Sabtu, 08 Februari 2014

Ritual Setiap Tahun Kota Jakarta

Pada 5 Januari 2014 malam sebagian besar penduduk Bekasi sedang menyaksikan berita banjir di Jakarta di berbagai stasiun tv. Hujan deras mengguyur kota ini sejak pagi seakan persediaan air di langit ditumpahkan, seperti air ditumpahkan dari danau raksasa di langit tanpa henti. Keasyikan menyaksikan berita banjir ini tidak berlangsung lama,  sebab air banjir dari kanal begitu cepat masuk ke area perumahan kami, begitu cepat masuk ke ruang tamu sehingga sedikit waktu saja untuk menyelamatkan barang di dalam rumah dari rendaman air banjir. Pada tahun-tahun sebelum ini, banjir selalu di dahului  peringatan, tapi kali ini belum sempat peringatan diberikan oleh security, air banjir begitu cepat mengisi seluruh kantong terendah di perumahan ini dan tanpa ampun lagi banyak mobil tak terselamatkan, termasuk mobilku terendam oleh air banjir. Kami sedang asyik menyaksikan dari tv, bagaimana banyak orang Jakarta menyelamatkan diri dari banjir, justeru tamu tak diundang datang langsung merendam kami.

Dua hari kemudian setelah air banjir surut, kami menyaksikan siaran ulangan dari Metro TV memberitakan, bahwa pada 6 Januari malam banjir bah menerjang Manado di Sulawesi Utara. Air banjir meluncur cepat dan meluapkan sungai yang mengalirkan air dari danau Tondano yang meluapkan kelebihan kapasitas tampung danau. Sendimentasi yang semakin parah di danau ini membuat pendangkalan danau sehingga jika musim hujan tiba, danau ini tidak mampu lagi menampung tumpahan air dari langit, yang ditumpahkan oleh Tuhan. Semakin banyaknya orang membangun rumah di pinggiran danau memberikan sumbangan besar dalam proses sendimentasi di danau ini, sebab setiap kali ada orang membangun rumah, pasti ada penebangan pohon di pinggir danau. Semakin banyak pohon ditebang, maka semakin banyak tanah tergerus dan lepas ke dalam danau apabila hujan tiba, dan proses ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Peristiwa banjir di Manado ini menyerupai dengan bencana tsunami Aceh yang pernah terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, yakni air banjir bandang ini memenuhi sebagian besar jalan di kota ini, dan banyak mobil terseret. Untunglah tsunami kecil yang terjadi di kota ini hanya berlangsung tidak sampai satu hari. Ada tanah perbukitan yang belah dan jalan antara Manado dan Tomohon terputus.

Banjir di perumahan di Bekasi.
Setelah peristiwa bencana alam di Manado, maka bencana demi bencana banjir dan tanah perbukitan longsor melanda di banyak tempat di negeri ini. Banyak tempat yang dulu tidak terhitung sebagai daerah banjir, tetapi kini menjadi tempat banjir, dan setiap hari semua tempat ini menjadi berita banjir di stasiun tv, seperti Tulangbawang, Lampung, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati, Makassar, Mojokerto, Bojonegoro, Situbondo, Semarang, Kendal, Bandung, pinggiran Palembang, Jakarta, terutama di Kampung Pulo dan Kali Pesing, sedangkan Bogor, Cianjur, dan Jombang mengalami tanah longsor di perbukitan. Sebelum bencana banjir melanda negeri ini, bencana alam Gunung Sinabung di Sumatera Utara telah terjadi, yakni erupsi yang disertai abu vulkanik. Apakah Tuhan marah kepada bangsa negeri ini sehingga terjadi bencana demi bencana alam terjadi? Kini Gunung Kelud di Jawa Timur pun mulai batuk menyemburkan debu vulkanik.

Aku merasakan pertama kali dukanya banjir di Jakarta ketika pulang sekolah di SD Negeri di Jalan Tanah Abang 5 sekitar 50 tahun yang lalu. Tinggi air banjir kira-kira setinggi lutut anak usia 8 atau 10 tahun. Dari sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda, Jakarta telah mengenal banjir selama ratusan tahun, karena topografi Jakarta yang dulu disebut Batavia adalah dataran rendah dan rawa yang sangat luas. Pada zaman Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang disebut Batavia hanya sampai batas bekas Gedung Arsip Nasional [belum sampai persimpangan Harmony]. Namun, semakin tahun banjir di Jakarta semakin tidak terkendali, dataran berawa luas yang memberi kontribusi terbesar sebagai resapan air semakin berkurang, karena diurug untuk menjadi permukiman penduduk yang semakin bertambah dan jumlah hutan beton pun semakin bertambah. Ada banyak sungai mengalir ke Jakarta, tetapi sungai Ciliwung yang berasal dari Bogor paling banyak memberi beban air atas kota ini. Selama 350 tahun negeri ini pernah bergaul dengan bangsa Belanda melalui pergaulan yang tidak menyenangkan, yakni penjajahan. Kita pernah belajar apa dari bangsa yang selama ratusan tahun menjajah kita?

Di Indonesia orang Belanda telah membangun waduk Katulampa di Bogor untuk reservoir sungai Ciliwung, setelah waduk ini antara Bogor dan Jakarta melewati Depok air sungai Ciliwung masih harus melewati beberapa reservoir yang luasnya kira-kira sebesar dua kali waduk Sunter. Reservoir memiliki fungsi sebagai perlambatan debit air sungai Ciliwung yang menuju Jakarta. Banyak reservoir dibangun antara Bogor sampai Jakarta dan ditambah dengan kanal banjir barat menunjukkan pemikiran dan upaya jangka panjang pengendalian banjir di Jakarta oleh Belanda sejak dulu. Namun, kini semua reservoir di kawasan Depok telah berubah bentuk fisiknya menjadi perumahan penduduk. Perubahan fungsi ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka pemerintah daerah mengijinkan developer membangun perumahan di semua tempat kosong di Depok, bahkan sampai mengorbankan semua reservoir yang pernah dibangun. Sampai decade 60 sungai ini masih dapat dilalui dengan rakit bamboo atau dengan perahu sampai ke muaranya di Teluk Jakarta. Mulai memasuki Condet kemudian ke Kampung Pulo, tidak jauh dari Kampung Melayu [dulu namanya Meester Cornelis], banyak penduduk membangun rumah di pinggiran sungai ini, sedimentasi hebat pun tidak terhalangi lagi sehingga daya tampung sungai terhadap debit air tidak teratasi lagi, maka setiap musim penghujan banjir selalu mengancam kawasan pinggiran sungai ini. Dan, effeknya sampai ke seluruh wilayah Jakarta. Sedimentasi disebabkan oleh kebiasaan buruk seluruh penduduk Jakarta, khususnya pemukim di sepanjang sungai, yaitu suka membuang sampah ke sungai. Di sungai Code, Jogyakarta penduduk juga banyak menempati pinggiran sungai sebagai permukinan, tetapi mereka disiplin tidak membuang sampah ke sungai. Sampai kiamat Kampung Pulo dan Kali Pesing akan tetap mengalami kebanjiran luapan Ciliwung, jika cara hidup mereka tetap seperti ini, yaitu tidak disiplin membuang sampah pada tempat seharusnya. Orang Indonesia khususnya di Jakarta dan sekitarnya belajar apa dari orang Belanda dalam mengatasi banjir? Amsterdam, Rotterdam, Eindhoven, Den Haag, Groningen, dan seluruh kota di Negeri Belanda tidak pernah banjir selama ratusan tahun, karena nenek moyang mereka telah membangun seluruh system dam dan kanal pengendali banjir.

Kanal banjir timur tidak sempat dibangun oleh Belanda karena PD II pecah. Puluhan tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia kanal ini tidak terealisasi. Realisasi kanal ini terwujud pada saat Jakarta dibawah gubernur Fauzi Bowo, tetapi tampaknya dan menyesal sekali ternyata kanal ini tidak menunjukkan keampuhannya menghadapi banjir 2014. Banjir tahun ini memang tidak besar, tetapi frekuensi pasang dan surutnya sering sekali, sampai sebulan ini banjir di Kampung Pulo dan Kali Pesing belum surut juga. Edaaan!!! Crazy!!!  Sekarang bukan era Sutiyoso atau Fauzi Bowo, melainkan eranya Joko Widodo, yakni gubernur Jakarta asal Surakarta. Ia biasa dipanggil Jokowi. Koran bertiras besar seperti The Washington Post dari Amerika menulisnya sebagai Governor on The Street, artinya gubernur yang suka blusukan. Gubernur baru setahun ini mencoba menata kembali lingkungan hidup warga Jakarta. Idenya tentang banjir adalah mengeruk sediment yang membuat pendangkalan seluruh waduk reservoir di kota ini, antara lain Sunter, Pluit, dan Pulo Mas. Hasil pekerjaannya memang belum optimal, tetapi telah menunjukkan effek nyata. Seorang teman yang menempati rumah di Sunter bercerita kepadaku, bahwa pada era Sutiyoso atau Fauzie Bowo jika hujan deras mengguyur Jakarta pada musim penghujan, waduk Sunter pasti meluber dan membanjiri seluruh perumahan Sunter. Tapi pada musim penghujan tahun ini, isi waduk hanya sampai level setengahnya saja. Selamatlah warga Sunter dari banjir tahun ini. Mas Jokowi harus mengeruk lebih dalam lagi seluruh waduk di Jakarta.

Aku termasuk orang yang tidak menyetujui ide membuat kanal sepanjang satu setengah kilometer dari sungai Ciliwung ke sungai Cisadane di Tangerang. Ide ini secara fisika sederhana adalah menumpahkan sebagian kelebihan debit air Ciliwung ke Cisadane yang dianggap masih memiliki kelonggaran. Jangan merealisasikan satu ide yang tampaknya bagus, tetapi kemudian hari justeru menimbulkan masalah baru, padahal masalah utama terletak pada Ciliwung sendiri. Walaupun hanya satu setengah kilometer, membangun kanal tetap saja mengeluarkan beaya. Sungai Ciliwung dan juga semua sungai di Jakarta harus dinormalkan kembali lingkungannya secara komprehensif, yakni menyadarkan masyarakat supaya tidak membuang sampah ke sungai, menggusur semua bangunan liar di sepanjang pinggiran sungai, dan melarang siapa saja yang akan membangun rumah di pinggiran sungai. Apakah sulit mendisiplinkan orang Jakarta untuk menjaga lingkungan tetap sehat dan nyaman? Orang Yogjakarta, Tarutung, Medan, Makassar, Blitar, Ambon, dan seterusnya di tempat asal mereka masing-masing disiplin dan taat adat menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi begitu mereka berada di Jakarta, anything I do. Semau gue dah! Bayangkan saja ada yang membuang sampah berupa satu spring bed ukuran double ke sungai Ciliwung, bagaimana pintu air Manggarai tidak mampet dengan sampah-sampah seperti ini. Seluruh sampah di sungai Ciliwung sudah melebihi 5 ton per hari, belum termasuk dengan sungai-sungai yang lain.

Darsih adalah seorang ibu rumah tangga [mother for householder] berusia 50 tahun. Ia adalah satu di antara puluhan ribu orang yang settle di pinggiran sungai Ciliwung. Sejak lahir dia menjadi penghuni kawasan pinggiran sungai ini. Seluruh bangunan rumah sepanjang pinggiran sungai ini adalah liar, kepemilikan mereka atas tanah dan rumah yang mereka tempai tidak terdaftar di Badan Pertanahan Nasional Pemerintah Daerah Khusus Jakarta, maka gubernur mempunyai kewenangan menggusur mereka. Ketegasan gubernur untuk menggusur mereka biasanya dihalangi oleh lembaga swadaya masyarakat yang berkedok hak azasi manusia. Memang dibutuhkan seorang gubernur yang tegas, bertangan besi, tetapi bijak dan lemah lembut menimbang perkara demi kepentingan umum seluruh warga Jakarta. Nanti orang yang sok manusiawi dan sok tahu hak azasi manusia bertanya sarkatis, warga Jakarta yang mana. Semua orang sudah tahu, bahwa pahitnya banjir ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat dari yang kaya sampai yang miskin, bahkan jalan protocol di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Utara terendam air banjir. Gubernur Jokowi dan Wakil Gubernur Ahok adalah dua orang yang pantas untuk menangani masalah ini.

Pada mulanya awal abad ke 20 Belanda merancang kota ini untuk jumlah penduduk sampai 800000 jiwa saja. Tapi luas kota Jakarta pada waktu itu sudah beda dengan sekarang yang telah mencapai sekitar 800 kilometer persegi. Jakarta itu idealnya dihuni oleh 4 juta jiwa saja. Kenyataannya sekarang jumlah penduduk telah mencapai dua setengah kali lipat dari angka ideal ini. Kelebihan jumlah penduduk yang sangat besar ini membuat Jakarta seperti orang obesitas. Sebagian besar penduduk melebar ke arah horizontal dan ratusan ribu berada di permukiman kumuh di pinggir sungai. Sudah waktunya mereka harus direlokasi ke rumah susun sehingga pertumbuhan penduduk ke arah vertical. Sudah waktunya orang Jakarta berpikir meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas unggul, bukan bikin anak saja untuk kepuasan diri saja. Pemerintah Daerah Bogor, Depok, dan Tangerang jangan hanya memikirkan daerah sendiri saja. Sungai Ciliwung limpahan airnya mengalir dari Bogor dan Depok, maka untuk menormalkan kembali lingkungan sungai ini bukan hanya responsibilitas Pemerintah Daerah Jakarta saja, melainkan responsibiltas yang melibatkan Bogor dan Depok. Bagi orang Jakarta jangan hanya memberi kritikan kepada Jokowi dan Ahok, tapi tanyalah pada diri Anda, apa yang sudah diberikan oleh Anda untuk kota Jakarta. Jika Anda sudah membuang sampah pada tempatnya [bukan ke sungai], Anda sudah berbuat sesuatu yang berguna untuk lingkungan yang bersih dan nyaman.-

Referensi :
Bang Ali, Demi Jakarta 1966 - 1977 oleh Ramadhan K.H., Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1963.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar