Rabu, 24 April 2013

Satu Hari di Rumah Makan Makmur

Hidup segan, mati tak mau.
Aku mempunyai seorang teman perempuan, namanya katakan saja dia adalah Elena Bomel. Ia seorang perempuan yang berasal dari Bogor bersuamikan seorang Belanda dan mereka sekarang menetap di Groningen. Temanku ini mempunyai satu kenangan yang tetap hidup sampai sekarang, yakni romantisme Radio Kayu Jati di Jakarta. Katanya sih, RKJ mempunyai rating penggemar cukup tinggi, karena menyiarkan dalam empat bahasa, yakni Indonesia, Sunda, Jawa, dan Padang. Ia telah lima belas tahun menetap di Belanda dan sampai sekarang melalui internet dia menikmati siaran radio ini di Negeri Kincir Angin. Romantisme? Apa itu romantisme? Ah, rasanya setiap orang pernah memiliki perasaan ini. Perasaan rindu untuk suka dan duka di masa lalu. Hanya seseorang yang mempunyai sangkutan kenangan tersebut yang merasakannya. Namun, aku mempunyai kegemaran makan di restoran tempo doeloe dan aku sendiri tak mempunyai ikatan masa lalu dengan restoran-restoran lama ini. Ada orang yang sengaja datang ke Jalan Dago Bandung hanya untuk menikmati roti dan minum kopi di toko roti yang telah ada di situ dari sejak jaman Belanda. Padahal sih roti yang ada di situ biasa saja kualitas dan rasanya, tetapi yang namanya nostalgia tak dapat dinilai dengan uang.

Di persimpangan Se_nen yang luas dan berhadapan langsung dengan Pasar Se_nen Jakarta ada satu restoran tergolong tua, namanya Rumah Makan Makmur. Letaknya di Jalan Kramat Bunder, di deretan toko-toko perlengkapan baju tentara dan polisi, 20 meter dari dari bioskop Grand, dan di seberang jembatan halte Trans Jakarta. Keberadaan restoran Chinese Food ini dimulai pada 1932, jadi dia telah berumur 80 tahun. Menurut pemiliknya yang sekarang, ibu Mey Yun, dia telah mengatakan kepadaku, bahwa resto ini dimulai dari mertuanya. Beranda resto ini jauh dari kesan menarik, yakni tembok warna putih, jendela berkaca bening bertuliskan Rumah Makan Makmur. Sangat sederhana. Tangga bagian dalam menuju balkon terletak di sebelah meja kasir masih menurut aslinya terbuat dari kayu jati yang dicat warna hijau tua. Tidak jelas pada tahun-tahun mana restoran ini ramai dikunjungi oleh pengunjung? Lalu apa yang membuat aku tertarik untuk makan siang di sini? Aku tertarik terhadap segala sesuatu yang mengundang nostalgia. Menurut pemiliknya sekarang, yakni generasi kedua, telah mengatakan kepadaku, bahwa berbagai peristiwa besar yang pernah terjadi di Se_nen dapat dilihat dengan jelas dari balkon resto ini. Misalnya, Peristiwa Malari yang telah terjadi pada Januari 1974 di mana di beberapa tempat di dalam pasar besar ini mengalami kebakaran, tetapi pasar ini dapat diselamatkan dari kebakaran yang lebih besar dan masih ada sampai sekarang.  

Mie ayam pangsit rebus.
Pengunjung yang datang masih ada satu dua orang, kebanyakan pelanggan lama yang masih setia, dan resto ini juga dibuka semaunya oleh pemiliknya, sehari buka, dua hari tutup. Jangan mengharapkan berlebihan dari resto seperti ini, karena untuk satu pesanan sederhana saja, seperti mie ayam pangsit rebus, engkau harus bersabar menanti kira-kira lima belas menit. Mungkin juga karena sepi pengunjung, maka kelihatannya lama sekali. Kuah kaldu mie ayam pangsit rebus di resto ini tergolong enak, terbuat dari kaldu ayam. Engkau haus? Don’t worry. Minuman dingin seperti Teh Botol Sos_ro, Coca Cola, Sprite, atau susu soda Fanta tersedia di sini. Makan di sini memang sungguh nikmat, sejuk alami tanpa pendingin ruang ac, tanpa kehadiran pengamen yang suka memberi gangguan minta recehan 500-an rupiah ketika orang sedang makan.

Aku membayangkan, tahun pertama resto ini berdiri telah dikunjungi oleh banyak gadis dan pemuda Cina yang sedang pacaran, encek-encek Cina bermata sipit dan sebagian besar menu memakai daging babi. Makanan haram. Tapi enak. Daging babi itu enak, apalagi kalau dibuat babi kecap manis, sate babi, atau nasi goreng babi dengan lemaknya yang tebal itu. Walaupun kondisi restoran ini hidup segan, mati tak mau, resto ini mempunyai menu yang cukup lengkap. Empat daftar makanan umum restoran Cina di Jakarta adalah mie pangsit, mie baso, kwetiau dan mie goreng, tetapi di sini menu daging babi tetap ada, seperti babi kecap, bistik babi, dan nasi goreng babi. Tiga jaman besar telah dilalui oleh resto ini, yakni jaman Belanda dari 1932 sampai Maret 1942, masa penjajahan Jepang sampai Agustus 1945, dan Indonesia Raya merdeka sampai sekarang masih bertahan di tengah persaingan besar para investor resto Chinese style. Menurut cerita hembusan angin, banyak wartawan senior jaman kemerdekaan menghabiskan waktu cakap-cakap sambil minum kopi di sekitar Se_nen ini. Nggak jatuh gengsi dapat mentraktir pacar noni Belanda makan di resto Makmur ini, tetapi waktu itu pasti belum ada Teh Botol Sosro, bahkan Sprite saja belum ada.-  

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar