Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Kritik

Pada suatu hari ada seorang perempuan tetanggaku berkata kepada istriku, bahwa kalau Tini itu bukan kakak istriku, pastilah perempuan yang bernama Tini ini akan didampratnya. Apa masalahnya? Begini duduk persoalannya, perempuan tetanggaku ini mengajarkan kepada istriku cara membuat wajik langsung sekalian demo. Hasilnya? Enak! Tidak mengecewakan. Keesokan harinya tanpa sepengetahuan istriku, kakak istriku ini menemui perempuan tetanggaku ini dan berkata bahwa wajik buatannya kurang ini dan kurang itu. Perempuan tetanggaku tidak terima dengan segala ucapan kakak istriku ini.

Perempuan tetanggaku ini orang Magelang  dan umurnya kira-kira 50 tahun. Magelang terkenal sebagai kota di mana Akademi Militer Indonesia berada dan terkenal dengan kue wajik yang menjadi ciri khas kota ini. Di kota ini yang terkenal adalah wajik dengan brand Nyonya Kweek. Bagi kebanyakan orang kota ini, wajik adalah makanan yang lumrah dibuat oleh orang di sini. Ibaratnya, orang Magelang tentu lebih banyak tahu cara membuat wajik dibandingkan dengan orang Palembang atau orang Minang. Begitu logikanya, bukan? Aku juga harus mengakui jujur, bahwa temanku laki orang Palembang lebih piawai membuat pempek dibandingkan denganku orang Blitar, walaupun aku pernah menetap di Palembang selama lima belas tahun. Aku tahunya makan pempek. Jadi? Jangan mengajarkan kepada buaya bagaimana seharusnya berenang. Apa yang telah dilakukan oleh kakak istriku itu namanya kritik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik artinya kecaman atau tanggapan yang kadang-kadang disertai pertimbangan baik atau buruk. Tidak semua orang dapat menerima kritik, walaupun disertai alasan logis, apalagi feeling sedang tidak mood disodori kritik, jadinya seperti menyiram satu pletikan api kecil dengan bensin. Langsung kebakaran besar. Mau bicara tentang kritik rasanya kurang lengkap kalau tidak menyertakan romo Suseno dalam bukunya Etika Jawa. Bukan kebetulan juga pelaku cerita di atas adalah orang-orang Jawa, maka aku mau bicara sedikit beretika dalam memberi kritik. Kritik dapat dilakukan oleh berbagai etnis dan bangsa mana pun. Jaman sekarang anak saja sudah berani memberi kritik kepada orang tua. 

Lima puluh tahun yang lalu dalam dunia pendidikan tinggi ada satu istilah yang disebut dosen killer. Siapa saja yang berani mengeritik kepada seorang dosen, maka bersiaplah menjadi mahasiswa abadi alias tidak pernah menyelesaikan kuliahnya pada waktunya. Jangan mengeritik, terima saja apa kata bu dosen, baik atau buruk yang penting lulus (Ashadi Siregar, novel, Jakarta : 1976). Hasilnya? Setelah bertahun-tahun mereka digembeleng untuk menyenangkan hati dosen the killer, maka jadilah mereka pekerja-pekerja bermental "yes man" atau asal bapak senang selama enam dekade kepemimpinan Bapak Orde Baru. Kritik untuk membangun pasti okay? Seperti apa kritik untuk membangun? Benny Moerdani adalah jenderalnya Soeharto yang disegani di antara sesama jenderal pernah dengan beraninya di hadapan "Pak De"nya ini mengkritik secara empat mata perilaku bisniz anak-anak laki Soeharto. Hasilnya? Ia dicopot tak lama kemudian (Salim Said, Bandung : 2014, hlm. 325). Suatu kondisi kritis tidak dapat dibiarkan berlarut-larut yang dapat mengancam kerukunan, maka diperlukan pula suatu terobosan untuk mengatasi kondisi kritis. Membutuhkan keberanian luar biasa untuk mengkritik orang yang sangat berkuasa pada waktu itu, walaupun mungkin menyadari bahwa dirinya siap menjadi tumbal.

Romo Suseno berkata, bahwa para orang tua supaya mendidik anak-anak mereka berani untuk berbicara. Dan, romo selanjutnya juga berkata bahwa dari sejak dini anak-anak dididik apa artinya menjaga kerukunan. Kerukunan dimulai dari keluarga inti, yakni ayah, ibu, dan anak-anak. Masyarakat adalah kumpulan keluarga-keluarga berantakan, agak rukun, dan rukun benaran. Keluarga-keluarga rukun relatif lebih mudah bersosialisasi, sementara yang berantakan cenderung menutup diri dan akhirnya tersisihkan sebagai orang-orang tertolak di tengah suatu masyarakat. Keluarga-keluarga perlu rukun, maka itu disebut rukun tetangga. Apa sih yang disebut rukun?

Rukun berarti kondisi tenang dan tenteram. Kondisi seperti ini dapat tercapai, apabila individu-individu lebih mengutamakan kepentingan kelompok. Dan, kondisi seperti ini dapat tercapai, apabila satu terhadap yang lain saling menghormati. Individu-individu yang lebih muda usia mendahulukan mereka yang lebih senior, sementara yang lebih tua bersikap mengayomi yang lebih muda. Realitas Injil mengatakan demikian, hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, dan hormatilah raja. Raja? Engkau menempatkan dirimu menghormati orang yang lebih dimuliakan, bukan semaumu sendiri. Semua suku bangsa di Indonesia memegang prinsip saling menghormati berdasarkan strata sosial. Pada beberapa suku bangsa di Indonesia membuka isi hati secara terbuka terlebih terhadap orang yang dituakan, maka tindakan ini dapat menimbulkan ketidaktenangan lingkungan. Lebih baik duduk manis tidak berbuat apa-apa daripada bertindak tapi menimbulkan kondisi tidak tenang. Namun, sekiranya engkau memang terpaksa harus memberi kritik, maka haruslah engkau menggunakan idiom-idiom untuk menjaga perasaan orang lain. Inilah yang dimaksudkan oleh romo Suseno, engkau mempunyai keberanian berbicara, sebaliknya engkau juga menghormati orang yang engkau ajak bicara supaya kondisi tenang dan tenteram tetap terjaga. Idiom itu seperti ini contohnya :"Black forrest cake yang ibu buat itu sudah enak, tapi tentu akan lebih enak bila ditambahkan sedikit kirsch wasser."

Pada masa kini kritik tidak lagi untuk menegur seseorang atau institusi supaya bekerja lebih baik lagi, melainkan mengumpulkan kekurangan atau kesalahan orang lain untuk menjatuhkannya. Ketika William Earl Clinton atau yang lebih dikenal dengan Bill Clinton mencalonkan diri menjadi presiden Amerika Serikat ke 42, ada satu issu politik yang dipakai oleh lawan politiknya, yakni issu Perang Vietnam. Ketika perang Vietnam sedang berkecamuk dari 1960 - 1975, dia memang tidak ikut terjun dalam peperangan ini, tapi dia dapat menepis kritik atas issu ini. Kasus kedua, ketika Joko Widodo mencalonkan diri menjadi presiden Republik Indonesia untuk perioda ke dua, dia diterpa dengan berbagai kritik untuk menggagalkan pencalonannya, antara lain : pemerintah yang lamban menghandel bencana, dekat dengan pemerintah Tiongkok, menjual negara ke Tiongkok, pernah menjadi anggota Partai Komunis Indonesia, ada keturunan Tionghoa, dan melakukan kebijakan ekonomi yang salah. Serangan kritik yang semakin menggunung adalah realitas kehidupan, semakin tinggi kedudukanmu sebagai public figure, maka semakin banyak mendapat serangan kritik. Hanya orang yang bermental negarawan yang mampu menghadapi serangan kritik bertubi-tubi. 

Di negeri ini paling tidak ada dua orang ahli ekonomi makro dan satu orang ahli politik yang gemar memberi kritik kepada pemerintah yang dinilai salah dalam menentukan kebijakan ekonomi. Rasanya mereka tidak bahagia kalau satu hari saja tidak memberi kritik. Lebih baik dalam kehidupanmu sehari-hari menjadi garam dan terang bagi lingkunganmu daripada memberi kritik yang mungkin justeru menciptakan kondisi yang tidak tenang dan tenteram. Jangan menuntut orang lain untuk berubah karena kritikanmu, sebaliknya perubahan dimulai dari dalam pribadimu terlebih dahulu. Berprestasi tentu lebih baik daripada sering melemparkan kritikan kepada orang lain. Keluarkanlah dahulu balok dari dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata orang lain (Matius vii:5). Sebagai penutup tulisanku ini, aku menyajikan singkat kisah sejarah yang pernah terjadi di Jawa Timur, yakni kisah pemberontakan Rangga Lawe (Mulyana, Yogyakarta : 2005, hlm. 207).

Rangga Lawe adalah seorang ksatria, anak bupati Sumenep, Wiraraja yang menetap di Tuban. Ia termasuk ikut berjuang bersama Raden Wijaya mengusir tentara Tartar Kubilai Khan keluar dari pulau Jawa. Lama setelah tentara Tartar terusir dari pulau Jawa, dia datang ke kerajaan menghadap Raden Wijaya, raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardana. Di hadapan raja dengan basa-basi kerajaan sekedarnya dia langsung mengutarakan kritik tajam sebagai bentuk kekecewaan yang amat sangat mengapa bukan dia atau Lembu Sora, pamannya yang diangkat menjadi patih.

Memberi kritik tajam dan secara terbuka di hadapan raja dan pembantu-pembantu raja adalah suatu tindakan yang sangat lancang, tetapi siapa yang berani menghadapi Rangga Lawe, pahlawan perang dari Madura yang masih mempunyai pasukan di Tuban. Rangga Lawe adalah orang lapangan yang punya pengalaman tempur yang tak bisa dipandang enteng dan raja masih menghormatinya. Ibaratnya, dia itu panglima komando daerah militer yang dapat menggerakkan pasukannya untuk melawan kerajaan. 

Demi menjaga wibawa raja, Kebo Anabrang, komandan pasukan Majapahit perang tanding melawan Rangga Lawe di sungai Tambak Beras. Dua orang sakti dan berpengalaman perang kini berhadapan face to face. Lawe kalah dan mati berdarah-darah di tangan Anabrang. Tidak tega melihat keponakannya mati teraniaya, Lembu Sora meloncat ke sungai menikam Anabrang dari belakang dengan kris, tembus ke tulang belikat dan mati. Lembu Sora seharusnya dihukum mati menurut KUHP kerajaan, tetapi oleh kebijakan raja, dia dihukum buang, artinya dia tidak boleh melihat Majapahit lagi selamanya 

Hati-hati untuk memberi kritik!!! 

Sumber-sumber pustaka :
Siregar, Ashadi, Cintaku Di Kampus Biru, Novel, Jakarta, 1976.

Film Cintaku Di Kampus Biru, sutradara : Ami Priyono, Yogyakarta, 1976.

Suseno, Franz Magnis, Etika Jawa, Jakarta : Gramedia, cetakan III, 1988.

Muljana, Slamet, Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit, Yogyakarta : LKIS, cetakan I, 2005.

Said, Salim, Dari Gestapu Ke Reformasi, Bandung : Mizan, cetakan III, 2014.


Selasa, 08 Desember 2015

Orang Yang Tidak Mempunyai Malu Lagi

Bahagia orang yang masih mempunyai rasa malu. 
Kriteria hewan adalah makhluk hidup memasukkan makanan ke mulut langsung melalui mulutnya, mempunyai ekor, dan tidak mempunyai rasa malu. Ketiga kriteria inilah yang membedakan manusia terhadap hewan. Mari kita buktikan bersama-sama. Sapi, kuda, kambing, domba, ular, cacing, kucing, monyet, simpanse, harimau, anjing, singa, burung rajawali, ayam, paus, ikan hiu, buaya, kuda Niel, hewan-hewan ini sebagian saja aku sebutkan di sini. Mereka jelas hewan. Mereka memasukkan makanan langsung menggunakan mulut mereka. Beda dengan manusia yang memasukkan makanan ke dalam mulut dengan menggunakan tangan. Jika ada manusia makan menggunakan sendok dan garpu, itu hanya masalah kebudayaan saja. Intinya tetap menggunakan tangan. Tapi monyet makan pisang dengan menggunakan tangannya. Jadi, monyet sama dengan manusia, dong. Nanti dulu, jangan gembira dulu. Apakah ada manusia di dunia ini mempunyai ekor seperti monyet atau anjing? Tak adalah! Monyet dan manusia jelas beda.

Semua hewan tidak mempunyai rasa malu. Mengapa hewan tidak mempunyai rasa malu, sedangkan manusia mempunyai rasa malu. Di taman Eden, begitu menyadari diri mereka telanjang, maka mereka merasa malu dan bersembunyi di balik semak-semak. Telanjang itu membuat rasa malu. Manusia pejantan membutuhkan pakaian untuk menutupi batang kontolnya, manusia perempuan membutuhkan pakaian untuk menutupi memeknya. Pada manusia primitive, mereka tetap diajarkan berpakaian menurut adat, walaupun terbuat dari bahan yang sangat sederhana, terutama untuk menutupi roket torpedonya. Tidak ada ceritanya monyet, anjing, simpanse atau kucing pakai setelan jas karena malu, menyadari diri mereka telanjang.

Jadi? So? Manusia yang sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, maka manusia seperti ini layak digolongkan dengan hewan. Aduh, teman tega benar engkau menyebut mereka hewan. Apakah tidak ada sebutan lain yang lebih manusiawi? Orang seperti ini hanya karena memiliki satu set hardware manusia, maka secara lahiriah masih digolongkan sebagai manusia, tetapi software-nya sudah layak disebut hewan.
Rasa malu itu berkaitan dengan etika atau prinsip-prinsip moral. Dulu, ketika beta masih belajar tentang etika, maka guru mengajarkan, bahwa pada jaman dulu dalam lingkungan masyarakat Jawa diajarkan segi tiga rasa menjaga perasaan terhadap diri sendiri dan orang lain, yakni roso wedi, roso isin, dan roso sungkan. Tiga rasa ini diajarkan oleh orang tua terhadap anak-anak sejak dini di dalam keluarga. Berurusan dengan orang Jawa tidak lepas dari masalah rasa. Dalam setiap situasi dan kondisi tertentu, maka ketiga rasa ini sangat dihayati dan dilaksanakan.

Wedi, artinya takut baik terhadap ancaman fisik dari luar, maupun terhadap suatu perbuatan yang dinilai tidak pantas dilakukan yang mungkin dapat menyinggung perasaan orang lain. Anak akan dipuji sebab mempunyai roso wedi terhadap orang yang lebih tua, baik di dalam lingkungan keluarga sendiri maupun terhadap orang asing. Setelah wedi, anak Jawa dididik dengan tingkatan roso berikut, yakni isin. Isin, artinya malu. Rasa malu dapat terhadap dirinya, sebab merasa tidak layak tampil di muka umum, misalnya belum mandi dan wajah masih kusut. Kedua, rasa malu sebab telah melakukan suatu tindakan yang tidak terpuji di dalam tata pergaulan maupun di tempat pekerjaan. Misalnya : tidak menghormati secara tepat terhadap seseorang yang sepantasnya dihormati, melakukan tindakan yang tidak lazim, atau tidak tahu diri kalau dirinya pernah terlibat masalah hukum. Rasa malu adalah pendidikan utama ke arah kepribadian matang dalam etika Jawa. Ketiga, rasa sungkan. Sungkan, artinya rasa takut dalam arti positif. Sungkan adalah membatasi diri berintraksi terhadap orang lain demi menghormati privasi orang lain tersebut [Proverb xxv:17].
Namun, saat ini ketiga rasa ini mengalami degradasi etika di semua lapisan masyarakat Jawa. Saat ini sudah banyak orang Jawa tidak punya rasa wedi, malu, atau sungkan. Mengingat masyarakat Jawa mempengaruhi sedikitnya enam puluh persen dari seluruh kondisi sosial di Indonesia, maka suku-suku lain ikut terimbas. Saat ini banyak orang Jawa seperti tidak mempunyai malu lagi. Tidak mempunyai rasa malu, artinya sudah tak tahu diri lagi.

Pernah ada seorang anggota partai memimpin organisasi olah raga dari balik dinding penjara, sebab dia berstatus terpidana dan sedang menjalani hukumannya. Kalau dia tahu diri, seharusnya dia mengundurkan diri baik sebagai anggota partai maupun sebagai pemimpin organisasi olah raga ini, walaupun tidak ada peraturan dasar organisasi yang mengharuskan dia mengundurkan diri. Tapi dia tidak tahu malu. Keluar dari penjara, dia terus melanjutkan kepemimpinannya di organisasi olah raga ini. Ia mundur setelah didesak paksa oleh masyarakat. Ora tau isin. Ia memang bukan orang Jawa, tetapi aku percaya banget, bahwa suku tempat asalnya pasti mengajarkan apa arti tahu malu. Ada seorang bekas anggota dewan representative sudah jelas terbukti terima suap dan vonnis telah dijatuhkan terhadap orang ini, tetapi orang tetap ngotot merasa tidak bersalah. Anggota dewan yang tidak tahu diri. Pada Desember tahun ini diselenggarakan pemilihan kepala daerah setingkat gubernur dan bupati di seluruh Indonesia. Ada sepasang calon gubernur dan wakil gubernur terpaksa ditolak oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah. Mengapa mereka ditolak? Sebab calon gubernurnya, ternyata masih mempunyai masalah hukum dengan status terpidana. Orang ini sudah memakai baju orang penjara, warna oranye. Calon gubernur ini manusia tidak tahu diri. Ora isin neh!!! Tergolong hewan?

Dan, ini berita paling panas dari November sampai pada bulan ini dan tahun ini. Ada seorang yang berkecimpung di dalam dewan representative telah membuat banyak berita yang membuat heboh republik ini. Ia menjadi news maker pada tahun ini. Ia melakukan tindakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang bukan menjadi domain kerjanya. Domain bagi dia adalah pihak pembuat undang-undang, bukan melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh pihak eksekutif atau pemerintah. Perpanjangan kontrak kerja dengan perusahaan asing multi nasional adalah urusan pemerintah. Siapakah dia? Ia adalah Setya Novanto. Dari namanya saja kita mengetahui bahwa dia adalah wong Jowo, walaupun bukan kelahiran Jowo mana pun.

Orang ini telah melakukan suatu tindakan tidak etis, yakni tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang masih memiliki segi tiga rasa tersebut di atas. Tindakan etis itu menyangkut pertimbangan tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk. Di negara mana pun dewan reprensentative itu tugasnya di dalam negeri berurusan dengan undang-undang, sebaliknya tugas eksekutif atau pemerintah dapat di dalam negeri atau ke luar negeri. Urusan perpanjangan kontrak kerja dan saham dengan perusahaan multi nasional adalah tugas pemerintah melalui kementerian pertambangan, bukan kewenangan dewan representative. Orang ini sudah tidak wedi dan tidak sungkan lagi terhadap presiden yang merupakan komandan tertinggi dari pihak eksekutif. Dan, tidak isin lagi, sebab tidak berpikir panjang sebelum berbuat. Di negara-negara yang sangat menjunjung etika, orang yang terbukti atau baru saja pada tingkat dicurigai melakukan tindakan tidak etis, maka orang ini langsung menyatakan mundur dari jabatannya, sebab etika mengajarkan supaya orang mempunyai rasa wedi, isin, dan sungkan. Presiden sudah berkata, bahwa dirinya tidak keberatan dirinya disebut presiden bodoh, tetapi jangan membawa nama presiden dalam hal melakukan tindakan tidak etis demi mencari keuntungan pribadi.

Tentu ada sesuatu yang membuat manusia tidak tahu diri lagi sehingga hilang rasa malunya. Apa itu? Saiki iki wis jamanne jaman edhan. Edhan tenanan. Nek ora melu edhan bakale ora keduman. Edhan dan gendeng itu beda. Gendeng itu orang yang tidak mampu mengendalikan diri lagi dalam melakukan tindakan apa saja, sebaliknya edhan itu pelakunya masih dapat mengendalikan diri, tetapi tindakan yang dilakukannya adalah satu bentuk kenekatan. Edhan itu sama dengan crazy. Di Jakarta semua sopir angkutan umum metro mini pada edhan mengendarai mobil, demi mengejar setoran yang semakin sulit diperoleh dalam satu hari. Ini tergolong edhan. Edhannya sopir metro mini tentu beda dengan edhannya orang di lingkungan dewan representative pusat di Jakarta. Seedhan-edhannya sopir metro mini hanya untuk mengejar setoran sebesar satu juta rupiah per hari, sementara banyak anggota dewan representative berpacu dalam korup dengan nilai yang sudah menggoyahkan kepercayaan rakyat terhadap mereka. Saat ini ketua dewan representative pusat sedang menjadi sorotan masyarakat luas di Indonesia, sebab telah melakukan tindakan tidak etis yang merendahkan martabat bangsa ini, khususnya martabat dewan representative pusat berkedudukan di Jakarta. Wong ora tau isin, neh!!! Termasuk hewan?


Rabu, 16 Juli 2014

Siap Menang Dan Siap Kalah



Roti sobek isi smoked beef.
Pada 9 Juli 2014 pertandingan sepak bola Piala Dunia 2014, semi final antara Brazilia berhadapan dengan Jerman. Dari sejak semula aku menjagokan Jerman, kampiun dari Eropa dengan semua pemain andalan, seperti Muller, Klose, Kroos, Ozil, Khedira, Podolski, dan lain-lain mereka tampil dalam kondisi prima. Semua orang di seluruh dunia pasti mengetahui, bahwa lawan Jerman bukan tim sembarangan, yakni kampiun klas dunia, Brazil yang telah menjadi legenda juara enam kali Piala Dunia. Jerman bertarung di rumah sendiri tim Brazil di kota Belo Horizonte. Setiap tim yang terlibat dalam pertandinganini hanya ada satu di dalam pikiran mereka, yakni harus menang. Untuk apa pergi jauh melintasi lautan luas menuju Brazil kalau bukan untuk satu tujuan menang. Bagi Brazil sepak bola adalah nasionalisme, kebanggaan rakyat, prestisius yang harus dipertahankan mati-matian, apalagi negeri ini telah mengeluarkan 11 milyar USD ongkos untuk membiayai Piala Dunia 2014, maka kata menang yang ada dalam pikiran setiap Brazilian. Dalam pertandingan apapun pasti ada yang menang, juga pasti ada yang kalah, maka yang paling penting dalam menjalani hidup ini adalah siap menghadapi kekalahan dengan hati ikhlas. Ada yang menang dan ada yang kalah adalah realitas kehidupan.

Pukul 03.00 waktu Indonesia Barat pertandingan dimulai. Brazil dengan gerakan menyerang menguasai bola dari sejak awal, sementara Jerman dengan gerakan rileks menghadang bola lawan, take over bola kepada teman dengan arah yang baik, semua gerakan ini dilakukan dengan disiplin dan konsisten. Sebagian besar tempat duduk di stadion diwarnai oleh kaos warna kuning dan meriahnya penonton dan penggila bola. Brazilian penggila bola paling gila. Dari anak-anak sampai kakek-nenek, laki dan perempuan, semua penggila bola. Mungkin balap mobil dan bola volley adalah selingan orang Brazil. Walaupun selingan olah raga selain sepak bola, tim bola volley Brazil selalu masuk kampiun dunia. Siapa yang tak mengetahui pembalap mobil F-1 terkenal dari Brazil, Emmerson Fitipaldi atau Arton Senna?

Pertandingan baru berjalan 11 menit, jala gawang Brazil bergoyang keras oleh terjangan bola yang ditendang keras dari kaki Mueller, nomor punggung 13. Bermula bola berada di area sudut kiri Brazil, lalu ditendang ke tengah, kira-kira 15 meter dari gawang, di sini ada Mueller, tanpa ampun langsung dieksekusi. Seluruh penonton kaos kuning di stadion Mineirazo terkesima tidak percaya dengan pemandangan ini. Semudah itu lawan menerobos barisan defender Brazil dan memasukkan bola ke gawang. Pemandangan yang wajar diterima logika adalah sebelum lawan bercucuran keringat, maka lawan tidak akan semudah itu memasukkan gol ke gawang Brazil. Belum lagi rasa terkejut orang Brazil hilang, baik yang main di lapangan maupun penonton di stadion, maka Klose dua menit kemudian di depan gawang telah menendang bola dengan kaki kanan dan terciptalah gol kedua untuk Jerman. Kejadian berikut membuat pemain tim Brazil menjadi frustasi dan membuat bungkam seisi stadion, sebab gol ketiga dan keempat tercipta tidak sampai satu menit dilakukan oleh Kroos, dua menit setelah Klose. Gol kelima dibuat oleh Khedira dan penutup untuk 1st half play. Orang Jerman belum mengeluarkan keringat untuk lima gol ini. Pada 2nd half play gol keenam dieksekusi oleh pemain yang baru masuk ke lapangan menggantikan Klose. Aku mempunyai kebiasaan berdoa pada pagi hari. Aku pejamkan mataku berdoa. Mungkin lima belas menit aku berdoa. Ketika aku membuka mata selesai berdoa, skor Jerman sudah menunjukkan tujuh. Ketika waktu menunjukkan angka 90 plus additional time, Brazil memasukkan bola ke gawang Jerman. Hadiah hiburan dari Tuhan untuk Brazil. Jerman menang tanpa keringatan, skor 7 - 1.

Siap menang dan siap kalah. Tim Oranje lawan White Cement.
Satu hari setelah pertandingan semi final ini, mudah ditebak reaksi public Brazil atas kejadian memalukan ini, ekspresi kekecewaan orang Brazil dari berbagai lapisan masyarakat. Semua surat kabar menuliskan berita dengan nada ejekan terhadap pelatih Brazil, Luiz Felipe Scolari yang dianggap bertanggungjawab terhadap kekalahan yang sangat mencoreng muka. Tidak cukup surat kabar dalam negeri, surat kabar luar negeri pun, termasuk KOM.PAS dari Indonesia tidak kalah seru memberi komentar atas kekalahan yang menghebohkan dunia. Scolari dianggap sudah merasa nyaman dengan pemain-pemain muda andalannya yang selama ini telah memberi kontribusi bagus pada semua laga uji coba, baik di dalam maupun di luar Brazil. Dan, bukan hanya itu saja sebab dia mengandalkan dua pemain muda, Neymar dan Da Silva yang dianggap jimat sakti bagi team-nya, begitu kedua pemain muda ini bermasalah pada tulang punggungnya sebab cedera dari pertandingan sebelumnya, maka team Brazil sangat kehilangan roh permainan mereka. Kemana pemain-pemain senior seperti, Roberto Kaka, Ronaldinho, dan Robinho? Seandainya ketiga jagoan senior ini dipasang, mereka pasti dapat menjadi penahan kokoh terhadap serangan Jerman, walaupun Neymar absent di lapangan. Nasi sudah menjadi bubur tidak ada guna berandai-andai.

Gagal di semi final setelah ditaklukkan oleh Jerman, maka masih ada satu peluang lagi untuk menjaga martabat para Brazilian dalam dunia sepak bola, yakni pertandingan melawan Belanda untuk memperebutkan tempat ketiga. Betapapun hebatnya perlawanan Brazil melawan Belanda dalam pertandingan ini, dan katakanlah menang, maka hasil pertandingan ini tidak akan dapat menutup kekecewaan para Brazilian. Di hati terdalam para Brazilian, mereka masih mengharapkan matahari masih dapat bersinar terang di tengah awan mendung yang membuat langit Brazil gelap gulita, daripada tidak mendapat sesuatu pun yang tertinggal, pertarungan melawan Belanda harus menang, walaupun di tengah duel yang tidak diharapkan. Namun, sesuatu apa pun yang sangat diharapkan oleh manusia, hanya kehendak Tuhan yang jadi, sebab yang terjadi adalah Brazil dikalahkan oleh Belanda dengan skor 3 – 0. Lengkaplah sudah, Piala Dunia 2014 menjadi mimpi buruk bagi tim legenda Brazil yang telah menjadi juara Piala Dunia enam kali. Namun, sebagai satu bangsa yang sangat menghargai fair play, maka tragedy kekalahan ini tidak menimbulkan kerusuhan massal yang dapat mengganggu ketertiban umum. Para Brazilian telah menerima kekalahan dengan jiwa besar.

Pengkhotbah berkata, manusia harus memperhatikan pekerjaan Tuhan! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan oleh-Nya? Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan oleh Tuhan seperti juga pada hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya. Pekerjaan Tuhan dari sejak semula adalah menciptakan seluruh isi semesta alam. Kalau engkau pada hari ini masih dapat makan, ini adalah pekerjaan Tuhan juga, yakni engkau masih dipelihara oleh Dia yang Mahamurah. Tuhan banyak melakukan perbuatan ajaib yang tidak terpikirkan oleh jangkauan logika manusia. Manusia membuat prediksi menurut kecerdasannya sendiri yang terbatas, tapi sering lupa, bahwa hanya racangan Tuhan saja yang terlaksana. 

Pada hari yang sama dengan pertandingan semi final antara Brazil dengan Jerman, pada pukul 08.00 waktu lokal orang Indonesia melakukan pemilihan calon presiden RI untuk perioda 2014 – 2019, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo alias Jokowi. Pemilihan kali ini dinilai oleh banyak kalangan sangat disambut antusias oleh banyak orang Indonesia, di dalam negeri maupun di luar negeri. Pertempuran sengit head to head antara kebangkitan Neo Orde Baru dengan kelompok muda pendukung Revolusi Mental. Selesai pencoblosan lembaran surat suara pilihan, selanjutnya bergulir proses penghitungan cepat [quick count] yang dilakukan oleh lembaga survey kedua pihak yang bertarung. Ternyata hasil hitung cepat yang disiarkan melalui channel tv dari kubu Bowo berbeda dengan kubu Jokowi. Lembaga survey masing-masing pihak saling mengunggulkan satu terhadap yang lain. Mana yang benar dan mana yang abal-abal? Pada akhirnya Komisi Penyiaran Indonesia melarang semua stasiun tv menyiarkan hasil hitung cepat.

Pada pertandingan sepak bola orang menghitung skor tertinggi, tim yang mendapat skor lebih tinggi dari lawannya, maka tim inilah yang menang. Dua tim yang berlaga di lapangan, masing-masing tim menginginkan dengan keras kemenangan dengan skor setinggi mungkin. Jika keadaan memang memungkinkan, skor Jerman atas Brazil dapat lebih dari 7 – 1. Kemenangan adalah tujuan yang didapatkan pada satu laga, tetapi juga harus ditanamkan kemenangan yang memiliki nilai-nilai etika. Pertarungan sengit pemilihan calon presiden tidak berbeda seperti pertandingan sepak bola, kedua pihak calon presiden berusaha keras semaksimal mungkin mendapatkan skor terbanyak. Target kemenangan mendapatkan suara pemilih terbanyak untuk Bowo atau Jokowi. Keinginan berbuat curang dengan cara apa pun dapat dimulai dari tempat pemungutan suara seterusnya sampai ke Komisi Pemilihan Umum. Membutuhkan uang secukupnya untuk kebutuhan hidup adalah sikap hidup yang manusiawi, sebaliknya mendapatkan uang melebihi dari yang telah dipenuhi atas semua kebutuhan dengan cara tidak halal adalah kejahatan, dan kejahatan ini biasa disebut korupsi. Korupsi artinya mengurangi jumlah suara pihak yang satu lalu dipindahkan ke dalam pundi suara pihak yang akan dimenangkan. Menerima uang suap untuk melakukan perbuatan curang demi pemenangan yang tidak menjunjung tinggi etika adalah perbuatan tidak etis.

Tuhan telah menetapkan kekalahan bagi Brazil, Dia telah membengkokkan logika yang selama ini dipegang oleh banyak orang, bahwa Brazil kiblat sepak bola. Brazilian tidak ada bedanya dengan orang Indonesia, Jepang, Prancis, Jerman, atau Filipina, mereka manusia biasa juga yang dapat ditaklukkan. Pada saat orang mendapat kemujuran, memang layak bergembira, sebaliknya janganlah kegembiraan itu meluap berlebihan, ingatah di balik kegembiraanmu, ada juga yang bersedih sebab ketidakmujurannya. Lebih dari itu, meluapkan kegembiraan berlebihan dapat membuat engkau menjadi lengah. Tidak selamanya orang mendapat kemujuran. Hari ini adalah pemberian dari Tuhan untukmu gunakanlah sebaik-baiknya untuk Tuhan dan untuk sesama manusia. Manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya, sebab hari esok itu adalah milik Tuhan, hari esok adalah rahasia milik Tuhan. Hari ini manusia membuat rancangan hari esok di dalam pikirannya, tetapi hanya keputusan Tuhan yang terlaksana.

Dalam keadaanmu yang tidak mujur, engkau masih dapat menikmati setetes kebahagiaan, jika keadaanmu ini engkau terima dengan sikap realistis, yakni tidak selamanya engkau mendapatkan seperti yang engkau inginkan. Dan, engkau tidak mungkin merangkul seluruh isi dunia demi memuaskan hatimu. Jika engkau memiliki sikap realistis seperti ini, engkau adalah orang yang jujur terhadap hati nuranimu sendiri. Ya, hanya orang yang jujur terhadap hati nuraninya sendiri yang dapat menikmati kebahagiaan. Orang Brazil mengetahui setiap jengkal peraturan bermain bola, maka mereka menerima kekalahan mereka dengan tulus setelah melakukan permainan yang jujur dengan tim Jerman. Orang yang terlibat pemilihan calon presiden seharusnya telah mengetahui peraturan pemilihan umum jujur, sehingga tidak perlu mencari peluang membenarkan segala cara kotor untuk memenangkan perolehan suara tertinggi. Jangan bergaul dengan orang tidak jujur, sebab orang yang tidak pernah jujur terhadap hati nuraninya sendiri adalah orang yang tidak siap kalah dalam pertandingan; bagi orang seperti ini yang ada di dalam pikirannya adalah bersaksi dusta. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar [Amsal xix:5].-


Senin, 07 Juli 2014

Manuver Petualang Politik Mencari Kesempatan Dan Keselamatan

Membaca atau mendengar kisah petualangan itu mengasyikkan, apalagi kalau kisah itu ditulis oleh penulis berpengalaman. Aku penggemar berat kisah-kisah petualangan. Kalau sudah membaca lembar pertama novel petualangan pasti tidak lepas buku ini sebelum selesai. Ada banyak kisah petualangan, seperti politik, cinta, penaklukan satu daerah yang yang masih liar dan ganas, criminal, hukum, dan lain sebagainya. Beberapa penulis kisah petualang yang aku tahu, antara lain Karl May, Agatha Christy, Frederick Forsyth, Ian Flemming, John Grisham, Motinggo Boesye, dan masih banyak lagi yang lain. Penulis novel petualangan mempunyai ciri khas, yakni menulis cerita yang sejenis, misalnya Frederick Forsyth spesialis intrik politik, harap maklum saja orang ini adalah bekas wartawan BBC London. Ini yang membedakan penulis novel petualangan dengan penulis biasa. Misalnya, Karl May seorang Jerman suka menulis kisah petualangan di daerah liar, Frederick Forsyth menulis tentang petualangan politik, Ian Flemming menulis kisah petualangan James Bond, Agatha Christy menulis tentang criminal dari sisi medis, John Grisham menulis petualangan kejahatan dari sisi hukum, Motinggo Boesye menulis kisah petualangan cinta. Beberapa dari novel petualangan ini pernah diangkat ke layar lebar [movie].

Kata petualang berasal dari kata dari tualang. Petualangan, artinya adalah orang nekat mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan cara tidak jujur atau setidaknya ada agenda tersembunyi dalam mencapai tujuannya. Misalnya : satu berlian berharga sangat mahal, disimpan di dalam brankast di gedung yang dijaga sangat ketat, kemudian seorang pencuri professional berupaya sangat keras untuk mendapatkan berlian tersebut dengan memanfaatkan tekhnologi hi-end. Kisah petualangan ini pernah difilmkan dengan Sean Connery sebagai aktornya. Arti petualangan kedua adalah orang yang hidupnya menyukai tantangan yang mungkin dapat membahayakan jiwanya. Antara arti yang pertama dan yang kedua, para pelakunya relative sama banyak, tetapi dari hasil pekerjaannya saja yang dapat membedakan keduanya. Misalnya seperti apa? Uang atau harta yang diperoleh dengan cara illegal, pasti cepat habisnya, sebaliknya untuk arti yang kedua, orang yang telah menyelesaikan satu petualangan baginya adalah kepuasan batin, seperti menaklukkan pendakian pegunungan granit setinggi 3000 meter. Petualang selalu menjalani kehidupan di luar kebiasaan yang dilakukan oleh kegiatan manusia normal pada umumnya, bahkan kalau perlu mengabaikan semua norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam beberapa bulan sebelum pemilihan anggota parlemen kemudian dilanjutkan pemilihan presiden selalu ada petualang politik. Motivasi masing-masing petualang berbeda satu terhadap yang lain, bisniz, posisi menteri di cabinet, posisi ketua komisi di parlemen, ada yang mau cari aman supaya track record buruk masa lalunya tidak diungkit-ungkit, dan seterusnya. Kalau membandingkan sepak terjang petualang politik yang ada di dalam buku novel penulis-penulis ternama, kelakuan petualang politik di Indonesia kasat mata seperti sudah tidak tahu malu lagi. Amien Rais adalah seorang politisi pada 1998 awal reformasi di Indonesia sangat anti dengan rezim Orde Baru dan dia menjadi ikon tumbangnya penguasa rezim ini. Kemudian dia mendirikan partai dengan semangat reformasi politik yang demokrasi. Namun, sekarang dia merangkul calon presiden dari seorang figure yang pernah dibesarkan pada era rezim Orde Baru, terlebih lagi calon ini mempunyai track record yang tidak baik berkaitan dengan masalah hak azasi manusia dimasa lalu, maka jangan heran ada banyak petinggi partai yang  digagasnya ini telah berpindah memberi  dukungan pada calon presiden lain.

Seorang pengusaha besar merangkap sebagai politisi bukan cerita baru, sebut saja beberapa orang ini, Aboerizal Bakrie dan Jusuf Kalla dari Partai Golkar, sedangkan Surya Paloh dari Partai Nasdem. Indonesia memang adalah negara demokrasi, maka orang bebas mau menjadi anggota partai mana saja. Namun, seharusnya engkau telah mengetahui tujuan dan platform perjuangan partai sebelum bergabung. Segala sesuatu yang bersifat prinsipil jangan engkau pandang enteng berpindah tempat semudah berpindah makan dari warung nasi yang satu lalu pindah ke warung nasi lain di seberang jalan. Orang-orang seperti, Adolf Hitler, Napoleon Bonaparte, Karl Marx, Soekarno, Martin Luther, dan seterusnya diikuti oleh banyak pengikut sebab mereka hidup mempunyai prinsip. Ada seorang pengusaha dan politisi belum lama bergabung dengan Partai Nasdem barangkali hanya dua tahun saja, kemudian keluar dan bergabung dengan Partai Hanura. Dalam kampanye calon presiden, orang ini pecah kongsi dengan ketua umum partai politik yang kedua, sebab orang ini memberi dukungan penuh terhadap calon presiden yang berseberangan jalan dengan calon yang didukung oleh ketua umumnya. Calon presiden yang didukung oleh orang ini berasal dari figure yang dibesarkan oleh rezim Orde Baru. Orang seperti ini mengingatkan aku terhadap sejenis binatang yang kalau berpindah tempat dan terancam bahaya, binatang ini segera berubah warna tubuhnya mengikuti warna tempat dia berada sebagai kamuflase. Binatang apa ini namanya? Namanya, bunglon. Orang yang tidak berpendirian teguh. Hati-hatilah dengan kehadiran seorang petualang politik, orang seperti ini jangan diharapkan kesetiaan dari hatinya. Hati nuraninya sudah tumpul. Mungkin saja orang ini sebelum keluar dari partai politik sebelumnya memang bicara secara santun :”Gue mo keluar! Good bye deh buat lo!” Juga mungkin saja sebelum memberi dukungan kepada calon presiden idolanya, dia telah meminta restu kepada boss-nya yang kedua. Yah, tapi untuk ukuran rasa, tindakan orang ini jelas tidak etis. Orang ini juga pantas disebut blusukan seperti Jokowi, tapi blusukan demi kepentingannya sendiri. Orang masuk partai seharusnya berjuang demi kesejahteraan rakyat melalui garis kebijakan partainya, bukan demi kelancaran bisniznya. Hati-hati saja memilih calon presiden, sebab banyak petualang politik seperti ini dengan kekuatan kapitalnya blusukan menginduksi lingkungannya. Perlu diingatkan, bahwa pada umumnya pengusaha yang berpolitik adalah petualang politik. Orang seperti ini ketika menjadi petinggi negara setingkat menteri atau lebih tinggi lagi, maka yang ada di dalam kepalanya adalah menggemukkan bisniz perusahaannya dengan kekuatan birokrasi yang dipimpin olehnya. Inilah yang disebut sebagai korupsi kebijakan. Kata orang Jawa, aji mumpung. Yang diharapkan oleh politisi bunglon, ya sesuai dengan sifatnya bunglon yang mau cari selamat sendiri secara pribadi atau selamatkan perusahaan kalau calon presiden yang didukungnya berhasil.

Mungkin engkau berkata kepadaku, bahwa aku mengada-ada saja, sebab petualang politik memang sudah lama ada dari sejak jaman purba, bahkan Amerika, Prancis, dan Inggris adalah tempatnya para petualang politik. Betul katamu, bangsa kolonialis adalah petualang politik! Mereka adalah bangsa-bangsa yang memiliki nasionalisme tinggi, segala sesuatu yang baik atau buruk dilakukan oleh mereka demi negara mereka, sebab mereka adalah bangsa-bangsa yang bermental expansive hegemonis, sehingga petualangan politik mereka lebih banyak dilakukan di luar negara. Misalnya seperti apa? Prancis dan Inggris membangun tapal batas negara-negara di Afrika semudah membelah kue black forest ketika negara-negara ini masih berstatus pemerintah colonial. Sesudah Perang Dunia I  Prancis dan Inggris membuat kesepakatan rahasia untuk membuat tapal batas beberapa negara di Timur Tengah menurut kepentingan mereka, bukan berdasarkan batas-batas budaya bangsa. Kepentingan negara-negara colonial melalui petualangan politik yang merugikan bangsa-bangsa lain. Kuwait sebetulnya pada mulanya adalah satu kesatuan dengan Irak yang sekarang. Di Amerika juga pernah ada seorang komisaris perusahaan besar merangkap menjadi politisi dan sekaligus menduduki posisi menteri. Tapi di sana sikap fanatisme terhadap partai sangat besar, maka kemungkinan menjadi bunglon juga sangat kecil, sebab mereka mempunyai rasa malu menjadi manusia tidak berprinsip. Orang yang mempunyai prinsip tidak mau diberi satu box nasi ayam goreng dan berisi satu lembar uang lima puluh ribu rupiah.

Pada masa Majapahit dalam kejayaan banyak orang tua memberi nama anaknya dengan nama depan Kebo, seperti Kebo Ijo, Kebo Anabrang, Kebo Ireng, dan seterusnya. Kebo kependekan sebutan untuk kerbau adalah binatang yang digunakan oleh pak tani untuk menarik bajak, karena bertenaga kuat, mudah bersahabat, dan mudah dikendalikan. Jadi, orang tua memberi nama depan anak dengan Kebo, sebab sangat mengharapkan anaknya nanti bertenaga kuat, bersikap merakyat, dan mau diatur demi kepentingan masyarakat. Ketika Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, ada orang penting kerajaan bernama Nambi. Ia dapat menjadi mahapatih bukan karena berjuang mengusir kekuatan asing, melainkan karena maneuver politik di lingkaran dalam kekuasaan kerajaan. Kelakuan yang tidak terpuji ini membangkitkan kemurkaan terhadap Ranggalawe sehingga terjadilah pemberontakan dan berakhir dengan tewasnya Ranggalawe. Manusia bunglon ada di mana-mana dan ada dari sejak jaman purba. Petualangan politik selalu memberi dampak kekacauan, pemberontakan, bahkan dapat memicu peperangan terbuka. Masih banyak di antara orang Indonesia yang belum bersikap cerdas dan tegas terhadap sesuatu yang bersifat prinsip. Karena kemiskinan dan kesadaran berpolitik masih rendah bagi kebanyakan orang Indonesia di level akar rumput, kondisi seperti ini sangat dimanfaatkan oleh petualang politik yang ambisius dengan cara politik suap uang. Bangkitlah dan mau belajar terus supaya pikiran terbuka tidak dibodohi terus. Orang yang mempunyai harga diri tidak bersedia menerima uang yang tidak jelas tujuannya untuk apa. Apa kaitannya satu box nasi dan ayam goreng dan diselipkan uang Rp 50000,- dalam kebisingan kampanye calon presiden? Kiranya biarlah hati nurani tidak salah menjawab pertanyaan ini. Binatang yang bernama bunglon memang bagus dipelihara di rumah sebagai hiasan, tetapi manusia berperangai bunglon harap dijauhi saja, walaupun dompetnya tebal penuh uang, sebab engkau adalah rakyat dari bangsa besar yang mempunyai martabat dan tidak bersedia mengikuti kepentingan manusia bunglon.-

Rabu, 27 November 2013

Menang Pemilihan Kepala Daerah Melalui Gratifikasi

Pada pertengahan November 2013 telah terjadi satu peristiwa yang sangat menggemparkan negeri ini, yakni ruang sidang Mahkamah Konstitusi di Jakarta dibuat porak poranda oleh pihak yang kalah dalam pemilihan kepala daerah Maluku Utara. Peristiwa menggemparkan ini jelas memalukan Indonesia sebagai satu bangsa besar di kawasan belahan bumi timur, sebab lembaga negara hukum yang seharusnya dihormati putusannya, sebaliknya justeru diinjak-injak martabatnya. Tugas Mahkamah Konstitusi sekarang ini adalah menguji undang-undang yang telah disahkan oleh dewan perwakilan rakyat. Jika undang-undang ini setelah diuji ternyata tidak ada kesesuaian dengan Undang-Undang Dasar, undang-undang ini dapat digugurkan implementasinya. Tugas lainnya adalah memutuskan perkara yang berkaitan sengketa pemilihan kepala daerah. Sejak otonomi daerah diimplementasikan seluas-luasnya di seluruh Indonesia, maka sejak itu perlahan tapi pasti selalu muncul ketidakpuasan dalam hasil pemilihan kepala daerah. Ketidakpuasan sering dilampiaskan oleh pihak yang kalah dalam bentuk perbuatan anarki, seperti pengerahan massa pendukung. Pihak yang kalah tidak puas dan merasa dirugikan membawa masalahnya ke mahkamah ini sebagai pihak penggugat. Pihak yang kalah dan pihak yang menang dihadirkan dalam persidangan dan hakim memutuskan perkara ini kepada siapa yang berhak memegang tampuk pemerintahan kepala daerah. Indonesia adalah negara pertama di dunia dan paling demokrasi memilih kepala negara maupun kepala daerah secara langsung. Namun, sayang sekali, setelah pemilihan kepala daerah, terutama di Indonesia bagian timur sering terjadi bentrokan dalam skala besar karena pihak yang kalah tidak siap menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dalam peristiwa menggemparkan tersebut di atas menunjukkan, bahwa orang Indonesia sebagai bangsa yang tidak siap berdemokrasi.

Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta.
Pada September 2013, Akil Mochtar sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap tangan oleh KPK menerima uang suap. Uang suap ini sedianya untuk meluruskan jalan pemilihan kepala daerah tingkat II di Kalimantan Barat dan kepala daerah tingkat II di Banten dengan cara membelokkan fakta melalui kuasa seorang hakim. Ya, memang hakim yang mempunyai kuasa memutuskan kalah atau menang setiap sengketa pemilihan kepala daerah. Hakim yang telah menerima suap pasti putusannya akan menguntungkan pihak yang menyuapnya. Apakah masih ada hakim yang jujur di negeri ini membuat putusan yang adil? Dua pendahulu Tuan Mochtar telah melewati masa jabatan mereka mulus tanpa cela. Pada kondisi negeri seperti ini, yakni di mana-mana selalu ada kasus korupsi, sulit menjumpai ada hakim jujur. Sulit untuk percaya, bahwa Mochtar ini ternyata imannya tipis sehingga tersentuh godaan setan juga. Berita penangkapannya menjadi headline koran-koran di Indonesia, bahkan koran Amerika beroplah besar, yakni The Washington Post memuat beritanya. Perbuatan Mochtar ini sangat merendahkan martabat bangsa ini di mata dunia, sebab perbuatannya memberi kesan, bahwa kepastian hukum di Indonesia ditentukan oleh uang bukan oleh hati nurani seorang hakim dan logika hukum. Putusan hakim harus memberikan rasa keadilan kedua belah pihak yang sedang bersengketa dan kepada rakyat kebanyakan. Namun, hakim mana yang masih menjunjung prinsip-prinsip moral sehingga dia dapat berbuat etis, jika dia telah menerima uang suap.

Dua ribu tahun yang lalu orang hanya tahu yang namanya mencuri itu adalah mengendap-endap masuk ke halaman rumah orang lain, kemudian mengambil ternak tanpa setahu pemilik ternak itu. Perintah Tuhan dalam Taurat Musa yang bunyinya seperti ini : “Jangan mencuri” adalah sesuai menurut konteksnya pada waktu itu. Tapi sekarang kondisinya sudah beda sama sekali. Tindakan mencuri semakin canggih mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju. Seorang yang bekerja di bagian akuntansi adalah orang yang ahli menempatkan pos-pos penerimaan dan pengeluaran sehingga neraca tetap dalam keadaan balance. Jika dia ingin berniat jahat, dia menggelembungkan [mark up] pada satu pos, sebaliknya dia menciutkan pos yang lain [mark down], tetapi hasil akhirnya adalah neraca yang tetap balance; supaya tidak ketahuan penggelembungannya, maka dia melakukannya sedikit demi sedikit. Orang ini sebetulnya juga mengendap-endap seperti pencuri ternak dua ribu tahun yang lalu, tetapi tidak dilakukan di padang rumput tempat ternak merumput, melainkan di ruangan berpendingin udara yang sejuk. Ia melakukan perbuatan jahatnya sendirian ketika teman-temannya sudah pada pulang semua, maka mulailah dia mengutak-atik program komputer yang dia sendiri yang tahu. Inilah yang disebut korupsi, yakni mengambil sedikit demi sedikit uang atau benda yang bukan menjadi haknya secara illegal. Jadi, korupsi dapat disebut sebagai tindakan mencuri. Jika mencuri digolongkan sebagai tindakan kejahatan, apakah suap termasuk kriteria mencuri.

Dalam kasus suap pemilihan kepala daerah, baik gubernur maupun bupati, selisih satu suara pemilih saja sudah cukup menentukan kalah atau menang satu dari dua kubu yang memperebutkan kesempatan menang. Pihak yang dimenangkan pasti memperoleh jumlah suara pemilih yang lebih besar dibandingkan dengan pihak yang dikalahkan, dengan cara penggelembungan jumlah suara pemilih secara illegal. Bagaimana penggelembungan jumlah suara pemilih itu dapat terjadi? Supaya tidak mencurigakan, maka selisih perolehan suara dibuat tidak terlalu besar, yang penting pihak penggugat yang kalah dapat menang. Semua data pemilihan kepala daerah di daerah sengketa diolah kembali [pura-pura diolah] dan hakim MK yang telah disuap mempunyai kesempatan memindahkan sebagian jumlah suara tergugat ke tempat pos suara penggugat. Perbuatan hakim yang telah menerima suap ini pantas disebut mencuri, dia disuap untuk mencuri, dan penyuapnya juga disebut pencuri melalui hakim yang menyalahgunakan jabatannya. Dengan kata lain seorang pejabat tinggi disuap pasti untuk melakukan perbuatan illegal. Sekarang telah ada undang-undang yang menetapkan batasan jumlah uang yang dikategorikan sebagai suap yang sekarang disebut gratifikasi. Pemberian gratifikasi melalui transfer dapat dilacak oleh KPK, maka pejabat tinggi tidak mau lagi gratifikasi ditransfer melalui nomor rekeningnya melainkan secara cash on hand. Tuan Mochtar ini memang sial, sebab ketika transaksi cash on hand akan berlangsung di rumahnya, pada waktu yang bersamaan pula beberapa orang KPK masuk menggerebek para pelaku kejahatan ini.

Memang tidak ada hubungan langsung antara Akil Mochtar yang kini sedang ditahan dengan perusakan ruang sidang tersebut di atas, tetapi masalahnya adalah perbuatan bejat Mochtar ini sudah memberi aroma tak sedap sehingga menimbulkan rasa curiga terhadap semua hakim di institusi MK ini. Jika banyak pihak menjadi kurang respek lagi terhadap lembaga MK ini, memang beralasan untuk curiga dan tidak puas terhadap putusan hakim, tetapi mereka tidak boleh semau sendiri melampiaskan ketidakpuasannya dengan cara brutal. Mochtar adalah manusia melek hukum dan seharusnya memberi contoh hidup yang beretika kepada masyarakat, sebaliknya dia justeru melakukan perbuatan tercela. Orang seperti ini sudah sepantasnya dihukum berat, yakni penjara lebih 18 tahun, penyitaan harta hasil korupsi, dan denda sebesar 50 persen dari total harta korupsi. Dan, dia harus dipecat dari jabatannya. Orang ini sungguh membuat malu bangsa Indonesia di dunia internasional. Jadi, untuk menjadi orang yang berprestasi demi nusa dan bangsa bukan hanya dilihat dari gelar akademiknya, melainkan juga dari keluhuran budinya. Keluhuran budi diperoleh bukan karena sering membaca dan hafal 'kitab suci' dan rajin ke rumah ibadat, melainkan ada hikmat di dalam hatimu dan menjadi pelaku hikmat. Barangsiapa memiliki hikmat, dia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan oleh manusia, tidak dapat menyamai hikmat. Hikmat adalah kemampuan menggunakan kecerdasan dan pengetahuan sehingga dapat bertindak bijak. Seorang hakim yang tidak bijak, dia adalah hakim yang tidak berhikmat. Mempertaruhkan jabatan vital dengan menerima suap adalah satu perbuatan yang hanya dilakukan oleh manusia tak berhikmat.

Diduga banyak gubernur dan bupati yang memenangkan pemilihan kepala daerah dengan jalan suap sebelum kasus hukum yang melibatkan Mochtar terungkap. Mengingat dua pendahulu Mochtar telah melewati masa jabatan mereka tanpa skandal, jadi besar kemungkinannya penyelesaian sengketa pemilihan kepala daerah melalui calo-calo perkara yang banyak keliaran di gedung ini. Namun, bagaimana pun lihaynya tupai melompat, satu waktu akan jatuh juga. Dan, Mochtar adalah gambaran tupai lihay yang jatuh dari ketinggian pohon kelapa. Ia sudah kekenyangan hasil korup. Ia dulu sesumbar, katanya, koruptor jarinya dipotong saja. Ia adalah koruptornya. Mengapa ada banyak kepala daerah rela memberi uang suap milyaran rupiah kepada manusia banjingan seperti Mochtar ini? Jawabannya sederhana : mereka akan menerima kembali berlipat kali ganda dari milyaran rupiah yang telah mereka lepaskan ketika menjalani masa jabatan kepala daerah. Gubernur atau bupati menjadikan birokrasi pemerintah daerah sebagai mesin uang mereka. Jangan kau pikir membuat perizinan satu usaha itu gratis. Harus ada fulusnya. Kepala daerah seperti ini tidak beda dengan lurah jaman kolonial Hindia Belanda, yakni memeras rakyat jelata demi memuaskan tuannya. Bangsa Indonesia saat ini memang pada masa dijajah oleh bangsa sendiri. Mereka telah membuat keadilan seperti racun dan menghempaskan kebenaran ke tanah. Mereka mengubah yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi kebenaran mereka. Mereka seperti lupa, bahwa Tuhan itu tidak tidur.- 



Kamis, 16 Mei 2013

Inward Looking

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? [Lukas vi:41].

Aku pernah membaca melalui koran Pos Ko.ta, beritanya begini seorang kakek berusia 65 tahun mati di atas perut perempuan muda belia. Pada mulanya aku tidak percaya dengan berita semacam ini, ya maklum saja koran ini biasa memberikan berita ringan yang sifatnya hiburan. Tapi aku pernah cakap-cakap dengan seorang kenalan di halte satu sekolah tentang berita yang satu ini, begini katanya, tetangganya seorang laki-laki yang sudah mempunyai banyak cucu menikah lagi dengan perempuan muda belia sebagai isteri entah ke berapa, laki-laki tua tak tahu diri ini mati di atas perut isteri mudanya. Mati dalam keadaan demikian biasa disebut serangan jantung, karena pengaruh obat perangsang untuk menstimulasi kerja jantung lebih kuat lagi memompa darah ke dalam pennies. Seorang tetanggaku, usia 50 tahun adalah seorang suami yang telah lama mengidap penyakit diabetis mellitus yang telah akut, karena dia sudah menyuntikkan artificial insulin ke dalam tubuhnya. Seorang penderita penyakit diabetis yang telah mencapai kondisi seperti ini secara teoritis penniesnya tidak dapat ereksi lagi atau paling sedikit butuh waktu sangat lama untuk ereksi. Tetanggaku ini secara rahasia menikah lagi dengan seorang gadis belia yang sepantasnya adalah anak perempuannya. Tetanggaku ini mati di rumah isteri mudanya, mungkin beberapa jam setelah persetubuhan. Beberapa hari kemudian di tempat sampah rumahnya aku telah menemukan beberapa kotak tempat obat perangsang dari merek-merek murahan. Pennies sudah lemas, tapi jantung dipaksa bekerja keras untuk memompa darah lebih banyak lagi ke dalam pennies, akhirnya jantung keletihan, kemudian berhenti memompa darah karena kehabisan energi.

Dua contoh peristiwa di atas adalah cermin dari berbagai kondisi manusia yang seharusnya inward looking terhadap dirinya, yakni seseorang yang mempunyai satu keinginan yang sangat besar tetapi tidak melihat kondisi dirinya itu tidak memungkinkan untuk memenuhi keinginannya itu. Kondisi inilah yang di dalam masyarakat biasa disebut nafsu besar, tenaga kurang. Bagaimana dengan iman? Kata pak pendeta, iman itu mengalahkan dunia. Jika engkau mempunyai iman yang luar biasa besar, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk mewujudkan keinginanmu, jika keinginanmu itu selaras dengan kehendak-Nya. Masalahnya, manusia lebih menyukai jalan pintas untuk mewujudkan keinginannya, di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan, katanya demi membesarkan hati. Banyak suami ingin menyenangkan isterinya di atas tempat tidur atau sebenarnya dia sendiri yang ingin mencari kepuasan diri sendiri, tetapi dia bukan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu melainkan cari jalan pintas dengan mengonsumsi obat perangsang. Sulit ereksi karena diabetis, maka seharusnya diabetisnya terlebih dahulu yang harus dibereskan. Memang harus perlu inward looking. Harus tahu diri!

Nurdin Halid dulu pernah menjadi ketua umum PSSI yang sudah tidak dikehendaki lagi kelanjutan kepemimpinannya karena dia tersandung dengan masalah hukum sehingga dia dimasukkan ke dalam penjara selama tiga tahun. Jadi? Ia tetap memimpin organisasi olah raga sepak bola ini dari balik jeruji penjara. Orang harus tahu malu. Orang Jerman dan Jepang adalah bangsa yang tahu malu. Kita harus belajar dari mereka. Mereka segera mengundurkan diri sebagai pemegang kekuasaan pemimpin sebelum berurusan dengan hakim di tingkat pengadilan. Mereka mau inward looking, yakni berani mengaca keadaan diri sendiri, sebaliknya di negeri ini, keputusan pengadilan sudah mempunyai ketetapan hukum, yakni penjara, tetapi tetap saja dia tidak mau mengundurkan diri. FIFA sudah menegur secara halus melalui boss besar organisasi dunia ini, tetap saja dia keras kepala tidak mau mundur. Ini namanya tidak tahu diri. Tidak mau inward looking. Akhirnya dia secara terpaksa mengundurkan diri setelah pemerintah memaksanya mundur.

Sekarang, ada mode baru dari kalangan artis atau selebritis, yakni banyak di antara mereka mendaftarkan diri untuk menjadi calon legislator atau anggota dewan perwakilan rakyat, tetapi tidak sedikit mereka itu dicalonkan oleh partai politik tertentu untuk meningkatkan elektabilitas partai politik tersebut. Sudah bukan rahasia lagi di mata rakyat negeri ini, mereka menjadi caleg sebagai maneuver kalau mereka sudah tidak laku lagi sebagai artis, dompet masih dapat diisi dari gaji sebagai anggota dewan perwakilan nanti. Kenyataannya memang begitu, bahwa banyak anggota dewan menjadi kaya dengan sedikit keringat. Mereka pasti berkata, bahwa mereka juga mempunyai hak mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Well, kalau bicara tentang hak, aku juga mempunyai hak menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, tapi inward looking itu penting dan perlu. Banyak partai berusaha meningkatkan elektabilitas dengan cara menggunakan kepopuleran artis-artis, yakni hanya modal tampang dan bobot keartisan mereka yang pas-pasan. Jika begini cara partai-partai merekrut anggota partai untuk ditempatkan sebagai anggota perwakilan rakyat, semakin lama dewan perwakilan rakyat dipenuhi oleh manusia-manusia yang hanya pandai bicara tetapi tanpa bobot intelektual. Lalu mereka mewakili daerah pemilhan mana? Aku orang Blitar, tak sudi tempat asalku ini diwakili oleh badut-badut politik seperti ini. Sedikit saja dari artis-artis yang terjun ke politik yang memang mempunyai bobot intelektualitas, lainnya adalah badut-badut politik. Mungkin terinspirasi dari Ronald Reagen yang pernah menjadi actor film cowboy dari Hollywood, terjun ke politik sebagai senator dari Partai Republik kemudian menjadi presiden Amerika Serikat. Betapa pun Reagan tergolong sebagai politisi yang berhasil dari kalangan selebritis di Amerika, tetapi tidak membuat kalangan selebritis lain era sesudahnya latah ikutan menjadi politisi seperti dia. Mengapa? Sebab Amerika adalah satu bangsa yang mempunyai tradisi membina bobot intelektual melalui gemblengan pendidikan di perguruan tinggi, bukan hanya bermodalkan tampang dan kepopuleran nama untuk menjadi seorang politisi. Well, inilah perlunya inward looking, masuk ke Senayan seharusnya bermodalkan gemblengan pendidikan di perguruan tinggi seperti rekan-rekan kita di Amerika, supaya kalau bicara itu ada bobot ilmiahnya.

Bagaimana dengan Megawati? Ah, jangan berlebihan begitu, dia muncul menjadi politisi pada era yang berbeda dari yang sekarang. Lagi pula, sedikit banyak, dia pasti belajar politik dari bapaknya, yakni Soekarno, presiden Indonesia yang pertama. Pada jamannya, figure yang dibutuhkan oleh orang Indonesia adalah tokoh panutan dari generasi Soekarno sebagai tandingan menghadapi keluarga Suharto, rezim yang pernah berkuasa di negeri ini selama tiga dekade. Indonesia telah menjadi bangsa merdeka selama hampir 70 tahun, seharusnya tidak membutuhkan figure panutan lagi melainkan kesadaran dari diri orang-orang  Indonesia sendiri membangun negara ini menuju bangsa yang berdiri kokoh di atas fondasi moral yang menjadi karakter bangsa ini, yakni moral Pancasila. Namun, dari sejak Indonesia merdeka sebagian dari bangsa ini memang ogah-ogahan menerima Pancasila sebagai fondasi moral, maka beginilah jadinya, bangsa ini menjadi bangsa yang munafik, di satu sisi ada yang masih bermimpi membangun negara berbasis agama. Masih ada juga yang bermimpi untuk menjadikan Indonesia menjadi negara berbentuk federasi, padahal bangsa kita ini rasa kesukuannya masih ada sehingga resiko perpecahan negara kemungkinan besar juga dapat terjadi. Bangsa Indonesia harus inward looking, jangan terlalu mudah untuk mengajukan tuntutan perluasan wilayah otonomi.

Engkau masih ingat cerita perumpamaan yang diambil dari Injil Lukas, yakni dua orang yang secara bersamaan ada di dalam Rumah Tuhan untuk berdoa, yang satu seorang Farisi berdiri paling depan, sedangkan lainnya adalah seorang pemungut cukai berdiri paling belakang. Rabbi ini berdoa di dalam hatinya, bahwa dia mengucap syukur kepada Tuhan, karena dia tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; dia berpuasa dua kali dalam satu minggu, dia memberikan satu per sepuluh dari semua penghasilannya.” Sebaliknya, pemungut cukai ini berdiri jauh dari rabbi ini dan dia tidak berani menengadah ke langit, melainkan dia memukul pada dadanya dan berkata, bahwa dia memohon belas kasihani dari Tuhan karena dia orang berdosa. Rabbi ini menilai, bahwa dirinya lebih benar dan lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Percayalah, orang seperti rabbi ini sulit diharapkan untuk inward looking terhadap dirinya, karena orang yang menganggap dirinya tak bercacat moral tidak membutuhkan nasehat orang lain, bahkan orang seperti ini hidupnya jauh dari rasa bahagia, karena orang yang menganggap dirinya paling benar dari orang lain harus menjaga image, bahwa dirinya adalah orang soleh. Dengan cara bagaimana orang seperti rabbi ini menjaga image-nya, supaya tampak soleh makannya hanya sedikit saja di hadapan orang banyak, bicaranya sedikit dan volume suaranya pelan, biasanya pakai sorban dan pakaian yang menampilkan orang soleh, dan di tempat yang mudah terlihat orang sering memberi derma di Rumah Tuhan. Berbeda dengan pemungut cukai, dia mau menyadari keadaan dirinya di hadapan Tuhan. Tuhan hanya bersedia mengunjungi orang yang menyadari dirinya berdosa, bukan datang kepada orang yang merasa dirinya benar. Justeru orang yang bersedia inward looking menerima kebahagiaan dari Tuhan, karena dalam memandang dirinya yang terdalam, maka di situ dia mendapatkan kemurahan Tuhan.

Di negeri ini ada dua partai politik besar yang sarat dengan keterlibatan korupsi di lingkaran terdalam kepemimpinan mereka. Tidak ada partai politik yang tidak mempunyai keterlibatan korupsi. Aku geram sekali melihat orang-orang yang terlibat pidana korupsi tampak tidak menunjukkan penyesalan ketika digiring ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka pamer gigi, tersenyum sangat lebar di hadapan wartawan. Pemandangan menjijikan dan melukai rasa keadilan terhadap rakyat. Koruptor adalah pembohong besar yang memberikan 1001 alasan dibantu oleh lawyer yang juga kehausan uang. Mereka kerjanya bukan untuk mendapatkan solusi bagaimana meningkatkan taraf hidup petani dan nelayan, sebaliknya mereka mencari celah-celah yang dapat digunakan untuk melegalkan tindakan illegal mereka. Mereka adalah orang beragama. Ah, korupsi itu tidak mengenal agama. Sebelum mereka tergoda untuk melakukan tindakan pidana korupsi apakah mereka inward looking, bahwa tindakan mereka itu berdampak besar menyesatkan rakyat Indonesia kebanyakan? Lihat saja, sekarang ini di tengah masyarakat banyak beredar makanan yang terbuat dari bahan-bahan kimia berbahaya. Tujuannya? Kerja ringan dapat untung besar, tidak perduli konsumen terkena penyakit berbahaya kemudian hari.

Kesalehan normative agama tidak membuat manusia mempunyai hati nurani melainkan hanya sebagai kedok menutupi perbuatan amoral. Engkau menjadi manusia yang mempunyai hati hanya apabila engkau bersedia inward looking terhadap hatimu yang terdalam, karena keberadaan Tuhan di hatimu tergantung engkau isi dengan apa hatimu itu. Hatimu adalah Bait Tuhan itu sendiri. Perbuatan manusia terjadi akibat dorongan dari dalam hatinya. Ada yin dan yang kata orang Cina. Jika engkau manusia mutlak tanpa dosa, bukan di bumi tempatmu melainkan di sorga. Tetapi kenyataannya engkau masih menetap di bumi tempat kebajikan dan kejahatan berada. Jika engkau mengisi hatimu lebih banyak dengan kebajikan, perbuatanmu adalah refleksi segala kebajikan yang engkau tanamkan ke dalam hatimu. Dengan inward looking engkau menimbang hatimu antara yang jahat dan yang baik.-