Senin, 30 September 2013

Aku Bangga Menjadi Anak Seorang Preman

Aku tidak dapat memilih rahim yang melahirkanku, entah dari suku mana, Batak, Jawa, Sunda, dan seterusnya; entah dari bangsa mana, Inggris, Prancis, Belanda, atau Cina, dan seterusnya; dan, aku sendiri juga tidak dapat memilih seorang laki-laki yang menjadi ayahku dengan pekerjaan seperti apa. Aku dilahirkan di Surabaya tujuh puluh tahun yang lalu. Ketika umurku masih sepuluh tahun aku dan adikku, Hermanu Solmen yang masih berumur delapan tahun dibawa oleh ayahku merantau ke Jakarta. Ayahku dan ibuku keduanya asli orang Surabaya. Kami menetap di satu gang kecil di belakang pasar di Tanah Abang Bukit. Ayahku berprofessi sebagai penjual soto kikil sapi tak jauh dari rumah kami, sementara ibu tetap sebagai ibu rumah tangga. Laris setiap malam selalu habis. Soto kikil khas masakan Surabaya. Aku dan adikku bersekolah di sekolah rakyat negeri  di Jalan Tanah Abang 5. Sampai sekarang pun sekolah ini masih berdiri, namanya menjadi Sekolah Dasar Negeri [aku lupa nomor sekolah ini]. Setiap hari aku dan teman-temanku semuanya sepuluh orang berjalan kaki pulang-pergi dari Tanah Abang Bukit melewati Jalan Abdul Muis. Hati gembira saja tak terasa jalan sejauh itu kami tempuh tiga puluh menit sekali jalan. Sampai di rumah aku langsung belajar karena malam hari harus ikut membantu cuci piring di warung soto ayahku.

Pada satu malam menjelang tutup tempat jualan, kami didatangi empat orang berwajah tidak ramah. Mereka memesan empat porsi soto kikil sapi dan empat gelas es sirop pandan wangi. Selama dua puluh menit mereka makan dan minum tanpa bicara. Sekeliling tempat ayahku jualan memang sudah sepi dari orang jualan kecuali penjual rokok yang memang jualannya dua puluh empat jam, jaraknya kira-kira dua puluh meter ke timur dari tempat ayahku jualan. Sepi waktu telah menunjukkkan pukul sebelas malam. Seorang dari mereka yang bibirnya berkumis tipis memberi isyarat kepada tiga teman lainnya untuk pergi. Ya, mereka pergi begitu saja. Baru lima langkah keluar dari warung, ayahku menegur si kumis, bahwa dia dan teman-temannya belum bayar. Mereka berbalik. Seorang dari mereka yang kulitnya hitam, berambut ikal, dan berbadan gempal maju dengan tangan terkepal siap dengan hook kirinya, berseru keras : “Dibayar pakai ini, yaaakh!.” Seterusnya semua kejadian berlangsung sangat cepat sekali tak sempat aku mengedipkan mata. Kulit hitam gempal dibanting oleh ayahku jatuh ke tanah dengan suara merdu, buuug. Si kumis menyabut belati dari pinggangnya diarahkan ke perut, tetapi tangan kanan ayah memelintir tangan kanan si kumis, selanjutnya mendorong bokongnya dengan keras, dan berakhir masuk ke dalam selokan. Belati terlepas jatuh di kegelapan malam. Dua orang lainnya maju serempak. Tangan kiri ayah menarik kuat tangan kanan orang yang ada di sebelah kirinya, sedangkan orang terakhir jari-jarinya dicengkeram kuat dengan tangan kanan sehingga keluar suara gemeretak suara tulang patah. Larilah mereka. Semua berlangsung tidak sampai lima menit sehingga tak menimbulkan kegaduhan. Itulah untuk pertama kalinya aku baru mengetahui, bahwa ayahku menguasai seni bela diri aikido. Kata ibuku, ayah sudah pegang sabuk hitam dan pernah di Jepang selama satu tahun. Peristiwa duel ini adalah titik balik kehidupan kami sekeluarga. Ayahku didaulat oleh semua pedagang di situ menjadi penjaga keamanan pasar. Waktu itu istilahnya centeng.

Dengan kelebihan sebagai centeng, seharusnya tanpa kerja keras lagi ayahku sudah dapat menghidupi keluarga. Namun, ayah adalah orang rendah hati tetap memilih berjualan soto kikil di Tanah Abang Bukit. Hidup ini tidak gratisan, ada harga yang harus dibayar, demikian pada satu hari ayah memberi nasehat kepada kami. Orang mau disebut terhormat dan mau dimuliakan, maka orang harus bekerja sehingga dia mempunyai nilai-nilai dalam hidupnya. Itulah harga diri. Dan, jangan lupakan ini, jangan sombong, katanya menutup pembicaraan. Tidak selamanya orang menjadi centeng pasar. Walaupun punya kasekten sebagai aikido, karateka, pencak-silat, peyudo, atau apalah namanya, siapa pun tidak akan dapat terhindar dari proses penuaan, menjadi lemah kemudian disingkirkan oleh yang lebih muda dan perkasa … pada akhirnya hilang lenyap ditelan masa. Semasa hidup ayah yang namanya duel antar centeng dalam perebutan wilayah selalu dilakukan satu lawan satu. Kalau kalah, ya mundur secara jantan tanpa ada rasa dendam. Tidak ada tuh yang namanya duel antar jagoan sampai ada pengerahan massa seperti pada jaman seperti sekarang ini. Sampai pada akhir hayat ayahku jumlah jagoan pasar yang pernah dibanting ada mungkin sepuluh orang. Tak ada satu lawan pun yang dapat memegang ujung hidung ayahku. Resmilah di kalangan jagoan ayahku diakui sebagai jagoan Pasar Tanah Abang Bukit. Untuk ukuran jaman sekarang biasa disebut preman.

Ayahku memperhatikan pendidikan pada kami. Aku menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 5 Budi Oetomo Lapangan Banteng. Pada masa itu orang pegang ijazah SMA masih dianggap mempunyai kesaktian ampuh. Sebagai anak Surabaya sejati, ayahku sangat bangga ketika aku mendaftarkan diri menjadi prajurit KKO, yakni Korps Komando Operasi [sekarang namanya menjadi Korps Marinir]. Aku tidak mewarisi aikido sepenuhnya dari ayah melainkan dari teman ayah di Menteng Dalam yang menjadi guru yudo bagiku selama tiga tahun. Namun, paling sedikit ayah telah memberiku dua puluh jurus utama aikido. Aku tidak lupa pada hari pertama ketika aku dan semua green-man menerima pelatihan dari instruktur bela diri, Sersan Mayor Bambang Hariadi, karateka pemegang sabuk hitam. Aku telah dua kali membanting dan menguncinya. Untuk hasil perbuatan ini aku disuruh lari sepuluh kali lapangan bola ditambah push-up tiga puluh kali oleh Letnan Satu Albertus Ginting. “Kalau mau jadi jagoan, tempatnya bukan di sini. Sana jadi centeng pasar!”, katanya.

Aku bangga dengan ayahku, bekas preman Tanah Abang Bukit. Aku bangga karena dari ayah aku belajar kedisiplinan dan nasionalisme. Tidak semua preman jahat. Ayahku tidak pernah memeras pedagang-pedagang di pasar. Bagi Sheriff kota Nottingham, Robin Hood adalah preman meresahkan semua bangsawan di Inggris, tetapi dia pahlawan bagi rakyat. Ken Arok pun pernah menjadi preman sebelum menjadi raja di Singosari. Dalam Alkitab ada satu cerita yang menceritakan, bahwa Yefta orang Gilead yang kerjanya merampok, tetapi akhirnya berbakti kepada Tuhan dengan memerangi orang Amon [Hakim-hakim xi:3]. Tapi, lain dulu lain sekarang. Sekarang preman lebih banyak membuat resah masyarakat. Kalau bukan aku sebagai anaknya, siapa yang bangga terhadap ayahku sendiri. Mungkin pada saat seperti ini hanya dua hal saja yang membuat aku masih memiliki kebanggaan, yakni bangga sebagai anak bekas preman dan bangga sebagai bekas prajurit Marinir. Dulu, yang namanya menjadi KKO bukan saja kebanggaan keluarga, tetapi juga kebanggaan satu bangsa. Betapa tidak, waktu itu Indonesia adalah satu negara yang mempunyai kekuatan laut dan udara yang sangat disegani di Asia Tenggara. Tapi kini kekuatan laut itu seperti besi tua yang sedikit demi sedikit habis digerus oleh karat. Pulau Sipadan dan Ligitan sudah berpindah tangan dari Indonesia ke tangan Malaysia, karena Indonesia kalah dalam berperkara di Pengadilan International di Den Haag. Kemudian dilanjutkan dengan keributan territorial block Ambalat yang kaya minyak karena Indonesia dan Malaysia saling klaim. Hanya satu kata saja yang menjadi sebab utama kekuatan laut kita kedodoran dipermalukan oleh tetangga, yakni : korupsi. Korupsi sedang menggerogoti semua kementrian di pemerintahan, sehingga negara tak banyak mempunyai uang untuk menyediakan kapal perang dan kapal selam penjaga kedaulatan negara.  Jika bangsa Indonesia tidak bijak mengelola sumber daya alam di negeri ini yang sangat beragam dan melimpah, tidaklah mustahil bahkan satu keniscayaan, bahwa bangsa ini akan dapat menjadi budak bagi bangsa lain; bahkan menjadi budak di negeri sendiri. Ayah selalu bersemangat sekali kalau sudah bicara sesuatu yang membangkitkan nasionalisme.

Pada akhir bulan Septemper 1965 terjadi satu peristiwa besar dan memilukan yang belum pernah terjadi di Indonesia setelah Indonesia merdeka 1945, yakni pembunuhan enam perwira tinggi dan satu perwira muda Angkatan Darat. Siapa dalang peristiwa pembunuhan yang sangat menghebohkan sejarah ini? Dengan mudah pada waktu itu semua pihak menyebut, PKI [Partai Komunis Indonesia] adalah dalangnya. Harus ada yang dijadikan kambing hitam, yakni dalang perebutan kekuasaan. Ken Arok bekas pelayan Tunggul Ametung juga telah melakukan coup d’etat terhadap juragannya ini karena ingin memiliki istrinya yang muda dan cantik, yakni Ken Dedes. Tapi pada jaman Ken Arok istilah coup d’etat atau perebutan kekuasaan belum digunakan oleh masyarakat. Ken Arok berhasil membunuh juragannya sekaligus mengawini Ken Dedes tanpa dia harus berurusan dengan masalah hukum, karena dia mempunyai muslihat yang telah disiapkan beberapa bulan sebelum peristiwa pembuhunan ini terjadi. Apa muslihatnya itu? Ia telah menempatkan sahabatnya sendiri, Kebo Ijo sebagai kambing hitam. Kebo Ijo dihukum mati.

Selanjutnya setelah September 1965 sampai pertengahan 1967 banyak anggota PKI di seluruh Indonesia terutama di Jawa dibunuh oleh massa dan tentara dari satuan Angkatan Darat. Dalam suasana chaos yang luar biasa ini, fitnah keji ada di mana-mana terhadap orang yang dianggap pernah menghalangi nafsu jahat. Banyak orang yang ingin menggeser posisi ayah sebagai centeng pasar seperti mempunyai kesempatan dalam kesempitan dalam chaos ini. Mereka menghembuskan fitnah keji kemana-mana, bahwa ayah anggota Pemuda Rakyat, organisasi bawahan PKI. Begitu mudahnya masyarakat terhasut dengan emosi tak terkendali mereka berbondong-bondong menyerbu ke rumah ayah. Tuhan telah melindungi ayah. Lima belas menit setelah ayah dan ibu meninggalkan rumah menuju asramaku di Kwini, mereka mendatangi rumah ayah untuk menculik ayah. Adikku berhasil lolos dari amukan massa dan menyusul kami di asrama. Tak ada lagi tempat aman untuk bersembunyi. Aku titipkan kedua orang tuaku dan adikku di Ciputat di rumah paman bekas temanku di sekolah dasar di Jalan Tanah Abang 5. Satu tahun ayah dan ibu kontrak rumah di sini. Rumah kami di Tanah Ababg Bukit hancur dan rata dengan tanah. Tahulah kami pada akhirnya siapa manusia penyebar fitnah itu. Ternyata adalah tetangga sebelah kami sendiri. Dialah yang kemudian jadi centeng pasar. Yang namanya Yudas Iskariot ada di mana-mana. Tidak hanya di Palestina, tetapi di Tanah Abang Bukit juga ada. Namanya juga perolehan yang bukan berkat dari Gusti Allah, aku dengar dari seorang tetangga kami juga, enam bulan setelah peristiwa penyerbuan rumah kami, dia hilang, entah diculik atau dibunuh. Sampai pada hari tuanya ayah dan ibu menetap di Ciputat karena rumah yang dikontrak dulu telah dibeli oleh ayahku, sementara adikku dan isterinya melanjutkan usaha ayah jualan soto kikil di Pasar Mayestik.

Pada Desember 1967 aku menikahi Mamiek Haryati, gadis Semarang, anak komandanku sendiri yang dulunya pernah aku banting, Letnan Dua Bambang Hariadi. Keluarga mertuaku telah mengetahui dengan pasti siapa ayahku, tetapi justeru mereka bangga menerima aku sebagai bagian dari mereka. Kami menikah pada masa sulit, apa-apa masih serba mahal, tapi akhirnya badai telah berlalu. Kami dikaruniai oleh Tuhan seorang putri yang kami beri nama, Nugrahani Dian Hartati. Kalau umumnya seorang preman mati mengenaskan, mungkin karena perebutan wilayah kekuasaan, badan digerogoti penyakit kronis atau tersingkir dengan cara memalukan, maka ayah meninggal dengan tenang di rumah di kelilingi oleh ibu, anak-anak, cucu-cucu, dan menantu. Ayah disegani baik oleh lawan maupun kawan-kawan, itu sebabnya pada saat kematiannya sangat banyak orang yang mengantar kepergian ayah ke tempat peristirahatan terakhir. Bekas pedagang di Tanah Abang Bukit dulu beserta anak-anak mereka, teman-teman sekolahku dulu, teman-teman dari satuan Marinir, semua menyatu di sini bahkan bekas istri "Yudas Iskariot" itu pun hadir . Aku bangga menjadi anak seorang preman, bekas preman Pasar Tanah Abang Bukit. Aku bangga pernah menjadi prajurit Korps Marinir. Di pusara ayahku tertulis : “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, dia akan hidup walaupun dia sudah mati.” [Yohanes xi:25].- 


Diceritakan kembali oleh seorang bekas prajurit KKO. Semua nama pelaku adalah fiktif belaka.  

   
             


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar