Sabtu, 25 Juli 2015

Dengan Iman Kita Memandang Masa Depan

Ada seorang perempuan berasal dari Betlehem, Yehuda, Naomi namanya. Perempuan ini bersama dengan suaminya, Elimelekh menetap di Moab sebagai orang asing. Keduanya berasal dari suku Efraim. Pasangan suami-istri ini mempunyai dua orang anak laki-laki, yakni Mahlon dan Kilyon. Kedua anak ini menikah dengan perempuan setempat, yang tua dengan Orpa dan yang muda dengan Rut. Tuhan telah memanggil terlebih dahulu terhadap Elimelekh, kemudian anak pertama, dan terakhir Kilyon, anak bungsu. Naomi telah menetap di Moab selama sepuluh tahun tanpa penerus keturunan. Dalam satu perpisahan yang sangat mengharukan, hanya Rut, perempuan dari suku bangsa Moab yang tetap mengikuti Naomi, sedangakan Orpa kembali kepada kaumnya. Mereka meninggalkan Moab kembali menuju kampung halaman Naomi. Kita sering menyaksikan betapa orang beriman teguh begitu yakin, bahwa perbuatan Tuhan itu baik, walaupun alasan yang paling logis tidak dapat menjelaskan logikanya. Pecaya saja.

Kamos adalah dewa sesembahan orang Moab. Lingkungan sosial keagamaan suku bangsa ini mengelilingi kehidupan keluarga Elimelekh. Tidak ada perkataan di dalam Alkitab yang memberi indikasi, bahwa keluarga ini menyimpang dari Allah bangsa Israel, sebaliknya mind-set kedua menantu keluarga ini tidak mustahil diliputi suasana kekafiran sejak masa kanak-kanak. Kebanyakan istri mempunyai kecenderungan memperhatikan dan mengikuti teladan suami, sebaliknya ada banyak juga istri tetap teguh mengikuti keyakinan agamanya sendiri. Dalam hal ini, Kilyon, suami Rut memiliki karakter yang sangat mengesankan istrinya, yakni kesetiaan terhadap Allah Israel. Perempuan ini menyadari meninggalkan Moab, negeri leluhurnya bersama ibu mertuanya dalam keadaan sengsara, sebab Naomi pulang kembali ke kampung halamannya dalam keadaan tangan yang hampa. Ia tetap setia terhadap kehidupan keluarga Elimelekh, mertuanya, walaupun suaminya telah meninggal. Ia meninggalkan tanah Moab bukan saja secara fisik, tetapi meninggalkan keyakinan agama yang dianut olehnya sebelum memasuki Kanaan. Jadi, ada perubahan secara total terhadap iman yang pernah diyakini sebelumnya. Namun, realitas kehidupan selalu menunjukkan, bahwa kehidupan seseorang diatur oleh sesuatu yang diyakini membuat dirinya merasa nyaman. Faktor apa saja yang membuat seseorang berganti keyakinan sehingga dirinya merasa nyaman ?

Percaya terhadap keyakinan yang memberi keselamatan kekal adalah satu perkara yang sulit diterangkan dengan alasan paling sederhana sekali pun, selain diterima dengan percaya saja Yesus berkata kepada Nikodemus, bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapatkan hidup yang kekal [Yohanes 3:16]. Yesus berkata kepada Marta, bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Nya, dia akan hidup walaupun dia sudah mati [Yohanes 11:25]. Yesus berkata kepada Tomas, seorang murid-Nya, bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang akan sampai kepada Bapa tanpa melalui Dia [Yohanes 14:6]. Ketiga ucapan Yesus ini memiliki makna eskatologis, yakni masa depan sesudah kematian orang percaya secara fisik. Tidak mudah dipahami, apalagi untuk diterima oleh orang yang belum percaya. Untuk memahami ketiga ungkapan ini membutuhkan waktu tidak sebentar dan membutuhkan keberanian untuk menerima suatu kebenaran. Jangan heran ada orang membutuhkan waktu sampai puluhan tahun untuk mempercayai tiga perkataan Tuhan di atas, sebaliknya ada yang langsung menerima kebenaran ini dalam waktu relative singkat. Allah di dalam Kristus memberkati semua orang yang setia mencari kebenaran.  
  
Pikiran yang memimpin rasa ingin tahu. Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma, bahwa iman timbul dari pendengaran, yakni pendengaran akan firman Kristus [Roma 10:17]. Setelah mendengar, kemudian merenungkan. Perenungan adalah kegiatan berpikir yang secara tekun memimpin ke arah kebenaran. Siapa saja yang tidak mau mendengar, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kebenaran. Iman yang alkitabiah adalah menerima keyakinan berlandaskan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Allah di dalam Kristus adalah Tuhan yang Mahaadil dan Mahasetia memberi kesempatan kepada orang yang mengandalkan intelektualnya dalam mencari kebenaran. Koordinat atau titik temu antara pemahaman dari hasil perenungan terhadap firman Tuhan selalu ada celah untuk bertemu dalam setiap konteks. Untuk orang seperti ini memang sulit menerima kebenaran Tuhan, sebab orang ini sangat mengeraskan hati, tetapi begitu orang ini memahami dan memiliki iman terhadap Yesus Orang Nazaret, maka iman orang ini seperti jangkar kapal yang menancap batu karang di dasar laut.

Emosi yang melingkupi jiwa. Ada banyak orang hidup dalam lingkungan orang percaya tetapi bukan karena mereka ini memahami kebenaran Tuhan, melainkan mempunyai hubungan emosi dari orang-orang sebelum mereka, yakni dari orang tua dan orang tua dari orang tua sebelumnya, istri bangsa kafir hidup bersama suami yang telah percaya atau sebaliknya, dan seterusnya. Rut termasuk contoh di dalam konteks ini, dia mempunyai suami orang Yehuda. Untuk orang-orang dalam kelompok ini, maka iman tetap bersemi di dalam roh mereka dengan kondisi orang yang dituakan dalam kelompok ini adalah imam yang konsisten memberi teladan. Orang tua adalah imam bagi keluarga, sedangkan anak laki-laki tertua adalah imam terhadap saudara-saudaranya. Pada suatu hari dalam pengajaran di hadapan orang banyak di Danau Galilea, Yesus berkata kepada mereka, bahwa benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi dia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan karena firman itu, orang itu pun segera murtad [Matius 13:20-21]. Firman Tuhan pasti membangkitkan emosi, apalagi perkataan yang membuat jiwa bergelora sebab sukses dunia mengiringi hidupnya. Orang seperti ini mengikuti kebaktian sebagai kegiatan rutin mekanis, tetapi tidak mengetahui tujuannya datang ke rumah ibadah. Begitu masalah hadir dalam kehidupan orang seperti ini, maka dia melarikan diri dari keyakinannya. Masalah dapat hadir berupa kekecewaan terhadap suami, keteladanan buruk dari orang tua, dan ekonomi. Iblis menggoda iman melalui berbagai peluang yang ada.   

Kehendak pilihan manusia. Gabungan pikiran dan emosi merupakan akibat logis terhadap kehendak bebas manusia. Satu perusahaan menawarkan fringe benefit yang lebih tinggi dan menjanjikan jaminan hari tua yang menyenangkan, maka tidak ada alasan logis untuk mengesampingkan tawaran yang menggoyahkan kesetiaan yang selama ini diberikan kepada perusahaan lama. Ada dua alasan orang berpindah agama berdasarkan kehendak pilihan, yaitu keyakinan baru lebih unggul dibandingkan dengan keyakinan lama dan alasan kedua adalah ada kesejajaran mind-set antara yang lama dan yang baru. Rut dalam konteks ini sangat mempercayai, bahwa Allah bangsa Israel jauh lebih unggul dibandingkan dengan dewa Kamos yang disembah oleh suku bangsanya [Rut 1:16]. Setelah mendengar khotbah Petrus di Yerusalem, maka sekitar tiga ribu jiwa menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Petrus [Kisah Para Rasul 2:31]. Setelah Perang Jawa berakhir pada 1830, banyak orang Jawa mempunyai keyakinan, bahwa keunggulan militer pemerintah kolonial juga keunggulan agama yang dianut oleh orang Belanda. Namun, issu sentral yang memenuhi pikiran kebanyakan orang Jawa pada waktu itu adalah Ratu Adil, Juruselamat orang Jawa. Ratu Adil adalah mind-set yang hidup selama 700 tahun dalam pikiran orang Jawa, maka sepanjang pertengahan abad ke 19 adalah saat “hijrah” bagi ratusan orang Jawa di Jawa Timur dan Jawa Tengah beralih dari iman lama menunju iman Kristus. Pada mulanya diawali oleh ratusan saja di Desa Ngoro, Mojowarno, Jawa Timur, kemudian berlanjut menjadi ribuan orang Jawa Kristen beriman kepada Yesus Orang Nazaret.

Pernyataan Roh Kebenaran kepada roh manusia. Allah di dalam Kristus telah menentukan sejak semula semua orang yang dipilih-Nya sesuai menurut rencana Allah [Roma 8:28-29 dan Efesus. 1:4]. Di Indonesia bukan perkara mudah mengubah keyakinan agama yang selama ini dipegang oleh suku-suku seperti, Banten, Sunda, Melayu, Bugis, Makassar, Madura, Minang, dan Aceh. Apalagi memasuki abad ke 21 kebangkitan rohani agama Islam terjadi di mana-mana di seluruh dunia, bagi mereka alasan logis yang seperti apa untuk menyatakan iman kepada Kristus. Rut berketetapan hati meninggalkan leluhurnya untuk mengikuti Naomi ke Betlehem, sebab dia setia dengan kehidupan keluarga dari suaminya. Namun, iman yang dibangun dalam situasi dan kondisi emosional yang mendalam biasanya rapuh untuk dipertahankan. Dalam konteks ini Rut memiliki hubungan emosional yang mendalam dan pernyataan Roh Kebenaran kepada roh manusia, yakni roh Rut yang menetapkan perempuan ini ditakdirkan menerima karunia keselamatan kekal dari Tuhan. Bukti bahwa Rut telah ditakdirkan untuk diselamatkan adalah dirinya dan Obed, anak hasil pernikahannya dengan Boas tercantum dalam daftar silsilah Yesus Kristus [Matius 1:5].  

Pertobatan merupakan syarat mutlak untuk dapat diselamatkan. Bertobat artinya bertindak, yakni bersedia diperbaharui oleh Roh Tuhan menjadi manusia ciptaan baru. Manusia ciptaan baru mengakui Allah di dalam Kristus sebagai Dia yang secara sah menuntut kebenaran dan terhadap diri sendiri mengakui hidup dalam kecemaran dan ketidakberdayaan. Pertobatan itu membawa aspek suka cita, sebab Allah memberi kasih karunia keselamatan ketika dirinya masih hidup. Dan, pertobatan itu merupakan suatu kesadaran bertindak, memahami tujuan hidupnya berpindah keyakinan. Iman yang sejati tidak pernah ada dalam diri seseorang tanpa disertai pertobatan.

Simpulan. Keselamatan itu seperti orang memilih gerbong kereta api yang akan berjalan menuju ke suatu stasiun tujuan. Di stasiun kereta api besar ada banyak gerbong pada setiap jalur yang akan membawa penumpang ke berbagai jurusan. Salah memilih gerbong akan berakibat salah tujuan. Ada banyak alasan mengapa orang salah memilih gerbong. Rut memilih gerbong yang benar, maka dia mencapai tujuan dengan benar, yakni keselamatan. Kesetiaan Rut terhadap keluarga mertuanya yang tetap setia terhadap Allah Israel, maka dia terhisap menerima keselamatan kekal. Karena iman kepada Allah bangsa Israel, maka Rut beroleh keselamatan walaupun dia bukan orang Yahudi.-


BLOG INI BELUM SELESAI. WILL BE CONTINUED.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar