Jumat, 10 Juni 2016

Makan Pecal Madiun di Blitar

Menyebut kota Blitar, maka yang teringat dalam benakku adalah makanan sehat yang disebut pecal. Pada 7 Juni pagi pukul 06.15 aku tiba di kota kecil Wlingi dengan menggunakan kereta Matarmaja dari stasiun Pasar Senen Jakarta. Aku rindu dengan adikku perempuan bungsu. Wlingi terletak kira-kira 20 kilometer di sebelah timur Blitar. Dari masa kanak-kanak sampai telah bersuami dan mempunyai dua orang anak laki dan perempuan, adikku menetap di kabupaten Blitar. Wlingi adalah kota kecil di kabupaten Blitar. Anak-anak sudah besar semua. Yang pertama laki telah menyelesaikan pendidikan di fakultas ekonomi di suatu universitas di kota Ma.lang, sedangkan yang kedua perempuan sedang mulai kuliah perhotelan di suatu universitas di Surabaya.

Aku ditraktir makan pecal Madiun, Bu Beni yang terletak di ujung jalan Seruni, simpangan jalan Mastrip, dan tidak jauh dari situ ada gereja pentakosta jemaat Theofilus. Pecal adalah menu makanan Jawa Timur yang aku sukai selain rawon. Di Jawa Tengah pecal biasa disebut janganan. Bedanya pecal Madiun dan Blitar adalah saus bumbu pecal Madiun lebih halus dibandingkan dengan pecal Blitar. Pecal Madiun menggunakan rebusan daun singkong dan sawi putih, sedangkan Blitar menggunakan rebusan daun papaya, lainnya sama, yakni taoge, kacang panjang, dan bayam. Walaupun trademark menggunakan nama Pecal Madiun, rasa pecal dominan dengan rasa Blitar. Orang yang menyajikan pecal ini memang orang Madiun, tapi dominan rasa Blitar. Hal ini sudah biasa terjadi perkawinan rasa antara Madiun dan Blitar. Tidak bedanya dengan masakan Padang di Jakarta dan di Blitar, Jakarta terasa pedas menggigit, sedangkan Blitar rasanya rada smooth di lidah. Di Blitar juga ada rumah makan masakan Padang.  

Pecal Madiun ala Blitar ini ternyata enak. Ada tiga rasa saus bumbu pecal, yakni ekstra hot, sedang, dan tidak pedas. Aku memilih yang tidak pedas. Pecal Madiun diberi serundeng. Serundeng ada yang diberi potongan daging, tetapi ada juga yang tidak. Pecal yang aku makan di sini tidak diberi potongan daging. Tetapi pemberian serundeng pilihan saja. Apakah pecal Madiun atau Blitar sama saja keduanya adalah makanan sehat bagi siapa saja yang menyadari bahwa kesehatan itu penting untuk dipelihara. Tambahan pecal di tempat Bu Beni ini adalah tahu goreng, tempe goreng, goreng ati dan ampela ayam, bakwan jagung, verkadel, peyek kacang tanah, dan telur ayam dadar. Enak tenan [bahasa Jawa, tenan artinya luar biasa]. Di Bekasi tempatku menetap tidak ada pecal seenak ini. Datang ke Wlingi untuk meluapkan rinduku kepada adikku perempuan, sekali gus memenuhi keinginan nafsu makanku terhadap nikmatnya makan pecal. Melepaskan rindu makan lumpia paling enak, maka jawaban yang paling tepat adalah kunjungilah Jalan Mataram, Semarang. Blitar adalah tujuan utama yang paling tepat bagi pemburu pecal enak dan sehat.

Aku asyik makan pecal ini, tidak menoleh ke kiri dan kanan. Anyway fokus ke arah yang sedang kunikmati, yaitu pecal. Pecal disajikan menggunakan kertas plastik di atasnya dilapisi dengan lembaran daun pisang. Pengunjung lesehan pecal ini cukup banyak, dibuka dari pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Dagangan pecal ini laris. Berjualan hanya dari Senin sampai Sabtu malam, Minggu tutup, sebab pemiliknya, Bu Beni adalah anggota jemaat Theofilus yang taat. Pada hari Minggu menyediakan waktu satu hari penuh khusus untuk Tuhan. Aku memilih tambahan dua tahu goreng, satu bakwan jagung, dan satu goreng ati dan ampela ayam. Selesai makan kerongkongan didorong  dengan segelas teh hangat sedikit manis. Glek, glek, glek. Tidak perlu ditanya berapa harganya per porsi, tidak sopan kalau ditanya, sebab aku ditraktir oleh adikku perempuan. Di Blitar dan sekitarnya sampai jauh ke pelosok pinggiran kota cukup banyak restoran yang menyajikan nasi pecal. Namun, jangan lewatkan kesempatan singgah ke tempat Bu Beni, kalau berlibur ke Blitar.-

Link :  
Makanan sehat untuk penderita hipertensi dan jantung koroner. 
8 tanda pencernaan perut lancar. 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar