Belanda, sedikit demi sedikit orang Jawa ditransmigrasikan ke Lampung Selatan untuk mengurangi beban kependudukan di Jawa. Di tempat yang baru ini orang Jawa membuka sawah baru seperti di tempat asal mereka dulu, yakni persawahan padi basah. Transmigrasi dilanjutkan lebih intensif sesudah Indonesia merdeka pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Banyak orang Jawa ditransmigrasikan ke Lampung Utara dan Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan sampai Papua. Indonesia pernah mengalami surplus beras, tetapi memasuki decade 70 pemerintah membelokkan kebijakan dari negara berbasis agraris menuju industri. Tidak tanggung-tanggung, utamanya adalah industri dirgantara. Banyak pemuda dari desa-desa dan dari luar Pulau Jawa menuju kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya bekerja di sector industri. Pola pikir telah berubah, bahwa menjadi buruh di pabrik lebih menjanjikan dibandingkan menjadi petani di desa. Inilah awalnya bencana Indonesia kekurangan beras. Banyak tanah persawahan produktif yang berubah fungsi akibat perluasan industri dan pertambahan penduduk. Pemerintah juga memberi peluang eksploitasi bahan tambang dan hasil hutan di Indonesia bagian Timur. Tapi dalam pelaksanaannya dilakukan tanpa mempertimbangkan ekosistem, sehingga semakin banyak saja tanah yang rusak. Impian Soeharto membangun sawah satu juta hektar tinggal kenangan isapan jempol belaka. Impian ini adalah hasil rumusan pertemuan semua taipan Indonesia di Jimbaran, Bali. Satu indikasi, bahwa orang ini telah mulai tidak dipercayai lagi oleh orang-orang yang dulu berpura-pura setia mengelilinginya.

Ada yang mempunyai pemikiran industri dimulai dari tekstil, maybe melihat dari keberhasilan India dan Italia, ada yang berpikir memulai dari automotive, maybe melihat dari keberhasilan Jepang, ada yang berpikiran rada ekstrem, yakni dimulai dari dirgantara, sebab melihat keberhasilan Prancis dan Jerman. Hasilnya apa yang kau lihat? Tekstil tidak, automotive tidak, bahkan dirgantara pun tidak. Betul juga kalau dikatakan, bahwa orang Indonesia itu hangat-hangat tai sapi. Artinya, semangat luar biasa pada awalnya, tetapi tidak lama kemudian, … pesssssss hilang lenyap rencana indah dari ingatan. Gombal! Semua bangsa membangun kehidupan dimulai dari kultur pertanian. Walaupun pada akhirnya banyak di antara mereka berhasil maju menjadi negara industri, kultur pertanian tidak pernah sama sekali mereka tinggalkan. Lihat saja, Jepang melesat sebagai negara industri kedua terbesar di dunia setelah Amerika, tetapi mereka tidak meninggalkan kultur pertanian, bahkan mereka mampu mencukupi kebutuhan pangan utama, yakni beras. Belanda juga terhitung sebagai negara industri manufaktur, tetapi kultur pertanian jalan terus, dan negeri ini adalah produsen hasil pertanian terbesar di Eropa. Amerika sebagai kampiun industri dunia, tetapi tidak sama sekali meninggalkan kultur pertanian. Negeri Uncle Sam layak disebut sebagai lumbung dunia terbesar, sebab tanaman pangan apa saja konsumen dunia ditanam di sini, seperti gandum, beras, kedelai, red bean, green bean, peanut bean, dan seterusnya. Tanpa kedelai Amerika, maka tidak ada tempe dan ta.hu di Indonesia. Jadi, jika Amerika mau boikot kedelai, kalian orang Indonesia tidak akan dapat makan tempe dan ta.hu selamanya.

Pentingnya suatu negara memiliki ketahanan ekonomi di bidang pangan, yakni memberi kontribusi sebagai sumber devisa negara dalam perdagangan antar negara dan negara menjadi lebih berdaulat melalui kekuatan ekonomi yang dimilikinya, yakni memiliki bargaining yang tinggi jika suatu negara lain mencoba melakukan tekanan politik. Kemampuan ini memberi rasa aman dan sejahtera kepada rakyat dan rakyat hidup dalam ketentraman. Sehat dan bahagia sebab kecukupan pangan. Jika ketiga kondisi ini terpenuhi, yakni rasa aman, sejahtera, dan hidup tenteram, tidak sulit bagi negara meminta kepada rakyat untuk memberi feedback kepada negara, misalnya membayar pajak, bela negara demi keamanan, menjaga ketertiban bersama, dan seterusnya. Dan, biasanya suatu negara yang memiliki kecukupan pangan, maka negara dalam kestabilan tinggi. Sebelum Revolusi Prancis meletus, negara ini diawali oleh kondisi rakyat yang kelaparan kekurangan pangan [roti], sebaliknya di istana, raja dan ratu berpesta pora. Jika suatu negara tidak mempunyai ketahanan ekonomi di bidang pangan, tidak ada bedanya dengan anjing kelaparan. Anjing yang kelaparan akan dikenyangkan oleh makanan yang diberikan oleh seseorang dan anjing ini menjadi setia dari pemberian-pemberian “Tuan Yang Baik Hati”. Tuan Yang Baik Hati hanyalah satu metafora negara yang mendikte negara lain demi kepentingan negara pendikte. Kalau masih mempunyai harga diri tidak mau didikte oleh negara lain, rakyat akan berontak seperti pada rovolusi yang pernah terjadi di Prancis.  

Sebelum melangkah jauh menuju teknologi industri, Tuhan terlebih dahulu mengajarkan manusia mengolah tanah untuk menghasilkan pangan, yakni pangan pokok bagi banyak bangsa. The Holy Bible sendiri yang mengatakan demikian, bahwa manusia pada mulanya memenuhi kebutuhan makan dari hasil pertanian. Kita sebagai suatu bangsa yang belum ada apa-apanya sudah berani sesumbar, sebentar lagi kita akan take off menuju negara industri. Sebetulnya kita adalah suatu negara zamrud khatulistiwa yang kaya dan makmur, tetapi bangsanya tidak sejahtera selama hampir 70 tahun setelah merdeka, sebab negara ini dikelola oleh banyak manusia yang tidak mempunyai hati nurani. Mereka adalah petualang teknokrat di bidang industri dan ekonomi. Orang Indonesia berdosa secara kolektif kepada Tuhan, yakni tidak mengelola tanah secara benar untuk memelihara kultur pertanian. Sebagai bangsa yang ingin mengembangkankan diri ke arah industri, seharusnya mengutamakan industri berbasis pertanian untuk memperkokoh ketahanan ekonomi di bidang pangan. Di dunia ini tidak ada ceritanya begini, tiba-tiba Amerika mempunyai pesawat terbang Boeing 747, Inggris mempunyai pabrik mesin pesawat terbang Rolls-Royce, Prancis mempunyai Concorde, atau Jerman mempunyai tank Leopard. Namun, Indonesia itu adalah bangsa yang doyan pamer kepada tetangga, bangsa yang suka membuat proyek mercu suar, padahal dapurnya tidak mempunyai beras lagi. Nih, kami punya industri pesawat terbang. Biar nyaho dah kalian lihat siapa kami. Inilah yang disebut sesumbar.

Mari kita belajar dari kisah Yusuf, yakni orang Israel yang ditunjuk sebagai Mangkubumi oleh Firaun, raja Mesir. Yusuf menafsirkan mimpi [penglihatan] Firaun, yakni raja melihat 7 ekor sapi yang sangat gemuk keluar dari Sungai Niel kemudian memakan semua rumput yang ada di tepi sungai. Kemudian dari sungai yang sama muncul 7 ekor sapi yang sangat kurus dan jelek rupanya. Semua sapi kurus ini kemudian menelan semua sapi gemuk tadi. Raja juga melihat dalam impiannya 7 bulir gandum yang buruk dan 7 bulir gandum yang bagus. Semua bulir gandum yang buruk ini menelan semua bulir gandum yang baik. Arti mimpi ini adalah Mesir akan mengalami 7 tahun masa kelimpahan produk pangan, kemudian segera disusul dengan 7 tahun masa kelaparan yang hebat di seluruh negeri. Solusi yang diberikan kepada raja adalah selama 7 tahun masa kelimpahan pangan, maka rakyat diharuskan menyerahkan 1/5 bagian produksi gandum kepada raja. Gandum ini disimpan di dalam lumbung milik kerajaan. Gandum tabungan milik kerajaan ini akan dilepas pada saat negeri ini memasuki masa paceklik sehingga negeri terhindar dari bencana kelaparan. Yusuf menerima mandate dari raja untuk mengelola seluruh tanah pertanian di Mesir supaya bangsa Mesir tidak mengalami bencana kelaparan selama masa paceklik. Yusuf menjadi orang kedua setelah Firaun yang diperintahkan untuk menciptakan ketahanan ekonomi Mesir di bidang pangan. Dan, Yusuf berhasil!

Cerita Yusuf ini terjadi 4000 tahun sebelum masehi di Mesir yang pada waktu itu pernah menjadi imperium yang disegani di wilayah Mediterannian. Indonesia tentu saja tidak dapat menelan pembelajaran di atas secara hurufiah mengingat perilaku ekonomi pada masa itu berbeda dengan sekarang. Pada masa itu perilaku ekonomi di Mesir sangat mempercayai mimpi atau penglihatan. Untuk konteks masa kini perilaku ekonomi bangsa Mesir melalui mimpi dapat disamakan dengan menganalisa statistic. Dari masa ke masa setiap negara pernah mempunyai problem ekonomi seperti yang dialami oleh Indonesia sekarang ini, solusi pasti berbeda karena konteksnya berbeda, tetapi judulnya tetap sama, yakni ketahanan ekonomi di bidang pangan. Memasuki masa 10 tahun pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono, pemerintah setiap tahun membuka peluang impor berbagai produk pangan, seperti gula, kedelai, beras, cabai rawit, bahkan garam pun harus impor. Birokrat lebih menyukai impor pangan, sebab impor memberi peluang mendapatkan gratifikasi dari pemenang tender impor [pengusaha importer]. Perlahan tapi pasti sumber devisa negara akan terkuras untuk memenuhi kebutuhan pangan yang semakin meningkat, sebab jumlah jiwa yang harus diberi makan juga semakin bertambah. Kondisi ini semakin diperparah lagi dengan semakin sedikit jumlah generasi muda di desa yang enggan bertani. Mereka lebih suka berbondong-bondong  mencari penghidupan ke kota-kota besar. Lalu siapa yang akan mengelola tanah pertanian di desa yang juga semakin berkurang luasnya?

Indonesia seharusnya dapat menjadi kekuatan ekonomi di bidang pangan terbesar di Asia seperti Belanda di Eropa, kalau saja negeri ini dikelola dengan baik. Selama puluhan tahun negeri ini ternyata dikelola oleh manusia petualang yang tidak mempunyai hati nurani. Apa jadinya jika negara ini dikelola oleh manusia petualang bermental saudagar? Saudagar pasti yang dipikirkan hanya untung rugi secara materi. Orang beragama ternyata tidak menjamin  berhati nurani. Kenyataannya banyak orang mengaku beragama telah diadili di pengadilan dalam berbagai kasus korupsi. Korupsi pangan dan ternak!!! Yang penting itu bukan agama yang dianut oleh seseorang, melainkan hidup yang sudah diperbarui sehingga mempunyai hati nurani. Alasan klasik mengimpor beras dari luar negeri adalah untuk menekan harga supaya tidak naik. Tentu saja harga beras pasti naik, sebab yang harus disuapi semakin banyak, sedangkan lahan pertanian semakin banyak berkurang.

Presiden Republik Indonesia berikut terpilih 2014 harus figure yang bersih dari korupsi dan jujur. Tidak memberi peluang impor terhadap berbagai kebutuhan pangan, khususnya beras, sebab impor pangan dalam jangka waktu lama akan melemahkan semangat bertani. Orang ini harus mempunyai background pertanian dan kehutanan, supaya mempunyai perhatian yang lebih focus terhadap sector pertanian dan demografi. Tanah pertanian yang banyak rusak di berbagai tempat di Indonesia akibat pemerintahan pada masa lalu lebih memfokuskan dengan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pajak dari hasil pertambangan di Kalimantan Timur, tetapi hasilnya tidak sepadan dengan kerusakan tanah persawahan akibat penambangan batu bara yang berdekatan dengan persawahan rakyat, membutuhkan banyak perhatian untuk diperbaiki kembali. Pemerintah harus lebih focus pembangunan rumah susun [khususnya di Pulau Jawa], sebab perluasan perumahan yang selama ini dilakukan, yakni ke arah horizontal sangat menguras  tanah yang seharusnya diperuntukkan bagi persawahan produktif. Melalui mekanisme badan koordinasi keluarga berencana, pemerintah mengendalikan jumlah penduduk. Rakyat butuh kondom dan beras.-      
    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar