Senin, 20 Juni 2016

Berlibur ke Surabaya

Seharusnya aku pulang ke Bekasi dari Wlingi pada 7 Juni dengan kereta Matarmaja, tetapi adikku perempuan memintaku supaya diundur saja sampai 20 Juni. Aku mau diajak ke Surabaya untuk menjenguk anaknya perempuan yang kuliah di kota ini. Aku menyetujui saran ini. Lagipula istriku di Bekasi juga menyetujui. Aku ini pergi ke Wlingi sendirian, tanpa keluarga menyertai.

Restoran Bon Ami Surabaya.
Berlibur ke Surabaya ini diluar rencana. Berempat kami berangkat pada dini hari, yakni aku, adikku perempuan, suaminya, dan teman suaminya, sedangkan anak laki tertua sudah berangkat duluan. Terakhir aku mengunjungi kota ini pada 1995, jadi kira-kira 21 tahun kemudian aku dapat mengunjungi kota ini lagi. Kami memasuki kota ini kira-kira pukul 07.00 lewat jalan toll. Kami memasuki perumahan mewah yang dibangun oleh pengusaha properti tajir, yakni Ciputera. Aku memasuki kawasan rumah mewah ini melalui bagian depan kawasan Universitas Negeri Surabaya. Pengusaha tajir ini juga mendirikan universitas bagi kota ini, yakni Universitas Ciputera letaknya kira-kira 2 kilometer dari perumahan mewah ini. Setelah melewati UNESA kami memasuki bagian depan perumahan mewah ini yang dihiasi dengan patung singa Merlion. Merlion adalah patung singa simbol nasionalisme negara pulau Singapura. Pantaskah patung ini menghiasi Surabaya yang dijuluki kota pahlawan?

Tenderloin steak. Bon Ami.
Singapura pernah melakukan protes ke Indonesia melalui saluran diplomatik, sebab keberatan atas pemberian nama kapal perang RI dengan nama dua orang bintara KKO (sekarang Marinir). Kalau aku tak salah nama kedua bintara ini adalah Saleh dan Harun. Apa urusan mereka protes kepada Indonesia? Latar belakang keberatan Singapura tak dapat dijadikan alasan protes diplomatik tersebut. Pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno pernah terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Dua bintara KKO ini melakukan beberapa sabotase di Singapura, kemudian tertangkap sampai keduanya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sekarang kedua negara telah menjalin hubungan antar negara dengan baik.  Lalu apa urusan negara pulau ini protes? Pemberian nama kapal perang ini adalah hak kedaulatan Indonesia. Adanya Merlion di bumi Surabaya memang bukan kepentingan Singapura, tetapi apakah kita sebagai orang Indonesia sudah tidak memiliki harga diri lagi sehingga bangga dengan kebanggaan milik bangsa lain.

Ikan suro dan buaya. Mitos Surabaya.
Apakah pihak perusahaan pengembang sudah kehabisan inspirasi membuat patung penghias berupa Merlion di pintu masuk perumahan mewah ini? Seharusnya kebanggaan nasional Indonesia dibangun di situ, paling tidak kebanggaan nasional orang Surabaya. Surabaya  adalah ikon kota pahlawan bagi negeri ini, maka seharusnya pihak pengembang (baca : Ciputera) mendirikan patung pahlawan nasional Indonesia atau patung binatang ikon Indonesia di situ. Misalnya : Tan Malaka, Boeng Tomo, Pangeran Diponegoro, banteng seruduk, dan seterusnya. Untuk apa membanggakan milik orang lain, milik tetangga, milik bangsa lain. Setiap bangsa mempunyai kebanggaan masing-masing. Misal : orang Inggris bangga dengan pahlawan mereka, yakni Laksamana Horatio Nelson, patung laksmana ini dibangun di Trafalgar Square, London.  

Itu baru persoalan Merlion di perumahan mewah ini. Sejak sekolah dasar kita sudah diajarkan, bahwa bahasa itu menunjukkan bangsa. Coba perhatikan semua nama jalan di perumahan ini, di bagian belakang nama jalan pasti ada dua huruf RD, seperti .... (nama jalan) RD. Tidak salah lagi kedua huruf itu adalah singkatan dari kata bahasa Inggris, yakni road yang artinya jalan. Orang Singapura memang berbicara dengan bahasa Inggris. Kita orang Indonesia berbicara dengan bahasa Indonesia, maka penulisan nama jalan di perumahan ini seharusnya dengan menggunakan norma yang berlaku di Indonesia. Banggalah dengan bahasa sendiri. Banggalah dengan milik sendiri. Ini Surabaya, lho, Indonesia bukan Singapura, jangan memindahkan kebanggaan dan atmosfir bangsa lain ke dalam atmosfir ke negeri ini.

Rujak cingur. Makanan khas wong Suroboyo.
Jauh sebelum Merlion selesai dibangun di Surabaya, novelis Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan, bahwa nasionalisme orang Indonesia sedang saja kualitasnya. Mungkin ada benarnya juga pernyataan penulis ini, makanya tidak ada malunya lagi Merlion dibangun di kota ini. Sampai akhir dekade 60 orang Indonesia bangga banget dapat bicara bahasa Belanda, sebab siapa saja dapat bicara Belanda waktu itu dianggap orang intelek. Sekarang jamannya sudah beda, tapi mentalitasnya tetap sama, yakni bangga dengan segala sesuatu milik bangsa lain. Sepertinya kurang percaya diri kalau menggunakan produk bangsa sendiri. Cintailah produk-produk Indonesia, begitu kata iklan oleh boss Maspion Surabaya. 

Dengan sepeda motor aku mau mencoba keliling kota ini. Aku tak beruntung sampai di distrik Wiyung aku ditilang polisi. Belum setengah hari di kota ini sudah kena tilang oleh polisi. Kata adikku, di Surabaya banyak jebakan dilakukan oleh polisi, jadi harus hati-hati. Aku membayar denda pelanggaran di kantor polisi sebesar 100 ribu rupiah. Ini resmi, bukan sogokan. Aku tak bersemangat lagi melanjutkan niat keliling kota ini. Kembali ke Wlingi pada malam hari pukul 20.00. Selamat tinggal Surabaya.-
    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar