Senin, 16 Juni 2014

Ketahanan Ekonomi Di Bidang Energi

Satu negara yang kebutuhan energinya sangat tergantung oleh pasokan negara lain, maka pada suatu waktu kedaulatan negara ini  pasti akan terancam. Contoh yang paling factual adalah Ukraina. Negara ini sangat bergantung dengan pasokan gas alam yang dibeli dari Russia dengan harga murah. Dijual dengan murah saja negara ini mengalami kesulitan membayar, apalagi kalau pasokan gas ini ditutup total oleh Russia. Di bagian tenggara negara ini terdapat semenanjung yang bernama Crème, sebagian dihuni oleh penduduk asli Ukraina berbahasa Ukraina, sebagian lain dihuni oleh penduduk Ukraina yang berbahasa Russia. Selanjutnya mudah dibaca situasi di perbatasan kedua negara ini, yakni Russia menempatkan puluhan ribu tentara tak berseragam di perbatasan. Ukraina adalah negara di Eropa Timur yang luas wilayah daratannya, tetapi rendah pendapatan bersih negara ini, maka dengan mudah Russia menggoyang kedaulatannya. Singapura negara pulau kecil dan tidak mempunyai sumber mineral minyak dan gas bumi, tetapi negara ini sangat berdaulat, bahkan dapat mengatur wilayah kedaulatan udara komersil sampai Riau.

Segala cara dilakukan oleh Amerika dan semua sekutunya dalam menjaga cadangan energi sampai masa depan yang tidak terbatas sebenarnya telah dilakukan oleh Jerman ketika Perang Dunia II pecah dari 1939 - 1945. Jerman menyerbu Russia di sebelah timur dan juga menyerbu ke selatan berusaha menyatukan rantai pertahanan dari Afrika Utara sampai daerah Kaukasus di Russia. Jika rantai pertahanan ini berhasil diwujudkan, Jerman akan menguasai sebagian besar cadangan energi dunia untuk ukuran masa itu. Jadi, memang dari sejak dulu banyak negara berlomba untuk memiliki ketahanan ekonomi di bidang energi. Sumber energi itu antara lain, minyak dan gas bumi, biofuel minyak nabati, batu bara, panas bumi, panas matahari, kincir angin, dan tenaga nuklir. Saat ini Indonesia memiliki semua yang tersebut ini, kecuali tenaga nuklir yang masih dalam kajian. Minyak bumi, gas alam, dan batu bara adalah sumber energi tidak terbarui lagi, artinya jika unsur-unsur pembentuk yang terdiri dari karbon dan hydrogen bersama oksigen bereaksi membentuk energi, unsur-unsur hasil reaksi ini tidak dapat kembali lagi membentuk unsur-unsur sumber semula. Semakin banyak digunakan dan semakin lama, maka sumber energi tidak terbarui lagi ini semakin menyusut jumlahnya di dalam bumi. Namun, selagi masih ada di beberapa tempat utama di dunia, maka negara-negara besar dan bermodal kuat berusaha sekuat tenaga menguasai sumber-sumber energi ini. Beberapa negara utama penghasil minyak bumi adalah Irak, Arab Saudi, Brunei Darussalam, Suriah, Nigeria, Mexico, dan Venezuela. Negara-negara ini tergabung dalam organisasi negara-negara pengekspor minyak [OPEXC]. Indonesia pernah menjadi anggota organisasi dunia ini ketika Indonesia masih terhitung sebagai negara pengekspor minyak bumi.

Pada 1956 pecah perang pertama antara negara-negara Arab dibawah komando Mesir melawan Israel yang didukung oleh sebagian besar negara-negara Barat, utamanya adalah Amerika, Inggris, Prancis, dan Belanda. Sejak perang ini pecah minyak bumi digunakan oleh negara-negara Arab sebagai alat untuk menekan negara-negara Barat supaya mengurangi dukungan terhadap Israel dengan cara embargo minyak. Mobil Morris dan Mini Cooper buatan Inggris lahir akibat embargo minyak oleh Arab memaksa negara ini memproduksi mobil nasional hemat bahan bakar minyak. Dan, berhasil, sampai sekarang mobil ini masih tetap diproduksi. Dengan berjalannya waktu minyak tidak dapat lagi digunakan untuk embargo, karena negara-negara Barat berhasil mengatasi ketergantungan minyak terhadap Arab. Inggris berhasil mengeksplorasi minyak di Laut Utara sementara Amerika melakukan eksplorasi di Teluk Mexico dan Alaska. Negara-negara Barat dengan kemajuan teknologi di bidang energi, maka mereka bukan saja berhasil mengatasi ketergantungan minyak terhadap negara-negara pengekspor minyak, melainkan sekaligus mempunyai ketahanan ekonomi di bidang energi.

Untuk memiliki ketahanan ekonomi di bidang energi kuncinya adalah penguasaan teknologi pertambangan mulai dari hulu sampai ke hilir. Walaupun disebut energi tak terbarui lagi, minyak bumi adalah primadona pasokan kebutuhan energi utama di banyak negara, khususnya di Indonesia. Indonesia pernah berjaya memiliki sumber tambang minyak bumi yang berlimpah dan menjadi anggota OPEXC yang disegani selama lebih 30 tahun. Dalam perioda ini Indonesia menjadi kampiun di Asia Tenggara, sehingga Malaysia perlu belajar serius kepada Indonesia dalam menejemen dan teknologi perminyakan. Kedigjayaan perminyakan Indonesia telah berlalu, penyebab utamanya adalah salah menejemen dan peningkatan konsumsi yang semakin bertambah dan cenderung tak terkendali. Salah menejemen adalah satu istilah saja untuk menghaluskan kondisi yang tidak menyenangkan. Apa saja kondisi salah menejemen sehingga negara terkesan gagal menyediakan energi murah dan cukup bagi rakyat? Pertama adalah korupsi yang telah dilakukan oleh birokrat-birokrat di lingkungan dalam perusahaan minyak milik negara dan badan usaha milik negara bidang kelistrikan dan anggota parlemen bidang energi. Pada bulan ini seorang anggota parlemen bidang energi telah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka penerima gratifikasi. Ia adalah Sutan Bathoegana. Tersangka artinya, dia telah terindikasi positif keterlibatannya kongkalingkong. Kedua adalah pertambahan jumlah penduduk yang cenderung tak terkendali. Demografi yang semakin meningkat akan meningkatkan berbagai kebutuhan yang pada akhirnya akan menguras cadangan energi yang ada di negeri ini, seperti jumlah kebutuhan rumah, jumlah kendaraan angkutan umum, darat, laut, sungai, dan udara, jumlah angkutan kebutuhan pokok masyarakat, dan belum lagi ditambah dengan kendaraan bermotor milik pribadi, yakni mobil dan motorbike. Ketiga adalah ketidakadilan menikmati kesejahteraan di negeri ini. Crowded lalu lintas di negeri ini terutama di kota-kota besar provinsi karena keserakahan kepemilikan kendaraan bermotor. Aku telah sering melihat ada banyak keluarga, masing-masing memiliki lebih tiga mobil di dalam garasi, bahkan ada yang sampai lima dengan kapasitas lebih dari 2000 cc. Mudahnya penduduk mendapatkan kendaraan motorbike dengan system kredit.

Pertamina memasok kebutuhan bahan bakar minyak dan gas yang semakin meningkat volumanya untuk dikonsumsi oleh masyarakat, kebutuhan rumah, kendaraan angkutan umum, kendaraan motor pribadi, dan industri. Minyak bumi sebagai tulang punggung energi nasional ini sekarang harus diimpor dari Timur Tengah dan kapasitas produksi kilang minyak di Indonesia juga tidak tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi, maka sebagian minyak bumi yang diimpor terpaksa harus diolah di negara lain. Ada dua jenis bahan bakar minyak yang disubsidi dari uang negara, yakni kerosene dan premium. Subsidi ini telah lama dilakukan dari sejak awal pemerintahan era Soeharto demi pencitraan pemerintah yang baik memperhatikan kesejahteraan rakyat, tetapi pada akhirnya subsidi ini menjadi boomerang beban negara yang teramat berat. Beban subsidi yang semakin berat ini harus ditanggung oleh pemerintah sesudah rezim Orde Baru jatuh. Itu sebabnya, harga kerosene dan bensin di Indonesia dapat lebih murah, bahkan paling murah dibandingkan dengan Singapura, karena separuhnya ditanggung oleh pemerintah. Subsidi itu sebenarnya bantuan langsung dari negara kepada rakyat melalui mekanisme kebutuhan dasar yang dikonsumsi oleh rakyat. Bahan bakar minyak adalah kebutuhan dasar yang dikonsumsi oleh rakyat untuk berbagai keperluan. Banyak subsidi yang harus diberikan oleh negara kepada rakyat, tetapi subsidi bahan bakar minyak adalah subsidi yang paling besar dan berpotensi mengganggu neraca anggaran belanja beaya negara. Inilah pentingnya satu negara mempunyai ketahanan ekonomi di bidang energi, yaitu dapat membuat industri tetap berjalan, industri berjalan, roda ekonomi tetap berputar, roda ekonomi berjalan, pendapatan negara bertumbuh, dan semakin bertambah. Pendapatan negara semakin bertambah, maka rakyat sejahtera.   

Ada dua jenis bahan bakar minyak yang disubsidi dari uang negara, yakni kerosene dan premium. Subsidi ini telah lama dilakukan dari sejak awal pemerintahan era Soeharto demi pencitraan pemerintah yang baik memperhatikan kesejahteraan rakyat, tetapi pada akhirnya subsidi ini menjadi boomerang beban negara yang teramat berat. Beban subsidi yang semakin berat ini harus ditanggung oleh pemerintah sesudah rezim Orde Baru jatuh. Itu sebabnya, harga kerosene dan bensin di Indonesia dapat lebih murah, bahkan paling murah dibandingkan dengan Singapura, karena separuhnya ditanggung oleh pemerintah. Subsidi itu sebenarnya bantuan langsung dari negara kepada rakyat melalui mekanisme kebutuhan dasar yang dikonsumsi oleh rakyat. Bahan bakar minyak adalah kebutuhan dasar yang dikonsumsi oleh rakyat untuk berbagai keperluan. Banyak subsidi yang harus diberikan oleh negara kepada rakyat, tetapi subsidi bahan bakar minyak adalah subsidi yang paling besar dan berpotensi mengganggu neraca anggaran belanja beaya negara. Inilah pentingnya satu negara mempunyai ketahanan ekonomi di bidang energi, yaitu dapat membuat industri tetap berjalan, industri berjalan, roda ekonomi tetap berputar, roda ekonomi berjalan, pendapatan negara bertumbuh, dan semakin bertambah. Pendapatan negara semakin bertambah, maka rakyat sejahtera. Sekarang rakyat tidak lagi menggunakan kerosene sebagai bahan bakar rumah-tangga, sebab kerosene dialihkan menjadi avtur yang lebih menguntungkan negara, sedangkan pengganti kerosene adalah gas cair butane-butylene yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai gas elpiji. Untuk sementara negara bernapas lega, sebab beban subsidi berkurang.

Presiden RI yang akan terpilih nanti untuk perioda 2014 – 2019 seharusnya mempunyai visi menciptakan kondisi ketahanan ekonomi di bidang energi. Dan, rakyat Indonesia sendiri juga dituntut kesadaran menghemat penggunaan bahan bakar minyak. Masyarakat orang yang berpikiran modern tidak membutuhkan public figure sebagai panutan untuk maju, sebaliknya di dalam pikiran masing-masing individu telah ada kesadaran untuk berbuat segala sesuatu yang berguna untuk sesama manusia dan negara. Dan, orang yang berpikiran modern mempunyai kebebasan mengekspressikan suara hatinya tanpa tekanan dari siapa pun. Orang Indonesia belum sampai pada taraf ini cara berpikirnya, maka masih membutuhkan public figure sebagai idola atau panutan untuk mewujudkan suatu visi. Di Indonesia panutan yang paling disegani adalah kiayi, yakni orang Islam pengurus pondok pesantren, apalagi kalau berasal dari pondok pesantren terkenal. Namun, panutan yang normative itu seharusnya dimulai dari presiden, menteri, gubernur, bupati, dan seterusnya. Aku melihat satu tayangan di tv tentang kesadaran penduduk Amsterdam yang setiap hari penduduknya lebih banyak menggunakan sepeda dibandingkan dengan mobil pribadi. Tarif parkir mobil pribadi di sini adalah 100 ribu rupiah pada 1 jam pertama, sedangkan sepeda bebas biaya parkir. Amsterdam adalah satu di antara banyak kota di Eropa yang rendah tingkat polusi udaranya. Aku hanya dapat membayangkan, kalau saja Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dan seterus sampai bupati  memberi teladan naik sepeda setiap hari ke tempat pekerjaan, aku yakin sekali negara dapat menghemat sampai 5 trilyun rupiah, bahkan lebih mungkin.

Bukan perkara mudah menyadarkan lebih 250 juta penduduk negeri ini untuk berpartisipasi kampanye hemat energi. Budaya panutan mungkin hanya sampai dua perioda kepemimpinan kepala negara, pada perioda berikut belum tentu kepala negara yang berikut dapat memberi panutan yang sama, maka yang dibutuhkan untuk mengubah mind-set bangsa ini adalah melalui pendidikan peningkatan mutu karakter bangsa, yakni satu bangsa yang mempunyai kesadaran menggunakan secara terukur, meningkatkan effisiensi dan efektivitas penggunaan sumber energi yang ada. Jadi, perlu ada kebulatan tekad dari bangsa ini sendiri.

Dulu, di Jakarta ada satu asumsi, bahwa dapat disebut kaya secara materi harus mempunyai sedikitnya satu mobil, maka semakin tinggi penghasilan semakin besar nafsu untuk memilki banyak mobil supaya dipandang kaya oleh lingkungan sosialnya. Kondisi sosial seperti ini tentu dimanfaatkan oleh dealer mobil semua merek untuk menawarkan mobil-mobil terbaru mereka. Mind-set seperti ini mungkin telah terbentuk di masyarakat Jakarta sekitar decade 60. Pada masa itu orang baru disebut kaya kalau sudah memiliki mobil merek Impala, maka berlombalah orang untuk memilikinya. Kalau tidak tercapai keinginan dengan Impala, dapat Bel Air atau Vaughan, okay-lah. Sekarang jaman telah berubah, orang disebut berhasil kalau memiliki BMW, bahkan lebih jauh lagi memiliki Lamborghini atau Ferrari, kalau tidak tercapai target seperti itu, ya cukuplah Toyota Camry, dan seterusnya sampai level merek yang lebih rendah. Di Indonesia pada umumnya orang berlomba memiliki mobil pribadi bukan karena kebutuhan, melainkan untuk menunjukkan prestisius, maka tak mengherankan kemacetan lalu lintas semakin parah dan peningkatan polusi udara yang semakin hebat di seluruh kota-kota besar di negeri ini. Mind-set seperti ini memang harus ditumpas melalui pendidikan seperti tersebut di atas. Penambahan jumlah jalan raya, flyover, dan underpass tidak akan menyelesaikan kemacetan lalu lintas, kalau mind-set seperti ini tidak dilepaskan dari pikiran orang Indonesia, maka konsumsi bahan bakar minyak tetap akan semakin meningkat terus. Jadi, perlu ada kebulatan tekad dari bangsa ini untuk mengubah mind-set yang salah.

Indonesia memang bukan tempat yang sangat ideal untuk pembangkit listrik tenaga angin, karena letak negeri ini di garis khatulistiwa menyebabkan pertemuan aliran angin dari dua lautan besar dari utara ke selatan atau sebaliknya, yakni Pasific dan Hindia saling menetralkan. Tetapi bukan tidak mungkin sama sekali dibangun konsentrasi pembangunan pembangkit listrik tenaga angin. Banyak tempat terbuka di Indonesia bagian timur layak  dibangun konsentrasi kincir angin untuk menggerakkan generator listrik, seperti Sulawesi Utara, Pulau Biak, dan Kepulauan Maluku.

Indonesia juga memiliki sumber daya minyak nabati yang sangat berlimpah sebagai biofuel yang berasal dari kelapa sawit. Biofuel diesel digunakan sebagai bahan bakar minyak untuk mobil dan industri. Kiranya cukup banyak pilihan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia yang dapat dikelola sebagai benteng ketahanan ekonomi di bidang energi, asalkan tidak salah menejemen dan tidak ada korupsi bidang energi.-




      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar