Sabtu, 30 Juli 2016

Totti, Maldini, dan Rooney

Dunia politik banyak diwarnai kemunafikan dan basa-basi politik, maka keduanya sudah cukup membuat muak dan kebosanan untuk mengikuti berita-berita politik. Jangan mengharapkan ada kesetiaan dalam sepak terjang politik. Tidak ada politisi yang setia dengan janji kampanyenya. Memang tidak semua politisi model begini. Ada juga satu dua yang setia dengan janji-janji mereka ketika kampanye, tetapi jumlah politisi yang idealis tidak banyak. Well, well, well, dari pada muak dan bosan melihat tingkah laku politisi konyol seperti mereka, maka ada baiknya kita bincang-bincang dunia socc-er atau sepak bola. Dunia sepak bola adalah dunia nyata tanpa pura-pura. Kita dapat menyaksikan pemain-pemain dua team saling berebut satu bola untuk dioper dan ditendang ke arah gawang lawan. Adakah kesetiaan dalam dunia sepak bola?

Indocement United.
Sepak bola kini bukan melulu permainan tendang dan membawa bola ke gawang lawan, melainkan membawa citra kesetiaan. Kesetiaan terbesar dihadapkan terhadap club dan negara. Tidak perlu banyak bicara faktor-faktor apa saja yang membuat orang memiliki kesetiaan. Setiap orang memiliki alasan untuk setia membela club atau team nasionalnya. Pada jaman manusia dikuasai hedonisme seperti sekarang ini, maka sulit menjumpai kalau ada pemain yang setia terhadap club yang membesarkannya dari awal karir sampai gantung sepatu. Kebanyakan pemain bola lebih memilih bayaran besar. Manakala uang sudah bicara, sulit untuk mengelak bujukan tidak pindah club.

Tidak sedikit menejer club klas dunia harus kecewa bahkan menyimpan kegeraman manakala pemain andalan mereka hengkang ke club lain yang mampu membayar lebih besar. Francesco Totti memulai karir sepak bola professional di team AS ROMA pada 1994. Ia sering ditempatkan pada posisi tengah. Ketika club Italy ini pernah dilanda krisis keuangan, dia bersedia gajinya dibayar dengan surat saham demi clubnya tetap hidup. Bayangkan, dia mau dibayar pakai surat saham. Jelas, pada waktu itu saham club-nya sedang jatuh. Ia main bola demi kegairahan hidup. Sampai dia gantung sepatu, dia tetap di club-nya yang telah membuatnya besar. Ia adalah legenda AS ROMA. Paolo Maldini juga pemain defender klas dunia yang belum ada duanya. Ia adalah legenda AC Milan. Ayahnya juga dibesarkan di club ini. Maldini Senior dan Junior berada di club ini sampai mereka gantung sepatu. Wayne Rooney dilahirkan di club Everton, tetapi dia dibesarkan di Manchester United. Ia mempunyai kegemaran makan menggunakan kupon. Hanya manusia type pekerja keras yang suka makan dengan kupon. Memang dia belum ada sinyal untuk gantung sepatu, tetapi manusia type pekerja biasanya adalah figur setia. Semoga dia tetap setia di club-nya yang sekarang, Man-U.

Tidak banyak, tetapi ada juga orang yang meninggalkan kewarganegaraannya menjadi warga negara lain demi mendapatkan posisi pada satu club. Dan, negara yang dituju juga bukan negara kaya. Mungkin di negara asalnya dia tidak dipandang sebelah mata, maka mencari jalan pintas. Yang penting, anyhow dapat main sepak bola di club ternama dan dia menjadi terkenal. Bagaimana kalau dia tidak produktif lagi dan tetap miskin? Ia pasti ditendang keluar dari club sebelumnya, dan masuk ke club lain yang lebih rendah klasemennya dan seterusnya begitu sampai dia gantung sepatu sama sekali. Harga yang terlalu mahal mengorbankan kebangsaan hanya demi sepak bola.-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar